Foto: Hidayatullah.com
Pertanyaan:
Senin, 1 Desember 2025
====================
Assalamualaikum, numpang tanya
Nasab anak dari pernikahan ortunya yang beda agama ke mana ya?
Misal ayahnya muslim ibunya non-muslim.
——————
Yang perlu digarisbawahi :
- Nikah beda agama ini gimana, sah atau tidak?
- Nah jika tidak sah, maka nanti anaknya dinasabkan ke mana? Begitu juga sebaliknya
Tapi sy belum menemukan ibarot yang aqrob dg kasus yang sy tanyakan ini
Mohon bantuannya, terima kasih
———————
Masalah seorang laki-laki non muslim sedangkan yang perempuan nya muslimah, maka ada terbaca ijma' tidak boleh menikah
Tapi jika laki-laki nya muslim sedangkan perempuannga non muslim ini belum tau lebih jauh ibarotnya
[+62 852-7449-1438]
Jawaban:
Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Masalah pernikahan beda agama telah Allah sebutkan dalam Al Qur'an seperti berikut ini 👇
{ وَلَا تَنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکٰتِ حَتّٰی یُؤۡمِنَّ ؕ وَلَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ وَّلَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ ۚ وَلَا تُنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ حَتّٰی یُؤۡمِنُوۡا ؕ وَلَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ وَّلَوۡ اَعۡجَبَکُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ یَدۡعُوۡنَ اِلَی النَّارِ ۚۖ وَاللّٰہُ یَدۡعُوۡۤا اِلَی الۡجَنَّۃِ وَالۡمَغۡفِرَۃِ بِاِذۡنِہٖ ۚ وَیُبَیِّنُ اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ ٪ }
"Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran".
[Surat Al-Baqarah: 221]
Untuk menentukan nasab anak dari pernikahan beda agama maka terlebih dahulu ditentukan keabsahan nikah beda agama, kenapa ini penting dibicarakan? Karena apabila pernikahan beda agama tidak dianggap sah maka hubungan intim dari pernikahan itu dianggap zina dan berlaku ketentuan zina seperti nasabnya hanya pada ibu dan hak mewarisi pun sama Yakni hanya pihak ibu. Lain halnya bila pernikahan beda agama dianggap sah maka masalah Nasab anak juga mengacu pernikahan yang sah pada umumnya seperti nasab anak ada pada pihak ayah, hak mewarisi dan lain sebagainya.
Berangkat dari ayat mulia diatas maka sudah dapat dimengerti bahwa pernikahan beda agama tidak halal alias tidak sah jika wanitanya muslimah sedangkan pria nya non muslim. Ayat itu pula mengisyaratkan tidak sah pula bila prianya muslim sedangkan wanitanya non muslim. Ayat tersebut kemudian ditetapkan menjadi dalil bagi Madzhab Syafi'i bahwa pernikahan antara seorang muslim dan non muslim tidak halal, tidak sah dan haram dan karena pernikahan tersebut tidak dibenarkan maka hubungan intim dari pernikahan itu dianggap zina. Demikian pula bila prianya muslim sedangkan wanitanya non muslim juga tidak halal alias tidak sah sebab untuk kehalalan atau keabsahan pernikahan untuk calon istri adalah muslimah sehingga tidak sah pria muslim menikahi wanita non muslim, ini juga sama dengan ketentuan pertama (Prianya non muslim sedangkan wanitanya muslimah) karena sama-sama dianggap tidak sah walhasil pernikahan itu bila terjadi hubungan intim dikategorikan zina.
Ketentuan Madzhab Syafi'i dalam kasus tersebut tidak mengucualikan yakni pernikahan beda agama tidak sah dan diharamkan kecuali mereka mengecualikan wanitanya Ahli kitab, cuma tidak secara mutlak tapi ada syarat kebolehan menikahi wanita Ahli kitab yaitu orang Yahudi dan Nasrani saja; Yahudi berpegang pada kitab Taurat dan Nasrani berpegang kepada kitab Injil, selain itu juga sama tidak boleh menikahi semua wanita non muslim.
Wanita Ahli Kitab terbagi dua:
- Israeliyah: Merujuk pada keturunan Israel (Yakub bin Ishaq bin Ibrahim AS).
- Non-Israeliyah (Nasrani) merujuk orang yang berpegang kepada Ajaran Nabi Isa AS pada kitab Injil.
Syarat menikahi wanita Israeliyah:
- Tidak diketahui bahwa nenek moyangnya masuk agama Yahudi setelah diutusnya Nabi yang menasakh (Musa, Isa, atau Muhammad).
- Tidak ada perbedaan apakah:
- Masuk agama setelah Nabi yang menasakh (tetap sah).
- Masuk agama setelah tahrif (perubahan kitab suci).
- Masuk agama setelah Nabi yang tidak menasakh (seperti Yusha’).
- Syarat menikahi wanita non-Israeliyah (Nasrani):
- Diketahui bahwa nenek moyangnya masuk agama Nasrani sebelum diutusnya Nabi yang menasakh (sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam)
- Mereka menjauhi ajaran yang telah diubah (tahrif).
Berangkat dari syarat kehalalan menikahi wanita Ahli kitab diatas maka dapat dipastikan - Insya Allah - Tidak ada lagi wanita Ahli kitab pada masa sekarang terlebih mereka tidak menjauhi ajaran sebelum ajaran Nasrani yang diubah seperti menganggap Allah punya anak, dll, padahal ajaran Nabi Isa AS sebenarnya mengesakan Allah dari bentuk keduaan kepadanya. Untuk itulah, untuk zaman sekarang menikahi wanita Yahudi dan Nasrani tetap tidak dihalalkan sebagaimana wanita non muslim pada umumnya.
Setelah mengetahui ketidak bolehan atas pernikahan beda agama maka dari dua bentuk pernikahan beda agama diatas maka bila dari pernikahan itu dikaruniai seorang anak maka anak itu dianggap sebagai anak zina karena pernikahan mereka dianggap tidak sah maka berlaku sama seperti tidak menikah. Oleh karena itu, anak tersebut hanya dinasabkan pada ibunya, mewarisi dari pihak ibunya saja dan ketentuan lainnya, sedangkan si anak dengan ayah biologisnya tidak ada hubungan nasab dan juga dianggap sebagai mahram, andai si ayah mau menikahi si anak setelah cerai dengan ibu si anak diperbolehkan dalam Madzhab Syafi'i karena tidak ada hubungan nasab dan tidak pula hubungan mahram.
Wallahu A'lam
(Mujawib/Mushahhih: Ismidar Abdurrahman As Sanusi)
Ibarat :
الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي الجزء الرابع صـــــــــ ٣٢ دار القلم أو المكتبة الشاملة
تنبيهان:
الأول: لا يجوز للمرأة المسلمة أن تتزوج برجل غير مسلم، مهما كانت ديانته، لأن للزوج ولاية على الزوجة، ولا ولاية لكافر على مسلم، ولأنها لا تأمن عنده على دينها، لأنه لا يؤمن به؟ قال الله عز وجل: {وَلَن يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً} [النساء: 141] وقال سبحانه وتعالى: {وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} [البقرة: 221].
فإذا أسلم حلت له، وإذا عقد عليها قبل إسلامه كان العقد باطلاً، ووجب التفريق بينهما فوراً فإذا حصل وطء كان ذلك زناً.
حاشية إعانة الطالبين الجزء الثالث صـــــــــ ٢٩٤ المكتبة نور العلم سورابايا
(تنبيه) اعلم أنه يشترط أيضا في المنكوحة كونها مسلمة أو كتابية خالصة ذمية كانت أو حربية، فيحل مع الكراهة نكاح الاسرائيلية بشرط أن لا يعلم دخول أول آبائها في ذلك الدين بعد بعثة عيسى عليه السلام وإن علم دخوله فيه بعد التحري، ونكاح غيرها بشرط أن يعلم دخول أول آبائها فيه قبلها ولو بعد التحريف إن تجنبوا المحرف
(قوله: تنبيه) أي في بيان نكاح من تحل ومن لا تحل من الكافرات، وقد أفرده الفقهاء بترجمة مستقلة (قوله: يشترط أيضا) أي كما يشترط ما تقدم من خلو الزوجة من نكاح وعدة ومن التعيين وعدم وجود محرمية (قوله: في المنكوحة) أي التي يريد أن ينكحها ويزوج عليها والمراد في حل نكاحها. ومثل المنكوحة الأمة التي يريد التسري بها (قوله: كونها مسلمة) أي لقوله تعالى: (ولا تنكحوا المشركات حتى يؤمن) وقوله أو كتابية: أي لقوله تعالى: (والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم) أي حل لكم. ويشترط فيها أن تكون يهودية أو نصرانية. والأولى هي المتمسكة بالتوراة، والثانية هي المتمسكة بالإنجيل. وأما إذا لم تكن كذلك كالمتمسكة بزبور داود ونحوه، كصحف شيث وادريس وابراهيم عليه الصلاة والسلام - فلا تحل لمسلم. قيل: لأن ذلك لم ينزل بنظم يدرس ويتلى، وإنما أوحي إليهم معانيه. وقيل لأن حكم ومواعظ، لا أحكام وشرائح (قوله: خالصة) صفة لكتابية. وخرج بها المتولدة من كتابي ونحو وثنية فتحرم، كعكسه، تغليبا للتحريم ...........
