PERTANYAAN
> 𝗙𝗮𝗵𝗺𝗶 𝗔𝗹 𝗔𝗱𝗻𝗮𝗻𝗶
Assalamualaikum yai
Izin bertanya
Apakah membaca quran dalam hati mendapatkan pahala?
JAWABAN:
> 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Secara lafadz membaca Al Qur'an melalui perantaraan hati tidak mendapatkan pahala. Sebab, ketika membaca Al Qur'an tanpa didengar diri sendiri seperti melalui perantaraan hati tidak disebut membaca Al Qur'an, hal ini karena ketika orang junub membaca Alqur'an melalui perantaraan hati atau menggerakkan lisan tanpa dirinya mendengar bunyi lafadz yang dibaca tidak haram karena tidak dianggap membaca Alqur'an.
Namun, kasus membaca Al Qur'an melalui perantaraan hati bisa mendapatkan pahala dengan disamakan dengan dzikir hati. Syarat mendapatkan pahala harus menghadirkan hati dan menghayati setiap dzikir atau ayat yang dibaca. Jika ini tidak dilakukan tidak mendapatkan pahala. Maksud dari hadir hati maka setiap membaca ayat hatinya merenungkan intisari dari ayat yang dibaca seperti ketika membaca surat Al Fatihah:
° Ayat 1 (selain basmalah) : Hati tidak sekadar membatin teksnya, tetapi memunculkan rasa syukur mendalam atas segala nikmat dan pengakuan sadar bahwa Allah-lah Pemelihara seluruh alam semesta.
° Ayat 2 : Mengisi jiwa dengan rasa ketenangan dan keharuan membayangkan luasnya kasih sayang Allah yang tiada henti.
° Ayat 3 : Mengondisikan hati dalam rasa takut yang cemas sekaligus hormat (khauf dan haibah), menyadari bahwa kita kelak akan berdiri sendiri di Hari Pembalasan di hadapan Raja Yang Maha Adil.
° Ayat 4 : Menumbuhkan kesadaran akan ketidakmampuan diri (iftiqar)—bahwa kita hanyalah hamba yang lemah dan hanya bersandar penuh pada pertolongan-Nya. Dan seterusnya.
Oleh karena itu, membaca Al Qur'an dengan perantaraan hati tidak dinamakan membaca Al Qur'an dan bacaan itu tidak dianggap dan tidak mendapat pahala kecuali ketika membatin ayat sembari menghadirkan hati dengan merenungi makna ayat yang dibaca maka mendapatkan pahala dari jalur lafadz yang dibaca tapi mendapatkan pahala dari jalur menghadirkan hati disamakan dengan dzikir hati.
𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:
(وَقِرَاءَةُ مَا نُسِخَتْ تِلَاوَتُهُ) وَتَحْرِيكُ لِسَانِهِ وَهَمْسُهُ بِحَيْثُ لَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ؛ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ بِقِرَاءَةِ قُرْآنٍ.
“(Dan membaca ayat yang telah dinasakh [dihapus] hukum tilawahnya), serta menggerakkan lidahnya dan berbisik (hams) sekiranya ia tidak memperdengarkan kepada dirinya sendiri; karena hal tersebut tidak dikategorikan sebagai "membaca Al-Qur'an" (qirā'ah al-qur'ān).”
[Asnaa Al Mathaalib Fii Syarh Raudh At Thaalib I/67]
فَصْلٌ: اعْلَمْ أَنَّ الْأَذْكَارَ الْمَشْرُوعَةَ فِي الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا، وَاجِبَةً كَانَتْ أَوْ مُسْتَحَبَّةً، لَا يُحْسَبُ شَيْءٌ مِنْهَا وَلَا يُعْتَدُّ بِهِ حَتَّى يَتَلَفَّظَ بِهِ بِحَيْثُ يُسْمِعُ نَفْسَهُ إِذَا كَانَ صَحِيحَ السَّمْعِ لَا عَارِضَ لَهُ.
(الْأَذْكَارُ الْمَشْرُوعَةُ) أَيْ : الْأَذْكَارُ الَّتِي طَلَبَ الشَّارِعُ مِنَ الْإِنْسَانِ الْإِتْيَانَ بِهَا بِاللِّسَانِ مِنَ التَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ. قَوْلُهُ: (وَاجِبَةً كَانَتْ) كَقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ فِي الصَّلَاةِ وَمِنْهَا الْبَسْمَلَةُ عِنْدَنَا وَالتَّشَهُّدُ. قَوْلُهُ: (أَوْ مُسْتَحَبَّةً) وَسَوَاءً كَانَتْ مُؤَكَّدَةً أَيْ وَاظَبَ عَلَيْهَا - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي مُعْظَمِ الْأَوْقَاتِ حَضَرًا وَسَفَرًا كَقِرَاءَةِ السُّورَةِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ أَوْ غَيْرَ مُؤَكَّدَةٍ. قَوْلُهُ: (وَلَا يُعْتَدُّ بِهِ) عَطْفٌ عَلَى «لَا يُحْسَبُ» عَطْفَ تَفْسِيرٍ وَهُمَا مَبْنِيَّانِ لِلْمَفْعُولِ أَيْ لَا يُعْتَبَرُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا بِالتَّلَفُّظِ بِهِ مَعَ السَّمَاعِ، وَالْمُرَادُ لَا يُعْتَدُّ بِهِ ذِكْرًا أَيْ لَا يَخْرُجُ بِهِ عَنْ عُهْدَةِ الْمَأْمُورِ بِهِ مِنَ الذِّكْرِ بِاللِّسَانِ، فَلَا يُنَافِي إِثْبَاتَهُ عَلَى الذِّكْرِ الْقَلْبِيِّ لِأَنَّهُ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى كَمَا سَبَقَ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنَّ مَنْ ذَكَرَ بِقَلْبِهِ مِنْ غَيْرِ تَ لَفُّظٍ بِلِسَانِهِ لَا يَكُونُ مُعْتَدًّا بِهِ شَرْعًا؛ لِأَنَّ مُدَاوَمَةَ الذِّكْرِ لَا تُتَصَوَّرُ بِدُونِ اعْتِبَارِهِ بَلْ هُوَ أَفْضَلُ أَنْوَاعِهِ.
قَوْلُهُ: (بِحَيْثُ يُسْمِعُ نَفْسَهُ) الظَّرْفُ فِي مَحَلِّ الْمَفْعُولِ الْمُطْلَقِ صِفَةٌ لِلْمَصْدَرِ الْمَحْذُوفِ أَيْ : حَتَّى يَتَلَفَّظَ بِهِ تَلَفُّظًا بِحَيْثُ إلخ. ثُمَّ هَذَا الْإِسْمَاعُ أَقَلُّ الْإِخْفَاءِ عِنْدَ الْجُمْهُورِ. قَالَ فِي «الْحِرْزِ»: وَفِي مَذْهَبِنَا هُوَ الْقَوْلُ الْمَشْهُورُ وَهُوَ عِنْدَنَا حَدُّ السِّرِّ، وَأَقَلُّ الْجَهْرِ أَنْ يُسْمِعَ مَنْ بِجَانِبِهِ. وَمِنْ هُنَا اسْتُشْكِلَ التَّوَسُّطُ بَيْنَهُمَا فِي قَوْلِهِمْ يُتَوَسَّطُ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْإِسْرَارِ فِي نَفْلِ اللَّيْلِ الْمُطْلَقِ، ثُمَّ حَمَلُوهُ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ الْجَهْرُ تَارَةً وَالْإِسْرَارُ أُخْرَى، وَحَمَلَهُ ابْنُ الْمُلَقِّنِ عَلَى أَدْنَى دَرَجَاتِ الْجَهْرِ قَالَ : وَبِهِ يَرْتَفِعُ الْخِلَافُ، نَقَلَهُ عَنْهُ ابْنُ الْمُزَجَّدِ فِي «التَّجْرِيدِ».
وَقِيلَ: أَقَلُّ الْإِخْفَاءِ تَصْحِيحُ الْحُرُوفِ، وَهُوَ مُجَرَّدُ التَّلَفُّظِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ صَوْتٌ يُسْمَعُ وَيُسَمَّى بِالْهَمْسِ. قَالَ أَصْحَابُنَا: وَلَا يَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ تَحْرِيكُ لِسَانِهِ بِالْقُرْآنِ وَهَمْسُهُ بِحَيْثُ لَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ؛ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ بِقِرَاءَةِ قُرْآنٍ. لَكِنْ قَالَ الرَّاغِبُ فِي «مُفْرَدَاتِهِ»: الْهَمْسُ الصَّوْتُ الْخَفِيُّ، وَهَمْسُ الْأَقْدَامِ أَخْفَى مَا يَكُونُ مِنْ صَوْتِهَا، قَالَ تَعَالَى: {فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا} [طه: 108] اهـ، وَهُوَ يَقْتَضِي أَنَّ الْهَمْسَ فِيهِ صَوْتٌ مَسْمُوعٌ إِلَّا أَنَّهُ فِي غَايَةِ الْخَفَاءِ. وَيُجْمَعُ بَيْنَ الْكَلَامَيْنِ بِأَنَّ مُرَادَ الْفُقَهَاءِ «لَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ» أَيِ السَّمَاعُ الْمُعْتَدُّ بِهِ بِأَنْ يَسْمَعَ مَعَ الصَّوْتِ الْحُرُوفَ، أَمَّا لَوْ سَمِعَ الصَّوْتَ مِنْ غَيْرِ سَمَاعِهِ لِلْحَرْفِ فَلَا اعْتِبَارَ بِهِ.
“Pasal: Ketahuilah bahwasanya dzikir-dzikir yang disyariatkan dalam salat maupun luar salat—baik yang hukumnya wajib maupun sunnah—tidak dihitung dan tidak dianggap sama sekali (secara syar'i) hingga seseorang melafalkannya sekiranya ia dapat memperdengarkan kepada dirinya sendiri, apabila pendengarannya normal dan tidak ada penghalang (seperti bising).
(Dzikir-dzikir yang disyariatkan): Maksudnya adalah dzikir-dzikir yang dituntut oleh Syāri' (pembuat syariat) dari manusia untuk didatangkan menggunakan lisan, seperti takbir, tahmid, dan membaca Al-Qur'an.
Perkataannya: (Baik yang wajib): Seperti membaca Al-Fatihah dalam shalat (yang termasuk di dalamnya basmalah menurut Madzhab kita/Syafi'i) serta bacaan tasyahhud.
Perkataannya: ("Atau yang sunnah"): Baik sunnah mu'akkadah—yaitu yang senantiasa dilestarikan oleh Nabi ﷺ pada mayoritas waktu saat tidak bepergian (hadhar) maupun saat bepergian (safar), seperti membaca surat pada dua rakaat pertama—ataupun sunnah yang bukan mu'akkadah.
Perkataannya: ("Dan tidak dianggap kepadanya"): Di'athafkan kepada kata "Tidak dihitung" sebagai 'athaf tafsir (penjelas), dan keduanya di-mubni-majhulkan (lu yuhsabu walā yu'tad-du). Maksudnya: Tidak dianggap sah sesuatu dari dzikir tersebut kecuali dengan melafalkannya disertai memperdengarkannya (ke diri sendiri). Dan maksud dari "Tidak dianggap sebagai dzikir" adalah tidak dapat menggugurkan kewajiban dari dzikir lisan yang diperintahkan. Hal ini tidak menafikan adanya pahala/pencatatan atas dzikir hati, karena dzikir hati adalah dari sudut pandang yang lain sebagaimana telah lalu. Dan bukanlah maksudnya bahwa orang yang berdzikir dengan hatinya tanpa lafaz lisan tidak diakui secara syar'i sama sekali, sebab melanggengkan dzikir (mudāwamah adz-dzikr) tidak dapat dibayangkan tanpa menganggapnya (sah/berpahala), bahkan dzikir hati adalah jenis dzikir yang paling utama.
Perkataannya: ("Sekiranya memperdengarkan kepada dirinya sendiri"): Zharaf ini menempati posisi maf'ūl muthlaq sebagai sifat dari masdar yang dibuang; yakni: "Hingga ia melafalkannya dengan pelafalan sekiranya... dsb". Kemudian, tingkatan memperdengarkan ke diri sendiri ini merupakan batas minimal dari suara pelan (aqall al-ikhfā') menurut mayoritas ulama (Jumhur).
Pengarang kitab Al-Hirz berkata: Dan dalam Madzhab kita (Syafi'i) inilah pendapat yang masyhur, dan ia di sisi kita adalah batas dari suara pelan (haddu as-sirr). Sedangkan batas minimal suara keras (aqall al-jahr) adalah memperdengarkan kepada orang yang ada di sampingnya. Dari sinilah timbul kemusykilan mengenai posisi pertengahan (at-tawassuth) antara keduanya pada ucapan mereka: "Disunnahkan bersuara sedang antara keras dan pelan pada salat sunnah malam yang mutlak". Kemudian para ulama membawakan maknanya bahwa yang dimaksud adalah terkadang bersuara keras dan di waktu lain bersuara pelan. Sedangkan Ibnu al-Mulaqqin membawakan maknanya pada tingkatan suara keras yang paling rendah (adnā darajāt al-jahr), beliau berkata: "Dengan ini hilanglah perselisihan", sebagaimana dinukil darinya oleh Ibnu al-Muzajjad dalam At-Tajrīd.
Dan dikatakan (pendapat lain): Batas minimal suara pelan adalah mempraktikkan makhraj huruf (tashhīh al-hurūf), yaitu sekadar melafalkan tanpa adanya suara yang terdengar sama sekali, dan ini disebut dengan berbisik (al-hams). Ash-hāb kami (para ulama Syafi'iyyah) berkata: Tidak haram bagi orang yang junub untuk menggerakkan lidahnya dengan bacaan Al-Qur'an dan berbisik (hams) sekiranya ia tidak memperdengarkan kepada dirinya sendiri, karena tindakan tersebut tidak dikategorikan sebagai "membaca Al-Qur'an" (qirā'ah al-qur'ān). Namun, Al-Rāghib al-Ashfahānī berkata dalam kitab Mufradāt-nya: "Al-Hams adalah suara yang sangat pelan/samar, dan hams al-aqdām (langkah kaki) adalah suara paling samar dari langkah kaki", Allah Ta'ala berfirman: {Maka kamu tidak mendengar melainkan bisikan saja} [QS. Thaha: 108]. Hal ini menunjukkan bahwa hams itu tetap memiliki suara yang terdengar, hanya saja berada dalam tingkat kesamaran yang amat sangat. Dan kedua perkataan ini dikompromikan (al-jam'u): Bahwasanya maksud para fuqaha dari ungkapan "Tidak memperdengarkan dirinya sendiri" adalah pendengaran yang dianggap secara syar'i, yaitu ia mendengar huruf-huruf bersamaan dengan suaranya. Adapun jika ia hanya mendengar desis suara tanpa mendengar jelas pembentukan huruf-hurufnya, maka hal itu tidak dianggap (lā i'tibāra bih) sebagai membaca.”
[Al Futhuhaat Ar Rabaniyyah Ala Al Adzkaar An Nawawiyyah I/155-156]
٣٣ - وَسُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
عَنْ قَوْلِ النَّوَوِيِّ لَطَفَ اللهُ بِهِ فِي آخِرِ بَابِ مَجَالِسِ الذِّكْرِ مِنْ شَرْحِ مُسْلِمٍ:
"ذِكْرُ اللِّسَانِ مَعَ حُضُورِ الْقَلْبِ أَفْضَلُ مِنْ ذِكْرِ الْقَلْبِ" انْتَهَى. فَهَلْ يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِهِ أَنَّهُ إِذَا ذَكَرَ اللهَ بِقَلْبِهِ دُونَ لِسَانِهِ أَنَّهُ يَنَالُ الْفَضِيلَةَ إِذَا كَانَ مَعْذُورًا أَمْ لَا؟ وَهَلْ إِذَا قَرَأَ بِقَلْبِهِ دُونَ لِسَانِهِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ يَنَالُ الْفَضِيلَةَ أَمْ لَا؟ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ:
"الذِّكْرُ بِالْقَلْبِ لَا فَضِيلَةَ فِيهِ مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ ذِكْرًا مُتَعَبَّدًا بِلَفْظِهِ، وَإِنَّمَا فِيهِ فَضِيلَةٌ مِنْ حَيْثُ اسْتِحْضَارُهُ لِمَعْنَاهُ مِنْ تَنْزِيهِ اللهِ وَإِجْلَالِهِ بِقَلْبِهِ، وَبِهَذَا يُجْمَعُ بَيْنَ قَوْلِ النَّوَوِيِّ الْمَذْكُورِ، [وَ]قَوْلِهِمْ: ذِكْرُ الْقَلْبِ لَا ثَوَابَ فِيهِ. فَمَنْ نَفَى عَنْهُ الثَّوَابَ أَرَادَ مِنْ حَيْثُ لَفْظُهُ، وَمَنْ أَثْبَتَ فِيهِ ثَوَابًا أَرَادَ مِنْ حَيْثُ حُضُورُهُ بِقَلْبِهِ كَمَا ذَكَرْنَاهُ، فَتَأَمَّلْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ، وَلَا فَرْقَ فِي جَمِيعِ ذَلِك بَيْنَ الْمَعْذُورِ وَغَيْرِهِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ."
“(Beliau - Imam Ibnu Hajar Al Haitami -) - Semoga Allah meridai beliau - Ditanya: Mengenai perkataan Imam an-Nawawi —semoga Allah bersikap lembut/pembawa kebaikan kepadanya— di akhir Bab Majalis adz-Dzikr dari kitab Syarh Shahih Muslim: "Zikir lisan yang disertai kehadiran hati itu lebih utama daripada zikir hati saja." (Selesai kutipan).
Pertanyaan: Apakah dari perkataan beliau tersebut dapat dipahami bahwa jika seseorang berzikir mengingat Allah dengan hatinya saja tanpa lisannya, ia tetap mendapatkan keutamaan (fadhilah) apabila ia memiliki uzur (halangan), ataukah tidak? Dan apakah jika ia membaca (zikir/Al-Qur'an) dengan hatinya tanpa lisannya tanpa adanya uzur, ia tetap mendapatkan keutamaan atau tidak?
Maka beliau menjawab: Zikir dengan hati saja tidak memiliki keutamaan dari sudut pandang kedudukannya sebagai zikir yang bernilai ibadah secara lafal. Keutamaan padanya hanya ada dari sudut pandang penghayatan maknanya di dalam hati, yaitu berupa penyucian (tanzih) dan pengagungan (ijlal) terhadap Allah. Dengan pemahaman inilah disatukan/dikerompromikan antara pernyataan Imam an-Nawawi di atas dengan ungkapan para ulama lainnya: 'Zikir hati itu tidak ada pahalanya'. Ulama yang meniadakan pahala: Maksud mereka adalah pahala dari segi lafaz/ucapannya. Sementara Ulama yang menetapkan pahala: Maksud mereka adalah pahala dari segi kehadiran dan penghayatan hatinya, sebagaimana yang telah kami jelaskan.
Renungkanlah hal tersebut karena ini sangat penting! Dalam seluruh rincian hukum ini, tidak ada perbedaan antara orang yang memiliki uzur maupun yang tidak. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam (Dan Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi yang lebih mengetahui)”
[Al Fatawa Al Haditsiyyah Li Ibn Hajar Al Haitami Halaman 35]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
