2053. 𝐇𝐔𝐊𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐀𝐍𝐆𝐔𝐍𝐊𝐀𝐍 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐈𝐃𝐔𝐑 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐓

Foto: islami.co


Pertanyaan:
Assalamu'alaikum yai
Izin bertanya
Apakah wajib bagi kita membangunkan tmn kita yg masih tertidur di waktu sholat yg sdh hampir habis ? 

Dan apakah dianggap udzur ketika dia tidurnya sebelum masuk waktu sholat kemudian kesiangan bangunnya ? Dan hal ini kejadiannya setiap hari (dia kalau malam begadang lalu tidur sebelum masuk waktu, lalu selalu kesiangan shubuh nya)
[𝐈𝐛𝐧𝐮 𝐀𝐝𝐧𝐚𝐧 𝐀𝐥 𝐆𝐡𝐚𝐳𝐚𝐥𝐢]

Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Apabila tidurnya dihukumi mubah (boleh) dan tidurnya tidak dianggap berdosa seperti tidur sebelum masuk waktu shalat membangunkannya hukumnya sunah (tidak berdosa bila tidak dilakukan). Sementara bila tidurnya termasuk sebab yang berdosa maka membangunkannya hukumnya wajib (berdosa bila tidak dilakukan) seperti tidur sesudah masuk waktu shalat dan yakin atau menduga kuat ia tidak akan bangun kecuali sudah habis waktu shalat.

(تَنْبِيْهٌ) يُسَنُّ إِيْقَاظُ النَّائِمِ لِلصَّلَاةِ إِنْ عُلِمَ أَنَّهُ غَيْرُ مُتَعَدٍّ بِنَوْمِهِ أَوْ جُهِلَ حَالَهُ، فَإِنْ علِمَ تَعَدِّيَهُ بِنَوْمِهِ كَأَنْ عُلِمَ أَنَّهُ نَامَ فِي الْوَقْتِ مَعَ عِلْمِهِ أَنَّهُ لَا يَسْتَيْقِظُ فِي الْوَقْتِ، وَجَبَ.
“(Peringatan) Disunnahkan membangunkan orang yang tidur untuk shalat jika diketahui bahwa ia tidak ceroboh (tidak melanggar) dengan tidurnya tersebut, atau jika tidak diketahui kondisinya. Namun, jika diketahui ia telah ceroboh dengan tidurnya—seperti ia tidur saat sudah masuk waktu padahal tahu ia tidak akan bangun di dalam waktu tersebut—maka hukum membangunkannya adalah wajib”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/120]

ثُمَّ إِنْ نَامَ قَبْلَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ يَسْتَغْرِقُ فِي الْوَقْتِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ أَيْضًا، وَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ وَلَوْ جُمُعَةً عَلَى الصَّحِيْحِ، وَلَا يَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ فَوْرًا. وَإِنْ نَامَ بَعْدَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ فَغَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ الِاسْتِيْقَاظُ قَبْلَ خُرُوْجِ الْوَقْتِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ أَيْضًا وَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ، لَكِنَّهُ يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ إِلَّا إِنْ غَلَبَهُ النَّوْمُ بِحَيْثُ لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ، وَإِنْ لَمْ يَغْلِبْ عَلَيْهِ الِاسْتِيْقَاظُ أَثِمَ. وَيَجِبُ عَلَى مَنْ عَلِمَ بِحَالِهِ إِيْقَاظُهُ حِيْنَئِذٍ بِخِلَافِهِ فِيْمَا سَبَقَ فَإِنَّهُ يُنْدَبُ إِيْقَاظُهُ.
“Kemudian, jika seseorang tidur sebelum masuk waktu shalat, maka tidak ada dosa baginya. Meskipun ia tahu bahwa tidurnya akan menghabiskan waktu shalat, tetap tidak berdosa menurut pendapat yang sahih, walau itu waktu shalat Jumat sekalipun, dan ia tidak wajib mengqadha shalatnya dengan segera. Namun, jika ia tidur setelah masuk waktu shalat dan ia punya dugaan kuat akan bangun sebelum waktu habis, maka ia juga tidak berdosa meski waktunya terlewat. Akan tetapi, hal itu hukumnya makruh kecuali jika tidurnya tak tertahankan. Jika ia tidak punya dugaan kuat akan bangun, maka ia berdosa. Dalam kondisi berdosa ini, wajib bagi orang yang mengetahui keadaannya untuk membangunkannya, berbeda dengan kasus sebelumnya (tidur sebelum waktu/yakin bangun) yang hukum membangunkannya hanya sunnah”.
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Ibnu Qasiim I/212]

ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّهُ إِذَا نَامَ قَبْلَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ فَفَاتَتْهُ الصَّلَاةُ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ يَسْتَغْرِقُ الْوَقْتَ وَلَوْ جُمُعَةً عَلَى الصَّحِيْحِ، وَلَا يَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ فَوْرًا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيْطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيْطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَدْخُلَ وَقْتُ الْأُخْرَى" رَوَاهُ مُسْلِمٌ. قَالَ السُّوَيْفِي فِي لِلسَّبَبِيَّةِ أَيْ لَيْسَ بِسَبَبِ النَّوْمِ تَفْرِيْطٌ أَيْ إِنْ نَامَ قَبْلَ دُخُوْلِ الْوَقْتِ. وَأَمَّا إِنْ نَامَ بَعْدَ دُخُوْلِهِ فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ يَسْتَغْرِقُ الْوَقْتَ حَرُمَ عَلَيْهِ النَّوْمُ وَيَأْثَمُ إِثْمَيْنِ، ثُمَّ الَّذِي حَصَلَ بِسَبَبِ النَّوْمِ فَلَا يَرْتَفِعُ إِلَّا بِالِاسْتِغْفَارِ. وَإِنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ الِاسْتِيْقَاظُ قَبْلَ خُرُوْجِ الْوَقْتِ فَخَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ لَكِنَّهُ يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ إِلَّا إِنْ غَلَبَهُ النَّوْمُ بِحَيْثُ لَا يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ. وَإِنْ لَمْ يَغْلِبْ عَلَى ظَنِّهِ الِاسْتِيْقَاظُ أَثِمَ. وَيَجِبُ إِيْقَاظُ مَنْ نَامَ بَعْدَ الْوُجُوْبِ، وَيُسَنُّ إِيْقَاظُ مَنْ نَامَ قَبْلَ الْوَقْتِ إِنْ لَمْ يَخْشَ ضَرَرًا لِيَنَالَ الصَّلَاةَ فِي الْوَقْتِ.
“Ketahuilah, jika seseorang tidur sebelum masuk waktu shalat lalu ia terlewat shalatnya, maka tidak ada dosa baginya. Meski ia tahu tidurnya akan menghabiskan waktu shalat—bahkan shalat Jumat sekalipun menurut pendapat yang sahih—ia tidak wajib mengqadha segera berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam: 'Tidak ada kelalaian dalam tidur, kelalaian itu hanya bagi orang yang tidak shalat hingga masuk waktu shalat berikutnya.' (HR. Muslim).

As-Suwaifi berkata bahwa huruf 'Li' bermakna sebab, artinya: 'Bukan karena sebab tidur itu ada kelalaian' jika tidurnya sebelum masuk waktu. Adapun jika tidur setelah masuk waktu, dan ia tahu tidurnya akan menghabiskan waktu, maka haram baginya tidur dan ia mendapat dua dosa. Dosa yang terjadi karena sebab tidur ini tidak hilang kecuali dengan istighfar. Jika ia menduga kuat akan bangun sebelum waktu habis namun ternyata waktu habis dan ia belum shalat, maka ia tidak berdosa meski hukumnya makruh, kecuali jika kantuknya tak tertahankan. Jika ia tidak menduga kuat akan bangun, maka ia berdosa. Wajib membangunkan orang yang tidur setelah masuk waktu wajib, dan sunnah membangunkan yang tidur sebelum waktu jika tidak khawatir timbul bahaya, agar ia mendapatkan shalat tepat waktu”.
[Kaasyifah As Sajaa Fii Syarh Safiinah An Najaa Halaman 50]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Link Diskusi:

Komentari

Lebih baru Lebih lama