نهاية الزين في إرشاد المبتدئين صـــــــــ ٣١٢-٣١٣ المكتبة فستاك السلام سورابايا
وَلَا يحل لمُسلم نِكَاح كَافِرَة إِلَّا كِتَابِيَّة خَالِصَة ذِمِّيَّة كَانَت أَو حربية فَيحل نِكَاحهَا مَعَ الْكَرَاهَة والكتابية يَهُودِيَّة أَو نَصْرَانِيَّة متمسكة بِالتَّوْرَاةِ أَو الْإِنْجِيل دون سَائِر الْكتب وَمحل الْكَرَاهَة إِن لم يخْش الْعَنَت وَلم يرج إسْلَامهَا فَإِن رجى سنّ لَهُ ذَلِك وَمحل ذَلِك أَيْضا أَن يجد مسلمة صَالِحَة للتمتع وَإِلَّا فَلَا كَرَاهَة بل هِيَ أولى من مسلمة زَانِيَة ثمَّ الْكِتَابِيَّة على نَوْعَيْنِ إسرائيلية نِسْبَة إِلَى إِسْرَائِيل وَهُوَ يَعْقُوب بن إِسْحَاق بن إِبْرَاهِيم عَلَيْهِم السَّلَام وَغير إسرائيلية وَشرط حل نِكَاح الإسرائيلية أَن لَا يعلم دُخُول أول جد يُمكن انتسابها إِلَيْهِ وَلَو انتسابا لغويا فِي ذَلِك الدّين بعد بعثة تنسخه كبعثة مُوسَى فَإِنَّهَا ناسخة لما قبلهَا وبعثة عِيسَى ناسخة لبعثة مُوسَى وبعثة نَبينَا ناسخة لَهما سَوَاء علم دُخُوله فِيهِ قبل بعثة تنسخه أم شكّ وَسَوَاء علم دُخُوله فِيهِ بعد تحريفه أَو بعد بعثة لَا تنسخه كبعثة سيدنَا يُوشَع وَشرط حل نِكَاح غير الإسرائيلية أَن يعلم دُخُول أول جد يُمكن انتسابها إِلَيْهِ وَلَو من جِهَة الْأُم فِي ذَلِك الدّين قبل بعثة تنسخه وَلَو بعد تبديله أَن تجنبوا الْمُبدل أما لَو علم دُخُوله فِيهِ بعد نسخه أَو شكّ فِي دُخُوله قبل النّسخ وَبعده أَو علم دُخُوله قبله وَلم يتجنبوا الْمُبدل فَلَا تحل لمُسلم
حاشية الباجوري على ابن قاسم الجزء الثاني صـــــــــ ١١١ المكتبة نور العلم سورابايا
( قوله وأما المرأة فلا يحل لها ولدها من الزنا ) بل يحرم عليها وعلى سائر محارمها ويرث منها وترث منه بالإجماع والفرق بين الرجل حيث لا تحرم عليه البنت المخلوقة من ماء زناه وبين المرأة حيث يحرم عليها الولد المخلوق من ماء زناها أن البنت انفصلت من الرجل وهي نطفة قذرة لا يعبأ بها والولد انفصل من المرأة وهو انسان كامل.
Link Diskusi:
Baca juga artikel terkait:
