Foto: dream.co.id
Pertanyaan:
kebanyakan yang zakat padi suka ditimbang dengan jumlah kiloan ...misalkan padi yg udah panen dapat 3 ton basah( udah hasil panen dari sawah) jadi dipotong 3 kintal basah juga itu apa sah gak jika dalam ranah fikih?...
[𝐀𝐛𝐢 𝐬𝐨𝐟𝐚]
Jawaban:
1. Zakat pertanian seperti halnya zakat padi itu yang dihitung zakatnya memang hasil kotor tanpa dipotong dari hasil panen, kalau sampai dipotong maka hasil yang dipisahkan itu wajib dikeluarkan zakatnya dan jika tidak maka berdosa walaupun secara hukum sah saja tapi berdosa karena yang dipisahkan tidak ikut dihitung zakatnya, inilah Madzhab Syafi'i. Sehingga dalam Madzhab Syafi'i segala biaya apapun menyangkut pertanian tidak boleh dipotong dengan hasil panen tapi biaya semuanya itu dari pemilik kebun atau sawah. Jadi intinya; kalau hasil panen padi ada dipotong 3 kwintal maka timbangan ini wajib dikeluarkan zakatnya dan jika tidak dikeluarkan zakatnya berdosa pelakunya. Walhasil setelah dipanen seluruhnya di timbang tanpa ada dipisahkan baru dikeluarkan zakatnya sesuai Nishab Zakat tersebut. Selengkapnya disini 👇
𝐒𝐎𝐋𝐔𝐒𝐈
Jika dirasa mengamalkan ketentuan Madzhab Syafi'i dalam masalah zakat pertanian dan khususnya zakat padi ini maka Ulama Syafi'iyah memberikan jalan keluar dengan cara bertaqlid kepada pendapat Imam Ahmad (Madzhab Hambali) boleh Sebagian harta zakat pertanian digunakan hal lain dan wajib dikeluarkan zakatnya adalah sisa dari barang zakat itu bila mencapai Nishab.
𝐂𝐀𝐓𝐀𝐓𝐀𝐍
Bagi orang yang memisahkan hitungan timbangan zakat pertanian seperti hasil kotor timbangan zakat padi dikurangi 3 kwintal maka bisa boleh dengan bertaqlid kepada pendapat Imam Ahmad; Oleh karena bertaqlid diluar Madzhab maka demi tercapai sahnya taqlid pada masalah zakat ini maka seorang penganut Madzhab Syafi'i harus memenuhi syarat taqlid diluar Madzhab yaitu:
1. Memenuhi ketentuan sekaligus syarat sah Zakat pertanian dalam Madzhab Hambali
2. Harus mengetahui ketentuan zakat pertanian dalam Madzhab Hambali gimanapun prosedurnya, seperti ukuran Nishab dan sebagainya.
3. Mengetahui perkara yang membatalkan zakat pertanian dalam Madzhab Hambali sehingga zakat tersebut tidak sah.
Setelah mengetahui beberapa poin diatas baru mengamalkan itu dan tidak boleh lagi memakai ketentuan zakat pertanian dalam Madzhab Syafi'i. Yakni, jangan cuma memakai patokan bolehnya zakat pertanian dengan hanya sisa dari barang zakat tapi segala ketentuan zakat memakai ketentuan Madzhab Syafi'i, itu dinamakan Talfiq yang tidak dibenarkan. Syarat-syarat ini sudah saya jelaskan melalui kajian tersendiri dalam masalah ini, selengkapnya disini 👇
2. Dalam Madzhab Syafi'i baik zakat mal - seperti zakat padi - dikeluarkan memang dari bentuk bendanya bukan dijual dan dizakatkan berupa uang. Mau yang sah Zakat harta menggunakan uang harus taqlid pada pendapat yang membolehkan seperti pendapat Madzhab Hanafi dengan syarat memenuhi ketentuan taqlid atau kalau tidak langsung pindah Madzhab. Baca selengkapnya disini 👇
Adapun kalau dimaksud dipotong 3 kwintal dari hasil panen maka Kalau seperti ini maka yang perlu diketahui berapa nisab zakat pertanian seperti padi. Kalau pengairan menggunakan biaya maka besaran nilai zakatnya dikeluarkan 5% dari jumlah hasil panen setelah cukup nisabnya dan kalau tanpa biaya 10%.
Nah! 3 ton dari 5% atau 10% berapa?
1. Dari 5%
Penghasilan panen padi anda 3 ton= 3000 kg. Setiap satu kwintal 100 kg.
Maka , 3000x5% = 150 kg / 1.5 kwintal
Jadi, padi yang 3 ton zakatnya hanya 150 kg / 1.5 kwintal.
2. Dari 10% , pengairan tidak menggunakan biaya seperti sawah tadah hujan maka kita hitung:
3 ton= 3000 kg x 10 % = 300 kg / 3 kwintal
Nah, kita kaitkan dengan pertanyaan 👇
maksud dipotong itu yi diambil zakatnya padi ....dari satu ton 1 kwintal jadi pendapatan 3 ton 3 kwintal.... zakat nya ...maksud saya gt yi?...apa gak salah ?
________
Maka, berarti mengambil 10% yakni pengairan tanpa menggunakan biaya seperti sawah tadah hujan dan itu sudah benar sesuai apa yang kita hitung diatas.
Nisab zakat pertanian atau umumnya hasil tanaman adalah 5 wasaq. Versi Habib Hasan bin Ahmad al-Kaf dalam kitab At Taqriidah As Sadiidah sebagai berikut 👇
5 wasaq = 300 sha' = 1200 mud = 1600 Rithl Baghdadi.
Sha' = 2,75 kg
Nisab = 300 x 2,75 = 825 kg.
Ketika sudah sampai Nishab diatas maka wajib dikeluarkan zakatnya dengan besaran nilai yang disebutkan diatas dan jika tidak sampai Nishab tidak wajib dikeluarkan zakatnya.
Kendatipun demikian, Nishab Zakat padi bisa diberlakukan padi yang masih ada kulitnya yang umumnya disebut gabah yaitu kulit yang membungkus beras setelah melalui proses pembersihan jerami, tangkai dan sebagainya termasuk padi yang kosong. Nishab Zakat padi yang ada kulitnya itu yang disebut gabah adalah 10 wasaq Menurut Zahir pernyataan Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitab Tuhfah dan selain beliau. Kalau kita bandingkan dengan Nishab diatas yaitu 5 wasaq senilai 825 kg maka 10 wasaq senilai 1.650 kg. Itulah Nishab Zakat padi gabah kering. Namun, menurut keterangan beliau dari kitab lain dan ulama lain nishabnya tetap mengacu nilai 5 wasaq yang tanpa kulitnya, karenanya bila setelah ditimbang yang masih berbentuk gabah kering mencari 10 wasaq dan ketika dikupas kulitnya tidak mencapai 5 wasaq tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Akan tetapi, jumlah Nishab yang disebutkan itu tetap mengacu syarat yang disebutkan tadi yaitu timbangan padi sesuai Nishab itu setelah kering dan setelah melalui proses pembersihan jerami dan semisalnya. Sehingga bila masih basah dan sebelum proses pembersihan yang dimaksud tidak sah dikeluarkan zakatnya karena itulah syarat keabsahannya. Meskipun ada sebagian pendapat Ulama yang memperkenankan memberikan Zakat tumbuhan seperti padi atau kurma masih basah jika demi mempermudah dan sesuai dengan manfaat faqir miskin yang menerima zakat tersebut. Pendapat ini adalah pendapat Al Qadhi Al Qurhub As Segap dan Habib Umar Al 'Attas, tapi pendapat kebanyakan Ulama Syafi'iyah tidak mengabsahkan dan jika mau sah bertaqlid kepada pendapat tersebut.
Demikianlah semoga dapat diambil manfaatnya.
𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐊𝐞𝐭𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧:
وَمَعْنَى مَا ذُكِرَ: إِنَّ مُؤْنَةَ الْحَصَادِ وَالدِّيَاسَةِ - وَمِثْلُهُمَا مُؤْنَةُ جِذَاذِ الثَّمَرِ وَتَجْفِيفِهِ - تَكُونُ مِنْ خَالِصِ مَالِ الْمَالِكِ لِلزَّرْعِ، سَوَاءٌ كَانَ مَالِكًا لِلْأَرْضِ أَيْضًا أَمْ لَا - بِأَنْ كَانَ مُسْتَأْجِرًا لَهَا - لَا مِنْ مَالِ الزَّكَاةِ. وَكَثِيرًا مَا يُخْرِجُونَ ذَلِكَ مِنَ التَّمْرِ أَوِ الْحَبِّ، ثُمَّ يُزَكُّونَ الْبَاقِي، وَهُوَ خَطَأٌ، وَيَدُلُّ لِمَا ذَكَرْتُهُ عِبَارَةُ الرَّوْضِ وَشَرْحِهِ، وَنَصُّهَا: (فَرْعٌ) مُؤْنَةُ الْجَفَافِ، وَالتَّصْفِيَةِ، وَالْجِذَاذِ، وَالدِّيَاسِ وَالْحَمْلِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ - مِمَّا يَحْتَاجُ إِلَى مُؤْنَةٍ - عَلَى الْمَالِكِ، لَا مِنْ مَالِ الزَّكَاةِ. اهـ. وَمِثْلُهَا عِبَارَةُ شَرْحِ الْمَنْهَجِ، وَالتُّحْفَةِ، وَالنَّهَايَةِ، وَالْمُغْنِي. فَتَنَبَّهْ.
“Makna dari apa yang telah disebutkan adalah: Bahwa biaya panen dan penumbukan (pemisahan biji dari tangkainya) —begitu pula biaya pemetikan buah dan pengeringannya— diambil dari murni harta milik pemilik tanaman, baik ia juga pemilik tanahnya maupun bukan (seperti penyewa tanah), dan bukan diambil dari harta zakat. Banyak orang yang sering mengeluarkan biaya-biaya tersebut dari hasil kurma atau biji-bijian itu sendiri (diambil dari hasil panen sebelum dihitung zakatnya), kemudian mereka baru menzakati sisanya. Hal ini adalah sebuah kesalahan. Dalil yang menunjukkan apa yang aku sebutkan ini adalah redaksi dalam kitab Ar-Raudh beserta syarahnya, yang berbunyi:
(Cabang Masalah) Biaya pengeringan, pembersihan, pemetikan, penumbukan, pengangkutan, dan biaya lainnya yang memerlukan biaya, ditanggung oleh pemilik (tanaman), bukan diambil dari harta zakat. Selesai. Redaksi yang serupa juga terdapat dalam kitab Syarh al-Manhaj, al-Tuhfah, al-Nihayah, dan al-Mughni. Maka perhatikanlah! (berhati-hatilah)”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin II/164]
(قَوْلُهُ: وَمُؤْنَةُ الْحَصَادِ وَالدِّيَاسَةِ عَلَى الْمَالِكِ) أَيْ مَالِكِ الزَّرْعِ. وَعِبَارَةُ شَرْحِ الْمَنْهَجِ: وَمُؤْنَةُ جِذَاذِ الثَّمَرِ وَتَجْفِيفِهِ وَحَصَادِ الْحَبِّ وَتَصْفِيَتِهِ مِنْ خَالِصِ مَالِ الْمَالِكِ، لَا يُحْسَبُ شَيْءٌ مِنْهَا مِنْ مَالِ الزَّكَاةِ اهـ. إِلَى أَنْ قَالَ فِي التُّحْفَةِ: وَإِذَا زَادَتِ الْمَشَقَّةُ فِي الْتِزَامِ مَذْهَبِنَا فَلَا عَيْبَ عَلَى الْمُتَخَلِّصِ بِتَقْلِيدِ مَذْهَبٍ آخَرَ كَمَذْهَبِ أَحْمَدَ، فَإِنَّهُ يُجِيزُ التَّصَرُّفَ قَبْلَ الْخَرْصِ وَالتَّضْمِينِ، وَأَنْ يَأْكُلَ هُوَ وَعِيَالُهُ عَلَى الْعَادَةِ وَلَا يُحْسَبُ عَلَيْهِ، وَكَذَا مَا يُهْدِيهِ مِنْهُ فِي أَوَانِهِ اهـ. أَيْ وَيُزَكَّى الْفَاضِلُ إِنْ بَلَغَ نِصَابًا. ح ل بج
“(Perkataan Mushannif: Dan biaya panen serta penumbukan ditanggung oleh pemilik) maksudnya adalah pemilik tanaman. Redaksi dalam kitab Syarh al-Manhaj menyebutkan: "Biaya pemetikan buah, pengeringannya, panen biji-bijian, dan pembersihannya (penampian), diambil dari murni harta milik pemilik, tidak ada satu pun dari biaya tersebut yang dihitung dari harta zakat." (Selesai). Sampai pada perkataan dalam kitab al-Tuhfah: "Dan apabila kesulitan (masyakkah) terasa sangat berat dalam memegang teguh madzhab kita (Syafi'i), maka tidaklah tercela bagi seseorang yang ingin mencari jalan keluar dengan cara bertaklid (mengikuti) madzhab lain, seperti Madzhab Ahmad (Hambali). Karena Madzhab Ahmad memperbolehkan pengelolaan hasil panen sebelum dilakukan penaksiran (khars) dan penanggungan (tadhmin), serta memperbolehkan pemilik dan keluarganya untuk memakan hasil panen tersebut sesuai kewajaran tanpa dihitung sebagai bagian zakat yang harus dibayar. Begitu pula dengan apa yang ia hadiahkan dari hasil panen tersebut pada musimnya." (Selesai). Maksudnya, zakat hanya dikeluarkan dari sisa hasil panen tersebut jika sisanya masih mencapai satu nishab. Habis kutipan dari Syeikh Al Halabiy dan Bujairami”
[Tarsyiih Al Mustafidin Bi Tausyieh Fath Al Mu'in Halaman 147]
وَتَجِبُ زَكَاةُ النَّابِتِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَنْعَقِدُ سَبَبُ وُجُوبِهَا بِبُدُوِّ صَلَاحِ الثَّمَرِ وَاشْتِدَادِ الْحَبِّ عَلَى الْمَالِكِ لَا عَلَى الْمُسْتَحِقِّ وَلَا فِي مَالِ الزَّكَاةِ؛ لِأَنَّ حَقَّ الْمُسْتَحِقِّ إِنَّمَا هُوَ فِي الْخَالِصِ الْجَافِّ.
“Zakat hasil bumi (tanaman) adalah wajib, dalam artian bahwa sebab kewajibannya mulai terikat (terhitung) sejak tampak kelayakan pada buah (buduwwu shalah) dan mengerasnya biji-bijian (isytidadul habbi). Kewajiban ini dibebankan kepada pemiliknya, bukan (beban) bagi penerima zakat (mustahiq) dan bukan pula (terambil langsung) dalam harta zakat tersebut (pada saat itu); karena hak penerima zakat (mustahiq) hanyalah ada pada hasil yang sudah bersih dan kering (al-khalis al-jaff)”
[Kaasyifah As Sajaa Fii Syarh Safiinah An Najaa Halaman 111]
(تَتِمَّةٌ) لَمْ يَتَعَرَّضْ لِوَقْتِ وُجُوبِ الزَّكَاةِ فِي الْقُوتِ وَمَا عُطِفَ عَلَيْهِ، وَحَاصِلُهُ أَنَّ وَقْتَهُ إِذَا بَدَا صَلَاحُ الثَّمَرِ - وَلَوْ فِي بَعْضِهِ - لِأَنَّهُ حِينَئِذٍ ثَمَرَةٌ كَامِلَةٌ وَقَبْلَهُ بَلَحٌ أَوْ حِصْرِمٌ. وَالْمُرَادُ بِبُدُوِّ الصَّلَاحِ: بُلُوغُهُ صِفَةً يُطْلَبُ فِيهَا غَالِبًا، فَعَلَامَتُهُ فِي الثَّمَرِ الْمُتَلَوِّنِ أَخْذُهُ فِي حُمْرَةٍ أَوْ سَوَادٍ أَوْ صُفْرَةٍ، وَفِي غَيْرِ الْمُتَلَوِّنِ - كَالْعِنَبِ الْأَبْيَضِ - لِينُهُ وَتَمْوِيهُهُ، وَهُوَ صَفَاؤُهُ، وَجَرَيَانُ الْمَاءِ فِيهِ وَإِذَا اشْتَدَّ الْحَبُّ وَلَوْ فِي الْبَعْضِ أَيْضًا لِأَنَّهُ حِينَئِذٍ قُوتٌ، وَقَبْلَهُ بَقْلٌ وَمَعَ وُجُوبِهَا بِمَا ذُكِرَ لَا يَجِبُ الْإِخْرَاجُ إِلَّا بَعْدَ التَّصْفِيَةِ وَالْجَفَافِ فِيمَا يَجِفُّ، بَلْ لَا يُجْزِئُ قَبْلَهُمَا.
“(Pelengkap): (Pengarang) belum menjelaskan tentang waktu wajibnya zakat pada makanan pokok (qut) dan yang diikutkan kepadanya. Kesimpulannya adalah: Waktunya (wajib zakat) adalah ketika telah tampak kelayakan (buduwwu shalah) pada buah-buahan—meskipun baru pada sebagiannya—karena pada saat itulah ia dianggap sebagai buah yang sempurna. Sebelum masa itu, ia (buah) hanya dianggap sebagai kurma muda yang mentah (balah) atau anggur hijau yang sangat masam (hishrim). Yang dimaksud dengan tampak kelayakan (buduwwu shalah) adalah: Buah tersebut telah mencapai sifat/kondisi yang biasanya mulai diinginkan (untuk dikonsumsi). Tanda pada buah yang bisa berubah warna adalah mulai memerah, menghitam, atau menguning. Pada buah yang tidak berubah warna (seperti anggur putih) tandanya adalah teksturnya mulai melunak, warnanya bening (tamwih), jernih, dan air mulai mengalir di dalamnya. Adapun pada biji-bijian (seperti padi), waktunya adalah ketika biji telah mengeras (isytaddal habbu), meskipun baru pada sebagiannya, karena pada saat itulah ia disebut sebagai makanan pokok (qut). Sebelum masa itu, ia hanya dianggap sebagai tanaman hijau (baqlun). Meskipun kewajiban zakat sudah ada dengan sebab-sebab di atas, tidak wajib mengeluarkan (zakatnya) kecuali setelah proses pembersihan (tashfiyah) dan pengeringan (jafaf) bagi komoditas yang memang bisa dikeringkan. Bahkan, tidak sah (la yujzi’) mengeluarkan zakat sebelum keduanya (dibersihkan dan dikeringkan)”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin II/162]
(قَوْلُهُ: وَإِنْ بَلَغَ عَشَرَةَ أَوْسُقٍ) أَيْ اعْتِبَارًا لِقِشْرِهِ الَّذِي ادِّخَارُهُ فِيهِ أَصْلَحُ لَهُ وَأَبْقَى بِالنِّصْفِ، وَبَعْدَ ذَلِكَ لَهُ أَنْ يُخْرِجَ الْوَاجِبَ عَلَيْهِ حَالَ كَوْنِهِ فِي قِشْرِهِ، وَلَهُ أَنْ يُخْرِجَهُ خَالِصًا لَا قِشْرَ عَلَيْهِ.
“(Perkataan Pengarang "Dan jika mencapai sepuluh wasaq") maksudnya: (Angka 10 wasaq tersebut) adalah dengan mempertimbangkan kulitnya, yang mana menyimpan padi di dalam kulitnya itu lebih maslahat dan lebih awet bagi padi tersebut, dengan estimasi penyusutan setengahnya (jika dikupas). Setelah itu (setelah mencapai nishab), maka bagi pemiliknya (petani) diperbolehkan mengeluarkan kewajiban zakatnya dalam keadaan masih di dalam kulitnya (berupa gabah) atau ia boleh mengeluarkannya dalam keadaan bersih tanpa kulit (berupa beras)”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin II/161]
(مَسْأَلَةٌ): نِصَابُ الْعَلَسِ وَالْأَرُزِّ فِي قِشْرَتِهِ - وَلَوِ الْحَمْرَاءَ - عِنْدَ جَحٍّ عَشْرَةُ أَوْسُقٍ. ظَاهِرُ "التُّحْفَةِ" مُطْلَقًا، وَصَرَّحَ بِهِ فِي "الْإِيعَابِ". لَكِنْ فِي غَيْرِهِمَا مِنْ كُتُبِهِ، وَ"الْأَسْنَى"، وَ"النِّهَايَةِ"، وَغَيْرِهَا: أَنَّ الْعِبْرَةَ بِحُصُولِ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنْ غَيْرِ الْقِشْرِ، سَوَاءٌ حَصَلَتْ مِنْ عَشْرَةٍ أَوْ أَقَلَّ أَوْ أَكْثَرَ.
“(Masalah) Nishab untuk Alas (sejenis gandum yang sulit dikupas) dan padi (al-aruz) yang masih di dalam kulitnya—walaupun kulit ari yang merah—menurut Ibnu Hajar Al-Haitami adalah 10 Wasaq. Hal ini merupakan zhohir (makna lahiriah) dari kitab Al-Tuhfah secara mutlak, dan beliau tegaskan dalam kitab Al-I’ab. Akan tetapi, dalam kitab-kitab Ibnu Hajar yang lain, juga dalam kitab Al-Asna (karya Syekh Islam Zakariya al-Anshari), kitab Al-Nihayah (karya Imam Ar-Ramli), dan kitab lainnya disebutkan: Bahwa patokannya adalah tercapainya jumlah 5 Wasaq bersih (tanpa kulit), baik 5 Wasaq bersih itu dihasilkan dari 10 Wasaq padi kotor, atau lebih sedikit dari itu, atau lebih banyak dari itu”
[Itsmid Al 'Ain Fii Hamisy Bughyah Halaman 48]
فَائِدَةٌ): سُئِلَ الْقَاضِي الْقُطْبُ سَقَّافُ بْنُ)
مُحَمَّدٍ الصَّافِي: هَلْ يَجُوزُ إِخْرَاجُ زَكَاة التَّمْرِ رُطَبًا؟ فَأَجَابَ: الْمَذْهَبُ لَا يَجُوزُ إِلَّا جَافًّا مُنَقًّى، لَكِنْ إِذَا اضْطُرَّ الْفُقَرَاءُ جَازَتْ رُطَبًا دَفْعًا لِضَرَرِهِمْ، لِأَنَّ مَدَارَهَا عَلَى نَفْعِ الْمُسْتَحِقِّينَ وَالْخُرُوجِ مِنْ رَذِيلَةِ الْبُخْلِ اهـ. وَقَالَ فِي الْقِرْطَاسِ فِي مَنَاقِبِ الْقُطْبِ عُمَرَ الْعَطَّاسِ: وَبَلَغَنَا عَنْهُ أَيْ صَاحِبِ الْمَنَاقِبِ الْمَذْكُورِ أَنَّهُ أَمَرَ بِإِخْرَاجِ زَكَاةِ الْخَرِيفِ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ يَقُولُونَ إِنَّهُ لَا يَصِحُّ حَتَّى يَجِفَّ، فَقَالَ: هُمْ رِجَالٌ وَنَحْنُ رِجَالٌ، اسْأَلُوا الْفُقَرَاءَ أَيُّمَا أَحَبُّ إِلَيْهِمُ الرُّطَبُ أَمِ الْجَافُّ؟ فَقُبِلَ مِنْهُ وَعَمِلَ بِهِ أَهْلُ الْجِهَةِ الْجَمِيعُ اهـ.
“(Faidah): Al-Qadhi Al-Quthb Saqqaf bin Muhammad Al-Shafi pernah ditanya: "Apakah boleh mengeluarkan zakat kurma dalam bentuk kurma basah (ruthab)?" Beliau menjawab: "Secara madzhab (Syafi'i), tidak boleh kecuali dalam kondisi kering dan sudah dibersihkan. Akan tetapi, jika para fakir miskin dalam keadaan mendesak (butuh segera), maka boleh mengeluarkan zakat dalam bentuk basah demi menolak kemudaratan bagi mereka. Karena poros (tujuan utama) zakat adalah memberi manfaat kepada para penerima zakat (mustahiq) dan keluar dari sifat kikir yang tercela." Dan disebutkan dalam kitab Al-Qirthas mengenai manaqib (biografi) Al-Quthb Umar Al-Attas: "Telah sampai berita kepada kami bahwa beliau (Habib Umar Al-Attas) memerintahkan untuk mengeluarkan zakat hasil panen musim gugur sebelum ia kering. Lalu dikatakan kepada beliau: 'Sesungguhnya para ulama berkata bahwa zakat tersebut tidak sah hingga ia kering.' Maka beliau menjawab: 'Mereka adalah lelaki (punya ijtihad) dan kami pun lelaki (punya ijtihad). Tanyakanlah kepada orang-orang fakir, mana yang lebih mereka sukai: kurma basah atau kurma kering?' Maka pendapat beliau diterima dan diamalkan oleh seluruh penduduk di wilayah tersebut." ”
[Bughyah Al Mustarsyidiin Halaman 101]
ثَانِيًا: الزُّرُوعُ وَالثِّمَارُ (الْمُؤَثِّرَاتُ) -إِلَى أَنْ قَالَ-
النِّصَابُ: خَمْسَةُ أَوْسُقٍ:
٥ أَوْسُقٍ = ٣٠٠ صَاعٍ = ١٢٠٠ مُدٍّ = ١٦٠٠ رَطْلٍ بَغْدَادِيٍّ
الصَّاعُ = ٢،٧٥ كغم (كِيلُو غِرَامٍ)
النِّصَابُ = ٣٠٠ × ٢،٧٥ = ٨٢٥ كغم تَقْرِيبًا
وَالْوَاجِبُ فِيهَا: تَارَةً الْعُشْرُ وَتَارَةً نِصْفُ الْعُشْرِ:
١) الْعُشْرُ: إِنْ سُقِيَ بِغَيْرِ مُؤْنَةٍ(٣)، أَيْ بِوَسَاطَةِ الْأَمْطَارِ وَالسُّيُولِ، وَلَمْ يُكَلَّفْ فِي سَقْيِهِ.
٢) نِصْفُ الْعُشْرِ: أَيْ سُقِيَ بِمُؤْنَةٍ، أَيْ مِنَ الْمَالِكِ بِوَسَاطَةِ آلَاتِ سَقْيٍ وَشِرَاءِ الْمَاءِ.
ـــــــــــــــــــــــــــــــ
٣) الْمُؤْنَةُ: هِيَ كُلُّ مَا يُكَلِّفُ جُهْدًا أَوْ مَالًا بِحَيْثُ يَفْتَقِرُ صَاحِبُهَا إِلَى مُسَاعَدَةٍ.
“Kedua: Tanaman dan Buah-buahan (Bahan Makanan Pokok) —sampai perkataan penulis—
Nishab: 5 Wasaq
5 Wasaq = 300 Sha' = 1200 Mud = 1600 Rithl Baghdad.
1 Sha' = 2,75 kg.
Nishab = 300 (Sha') x 2,75 (kg) = 825 kg (kurang lebih).
Kadar Zakat yang Wajib: 1) Terkadang 10% (Al-Usyr) dan terkadang 5% (Nishful Usyr):
10% (Sepersepuluh): Jika diairi tanpa biaya (bighairi mu'nah), yaitu melalui air hujan atau aliran sungai, dan tidak ada beban biaya dalam pengairannya.
2) 5% (Setengah dari sepersepuluh): Yaitu jika diairi dengan biaya (bi mu'nah), yaitu dari pemiliknya (petani) dengan perantara alat-alat pengairan atau dengan membeli air.
_______________
Catatan kaki:
(3) Mu'nah (Biaya): Adalah segala sesuatu yang membutuhkan tenaga atau harta, sekiranya pemiliknya membutuhkan bantuan (tambahan biaya/tenaga dalam pengerjaannya)”
[At Taqriidah As Sadiidah Fii Masaail Al Mufiidah I/405-406]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
Link Diskusi:
