Foto: Instagram
Pertanyaan:
Ijin bertanya para Ustadz, Apakah video ini benar
[𝐬𝐤𝐞𝐭𝐬𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐫𝐚𝐬]
Jawaban:
Budayakan tuliskan salam sebelum bertanya kecuali bertanya dengan membalas sebuah chat 🙏
Penjelasan yang disebutkan dalam video merupakan orang yang kini mengklaim diri mereka sebagai mengikuti Al Qur'an dan Hadits yang kerap disebut Wahabi dan umum disebut Salafi. Kerap kali pemahaman mereka tidak sejalan dengan pendapat Ulama Madzhab khususnya Madzhab Syafi'i.
Menanggapi pertanyaan yang diajukan sesuai dengan penjelasan yang disebutkan dalam video tersebut maka berdasarkan literatur klasik Ulama Madzhab yang dipelopori oleh Madzhab Syafi'i dan umumnya Empat Madzhab terdapat khilaf permasalahan Membaca Shalawat Nabi pada saat tasyahud awal. Di Madzhab Syafi'i sendiri juga terdapat khilaf termasuk Qaul Imam Syafi'i sendiri. Qaul Jadid Imam Syafi'i dan terdapat nas (keterangan) beliau dalam kitab Al Umm yaitu kitab Induk Imam Syafi'i dalam bidang Fiqih dan juga kitab Al Imlaa' Disunahkan membaca shalawat Nabi pada tasyahud awal, pendapat ini dikatakan oleh Imam Nawawi termasuk Qaul Al Adzhar. Dalam kitab Al Umm Imam Syafi'i menyebutkan bahwa Shalawat Nabi pada tasyahud awal adalah sunah dan ketika ditinggalkan tidak perlu mengulangi shalatnya yakni shalatnya terhitung sah dan Disunahkan Sujud sahwi. Berdasarkan pendapat ini kemudian berbagai literatur klasik Syafi'iyah belakangan sepertinya I'aanah At Thaalibiin dan semisalnya memasukkan Shalawat Nabi pada tasyahud awal pada bagian AB'ADH SHALAT Yakni bila meninggalkan satu kalimat atau sebagian dari shalawat Nabi pada tasyahud awal Disunahkan sujud sahwi, keterangan ini dipersilahkan melihat kitab fiqih Madzhab Syafi'i pada Permasalahan AB'ADH SHALAT sekaligus sujud sahwi. Qaul Jadid Imam Syafi'i dan diakui sebagai Qaul yang Adzhar itu diklaim oleh Imam Nawawi sebagai pendapat yang shahih Menurut Ulama Syafi'iyah. Berdasarkan pendapat ini sebagian Ulama Syafi'iyah memberikan alasan bahwa Shalawat Nabi pada tasyahud akhir adalah rukun demikian pula tasyahud, pada tasyahud awal juga begitu karena tasyahud awal sunah shalawat juga sunah.
Adapun menurut Qaul Qadim Imam Syafi'i dan termasuk Qaul Muqabil Al Adzhar membaca shalawat Nabi pada tasyahud awal tidak Disunahkan dengan alasan demi meringankan atau mempercepat. Imam Nawawi dalam kitab Al Majmuu' menyatakan bahwa pendapat seperti ini termasuk pendapat Imam Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, 'Atha', Sya'bi, Nakha'i dan Ats Tsauri.
Pada keterangan diatas tidak menyinggung pendapat dalam Madzhab Maliki karena ketika menyinggung berbagai pendapat di berbagai Madzhab Imam Nawawi tidak ada menyebutkan pendapat Madzhab Maliki terkait persoalan ini. Setelah saya telusuri pada literatur klasik Malikiyyah terdapat keterangan di Madzhab Maliki memakruhkan membaca shalawat Nabi pada tasyahud akhir dengan dasar tasyahud awal sifatnya ringkas yakni tidak lama sehingga memanjangkannya walaupun sampai shalawat Nabi dihukumi makruh.
