Foto: YouTube
Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz bertanya.. apa beda nya ruh dan nafs?
Ktk kita mimpi dlm tidur,yg mengalami kejadian dlm mimpi itu ruh kita atw nafs kita?
[𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥𝐌𝐮'𝐢𝐝]
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Sebagian Ulama berpendapat bahwa Ruh dan Nafs (jiwa) adalah satu, inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Al Qurthuby dan ulama lainnya, sementara ulama lain membedakan antara ruh dan Nafs, sebagai berikut 👇
1. Dari Segi Fungsi dan Sifatnya
Dalam teks tersebut, manusia digambarkan memiliki dua jenis "jiwa" (Nafs) dengan fungsi yang berbeda:
• Nafs al-Hayah (Jiwa Kehidupan): Ini adalah nyawa biologis. Sifatnya menetap di dalam tubuh selama manusia masih hidup. Jika jiwa ini keluar atau dipisahkan oleh Allah, maka terjadilah kematian hakiki, di mana pernapasan berhenti dan jasad kehilangan kehidupan.
• Nafs at-Tamyiz (Jiwa Pembeda/Kesadaran): Ini adalah jiwa yang berkaitan dengan kesadaran dan akal. Jiwa inilah yang "keluar" atau berpisah dari jasad saat seseorang tidur. Meskipun jiwa ini keluar, orang tersebut tetap bernapas karena jiwa kehidupannya masih ada.
Imam Baghawi menyitir pendapat Ali bin Abi Thalib dan ulama lainnya untuk membedakan antara Ruh dan Nafs saat manusia terlelap:
Nafs (Jiwa): Disebutkan bahwa saat tidur, Nafs keluar dari jasad.
Ruh: Di satu bagian dikatakan Ruh tetap tinggal di jasad saat tidur. Namun, dalam kutipan dari Ali bin Abi Thalib, disebutkan bahwa Ruh keluar saat tidur tetapi "cahayanya" (syu'a'uhu) tetap tertinggal di dalam jasad. Cahaya inilah yang memungkinkan seseorang mengalami mimpi.
3. Kecepatan dan Interaksi
Ruh: Memiliki sifat yang sangat cepat. Teks menyebutkan bahwa ketika seseorang terbangun, ruh kembali ke jasad "lebih cepat dari sekejap mata".
Interaksi Alam Barzakh: Ruh orang yang hidup memiliki kemampuan (atas izin Allah) untuk bertemu dan saling mengenal dengan ruh orang yang sudah meninggal di alam mimpi. Perbedaannya, ruh orang mati "ditahan" oleh Allah, sedangkan ruh orang hidup "dilepaskan" kembali ke jasadnya.
Sehingga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan kedua Bahwa Ruh adalah pihak yang mengalami pengalaman mimpi (berkelana dan bertemu ruh lain), sementara Nafs (kesadaran) adalah pihak yang meninggalkan jasad sehingga manusia tersebut masuk ke keadaan tidur. Pengalaman mimpi itu bisa dirasakan karena masih ada "sambungan cahaya" antara Ruh yang sedang berkelana dengan jasad yang sedang tertidur.
Syeikh Ismail Al Haqi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa Allah mewafatkan jiwa-jiwa ketika matinya. Dikatakan 'Allah mewafatkannya' berarti Dia mencabut ruhnya. Al-Anfus adalah jamak dari Nafs, yaitu Nafs Nathiqah (jiwa yang berpikir/berbicara) yang menurut ahli syariat disebut Ruh Idhafi Insani Sultani. Ia dinamakan Nafs (jiwa) ketika ditinjau dari sisi keterikatannya dengan badan dan kepatuhannya pada hukum-hukum badan.
Ia dinamakan Ruh ketika ditinjau dari sisi kemandirian zatnya (terlepas dari materi) dan kembalinya ia kepada Allah. Maka, Nafs bersifat nasutiyah (manusiawi/rendah), sedangkan Ruh bersifat lahutiyah (ketuhanan/tinggi). Ruh manusia adalah substansi sederhana (jauhar basith) yang menggerakkan tubuh, namun ia tidak menyatu dengan badan seperti larutnya cairan, melainkan terikat dengan ikatan pengaturan (tadbir).
Adapun Ruh Hayawani (ruh hewani) adalah dampak dari Ruh Insani ini (seperti cahaya bulan yang berasal dari matahari). Ruh hewani inilah yang mengurusi kesehatan fisik (kedokteran) dan dimiliki juga oleh binatang, namun ia tidak memikul amanah ma'rifat dan akan hancur bersama tanah (jasad).
Beliau juga menjelaskan bahwa Allah mewafatkannya (memegang jiwanya) saat tidurnya dengan cara memutus hubungan jiwa tersebut dari raga serta memutus kendalinya atas raga secara lahiriah, namun tidak secara batiniah. Maka, orang yang tidur tetap bisa bernapas dan bergerak karena masih adanya Ruh Hayawani (ruh biologis), namun ia tidak lagi berakal dan tidak bisa membedakan sesuatu karena hilangnya (perginya) Ruh Insani (ruh kesadaran).
Kondisi tidur ini serupa dengan kondisi al-insilakh (pelepasan ruh dari jasad) di kalangan kaum Sufi. Hanya saja, orang yang mengalami pelepasan ruh dalam keadaan terjaga (sadar) memiliki kondisi dan penyaksian (syuhud) yang jauh lebih kuat daripada orang yang mengalami pelepasan ruh saat tidur (yakni orang yang bermimpi). Kematian dan tidur sama-sama diistilahkan dengan al-tawaffi (penjemputan jiwa) karena adanya keserupaan antara orang-orang yang tidur dengan orang-orang mati dalam hal hilangnya kemampuan membedakan (tamyiz). Oleh karena itu, terdapat riwayat: 'Tidur adalah saudara kematian.'
Diriwayatkan dari Ali r.a.: 'Bahwasanya Ruh keluar saat tidur dan cahayanya (pancarannya) tetap tertinggal di dalam jasad. Maka dengan sebab itulah ia melihat mimpi. Apabila ia terbangun, Ruh tersebut kembali ke jasadnya lebih cepat dari sekejap mata.
Pendek kata merujuk pendapat yang membedakan antara ruh dan Nafs hanya terletak pada
Ruh dan Nafs sebenarnya adalah satu entitas yang sama.
Perbedaannya terletak pada kadar penarikannya. Jika ditarik total (ruh + cahayanya), maka itu Mati. Jika ditarik hanya "induknya" saja tapi kabel "cahayanya" masih ditinggal di badan, maka itu Tidur. Disebut Nafs saat kita bicara tentang Akal dan Kesadaran (yang hilang saat tidur). Disebut Ruh saat kita bicara tentang Nyawa dan Gerak (yang tetap ada saat tidur). Ketika seseorang tidur maka yang menyebabkan tidur adalah Nafs (jiwa) dan yang berkelana dan bertemu ruh lain adalah ruh itu sendiri. Adapun pelaku menyebabkan mimpi adalah ruh berkat cahayanya yang tertinggal di jasad.
Wallahu A'lam
Ibarat :
تفسير البغوي الجـــــــــزء السادس صـــــــــ ١٢٢
وَلِكُلِّ إِنْسَانٍ نَفْسَانِ: إِحْدَاهُمَا نَفْسُ الْحَيَاةِ وَهِيَ الَّتِي تُفَارِقُهُ عِنْدَ الْمَوْتِ فَتَزُولُ بِزَوَالِهَا النَّفْسُ، وَالْأُخْرَى نَفْسُ التَّمْيِيزِ وَهِيَ الَّتِي تُفَارِقُهُ إِذَا نَامَ، وَهُوَ بَعْدَ النَّوْمِ يَتَنَفَّسُ {فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ} فَلَا يَرُدُّهَا إِلَى الْجَسَدِ.
قَرَأَ حَمْزَةُ وَالْكِسَائِيُّ: "قُضِيَ" بِضَمِّ الْقَافِ وَكَسْرِ الضَّادِ وَفَتْحِ الْيَاءِ، "الْمَوْتُ" رُفِعَ عَلَى مَا لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ، وَقَرَأَ الْآخَرُونَ بِفَتْحِ الْقَافِ وَالضَّادِ، "الْمَوْتَ" نُصِبَ لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: "اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ" {وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى} وَيَرُدُّ الْأُخْرَى وَهِيَ الَّتِي لَمْ يَقْضِ عَلَيْهَا الْمَوْتَ إِلَى الْجَسَدِ، {إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى} إِلَى أَنْ يَأْتِيَ وَقْتُ مَوْتِهِ.
وَيُقَالُ: لِلْإِنْسَانِ نَفْسٌ وَرُوحٌ، فَعِنْدَ النَّوْمِ تَخْرُجُ النَّفْسُ وَتَبْقَى الرُّوحُ. وَعَنْ عَلِيٍّ قَالَ: تَخْرُجُ الرُّوحُ عِنْدَ النَّوْمِ وَيَبْقَى شُعَاعُهُ فِي الْجَسَدِ، فَبِذَلِكَ يَرَى الرُّؤْيَا، فَإِذَا انْتَبَهَ مِنَ النَّوْمِ عَادَ الرُّوحُ إِلَى جَسَدِهِ بِأَسْرَعَ مِنْ لَحْظَةٍ. وَيُقَالُ: إِنَّ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ تَلْتَقِي فِي الْمَنَامِ فَتَتَعَارَفُ مَا شَاءَ اللَّهُ، فَإِذَا أَرَادَتِ الرُّجُوعَ إِلَى أَجْسَادِهَا أَمْسَكَ اللَّهُ أَرْوَاحَ الْأَمْوَاتِ عِنْدَهُ، وَأَرْسَلَ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ حَتَّى تَرْجِعَ إِلَى أَجْسَادِهَا إِلَى انْقِضَاءِ مُدَّةِ حَيَّاتِهَا.
روح البيان الجـــــــــزء الثامن صـــــــــ ١١٣-١١٥
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِها يقال توفاه الله قبض روحه كما فى القاموس والأنفس جمع نفس بسكون الفاء وهى النفس الناطقة المسماة عند اهل الشرع بالروح الإضافي الإنساني السلطاني فسميت نفسا باعتبار تعلقها بالبدن وانصياعها باحكامه والتلبس بغواشيه وروحا باعتبار تجردها فى نفسها ورجوعها الى الله تعالى. فالنفس ناسوتية سفلية والروح لاهوتية علوية قالوا الروح الإنساني جوهر بسيط محرك للجسم وليس هو حالا فى البدن كالحلول السرياني ولا كالحلول الجواري ولكن له تعلق به تعلق التدبير والتصرف والروح الحيواني اثر من آثار هذا الروح على ما سبق منى تحقيقه فى سورة الاسراء عند قوله تعالى (قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي) فهو من الروح الإنساني كالقمر من الشمس فى استفاضة النور والبهائم تشارك فيه الإنسان وهو الروح الذي يتصرف فى تعديله وتقويته علم الطب ولا يحمل الامانة والمعرفة والتراب يأكل محله وهو البدن العامي لان الله تعالى حرم على الأرض ان تأكل أجساد الأنبياء والصديقين والشهداء بخلاف الروح الإنساني فانه حامل الامانة والمعرفة والايمان ويتصرف فيه علم الشريعة والطريقة والمعرفة والحقيقة بتوسط الحكماء الإلهيين ولا يأكله التراب وهو باعتبار كونه نفسا هو النبي والولي والمشار اليه بانا والمدرج فى الخرقة بعد مفارقته عن البدن والمسئول فى القبر والمثاب والمعاقب وليس له علاقة مع البدن سوى ان يستعمله فى كسب المعارف بواسطة شبكة الحواس فان البدن آلته ومركبه وشبكته وبطلان الآلة والمركب والشبكة لا يوجب بطلان الصياد نعم بطلت الشبكة بعد الفراغ من الصيد فبطلانها غنيمة إذ يتخلص من حملها وثقلها ولذا قال عليه السلام (الموت تحفة المؤمن) اما لو بطلت الشبكة قبل الصيد فقد عظمت فيه الحسرة والندامة ولذا يقول المقصرون (رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صالِحاً فِيما تَرَكْتُ) الآية. والموت زوال القوة الحساسة
كما ان الحياة وجود هذه القوة ومنه سمى الحيوان حيوانا ومبدأ هذه القوة هو الروح الحيواني الذي محله الدماغ كما ان محل الروح الإنساني القلب الصنوبري ولا يلزم من ذلك تحيزه فيه وان كانت الأرواح البشرية متحيزة عند اهل السنة. ثم ان الإنسان مادام حيا فهو انسان بالحقيقة فاذا مات فهو انسان بالمجاز لان انسانيته فى الحقيقة انما كانت بتعلق الروح الإنساني وقد فارقه: وفى المثنوى
جان زريش وسبلت تن فارغست ... ليك تن بي جان بود مرداريست (1)
ومعنى الآية يقبض الله الأرواح الانسانية عن الأبدان بان يقطع تعلقها عنها وتصرفها فيها ظاهرا وباطنا وذلك عند الموت فيزول الحسن والحركة عن الأبدان وتبقى كالخشب اليابس ويذهب العقل والايمان والمعرفة مع الأرواح وفى الوسيط (حِينَ مَوْتِها) اى حين موت أبدانها وأجسادها على حذف المضاف يقول الفقير ظاهره يخالف قوله تعالى (كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ) فان المفهوم منه ان الموت يطرأ على النفوس لا على البدن اللهم الا ان يقال المراد ان الله تعالى يتوفى الأرواح حين موت أبدانها بمفارقة أرواحها عنها وأسند القبض اليه تعالى لانه الآمر للملائكة القابضين وفى زهرة الرياض التوفى من الله الأمر بخروج الروح من البدن لو اجتمعت الملائكة لم يقدروا على إخراجه فالله يأمره بالخروج كما امره بالدخول ومن الملائكة المعالجة وإذا بلغت الحنجرة يأخذها ملك الموت على الايمان او الكفر انتهى على ان من خواص العباد من يتولى الله قبض روحه كما روى ان فاطمة الزهراء رضى الله عنها لما نزل عليها ملك الموت لم ترض بقبضه فقبض الله روحها واما النبي عليه السلام فانما قبضه ملك الموت لكونه مقدم الامة وكما قال ذو النون المصري قدس سره الهى لا تكلنى الى ملك الموت ولكن اقبض روحى أنت ولا تكلنى الى رضوان وأكرمني أنت ولا تكلنى الى مالك وعذبنى أنت نسأل الله الفضل على كل حال وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنامِها قوله فى منامها متعلق بيتوفى المقدر. المنام والنوم واحد وهو استرخاء اعصاب الدماغ برطوبات البخار الصاعد اليه وقيل هو ان يتوفى الله النفس من غير موت كما فى الآية وقيل النوم موت خفيف والموت نوم ثقيل وهذه التعريفات كلها صحيح ينظرات مختلفة والمعنى ويتوفى الأنفس التي لم تمت فى منامها اى يتوفاها حين نومها بان يقطع تعلقها عن الأبدان وتصرفها فيها ظاهرا لا باطنا فالنائم يتنفس ويتحرك ببقاء الروح الحيواني ولا يعقل ولا يميز بزوال الروح الإنساني ومثل النوم حال الانسلاخ عند الصوفية الا ان المنسلخ حال اليقظة أقوى حالا وشهودا من المنسلخ حال النوم وهو النائم وعبر عن الموت والنوم بالتوفى تشبيها للنائمين بالموتى لعدم تميزهم ولذا ورد النوم أخو الموت وعن على رضى الله عنه ان الروح يخرج عند النوم ويبقى شعاعه فى الجسد فلذلك يرى الرؤيا فاذا انتبه عاد روحه الى جسده بأسرع من لحظة
ــــــــــــــــــــــــــــ
(1) در اواسط دفتر چهارم در بيان باز كشتن بحكايت غلام كه رقعه نوشت سوى شاه إل
البحر المديد في التفسير القرآن المجيد الجـــــــــزء الخامس صـــــــــ ٨٢-٨٣
يقول الحق جلّ جلاله: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ أي: الأرواح حِينَ مَوْتِها فيقبضها إليه قبضا، وَيتوفى الأنفس الَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنامِها فيقبضها ويترك شعاعها في البدن، فالتي قضى عليها الموت يتوفاها ظاهراً وباطناً، والتي لم يقضِ موتها يتوفاها ظاهراً فقط عند النوم، فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضى عَلَيْهَا الْمَوْتَ، لا يردها إلى البدن، وَيُرْسِلُ الْأُخْرى أي: النائمة إلى بدنها عند التيقُّظ إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى: هو الوقت المضروب لموتها، فشبَّه النائمين بالموتى، حيث لا يميزون ولا يتصرفون، كما أن الموتى كذلك.
قال الإمام «1» : النفس الإنسانية عبارة عن جوهر مشرق روحاني، إذا تعلّق بالبدن حصل ضوؤه في جميع الأعضاء، وهي الحياة، ثم إنه في وقت النوم ينقطع تعلقه عن ظاهر البدن، دون باطنه، وفي وقت الموت ينقطع تعلقه عن ظاهر البدن وباطنه، فالموت والنوم من جنس واحد بهذا الاعتبار، لكن الموت انقطاع كامل، والنوم انقطاع ناقص، فظهر أن القادر الحكيم دبَّر [تعلُّق جوهر] «2» النفس بالبدن على ثلاثة أوجه، أحدها: أنه دبَّر أمرها، بحيث يقع ضوء [الروح] «3» على جميع أجزاء البدن، ظاهره وباطنه، وذلك هو اليقظة. وثانيها: بحيث يقطع عن الظاهر والباطن، وهو الموت. وثالثها: بحيث يقطع عن ظاهر البدن دون الباطن، وهو النوم، فثبت أن النوم والموت يشتركان في كل واحد منهما بتوفي النفس، ثم يمتاز أحدهما بخواص معينة.
ومثل هذا التقدير العجيب لا يمكن صدوره إلا عن القادر العليم الحكيم. هـ.
وقال سهل: إن الله إذا توفى الأنفس أخرج الروح النوري من لطيف نفس الطبيعي الكثيفي، فالذي يتوفى في النوم من لطيف نفس الطبع، لا لطيف نفس الروح. فالنائم يتنفس تنفُّساً لطيفاً، وهو نَفَس الروح، الذي إذا زال لم يكن للعبد حركة، وكان ميتاً. وقال: حياة النفس الطبيعي بنور لطيف، وحياة لطيف نفس الروح بذكر الله. وقال أيضاً: الروح تقوم بلطيفة في ذاتها بغير نفس الطبع، ألا ترى أن الله تعالى خاطب الكل في الذر بنفس، وروح، وفهم، وعقل، وعلم لطيف، بلا حضور طبع كثيف. هـ. قلت: وبهذا الاعتبار يقع لها العذاب في البرزخ أو النعيم، وتذهب وتجيء في عالم البرزخ.
وقال في القصد: النفس مع الروح كالجسد مع الظل، والظل يميل، والأصل لا يميل، والروح سره، والسر بربه، وهو شعاع الحقيقة الصغرى، والسر نور السر الأعلى، وكل هذا مخلوق بقدرة الله موثوق، فلا يستفزك غير هذا فتشقى، وفي جهنم من نور البُعد تلقى. هـ. قلت: السر الأعلى هو معاني أسرار الذات القائمة بالأشياء، وهو قديم غير مخلوق.
وذكر الثعلبي عن ابن عباس أنه قال: في ابن آدم نفس وروح، بينهما مثل شعاع الشمس، فالنفسُ هي التي بها العقل والتمييز، والروح التي بها التحرُّك والنَّفَس فإذا نام العبد قبض الله نفسه ولم يقبض روحه. هـ. هذا، وفي الصحيح: إن الله قبض أرواحنا حيث شاء، وردها حيث شاء. فأطلق القبض على الأرواح. والصواب: أن النفس والروح في هذا واحد بدليل قوله: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِها وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ والحاصل: أن الموت: توفِّ كامل، بإخراج الروح مع شعاعها من البدن، فتذهب الحياة، والنوم: توفٍّ ناقص، بإخراج الروح مع بقاء شعاعها في البدن، به الحياة والتنفُّس.
وعن ابن عباس رضي الله عنه أيضاً أنه قال: إن أرواح الأحياء والأموات تلتقي في المنام، ويتعارف ما شاء الله منها، فإذا أراد الله رجوعها إلى الأجسام، يُمسك الله عنده أرواح الأموات، ويرسل أرواح الأحياء إلى أجسادها، فذلك قوله عزّ وجل: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ.. الآية (1) .
_________________
(1) انظر تفسير النّسفى (2/ 183)
تفسير القرطبي الجـــــــــزء الخامس عشر صـــــــــ ٢٦٢
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ:" فِي ابْنِ آدَمَ نَفْسٌ وَرُوحٌ بَيْنَهُمَا مِثْلُ شُعَاعِ الشَّمْسِ، فَالنَّفْسُ الَّتِي بِهَا الْعَقْلُ وَالتَّمْيِيزُ، وَالرُّوحُ الَّتِي بِهَا النَّفَسُ وَالتَّحْرِيكُ، فَإِذَا نَامَ الْعَبْدُ قَبَضَ اللَّهُ نَفْسَهُ وَلَمْ يَقْبِضْ رُوحَهُ." وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ الْأَنْبَارِيِّ وَالزَّجَّاجِ. قَالَ الْقُشَيْرِيُّ أَبُو نَصْرٍ: وَفِي هَذَا بُعْدٌ إِذِ الْمَفْهُومُ من الآية أن النفس المقبوضة في الحالين شي وَاحِدٌ، وَلِهَذَا قَالَ:" فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرى إِلى أَجَلٍ مُسَمًّى" فَإِذًا يَقْبِضُ اللَّهُ الرُّوحَ فِي حَالَيْنِ فِي حَالَةِ النَّوْمِ وَحَالَةِ الْمَوْتِ، فَمَا قَبَضَهُ فِي حَالِ النَّوْمِ فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ يَغْمُرُهُ بِمَا يَحْبِسُهُ عَنِ التصرف فكأنه شي مَقْبُوضٌ، وَمَا قَبَضَهُ فِي حَالِ الْمَوْتِ فَهُوَ يُمْسِكُهُ وَلَا يُرْسِلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَقَوْلُهُ:" وَيُرْسِلُ الْأُخْرى " أَيْ يُزِيلُ الْحَابِسَ عَنْهُ فَيَعُودُ كَمَا كَانَ. فَتَوَفِّي الْأَنْفُسِ فِي حَالِ النَّوْمِ بِإِزَالَةِ الْحِسِّ وَخَلْقِ الْغَفْلَةِ وَالْآفَةِ فِي مَحَلِّ الْإِدْرَاكِ. وَتَوَفِّيهَا فِي حَالَةِ الْمَوْتِ بِخَلْقِ الْمَوْتِ وَإِزَالَةِ الْحِسِّ بِالْكُلِّيَّةِ." فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضى عَلَيْهَا الْمَوْتَ" بِأَلَّا يَخْلُقُ فِيهَا الْإِدْرَاكَ كَيْفَ وَقَدْ خَلَقَ فِيهَا الْمَوْتَ؟ " وَيُرْسِلُ الْأُخْرى " بِأَنْ يُعِيدَ إِلَيْهَا الْإِحْسَاسَ. الثَّانِيَةُ- وَقَدِ اخْتَلَفَ النَّاسُ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ فِي النَّفْسِ وَالرُّوحِ، هَلْ هُمَا شي وَاحِدٌ أَوْ شَيْئَانِ عَلَى مَا ذَكَرْنَا. وَالْأَظْهَرُ أنهما شي وَاحِدٌ، وَهُوَ الَّذِي تَدُلُّ عَلَيْهِ الْآثَارُ الصِّحَاحُ عَلَى مَا نَذْكُرُهُ فِي هَذَا الْبَابِ. مِنْ ذَلِكَ حَدِيثُ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شُقَّ (1) بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ، ثُمَّ قَالَ:" إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ" وَحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:" أَلَمْ تَرَوُا الْإِنْسَانَ إِذَا مَاتَ شَخَصَ بَصَرُهُ" قَالَ:" فَذَلِكَ حِينَ يَتْبَعُ بَصَرُهُ نَفْسَهُ" خَرَّجَهُمَا مُسْلِمٌ. وَعَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " تَحْضُرُ الْمَلَائِكَةُ فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَالِحًا قَالُوا اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ اخْرُجِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ رَاضٍ غَيْرِ غَضْبَانَ فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ" وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ خَرَّجَهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَقَدْ ذَكَرْنَاهُ فِي" التَّذْكِرَةِ."
ــــــــــــــــــــ
(1) . شق بصره: أي انفتح
التذكرة للقرطبي صـــــــــ ٢٦٨
الفصل الأول
تأمل يا أخي وفقني الله وإياك هذا الحديث وما قبله من الأحاديث ترشدك إلى أن الروح والنفس شيء واحد وأنه جسم لطيف مشابك للأجسام المحسوسة يجذب ويخرج.
وفي أكفانه يلف ويدرج: وبه إلى السماء يعرج.
لا يموت ولا يفنى وهو مما له أول وليس له آخر.
وهو بعينين ويدين.
وأنه ذو ريح طيب وخبيث.
وهذه صفة الأجسام لا صفة الأعراض.
وقد قال بلال في حديث الوادي: أخذ بنفسي يا رسول الله الذي أخذ بنفسك.
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مقابلاً له في حديث زيد بن أسلم في حديث الوادي: «يا أيها الناس إن الله قبض أرواحنا ولو شاء ردها إلينا في حيز غير هذا» وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن الروح إذا قبض تبعه البصر» وقال: «فذلك حين يتبع بصره نفسه» وهذا غاية في البيان ولا عطر بعد عروس، وقد اختلف الناس في الروح اختلافاً كثيراً: أصح ما قيل فيه: ما ذكرناه لك وهو مذهب أهل السنة: أنه جسم، فقد قال تعالى: {الله يتوفى الأنفس حين موتها} .
قال أهل التأويل: يريد الأرواح، وقد قال تعالى: {فلولا إذا بلغت الحلقوم} يعني النفس عند خروجها من الجسد، وهذه صفة الجسم ولم يجر لها ذكر في الآية لدلالة الكلام عليها
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
Link Diskusi:
