2051. 𝐀𝐐𝐈𝐃𝐀𝐇 : 𝐀𝐏𝐀 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐌𝐀𝐊𝐒𝐔𝐃 𝐒𝐈𝐃𝐑𝐀𝐓𝐔𝐋 𝐌𝐔𝐍𝐓𝐀𝐇𝐀

Foto: pngtree 


Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz bertanya ttg apa yg di maksud Sidratul Muntaha dan apakah itu tempat nya Allah? Tapi kan Allah tdk bertempat..?
[𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥𝐌𝐮'𝐢𝐝]

Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

𝐒𝐈𝐃𝐑𝐀𝐓𝐔𝐋 𝐌𝐔𝐍𝐓𝐀𝐇𝐀

{عِندَ سِدْرَةِ المنتهى} هي شجرةُ نبْقٍ في السماءِ السابعةِ عن يمينِ العرشِ ثمرُها كقِلال هَجَرَ وورقُها كآذانِ الفيولِ تنبعُ من أصلِها الأنهارُ التي ذكرَهَا الله تعالَى في كتابِه يسير الراكب في ظلها سبعين عما لا يقطعُها والمُنْتهى موضعُ الانتهاءِ أو الانتهاءُ كأنَّها في مُنْتَهى الجنةِ وقيلَ إليها يَنْتهي علمُ الخلائقِ وأعمالهم ولايعلم أحدٌ ما وراءَها وقيلَ ينتهِي إليها أرواحُ الشهداءِ وقيلَ ينتهي إليها ما يهبط من فوقها ويصعد من تحتِها قيل إضافةُ السدرةِ إلى المُنْتهى إما إضافةُ الشيءِ إلى مكانِه كقولك شجر البستان وإضافة المحلِّ إلى الحالِّ كقولك كتابُ الفقهِ والتقديرُ سدرةٌ عندَها مُنتهى علومِ الخلائقِ أو إضافةُ المِلكَ إلى المالك على حذفِ الجارِّ والمجرورِ أي سدرةُ المُنْتَهى إليهِ هو الله عزَّ وجلَّ قالَ تعالَى إلى ربِّكَ المُنْتهى
“"{Di Sidratul Muntaha}"
Ia adalah pohon bidara di langit ketujuh, di sebelah kanan Arsy. Buahnya sebesar tempayan daerah Hajar dan daunnya seperti telinga gajah. Dari pangkalnya memancar sungai-sungai yang telah disebutkan Allah Ta’ala dalam kitab-Nya. Seseorang yang berkendara di bawah naungannya selama tujuh puluh tahun tidak akan sanggup melintasi (luas)nya.
Al-Muntaha berarti tempat berakhir atau titik kesudahan. Seolah-olah pohon itu berada di batas akhir surga. Dikatakan pula bahwa ke sanalah berakhirnya ilmu dan amal para makhluk, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang ada di baliknya. Ada yang berpendapat bahwa ke sanalah berakhirnya ruh-ruh para syuhada. Pendapat lain menyatakan ke sanalah berakhir apa pun yang turun dari atasnya dan apa pun yang naik dari bawahnya.
Adapun penyandaran kata Sidrah kepada Al-Muntaha bisa bermakna:
Penyandaran sesuatu kepada tempatnya (seperti ungkapan: pohon kebun).
Penyandaran wadah kepada isinya (seperti ungkapan: buku fikih), dengan pemaknaan: pohon bidara yang di sisinya terdapat puncak ilmu para makhluk.
Penyandaran milik kepada pemiliknya (dengan membuang kata depan), yang berarti: pohon bidara yang puncaknya menuju kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya: "Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).”
[Tafsir Abi As Su'uud VIII/156]

وكانت ليلة الإسراء عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهى هي شجرة نبق عن يمين العرش في السماء السابعة على المشهور، وفي حديث أخرجه أحمد ومسلم والترمذي وغيرهم في السماء السادسة نبقها كقلال هجر وأوراقها مثل آذان الفيلة يسير الراكب في ظلها سبعين عاما لا يقطعها،

وأخرج الحاكم وصححه عن أسماء بنت أبي بكر رضي الله تعالى عنهما مرفوعا «يسير الراكب في الفنن منها مائة سنة»

والأحاديث ظاهرة في أنها شجرة نبق حقيقية.

والنبات في الشاهد يكون ترابيا ومائيا وهوائيا ولا يبعد من الله تعالى أن يخلقه في أي مكان شاء وقد أخبر سبحانه عن شجرة الزقوم أنها تنبت في أصل الجحيم، ويقيل: إطلاق السدرة عليها مجاز لأنها تجتمع عندها الملائكة عليهم السلام كما يجتمع الناس في ظل السدرة، والْمُنْتَهى اسم مكان وجوز كونه مصدرا ميميا، وقيل: لها سِدْرَةِ الْمُنْتَهى لأنها كما أخرج عبد بن حميد وابن أبي حاتم عن ابن عباس إليها ينتهي علم كل عالم وما وراءها لا يعلمه إلا الله تعالى، أو لأنها ينتهي إليها علم الأنبياء عليهم السلام ويعزب علمهم عما وراءها. أو لأنها تنتهي إليها أعمال الخلائق بأن تعرض على الله تعالى عندها أو لأنها ينتهي إليها ما ينزل من فوقها وما يصعد من تحتها. أو لأنها تنتهي إليها أرواح الشهداء أو أرواح المؤمنين مطلقا. أو لانتهاء من رفع إليها في الكرامة، وفي الكشاف كأنها منتهى الجنة وآخرها، وإضافة سِدْرَةِ إلى الْمُنْتَهى من إضافة الشيء لمحله كما في أشجار البستان، وجوز أن تكون من إضافة المحل إلى الحال كما في قولك كتاب الفقه، وقيل: يجوز أن يكون المراد بالمنتهى الله عز وجل فالإضافة من إضافة الملك إلى المالك أي سِدْرَةِ الله الذي إليه الْمُنْتَهى كما قال سبحانه: وَأَنَّ إِلى رَبِّكَ الْمُنْتَهى [النجم: 42] وعد ذلك من باب الحذف والإيصال ولا يخفى أن هذا القول يكاد يكون المنتهى في البعد
“"{Di Sidratul Muntaha}"
Ia adalah pohon bidara (nabq) yang menurut pendapat masyhur berada di sebelah kanan Arsy di langit ketujuh. Namun, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya, disebutkan berada di langit keenam. Buahnya seperti tempayan daerah Hajar dan daun-daunnya seperti telinga gajah. Seorang pengendara yang berjalan di bawah naungannya selama tujuh puluh tahun tidak akan mampu melintasinya. Al-Hakim meriwayatkan dan mensahihkannya dari Asma binti Abi Bakar radhiyallahu 'anhuma secara marfu': "Seorang pengendara berjalan di bawah satu dahan dari dahan-dahannya selama seratus tahun." Hadis-hadis ini secara lahiriah menunjukkan bahwa ia adalah pohon bidara yang nyata.
Tumbuhan di alam nyata (syahid) ada yang berasal dari tanah, air, atau udara, maka tidaklah mustahil bagi Allah Ta’ala untuk menciptakannya di tempat mana pun yang Dia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta'ala pun telah mengabarkan tentang pohon Zaqqum bahwa ia tumbuh di dasar neraka Jahim. Ada pula yang berpendapat bahwa penyebutan "Sidrah" (pohon bidara) atasnya adalah bentuk kiasan (majas), karena para malaikat berkumpul di sana sebagaimana manusia berkumpul di bawah naungan pohon bidara.
"Al-Muntaha" adalah nama tempat, namun boleh juga dianggap sebagai mashdar mimi (kata benda abstrak). Disebut Sidratul Muntaha karena—sebagaimana diriwayatkan Abd bin Humaid dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas—di sanalah berakhirnya ilmu setiap orang yang berilmu, dan apa yang ada di baliknya tidak ada yang tahu kecuali Allah Ta’ala. Atau karena di sanalah berakhirnya ilmu para Nabi, dan ilmu mereka tidak menjangkau apa yang ada di baliknya.
Atau karena di sanalah berakhirnya amal-amal makhluk untuk dihadapkan kepada Allah Ta’ala. Atau karena di sanalah berakhir apa yang turun dari atasnya dan apa yang naik dari bawahnya. Atau karena di sanalah berakhirnya ruh-ruh para syuhada atau ruh orang mukmin secara mutlak. Atau sebagai batas akhir kemuliaan bagi siapa yang diangkat ke sana. Dalam tafsir Al-Kasysyaf disebutkan: seolah-olah ia adalah batas akhir dan ujung dari surga.
Penyandaran (idhafah) kata Sidrah kepada Al-Muntaha adalah bentuk penyandaran sesuatu kepada tempatnya, seperti "pohon-pohon kebun". Boleh juga dianggap sebagai penyandaran wadah (mahal) kepada isinya (hal), sebagaimana ucapan "kitab fikih". Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Al-Muntaha adalah Allah Azza wa Jalla, sehingga penyandarannya adalah milik kepada pemiliknya; yaitu pohon milik Allah yang kepada-Nya segala sesuatu berakhir, sebagaimana firman-Nya: "Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)." [QS. An-Najm: 42]. Pendapat ini dianggap menggunakan metode penghapusan kata depan (hadzf wa iishal), namun tidak sulit disadari bahwa pendapat terakhir ini sangatlah jauh (lemah)”
[Tafsir Al Aluusiy XIV/50]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Link Diskusi:

Komentari

Lebih baru Lebih lama