Saya sudah menjelaskan berdasarkan ranah fiqih dan saya pribadi mengamalkan sedari dulu pada pendapat yang pertama yaitu membaca shalawat Nabi pada tasyahud awal hukumnya sunah dan bila ditinggalkan Disunahkan sujud sahwi sebagaimana meninggalkan tasyahud awal itu sendiri. Sedangkan selain saya termasuk penanya sekalipun disesuaikan apa yang dianut walaupun menganut seperti dianut golongan Salafi tersebut tanpa menyalahkan pendapat yang berbeda dengan amalan kita.
وَالتَّشَهُّدُ وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ فِي كُلِّ صَلَاةٍ غَيْرِ الصُّبْحِ تَشَهُّدَانِ تَشَهُّدٌ أَوَّلٌ وَتَشَهُّدٌ آخِرٌ، إنْ تَرَكَ التَّشَهُّدَ الْأَوَّلَ وَالصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ سَاهِيًا لَا إعَادَةَ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِ سَجْدَتَا السَّهْوِ لِتَرْكِهِ
“Tasyahud dan Shalawat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam pada tasyahud awal pada setiap shalat selain shubuh ada dua tasyahud yaitu tasyahud awal dan Tasyahud Akhir. Jika meninggalkan tasyahud awal dan shalawat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam pada tasyahud awal sebab teledor (atau lupa) tidak perlu mengulangi dan baginya sujud sahwi karena meninggalkannya”
[Al Umm I/140]
(الثَّالِثَةُ) هَلْ تُشْرَعُ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقِبَ التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ فِيهِ قَوْلَانِ مَشْهُورَانِ (الْقَدِيمُ) لَا يُشْرَعُ وَبِهِ قطع أبو حنيفة واحمد واسحق وَحُكِيَ عَنْ عَطَاءٍ وَالشُّعَبِيِّ وَالنَّخَعِيِّ وَالثَّوْرِيِّ (وَالْجَدِيدُ) الصَّحِيحُ عِنْدَ الْأَصْحَابِ تُشْرَعُ وَدَلِيلُهُمَا فِي الْكِتَابِ وَحَكَى الْمَحَامِلِيُّ فِي الْمَجْمُوعِ طَرِيقَيْنِ (أَحَدُهُمَا) هَذَا (وَالثَّانِي) يُسَنُّ قَوْلًا وَاحِدًا وَحَكَى صَاحِبُ الْعُدَّةِ طريقين (أَحَدُهُمَا) قَوْلَانِ (وَالثَّانِي) لَا يُسَنُّ قَوْلًا وَاحِدًا فَحَصَلَ ثَلَاثُ طُرُقٍ الْمَشْهُورُ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلَانِ وَالصَّحِيحُ أَنَّهَا تُسَنُّ وَهُوَ نَصُّهُ فِي الْأُمِّ وَالْإِمْلَاءِ
“(Ketiga) Apakah disyariatkan bershalawat kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam selepas tasyahud awal, padanya ada dua Qaul yang masyhur, Menurut Qaul Qadim tidak disyariatkan , dengan pendapat ini ditetapkan oleh Abu Hanifah, Ahmad dan Ishaq dan diceritakan dari 'Atha', Sya'bi, Nakha'i dan Ats Tsauri. Sedangkan menurut Qaul Jadid yang shahih Menurut Al Ashab disyariatkan dan dalil keduanya dalam Al Kitab. Al Mahamiliy dalam kitab Al Majmuu' menceritakan dua Jalur, yang pertama pendapat ini dan yang kedua Disunahkan berdasarkan satu Qaul. Sementara pengarang kitab Al 'Uddah menceritakan dua Jalur; yang pertama ada dua Qaul dan yang kedua tidak Disunahkan berdasarkan satu Qaul. Kesimpulannya ada tiga jalur yang masyhur pada masalah dua Qaul dan yang shahih Disunahkan, itulah nasnya (Imam Syafi'i) dalam kitab Al Umm dan Al Imlaa' ”
[Al Majmuu' Syarh Al Muhadzdzab III/460-461]
(وَالْأَظْهَرُ سَنُّهَا فِي الْأَوَّلِ) أَيْ الْإِتْيَانِ بِهَا فِيهِ: أَيْ بَعْدَهُ تَبَعًا لَهُ؛ لِأَنَّهَا ذِكْرٌ يَجِبُ فِي الْأَخِيرِ فَيُسَنُّ فِي الْأَوَّلِ كَالتَّشَهُّدِ. وَالثَّانِي لَا تُسَنُّ فِيهِ لِبِنَائِهِ عَلَى التَّخْفِيفَ.
“(Dan pendapat yang Adzhar Bershalawat pada tasyahud awal adalah sunah) yakni melakukan pada tasyahud awal yakni sesudahnya mengikuti padanya (tasyahud) karena ia merupakan dzikir yang wajib pada tasyahud akhir maka Disunahkan pada tasyahud awal seperti tasyahud. Sedangkan pendapat kedua (yang merupakan Muqabil Al Adzhar) tidak Disunahkan bershalawat pada tasyahud awal untuk meringankan (meringkas)”.
[Mughni Al Muhtaaj I/380]
الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّشَهُّدِ:
9 - يَرَى جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ أَنَّ الْمُصَلِّيَ لاَ يَزِيدُ عَلَى التَّشَهُّدِ فِي الْقَعْدَةِ الأُْولَى بِالصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِهَذَا قَال النَّخَعِيُّ وَالثَّوْرِيُّ وَإِِسْحَاقُ. وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ فِي الأَْظْهَرِ مِنَ الأَْقْوَال إِِلَى اسْتِحْبَابِ الصَّلاَةِ فِيهَا، وَبِهِ قَال الشَّعْبِيُّ.وَأَمَّا إِِذَا جَلَسَ فِي آخِرِ صَلاَتِهِ فَلاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي مَشْرُوعِيَّةِ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ التَّشَهُّدِ (2) .
__________________
(2) الاختيار 1 / 53، 54، وابن عابدين 1 / 343، والقوانين / 70، وروضة الطالبين 1 / 263، والمغني 1 / 537، 541، 542
𝐁𝐄𝐑𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐖𝐀𝐓 𝐊𝐄𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐍𝐀𝐁𝐈 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐋𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇𝐔 𝐀𝐋𝐀𝐈𝐇𝐈 𝐖𝐀𝐒𝐀𝐋𝐋𝐀𝐌 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐓𝐀𝐒𝐘𝐀𝐇𝐔𝐃
Mayoritas Ulama berpandangan (berpendapat) bahwa orang yang shalat tidak menambah tasyahud pada duduk pertama berupa shalawat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, berdasarkan pendapat ini berpendapat Nakha'i, Ats Tsauri dan Ishaq. Sementara kalangan Syafi'iyah pada Qaul Al Adzhar dari beberapa Qaul menganjurkan bershalawat padanya, berpendapat pula Sya'bi. Adapun Apabila duduk pada akhir shalatnya maka tidak ada khilaf Dikalangan Fuqaha' (Ahli fiqih) disyariatkan bershalawat kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sesudah tasyahud².
________________
². Al Ikhtiyaar I/53,54, Ibnu Abidin I/343, Al Qawaaniin Hal. 70, Raudhah At Thaalibiin I/263, Al Mughni I/537, 541, 542.
[Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah XII/39]
(وَ) يُسَنُّ (أَنْ يَتَشَهَّدَ فِي الْجَلْسَةِ الْأُولَى) بِأَنْ يَقُولَ التَّحِيَّاتُ (إلَى قَوْلِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ) وَتُكْرَهُ الزِّيَادَةُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِمَا نَصُّوا عَلَيْهِ مِنْ نَدْبِ التَّقْصِيرِ وَكَرَاهَةِ التَّطْوِيلِ فِي الْجُلُوسِ الْأَوَّلِ.
[Al Fawaakih Ad Diwaani Fii Fiqh Al Maaliki I/196]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
Link Diskusi:
