2020. 𝐏𝐑𝐎𝐁𝐋𝐄𝐌𝐀𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐓𝐀𝐐𝐋𝐈𝐃

Foto: Tebuireng Online 


PROBLEMATIKA TAQLID

TAQLID merupakan mengambil pendapat Imam Mujtahid tanpa mengetahui dalilnya. Kebanyakan orang menilai bertaqlid kepada pendapat diluar Madzhab adalah perkara enteng cukup ada maksud taqlid sudah dianggap sah. Tanpa dipungkiri terkadang bagi penganut Madzhab tertentu seperti Madzhab Syafi'i pada sebagian kondisi tidak bisa mengamalkan Madzhab Syafi'i dengan ada berbagai sebab, entah Madzhab yang ia anut tidak mengabsahkan dan lain sebagainya, banyak contoh dalam permasalahan ini seperti Bertaqlid kepada Madzhab Maliki mencukupkan Niat sebulan penuh paska Ramadhan jika lupa berniat pada malam-malam berikutnya, Zakat fitrah menggunakan uang dan lain sebagainya karena sesuai contoh itu di Madzhab Syafi'i tidak mengabsahkan maka diharuskan bertaqlid kepada pendapat yang mengabsahkan demi terealisasikan Ibadah yang sah. Lalu apa cukup "Bertaqlid doang"?

Saya menulis permasalahan ini karena banyak disalah artikan sebagian orang karena ada yang menganggap bertaqlid saja sudah dianggap cukup dan setelahnya sahlah ibadahnya tanpa perlu adanya qadha' selepas nya. Saya juga pernah ditanyakan oleh ipar saya "Dalam niat puasa sebelum penuh kenapa tidak ada Ulama Syafi'iyah mengatakan bertaqlid kepada pendapat Imam Malik sebagai Talfiq bahkan mereka mensunahkan bertaqlid kepada pendapat Imam Malik tersebut"? Dan masih banyak pertanyaan senada baik diajukan kepada saya pribadi ataupun ditanyakan secara umum seperti lewat medsos seperti di grup Facebook atau WhatsApp. Maka oleh karena itu, cermati lah uraian ini khususnya bagi penganut Madzhab Syafi'i agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam permasalahan taqlid ini karena mau tidak mau kita harus melakukan taqlid ini demi tercipta ibadah dan lainnya yang sah kalau tidak kita terpaksa tetap menjalankan madzhab kita yang diharuskan mengqadha' umpamanya.

Bertaqlid kepada Madzhab lain seperti penganut Madzhab Syafi'i bertaqlid kepada pendapat Imam Malik atau Madzhab Maliki, Madzhab Abu Hanifah, dan lainnya dari Madzhab empat tidak lah mudah seperti membalikkan telapak tangan tapi harus memenuhi persyaratan apa saja syarat bertaqlid kepada pendapat diluar Madzhab? Yang perlu dicermati betul syaratnya harus tau ketentuan permasalahan yang mau diambil Dari pendapat tersebut, syaratnya, keabsahannya dan perkara yang membatalkannya, setelah diketahui sekaligus mengamalkan ketentuan hukum itu pada amaliyah yang ia taqlid kan. Misalnya: Seseorang bertaqlid kepada pendapat Imam Malik yang mencukupkan Niat sebulan penuh paska Ramadhan jika nanti pada malam berikutnya lupa berniat maka niat sebulan penuh itu sudah dapat menambal dari Niat yang lupa itu tanpa perlu diqadha', syarat boleh dan sahnya bertaqlid pada masalah niat sebulan penuh itu harus mengetahui syarat puasa, syarat keabsahan puasa termasuk ketentuan niat puasa Ramadhan sekaligus perkara yang membatalkan puasa, setelah diketahui ketentuan itu maka ketentuan itu diamalkan pada amaliyah puasa; dalam arti pada kasus itu dia tidak lagi memakai ketentuan Madzhab Syafi'i tapi langsung mengamalkan ketentuan puasa dalam Madzhab Maliki dan ketentuan Madzhab Syafi'i ia tinggalkan. Kenapa ini disyaratkan? Karena untuk menghindari yang dinamakan Talfiq yang Talfiq itu sendiri penyebab membatalkan taqlid yakni membuat taqlid tidak sah, lalu kenapa ketika membahas Niat sebulan penuh paska Ramadhan Ulama Syafi'iyah tidak ada mensyaratkan itu? Karena yang mereka maksudkan boleh dan sunah bertaqlid kepada pendapat Imam Malik, sedangkan ketentuan taqlid ya tetap mengacu pada ketentuan taqlid itu sendiri, PAHAMILAH!

Adapun permasalahan lain juga mengacu ketentuan seperti diatas, seperti dalam Masalah Zakat fitrah menggunakan uang bertaqlid kepada pendapat Imam Abu Hanifah yakni Madzhab Hanafi maka ketentuan zakat fitrah, syarat wajib, syarat sah sampai perkara yang membatalkan zakat fitrah harus diketahui sesuai ketentuan Madzhab Hanafi dan ketika diamalkan mengacu ketentuan itu tidak lagi di Madzhab Syafi'i sebagaimana kasus niat puasa sebulan penuh paska Ramadhan diatas, sedangkan kasus lain ketika mau bertaqlid diluar Madzhab mengacu ketentuan itu. Gimana sangat mudah atau sangat sulit? Pendek kata; Seseorang yang mau bertaqlid diluar Madzhab paling tidak ia punya pegangan kitab Madzhab tersebut seperti Bertaqlid kepada pendapat Imam Malik maka ia harus ada kitab Ulama Madzhab Maliki sehingga bisa diketahui ketentuan masalah yang mau bertaqlid kepadanya dan hal terkait dengannya atau bertanya kepada orang yang menguasai itu di Madzhab tersebut seperti bertanya dengan orang Alim yang bermadzhab Maliki. Tampaknya tidak semua orang penganut Madzhab Syafi'i bisa melakukan itu, sebab ketentuan di Madzhab Syafi'i saja banyak tidak tuntas apalagi di Madzhab lain, karena itulah Syeikh Amin Al Kurdi mengatakan bahwa bertaqlid kepada pendapat yang Dha'if dalam Madzhab (yang dianut) adalah lebih baik ketimbang bertaqlid kepada pendapat diluar Madzhab karena sulitnya memenuhi syarat tersebut. Karena ini pula saya sering menyampaikan ketika berdiskusi di suatu grup bagi yang menjawab pertanyaan agar kalau menyampaikan Permasalahan hukum Dari Madzhab lain agar menjelaskan Madzhab tersebut sebenarnya inilah penyebabnya karena kalau selaku orang Indonesia pegangan mereka mayoritasnya Madzhab Syafi'i dan bila diterangkan Madzhab lain bisa saja pendapat itu akan diamalkan dan kerap kali tidak bisa memenuhi syarat tersebut, itulah sebenarnya tujuan saya.

Terkait syarat taqlid sebagaimana diatas telah dijelaskan oleh Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam kitab beliau Fathul Mu'in, pernyataannya: 👇

وفي فتاوي شيخنا: من قلد إماما في مسألة لزمه أن يجري على قضية مذهبه في تلك المسألة وجميع ما يتعلق بها، فيلزم من انحرف عن عين الكعبة وصلى إلى جهتها مقلدا لابي حنيفة مثلا أن يمسح في وضوئه من الرأس قدر الناصية وأن لا يسيل من بدنه بعد الوضوء دم وما أشبه ذلك، وإلا كانت صلاته باطلة باتفاق المذهبين فليتفطن لذلك. انتهى.
Dan disebutkan dalam kitab Fatwa Syaikhuna (Guru Syeikh Zainuddin Al Malibari yaitu Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami): "Orang yang bertaqlid terhadap pendapat Imam pada suatu permasalahan diwajibkan berjalan sesuai ketetapan Madzhabnya pada permasalahan tersebut dan seluruh hal terkait dengannya. Ketika seseorang berbelok dari Ain Ka'bah dan shalat menghadap arahnya sebagai bertaqlid kepada pendapat Abu Hanifah diwajibkan baginya mengusap kepala pada wudhu seukuran ubun-ubun dan tidak ada yang menetes dari tubuhnya berubah darah dan semisalnya dan jika tidak maka shalatnya batal dengan kesepakatan dua Madzhab tersebut (Madzhab Syafi'i dan Hanafi) maka perhatikanlah!

ووافقه العلامة عبد الله أبو مخرمة العدني وزاد فقال: قد صرح بهذا الشرط الذي ذكرناه غير واحد من المحققين من أهل الاصول والفقه: منهم ابن دقيق العيد والسبكي، ونقله الاسنوي في التمهيد عن العراقي. قلت: بل نقله الرافعي في العزيز عن القاضي حسين. انتهى.
Pernyataan tersebut disepakati oleh Al-'Allamah Abdullah Abu Makhramah Al-'Adaniy dan beliau menambahkan lalu beliau berkata: Sesungguhnya telah ada penegas syarat ini yang kami tuturkan tidak Hanya diutarakan oleh satu orang dari Ahli Tahqiq dari kalangan Ahli Ushul dan Fiqih diantara mereka adalah: Ibnu Daqiq Al I'ed, Subki dan Al Asnawi menuqil dalam kitab At Tahmid dari Al Iraqi. Aku ungkapkan: Bahkan Ar Rafi'i menuqil dalam kitab Al Aziz dari Al Qadhi Husain, habis.
  
Coba perhatikan dengan seksama! Seseorang yang bertaqlid kepada pendapat Imam Abu Hanifah yang mengabsahkan shalat hanya menghadap Arah Ka'bah disyaratkan seseorang itu harus mengetahui ketentuan shalat khususnya syarat sah shalat yang terhitung dari wudhunya setelah tahu baru mengamalkan ketentuan itu pada masalah yang ia mau ambil permasalahan pada pendapat Imam Abu Hanifah itu kalau tidak begitu shalatnya tidak sah. Itu membuktikan syarat taqlid diluar Madzhab tidak Hanya mengetahui ketentuan bab mau ia amalkan tapi syaratnya dan hal terkait dengannya harus diamalkan, kalau di Madzhab Syafi'i wajib menghadap Ain Ka'bah bukan Arahnya saja, syarat seperti ini juga dipaparkan oleh Syeikh Amin Al Kurdi dalam kitab Tanwir Al Quluub pada permasalahan taqlid yang sengaja tidak saya kutip karena terlalu kepanjangan inipun sudah kepanjangan.

Terakhir saya kutip pernyataan Syeikh Bakri Syatha Dimyathi terkait pernyataan Syeikh Zainuddin Al Malibari diatas 👇

(قوله: وفي فتاوي شيخنا الخ) مؤيد لاشتراط عدم التلفيق(قوله: لزمه أن يجري على قضية مذهبه) أي على ما يقتضيه مذهب ذلك الامام الذي قلده في تلك المسألة (وقوله: وجميع ما يتعلق بها) أي بتلك المسألة: أي من استكمال شروطها، ومراعاة مصححاتها، واجتناب مبطلاتها.
(Keterangan Pengarang "Tersebut dalam kitab Syaikhuna"dst) Memperkuat karena disyaratkan ketiadaan Talfiq.

(Keterangan Pengarang "Diwajibkan berjalan sesuai ketetapan Madzhabnya"dst) Yakni kepada ketetapan madzhab imam itu yang ia bertaqlid pada masalah itu.

(Dan keterangan beliau "Dan seluruh hal yang terkait dengannya") Yakni dengan masalah itu yakni berupa menyempurnakan syaratnya, menjaga keabsahannya dan menjauhi perkara yang Membatalkannya.

(قوله: فيلزم من انحرف الخ) ... -إلى أن قال- أي فيلزم الشافعي الذي قصده أن ينحرف عن عين القبلة، ويصلي إلى جهتها مقلدا للإمام أبي حنيفة رضي الله عنه أن تكون طهارته على مذهبه، بأن يكون يمسح في الوضوء قدر الناصية، وأن لا يسيل منه دم بعد الوضوء، فإنه ناقض له عنده، أو فيلزم الشافعي الذي انحرف وصلى إلى الجهة مقلدا للإمام أبي حنيفة في ذلك أنه كان قد مسح إلخ(وقوله: وإن لا يسيل الخ) معطوف على أن يمسح، (قوله: وما أشبه ذلك) أي ما ذكر من مسح قدر الناصية وعدم سيلان الدم، والمشبه لذلك فعل كل ما هو شرط لصحة الصلاة عند الإمام أبي حنيفة رضي الله عنه، وترك كل ما هو مبطل لها عنده(قوله: وإلا) أي بأن لم يمسح قدر الناصية، أو سال منه دم بعد الوضوء، كانت صلاته باطلة(قوله: فليتفطن لذلك) أي للشرط المذكور(قوله: ووافقه) أي الشيخ ابن حجر(قوله: وزاد) أي العلامة عبد الله أبو مخرمة(قوله: قد صرح بهذا الشرط) أي وهو أن من قلد إماما في مسألة لزمه الجريان على قضية مذهبه فيها.
(Keterangan Pengarang "Orang yang berbelok... Diwajibkan, dst") Yakni Diwajibkan bagi penganut Madzhab Syafi'i yang bertujuan berbelok dari Ain Ka'bah dan shalat menghadap arah Ka'bah sebagai bertaqlid kepada pendapat Imam Abu Hanifah - Semoga Allah meridhai beliau - bersuci sesuai Madzhabnya seperti mengusap kepala pada wudhu seukuran ubun-ubun dan tidak ada yang mengalir dari tubuhnya berupa darah sesudah berwudhu karena hal itu membatalkan wudhu menurut beliau (Imam Abu Hanifah). Atau diwajibkan penganut Madzhab Syafi'i yang berbelok dan shalat kepada arah sebagai bertaqlid kepada pendapat Imam Abu Hanifah pada permasalahan itu ia mengusap,dst.

(Dan Keterangan Pengarang "Tidak ada yang mengalir",dst) 'Athaf kepada lafadz أن يمسح 'Mengusap'.

(Keterangan Pengarang "Dan semisalnya") Yakni yang telah disebutkan yang berupa mengusap seukuran ubun-ubun dan ketiadaan darah mengalir dan seumpamanya. Melakukan itu semua merupakan syarat keabsahan shalat menurut Imam Abu Hanifah - Semoga Allah meridhai beliau - dan meninggalkan perkara tersebut adalah membatalkannya menurut beliau.

(Dan keterangan beliau "Dan jika tidak") Yakni seperti tidak mengusap seukuran ubun-ubun atau mengalir darinya darah sesudah berwudhu shalatnya batal.

(Keterangan Pengarang "Maka perhatikan lah hal itu!") yakni Syarat tersebut.

(Dan keterangan beliau "Pernyataannya disepakati") Yakni pernyataan Syeikh Ibnu Hajar.

(Keterangan Pengarang "Dan beliau menambahkan") Yakni Al-'Allamah Abdullah Abu Makhramah.

(Dan keterangan beliau "Sesungguhnya telah ditegaskan Syarat ini") Yakni Yaitu orang yang bertaqlid terhadap pendapat Imam pada suatu permasalahan diwajibkan berjalan sesuai ketetapan Madzhabnya pada masalah tersebut.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin Beserta Hamisnya IV/217, Cet. Nurul Ilmi Surabaya]

نعم في الفوائد المدنية للكردي أن تقليد القول أو الوجه الضعيف في المذهب بشرطه أولى من تقليد مذهب الغير لعسر اجتماع شروطه اهـ.
Memang! Dalam kitab Al Fawaaid Al Madaniyyah Milik Al Kurdiy disebutkan: Bertaqlid Qaul atau Wajh Dha'if dalam Madzhab dengan syaratnya adalah utama ketimbang bertaqlid diluar Madzhab karena sulit terkumpul syaratnya, habis.
[Bughyah Al Mustarsyidiin Halaman 10, Cet. Al Haramain]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab 


Oleh: Ismidar Abdurrahman As Sanusi pada: Senin, 8 Desember 2025, bersamaan 17 Jumadil akhir 1447. Pukul: 22.33 Wib

Sumber:

Link Diskusi:

Komentari

Lebih baru Lebih lama