Foto: YouTube
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum..maaf yai mau tanya seputar bulan rajab walau sdah terlewat..dlm kitab durottunnasihin bulan rajab si sebut bulab ashom atau bulan tuli yg mana kejelekan kita tdak di catat..bukankah bulan rajab termasuk bulan harom yi..yangmana amal baik di lipatkan amal buruk juga di lipatkan..bagaimana itu yai? Mana yg lebih shohih? Trimakasih..
[𝐛𝐢𝐬𝐧𝐢𝐬]
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Syeikh Hamid Al Quds dalam karyanya menyebutkan 👇
وَكَانَ فِي ابْتِدَاءِ الْإِسْلَامِ يَحْرُمُ الْقِتَالُ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {اقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ} وَبَقِيَتْ حُرْمَتُهَا فِيْ تَضْعِيْفِ الْأَجْرِ عَلَى الطَّاعَةِ وَتَعْظِيْمِ الْوِزْرِ عَلَى الْمَعْصِيَةِ، حَمَانَا اللهُ تَعَالَى مِنْهَا. -إلى أن قال- وَكَانُوْا يُسَمُّوْنَهُ الْأَصَمَّ لِأَنَّهُ لَمْ يُسْمَعْ فِيْهِ حِسُّ قِتَالٍ
“Pada awal Islam perang diharamkan didalam bulan-bulan haram, kemudian dimansukh dengan firman Allah Taala (terjemahannya): maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka Dan keharaman bulan-bulan tsb tetap dalam hal berlipatnya pahala ketaatan dan besarnya dosa maksiat. Semoga Allah Ta'ala menjaga kita dari perbuatan dosa. -Sampai ungkapan pengarang- Mereka juga menamakannya dengan Al-ASHAMM, yaitu bulan yang tuli karena tidak terdengarnya suara peperangan di dalamnya”
[Kanzun Najaah Was Suruur Halaman 136, Daar Al Haawi]
Dari ibarat tersebut diatas dapat ditarik pemahaman Bahwa ASYHUR AL HURUM (Bulan Haram/mulia) dilipat gandakan pahala dan dilipat gandakan pula dosa, karena bulan Rajab termasuk pada bilangan bulan itu maka pada bulan Rajab juga sama dengan ASYHUR AL HURUM yang lain yang apabila seseorang melakukan aneka ibadah atau amalan ketaatan pahalanya dilipatgandakan dan demikian pula melakukan dosa juga dilipatgandakan. Adapun Bulan Rajab disebut sebagai bulan Asham itu menunjukkan pada bulan itu tidak terdengar suara peperangan pada bulan itu bukan dosa tidak dicatatkan sebagaimana disinggung pada ibarat diatas. Karena itu, kalau memang ada keterangan dalam kitab Durratun Nashihin yang menyebutkan seperti di diskripsi soal maka kurang tepat, hal ini sebagaimana sinyalir dalam firman Allah:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu,” (Surat At-Taubah ayat 36).
Terkait ayat diatas Yaitu:
فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu,”
Menurut Ulama Ahli Tafsir ayat termasuk menunjukkan melakukan aneka ketaatan yakni pahala maka pahala akan dilipatgandakan dan demikian pula dengan dosa, karenanya jelas lah maka yang lebih Shahih dalam persoalan ini. Berikut pendapat Ulama Ahli Tafsir:
فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ، أَيْ لَا تَظْلِمُوْا فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَنْفُسَكُمْ، بِاسْتِحْلَالِ حَرَامِهَا، فَإِنَّ اللهَ عَظَّمَهَا، وَإِيَّاكُمْ أَنْ تَعْمَلُوا النَّسِيْءَ فَتَنْقُلُوا الْحَجَّ مِنْ شَهْرِهِ إِلَى شَهْرٍ آخَرَ، وَتُغَيِّرُوْا حُكْمَ اللهِ تَعَالَى.
وَالْمُرَادُ النَّهْيُ عَنْ جَمِيْعِ الْمَعَاصِيْ بِسَبَبِ مَا لِهَذِهِ الْأَشْهُرِ مِنْ تَعْظِيْمِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ فِيْهَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى: "الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُوْمَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ" [البقرة: ١٩٧]. وَهَذِهِ الْأُمُوْرُ وَإِنْ كَانَتْ حَرَامًا فِيْ غَيْرِ هَذِهِ الْأَشْهُرِ، إِلَّا أَنَّهُ أَكَّدَ اللهُ تَعَالَى فِيْهَا الْمَنْعَ، زِيَادَةً فِيْ شَرَفِهَا.
“Maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu" (QS. At-Taubah: 36), maksudnya adalah: Janganlah kalian menzalimi diri sendiri di bulan-bulan haram dengan menghalalkan apa yang diharamkan di dalamnya. Sesungguhnya Allah telah mengagungkan bulan-bulan tersebut.
Waspadalah kalian dari melakukan an-nasi' (praktik menggeser-geser bulan suci), sehingga kalian memindahkan waktu haji dari bulan yang semestinya ke bulan yang lain, dan mengubah hukum Allah Ta’ala.
Adapun yang dimaksud adalah larangan dari segala bentuk kemaksiatan, dikarenakan bulan-bulan ini memiliki kedudukan istimewa di mana pahala dan siksaan di dalamnya dilipatgandakan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (mendekati istri/berkata kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji." (QS. Al-Baqarah: 197).
Perkara-perkara ini, meskipun hukumnya haram di luar bulan-bulan tersebut, namun Allah Ta'ala lebih menekankan larangannya di bulan-bulan ini sebagai bentuk tambahan atas kemuliaannya”
[Tafsir Al Munir Li Wahbah Zuhaili X/202-203]
قَالَ تَعَالَى: "فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ" أَيْ فِي هَذِهِ الْأَشْهُرِ الْمُحَرَّمَةِ لِأَنَّهَا آكَدُ وَأَبْلَغُ فِي الْإِثْمِ مِنْ غَيْرِهَا، كَمَا أَنَّ الْمَعَاصِيَ فِي الْبَلَدِ الْحَرَامِ تُضَاعَفُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: "وَمَنْ يُرِدْ فِيْهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ" [الحج: ٢٥].
وَكَذَلِكَ الشَّهْرُ الْحَرَامُ تُغَلَّظُ فِيْهِ الْآثَامُ، وَلِهَذَا تُغَلَّظُ فِيْهِ الدِّيَةُ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَطَائِفَةٍ كَثِيْرَةٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ، وَكَذَا فِي حَقِّ مَنْ قَتَلَ فِي الْحَرَمِ أَوْ قَتَلَ ذَا مَحْرَمٍ.
وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ يُوْسُفَ بْنِ مِهْرَانَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: "فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ" قَالَ: فِي الشُّهُوْرِ كُلِّهَا. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَوْلُهُ: "إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ" الْآيَةَ، "فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ" فِي كُلِّهِنَّ، ثُمَّ اخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ، وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَمَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ.
وَقَالَ قَتَادَةُ فِي قَوْلِهِ: "فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ" إِنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيْئَةً وَوِزْرًا مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهَا، وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيْمًا وَلَكِنَّ اللهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِهِ مَا يَشَاءُ.
“Allah Ta’ala berfirman: "Maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam (bulan yang empat) itu", maksudnya adalah di dalam bulan-bulan yang diharamkan ini, karena dosa di dalamnya lebih ditekankan dan lebih besar dampaknya daripada bulan lainnya. Sebagaimana kemaksiatan di Tanah Haram (Makkah) dilipatgandakan berdasarkan firman-Nya: "Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih" (QS. Al-Hajj: 25).
Demikian pula bulan haram, dosa-dosa menjadi lebih berat (secara kualitas) di dalamnya. Oleh karena itu, denda (diyat) menjadi lebih berat (diyat mughallazah) dalam mazhab Syafi'i dan banyak kelompok ulama lainnya bagi pembunuhan yang terjadi di bulan haram, atau pembunuhan yang terjadi di Tanah Haram, atau membunuh kerabat mahram.
Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya: "Maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam (bulan yang empat) itu", beliau berkata: "(Maksudnya) pada semua bulan."
Ali bin Abi Thalhah juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai ayat: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah..." hingga "Maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam (bulan yang empat) itu", beliau berkata: "Pada semua bulan, kemudian Allah mengkhususkan empat bulan dari semua bulan tersebut dan menjadikannya suci (haram), mengagungkan kehormatannya, serta menjadikan dosa di dalamnya lebih besar, dan amal saleh beserta pahalanya juga lebih besar."
Qatadah berkata mengenai ayat tersebut: "Sesungguhnya kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman di bulan-bulan lainnya. Meskipun kezaliman dalam kondisi apa pun adalah perkara besar, namun Allah mengagungkan urusan-Nya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.”
[Tafsir Ibnu Katsir IV/130]
Kalau dikutip lagi pendapat Ulama Ahli Tafsir mungkin ada tambahan keterangan senada tapi tidak saya kutip karena sehaluan juga dan yang dikutip diatas sudah mewakili pendapat Ulama Ahli Tafsir terkait dilipatgandakan pahala dan dosa yang dilakukan pada Bulan yang mulia termasuk bulan Rajab. ASYHUR AL HURUM itu ada 4, yaitu: Muharam, Rajab, Dzulqaidah dan Dzulhijjah)
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
Link Diskusi:
𝑨𝒓𝒕𝒊𝒌𝒆𝒍 𝑻𝒆𝒓𝒌𝒂𝒊𝒕 👇
