2187. MASUK WC MENDAHULUKAN KAKI KANAN ATAU KAKI KIRI?

(Foto: Bumi Al-Quran)


𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
>> 𝗜𝗺𝗿𝗮'𝗮𝗵 𝗛𝗶𝗷𝗿𝗮𝗵
Assalamualaikum wr.wb
sebenarnya aturan dalam syariat itu ketika keluar masuk jamban itu gimana, apa pas masuk kaki kanan dulu dan pas keluar kaki kiri dulu, atau sebaliknya bingung ? 
tolong solusinya 😊🙏

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
>> 𝗩𝗶𝘁𝗵𝗮 𝗙𝗶𝗻𝗮𝗹𝗶𝗮
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Dianjurkan untuk mendahulukan kaki kiri ketika hendak memasuki jamban, dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar dari jamban.

Sayyid sabiq berkata :

أن يقدم رجله اليسرى في الدخول، فإذا خرج فليقدم رجله اليمنى ثم ليقل: غفرانك. فعن عائشة رضي الله عنها (أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا خرج من الخلاء قال: (غفرانك رواه الخمسة إلا النسائي.
وحديث عائشة أصح ما ورد في هذا الباب كما قال أبو حاتم وروي من طرق ضعيفة انه صلى الله عليه وسلم كان يقول: (الحمد لله الذي أذهب عني الاذى وعافاني) ، وقوله: (الحمد لله الذي أذاقني لذته، وأبقى في قوته، وأذهب عني أذاه) .

Hendaknya mendahulukan kaki kiri ketika hendak memasuki jamban, dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar dari jamban sambil membaca doa :
"Aku memohon ampunan-Mu (ya Allah)."

Aisyahberkata, ketika Rasulullah keluar dari jamban, beliau membaca, 'Ghufranaka' (Aku memohon ampunan-Mu (ya Allah).)" (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, kecuali Nasai). 

Abu Hatim berkata, berkaitan dengan masalah ini, hadits yang bersumber dari Aisyah inilah yang paling sahih.

Ada juga sebuah riwayat dengan sanad yang dhaif, sebagai berikut, Bahwasanya Rasulullah setelah buang hajat, beliau membaca doa :
"Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menghilangkan penyakit dariku dan memberi kesehatan kepadaku."

Sesekali Rasulullah juga membaca doa berikut :
"Segala puji bagi Allah, Zat yang telah memberi kenikmatan kepadaku, mengekalkan kekuatan padaku dan menghilangkan penyakit dari diriku."
(Fiqhus sunnah, juz 1/25)

>> 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀-𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Menurut Madzhab kami Syafi'i ketika masuk ke tempat buang hajat walaupun ditanah lapang Disunahkan mendahulukan kaki kiri dan ketika keluar mendahulukan kaki kanan. Alasannya: ketika masuk ia menuju tempat yang kotor sedangkan ketika keluar ia meninggalkan tempat kotor dan juga berdasarkan hadits Nabi ﷺ. 

Bila buang hajat bukan tempat khusus seperti ditempat lapang maka acuannya tempat mau mengeluarkan kotoran disitu seperti dikasih jamban/kayu dan bila tempatnya panjang maka juga Disunahkan mendahulukan kaki kiri ketika menginjak tempat itu dan pintu tempat buang hajat.

Penyebutan "𝘛𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘫𝘢𝘵" walaupun memasukinya tidak mau buang hajat seperti mengambil sesuatu juga Disunahkan mendahulukan kaki kiri ketika masuk.

𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡

Menurut Madzhab Syafi'i - 𝘋𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘯𝘶𝘵 - ketika masuk tempat buang hajat sunah mendahulukan kaki kiri dan ketika keluar mendahulukan kaki kanan.

𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:

وَيُنْدَبُ لِدَاخِلِ الْخَلَاءِ أَنْ يُقَدِّمَ يَسَارَهُ، وَيَمِينَهُ لِانْصِرَافِهِ.
(قَوْلُهُ: وَيُنْدَبُ لِدَاخِلِ الْخَلَاءِ) أَيْ وَلَوْ لِحَاجَةٍ أُخْرَى غَيْرِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ، كَوَضْعِ مَتَاعٍ فِيهِ أَوْ أَخْذِهِ مِنْهُ. وَالْخَلَاءُ بِالْمَدِّ الْمَكَانُ الْخَالِي نُقِلَ إِلَى الْبِنَاءِ الْمُعَدِّ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ. -إِلَى أَنْ قَالَ- وَيُسَمَّى أَيْضاً الْمِرْفَقَ وَالْكَنِيفَ وَالْمِرْحَاضَ، وَهُوَ لَيْسَ بِقَيْدٍ بَلِ الْمَدَارُ عَلَى الْوُصُولِ لِمَحَلِّ قَضَاءِ الْحَاجَةِ وَلَوْ بِصَحْرَاءَ. وَدَنَاءَةُ الْمَوْضِعِ فِيهَا قَبْلَ قَضَاءِ الْحَاجَةِ تَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ قَصْدِ قَضَائِهَا فِيهِ، كَالْخَلَاءِ الْجَدِيدِ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ فِيهِ أَحَدٌ. قَالَ فِي التُّحْفَةِ: وَفِيمَا لَهُ دِهْلِيزٌ طَوِيلٌ يُقَدِّمُهَا عِنْدَ بَابِهِ وَوُصُولِهِ لِمَحَلِّ جُلُوسِهِ. اهـ. وَقَوْلُهُ: أَنْ يُقَدِّمَ يَسَارَهُ أَيْ أَوْ بَدَلَهَا، وَذَلِكَ لِمَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ مَنْ بَدَأَ بِرِجْلِهِ الْيُمْنَى قَبْلَ يَسَارِهِ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ ابْتُلِيَ بِالْفَقْرِ. (قَوْلُهُ: وَيَمِينَهُ لِانْصِرَافِهِ) أَيْ وَيُنْدَبُ لِمَنْ دَخَلَ الْخَلَاءَ وَأَرَادَ الِانْصِرَافَ مِنْهُ أَنْ يُقَدِّمَ يَمِينَهُ عِنْدَ انْصِرَافِهِ.
“Dan disunnahkan bagi orang yang masuk Khalaa' (toilet) untuk mendahulukan kaki kirinya, dan kaki kanannya ketika keluar.

(Perkataan Pengarang "Dan disunnahkan bagi orang yang masuk toilet/Khalaa'") maksudnya meskipun untuk keperluan lain selain buang hajat, seperti meletakkan barang di dalamnya atau mengambil barang darinya. Kata Al-Khala' dengan memanjangkan hamzah (mad) secara bahasa berarti tempat yang kosong, kemudian dialihkan maknanya menjadi tempat yang disediakan untuk buang hajat. —sampai ucapan pengarang— Tempat ini disebut juga Al-Mirfaq, Al-Kanif, dan Al-Mirhad (kakus/wc). Istilah bangunan ini bukanlah batasan mutlak, melainkan patokannya adalah ketika sampai di tempat buang hajat, meskipun di tanah lapang. Sifat rendah/kotornya tempat di tanah lapang sebelum digunakan buang hajat itu terwujud hanya dengan adanya niat (maksud) untuk buang hajat di sana, seperti halnya toilet baru sebelum ada seorang pun yang buang hajat di dalamnya. (Imam Ibnu Hajar Al Haitami) Dalam kitab At-Tuhfah berkata: "Dan pada tempat yang memiliki lorong panjang, ia mendahulukan kaki kirinya di pintu masuk lorong tersebut dan ketika sampai di tempat duduknya (tempat buang hajat)." Selesai kutipan.

Dan perkataan beliau "Mendahulukan kaki kirinya" maksudnya atau pengganti kaki kiri (bagi yang tidak memilikinya). Hal itu berdasarkan riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: "Bahwa barangsiapa yang memulai dengan kaki kanannya sebelum kaki kirinya ketika masuk toilet, maka ia akan diuji dengan kefakiran". 

(Perkataan Pengarang "Dan kaki kanannya ketika keluar") maksudnya disunnahkan bagi orang yang telah masuk toilet dan ingin keluar/pergi darinya untuk mendahulukan kaki kanannya saat melangkah pergi.”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/108]

(وَيُقَدِّمُ يَسَارَهُ) أَوْ بَدَلَهَا (عِنْدَ الدُّخُولِ) وَلَوْ بِغَيْرِ مُعَدٍّ؛ إِذْ يَصِيرُ مُسْتَقْذَراً بِإِرَادَةِ قَضَائِهَا فِيهِ كَالْخَلَاءِ الْجَدِيدِ، وَمَا لَهُ دِهْلِيزٌ طَوِيلٌ يُقَدِّمُهَا عِنْدَ أَوَّلِهِ وَعِنْدَ وُصُولِهِ لِمَحَلِّ قَضَائِهَا، وَكَالْخَلَاءِ نَحْوُ سُوقٍ وَصَاغَةٍ، وَلَا يَحْرُمُ دُخُولُهَا إِلَّا إِنْ عَلِمَ بِمَعْصِيَةٍ فِيهَا حِينَ دُخُولِهِ، وَلَمْ يَحْتَجْ لِدُخُولِهَا. (وَيُمْنَاهُ عِنْدَ الْخُرُوجِ) فَالْيُسْرَى لِلْمُسْتَقْذَرِ، وَالْيُمْنَى لِمَا فِيهِ تَكْرِمَةٌ، وَكَذَا مَا لَا تَكْرِمَةَ فِيهِ عِنْدَ (حج) -إِلَى أَنْ قَالَ- (وَكَذَا يَفْعَلُ فِي الصَّحْرَاءِ) فَيُقَدِّمُ يَسَارَهُ لِمَكَانِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ، وَيُمْنَاهُ عِنْدَ انْصِرَافِهِ.
“("Dan ia mendahulukan kaki kirinya") atau penggantinya ("ketika masuk") tempat buang hajat, meskipun tempat itu bukan tempat yang khusus disediakan untuk itu. Karena tempat tersebut seketika menjadi tempat yang kotor (dianggap menjijikkan) dengan adanya keinginan untuk buang hajat di sana, seperti halnya toilet baru.

Bagi tempat yang memiliki lorong/serambi yang panjang, maka ia mendahulukan kaki kiri di awal lorong tersebut dan juga ketika sampai di tempat buang hajatnya. Dan disamakan dengan toilet (dalam aturan ini) seperti toilet pasar dan tempat penempaan emas (karena sama-sama tempat yang tidak mulia). Tidak haram memasuki pasar/tempat penempaan tersebut kecuali jika ia mengetahui adanya maksiat di dalamnya saat ia masuk dan ia tidak butuh untuk memasukinya.

("Dan mendahulukan kaki kanannya ketika keluar"). Maka kaki kiri digunakan untuk tempat yang kotor, sedangkan kaki kanan untuk tempat yang terdapat kemuliaan di dalamnya. Begitu pula (kaki kanan digunakan untuk keluar dari) tempat yang tidak ada kemuliaan di dalamnya menurut Imam Ibnu Hajar—sampai ucapan pengarang— ("Dan begitu pula yang ia lakukan di tanah lapang/padang pasir"). Maka ia mendahulukan kaki kirinya menuju tempat ia akan buang hajat, dan mendahulukan kaki kanannya saat selesai dan pergi dari tempat tersebut.”
[Busyral Kariim I/34]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama