2033. 𝐂𝐀𝐑𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐎𝐁𝐀𝐓𝐈 𝐏𝐄𝐍𝐘𝐀𝐊𝐈𝐓 𝐑𝐈𝐘𝐀'

Foto: detikcom


Pertanyaan:
Assalamu'alaikum yai
Bagaimana cara menghilangkan Riya dalam hati kita biar ibadah tidak karna manusia.. ? 
Lalu bagaimana misalkan riya itu muncul tapi kita selalu menentangnya dalam hati, namun gk hilang² rasa riya nya ?
[𝐈𝐛𝐧𝐮 𝐀𝐝𝐧𝐚𝐧 𝐀𝐥 𝐆𝐡𝐚𝐳𝐚𝐥𝐢]

Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

𝐓𝐄𝐑𝐀𝐏𝐈 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐎𝐁𝐀𝐓𝐈 𝐏𝐄𝐍𝐘𝐀𝐊𝐈𝐓 𝐑𝐈𝐘𝐀'

بَيَانُ دَوَاءِ الرِّيَاءِ وَطَرِيقِ مُعَالَجَةِ الْقَلْبِ فِيهِ:
عَرَفْتَ مِمَّا سَبَقَ أَنَّ الرِّيَاءَ مُحْبِطٌ لِلْأَعْمَالِ وَسَبَبٌ لِلْمَقْتِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، وَأَنَّهُ مِنْ كَبَائِرِ الْمُهْلِكَاتِ، وَمَا هَذَا وَصْفُهُ فَجَدِيرٌ بِالتَّشْمِيرِ عَنْ سَاقِ الْجَدِّ فِي إِزَالَتِهِ. وَفِي عِلَاجِهِ مَقَامَانِ:
أَحَدُهُمَا: قَلْعُ عُرُوقِهِ وَأُصُولِهِ الَّتِي مِنْهَا انْشِعَابُهُ.

وَالثَّانِي: دَفْعُ مَا يَخْطُرُ مِنْهُ فِي الْحَالِ

𝐏𝐄𝐍𝐉𝐄𝐋𝐀𝐒𝐀𝐍 𝐎𝐁𝐀𝐓 𝐑𝐈𝐘𝐀' 𝐃𝐀𝐍 𝐂𝐀𝐑𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐎𝐁𝐀𝐓𝐈 𝐇𝐀𝐓𝐈 𝐃𝐀𝐑𝐈𝐍𝐘𝐀

Engkau telah mengetahui dari penjelasan sebelumnya bahwa riya adalah penghapus amal perbuatan, penyebab kemurkaan di sisi Allah Ta'ala, dan termasuk dosa besar yang membinasakan. Sesuatu yang sifatnya demikian, maka sudah sepatutnya bagi seseorang untuk bersungguh-sungguh (tasyamir) dalam upaya menghilangkannya.

Dalam pengobatannya terdapat dua tahapan (maqam):
1. Tahapan Pertama: Mencabut akar-akar dan asal-usulnya yang menjadi sumber percabangannya.

2. Tahapan Kedua: Menolak bisikan riya yang muncul secara tiba-tiba pada saat itu juga (saat beramal).

الْمَقَامُ الْأَوَّلُ فِي قَلْعِ عُرُوقِهِ وَأُصُولِهِ:

وَأَصْلُهُ حُبُّ الْمَنْزِلَةِ وَالْجَاهِ، وَإِذَا فُصِّلَ رَجَعَ إِلَى ثَلَاثَةِ أُصُولٍ وَهِيَ: حُبُّ لَذَّةِ الْمَحْمَدَةِ، وَالْفِرَارُ مِنْ أَلَمِ الذَّمِّ، وَالطَّمَعُ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ، فَهَذِهِ الثَّلَاثَةُ هِيَ الَّتِي تُحَرِّكُ الْمُرَائِيَ إِلَى الرِّيَاءِ. وَعِلَاجُهُ أَنْ يَعْلَمَ مَضَرَّةَ الرِّيَاءِ وَمَا يَفُوتُهُ مِنْ صَلَاحِ قَلْبِهِ، وَمَا يَحْرُمُ عَنْهُ فِي الْحَالِ مِنَ التَّوْفِيقِ وَفِي الْآخِرَةِ مِنَ الْمَنْزِلَةِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَا يَتَعَرَّضُ لَهُ مِنَ الْعِقَابِ وَالْمَقْتِ الشَّدِيدِ وَالْخِزْيِ الظَّاهِرِ. فَمَهْمَا تَفَكَّرَ الْعَبْدُ فِي هَذَا الْخِزْيِ وَقَابَلَ مَا يَحْصُلُ لَهُ مِنَ الْعِبَادِ وَالتَّزَيُّنِ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا بِمَا يُفَوِّتُهُ فِي الْآخِرَةِ وَبِمَا يُحْبِطُ عَلَيْهِ مِنْ ثَوَابِ الْأَعْمَالِ فَإِنَّهُ يَسْهُلُ عَلَيْهِ قَطْعُ الرَّغْبَةِ عَنْهُ، كَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّ الْعَسَلَ لَذِيذٌ وَلَكِنْ إِذَا بَانَ لَهُ أَنَّ فِيهِ سُمًّا أَعْرَضَ عَنْهُ. ثُمَّ أَيُّ غَرَضٍ لَهُ فِي مَدْحِهِمْ وَإِيثَارِ ذَمِّ اللَّهِ لِأَجْلِ حَمْدِهِمْ، وَلَا يَزِيدُهُ حَمْدُهُمْ رِزْقًا، وَلَا أَجَلًا، وَلَا يَنْفَعُهُ يَوْمَ فَقْرِهِ وَفَاقَتِهِ، وَهُوَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ.

𝐓𝐚𝐡𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚 : 𝐌𝐞𝐧𝐜𝐚𝐛𝐮𝐭 𝐚𝐤𝐚𝐫-𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐑𝐢𝐲𝐚' 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐬𝐚𝐥 𝐔𝐬𝐮𝐥 𝐑𝐢𝐲𝐚'

Akar dari riya adalah cinta pada kedudukan dan kemasyhuran (hubbul manzilati wal jah). Jika dirinci, ia kembali kepada tiga akar utama, yaitu:
1. Senang pada kelezatan pujian (ladzzatul mahmadah).
2. Lari dari rasa sakit celaan (al-firaru min alamidz dzammi).
3. Tamak terhadap apa yang dimiliki orang lain (at-thama'u fima fi aidin nas). Ketiga hal inilah yang menggerakkan orang yang riya untuk pamer.

𝐀𝐝𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐨𝐛𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 : Hendaknya ia menyadari bahaya riya, apa yang hilang darinya berupa kemaslahatan hati, apa yang terhalang darinya saat ini berupa taufik, dan apa yang hilang darinya di akhirat kelak berupa kedudukan di sisi Allah Ta'ala, serta hukuman, kemurkaan yang pedih, dan kehinaan yang nyata yang ia hadapi. Kapan pun seorang hamba merenungkan kehinaan ini, dan membandingkan apa yang ia dapatkan dari manusia serta upaya mempercantik diri di depan mereka di dunia, dengan apa yang luput darinya di akhirat kelak dan apa yang terhapus dari pahala amal-amalnya; niscaya akan menjadi mudah baginya untuk memutus keinginan terhadap riya tersebut.

Ibaratnya seperti seseorang yang tahu bahwa madu itu lezat, namun ketika jelas baginya bahwa di dalam madu itu terdapat racun, maka ia akan berpaling darinya. Lagi pula, apa gunanya pujian mereka jika ia lebih memilih celaan Allah demi mendapatkan pujian manusia itu Pujian mereka tidak akan menambah rezeki, tidak memanjangkan ajal, dan tidak pula memberinya manfaat pada hari di mana ia sangat miskin dan membutuhkan, yaitu hari kiamat.

وَأَمَّا الطَّمَعُ فِيمَا فِي أَيْدِيهِمْ فَبِأَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى هُوَ الْمُسَخِّرُ لِلْقُلُوبِ بِالْمَنْعِ وَالْإِعْطَاءِ، وَأَنَّ الْخَلْقَ مُضْطَرُّونَ فِيهِ، وَلَا رَازِقَ إِلَّا اللَّهُ، وَمَنْ طَمِعَ فِي الْخَلْقِ لَمْ يَخْلُ مِنَ الذُّلِّ وَالْخَيْبَةِ، وَإِنْ وَصَلَ إِلَى الْمُرَادِ لَمْ يَخْلُ عَنِ الْمِنَّةِ وَالْمَهَانَةِ، فَكَيْفَ يَتْرُكُ مَا عِنْدَ اللَّهِ بِرَجَاءٍ كَاذِبٍ وَوَهْمٍ فَاسِدٍ، وَقَدْ يُصِيبُ وَقَدْ يُخْطِئُ، وَإِذَا أَصَابَ فَلَا تَفِي لَذَّتُهُ بِأَلَمِ مِنَّتِهِ وَمَذَلَّتِهِ، وَأَمَّا ذَمُّهُمْ فَلَمْ يَحْذَرْ مِنْهُ، وَلَا يَزِيدُهُ ذَمُّهُمْ شَيْئًا مَا لَمْ يَكْتُبِ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَلَا يُعَجِّلُ أَجَلَهُ، وَلَا يُؤَخِّرُ رِزْقَهُ، وَلَا يَجْعَلُهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَلَا يُبَغِّضُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ كَانَ مَحْمُودًا عِنْدَ اللَّهِ، فَالْعِبَادُ كُلُّهُمْ عَجَزَةٌ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا، وَلَا نَفْعًا، فَإِذَا قُرِّرَ فِي قَلْبِهِ آفَةُ هَذِهِ الْأَسْبَابِ وَضَرَرُهَا فَتَرَتْ رَغْبَتُهُ، وَأَقْبَلَ عَلَى اللَّهِ قَلْبُهُ، وَالْعَاقِلُ لَا يَرْغَبُ فِيمَا يَكْثُرُ ضَرَرُهُ وَيَقِلُّ نَفْعُهُ، فَهَذَا مِنَ الْأَدْوِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ الْقَالِعَةِ مَغَارِسَ الرِّيَاءِ. وَأَمَّا الدَّوَاءُ الْعَمَلِيُّ فَهُوَ أَنْ يُعَوِّدَ نَفْسَهُ إِخْفَاءَ الْعِبَادَاتِ وَإِغْلَاقَ الْأَبْوَابِ دُونَهَا كَمَا تُغْلَقُ الْأَبْوَابُ دُونَ الْفَوَاحِشِ فَلَا تُنَازِعُهُ نَفْسُهُ إِلَى طَلَبِ عِلْمِ غَيْرِ اللَّهِ بِهِ.

Adapun mengenai ketamakan terhadap apa yang ada di tangan manusia, maka (obatnya adalah) dengan menyadari bahwa Allah Ta'ala adalah satu-satunya Zat yang menundukkan hati untuk memberi atau menolak, dan bahwa makhluk sebenarnya terdesak (tidak memiliki kuasa penuh) dalam hal itu. Tidak ada pemberi rezeki kecuali Allah. Barangsiapa yang tamak (berharap) kepada makhluk, ia tidak akan lepas dari kehinaan dan kekecewaan. Meskipun ia berhasil meraih apa yang ia inginkan, ia tetap tidak akan lepas dari beban utang budi (minnah) dan rasa rendah diri. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seseorang meninggalkan apa yang ada di sisi Allah demi sebuah harapan palsu dan prasangka yang rusak? Harapan kepada makhluk itu kadang tercapai, kadang meleset. Dan jika pun tercapai, kelezatannya tidaklah sebanding dengan rasa sakit akibat utang budi dan kehinaan yang ditimbulkannya.

Adapun mengenai celaan manusia, maka janganlah ia terlalu takut. Celaan mereka tidak akan menambah apa pun selama Allah tidak menetapkannya. Celaan itu tidak akan mempercepat ajal, tidak akan menunda rezeki, tidak pula menjadikan seseorang ahli neraka jika ia sebenarnya ahli surga, dan tidak akan membuat Allah benci kepadanya jika ia memang terpuji di sisi Allah.

Para hamba itu semuanya lemah, mereka tidak memiliki kekuasaan atas diri mereka sendiri, baik untuk mendatangkan mudarat maupun manfaat, Jika penyakit dari sebab-sebab ini (pujian, celaan, tamak) beserta dampaknya telah tertanam kuat di dalam hati, maka keinginan untuk riya akan melemah dan hatinya akan menghadap kepada Allah. Sebab, orang yang berakal tidak akan menyukai sesuatu yang mudaratnya banyak sedangkan manfaatnya sedikit. Ini adalah obat ilmiah (berbasis ilmu/logika) yang mampu mencabut akar-akar riya.

Adapun obat amaliah (praktik nyata), yaitu dengan membiasakan diri untuk menyembunyikan ibadah dan menutup pintu-pintu agar tidak terlihat orang lain, sebagaimana seseorang menutup pintu rapat-rapat saat hendak melakukan kemaksiatan (fawahisy). Dengan begitu, nafsunya tidak akan lagi merayunya untuk menuntut agar selain Allah mengetahui amalannya tersebut.

الْمَقَامُ الثَّانِي فِي دَفْعِ الْعَارِضِ مِنْهُ أَثْنَاءَ الْعِبَادَةِ:

وَذَلِكَ لَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ تَعَلُّمِهِ، فَإِنَّ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ بِقَلْعِ مَغَارِسِ الرِّيَاءِ وَقَطْعِ الطَّمَعِ وَاسْتِحْقَارِ مَدْحِ الْمَخْلُوقِينَ وَذَمِّهِمْ فَقَدْ لَا يَتْرُكُهُ الشَّيْطَانُ فِي أَثْنَاءِ الْعِبَادَةِ، بَلْ يُعَارِضُهُ بِخَطَرَاتِ الرِّيَاءِ، فَإِذَا خَطَرَ لَهُ مَعْرِفَةُ اطِّلَاعِ الْخَلْقِ دَفَعَ ذَلِكَ بِأَنْ قَالَ: مَا لَكَ وَلِلْخَلْقِ عَلِمُوا أَوْ لَمْ يَعْلَمُوا وَاللَّهُ عَالِمٌ بِحَالِكَ فَأَيُّ فَائِدَةٍ فِي عِلْمِ غَيْرِهِ، فَإِنْ هَاجَتِ الرَّغْبَةُ إِلَى لَذَّةِ الْحَمْدِ ذَكَرَ مَا رَسَخَ فِي قَلْبِهِ مِنْ قَبْلُ مِنْ آفَةِ الرِّيَاءِ وَتَعَرُّضِهِ لِلْمَقْتِ الْإِلَهِيِّ وَخُسْرَانِهِ الْأُخْرَوِيِّ.

𝐓𝐚𝐡𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚 : 𝐌𝐞𝐧𝐨𝐥𝐚𝐤 𝐠𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐚𝐧 𝐑𝐢𝐲𝐚' 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐁𝐞𝐫𝐢𝐛𝐚𝐝𝐚𝐡

Hal ini (tahapan kedua) juga harus dipelajari. Karena sesungguhnya, meskipun seseorang telah bersungguh-sungguh melawan nafsunya dengan mencabut akar-akar riya, memutus ketamakan, serta memandang rendah pujian dan celaan makhluk, setan terkadang tidak membiarkannya begitu saja di tengah-tengah ibadah. Bahkan, setan akan menghadang dengan lintasan-lintasan pikiran riya. Oleh karena itu, apabila terlintas dalam pikiran bahwa orang lain sedang melihat (ibadahmu), tolaklah hal itu dengan berkata (pada diri sendiri): 'Apa urusanmu dengan makhluk? Baik mereka tahu ataupun tidak, Allah telah mengetahui keadaanmu. Lalu apa gunanya pengetahuan selain Allah?' Kemudian, jika keinginan untuk merasakan lezatnya pujian mulai bergejolak, maka ingatlah kembali apa yang telah tertanam kuat di hatimu sebelumnya mengenai bahaya riya, risiko terkena kemurkaan Allah, serta kerugian besar di akhirat kelak.
[Mau'izhah Al Mukminin Min Ihyaa' Ulumiddin Halaman 238]

Semoga kita yang terkena penyakit hati yang disebut sebagai Riya' (pamer) ini bila melakukan terapi pengobatan yang disebutkan di atas, yang terpenting keikhlasan hati hadir ketika melakukan amal Shaleh bukan untuk dipuji manusia dan obat paling mujarab adalah melakukan ibadah ditempat sepi dari manusia dan kalau perlu kunci pintu dan selebihnya mohon pertolongan Allah untuk menghilangkan penyakit tercela itu dan Supaya Allah gantikan Dengan rasa yang tertanam di hati semata-mata mengharapkan keridhaan Allah dan pahalanya.

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Link Diskusi:

Komentari

Lebih baru Lebih lama