(Foto: Oleh Penulis)
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
𝐊𝐀𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐏𝐔𝐀𝐒𝐀 : 𝐏𝐔𝐀𝐒𝐀 𝐖𝐀𝐍𝐈𝐓𝐀 𝐇𝐀𝐌𝐈𝐋 𝐃𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐒𝐔𝐈 : 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐑𝐔𝐊𝐒𝐇𝐀𝐇 𝐅𝐈𝐃𝐘𝐀𝐇
Pembaca yang Budiman! Saya ambil judul kajian dengan judul yang tertera karena berdasarkan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari banyaknya puasa yang wajib diqadha' wanita hamil sampai menyusui. Bayangkan saja; jika selama hamil tidak bisa berpuasa selama 4 bulan ditambah lagi paska melahirkan dan dilanjutkan dengan menyusui bisa sampai mau setengah tahun bahkan lebih puasa yang akan diqadha'. Ditambah lagi ada seorang ibu yang menyusui anaknya Baru usia 1-2 tahun dan pada waktu itu hamil dan menyusui lagi karena subur maka dapat dibayangkan berapa jumlah puasa harus mereka qadha'. Sehingga andai mereka mau mengqadha' semuanya walaupun sampai tubuh jadi tulang bahkan sampai tidak sanggup lagi pun belum tentu tuntas diqadha'. Dari kejadian tersebut dan oleh karena saya punya istri sangat prihatin dengan kesehatan istri maka sedapat mungkin Carikan solusi secara Fiqih jika ada solusi supaya mereka tidak lagi mengqadha' puasa tersebut demi mengambil keringanan. Ini bukanlah meremehkan hukum tapi agar puasa yang mereka tinggalkan dianggap bebas, sebab kalau diqadha' semuanya sangat memberatkan bagi mereka apalagi puasanya main 5-6 bulan bahkan lebih. Sedangkan syariat tidak membebankan pemeluknya bila menimbulkan kesulitan. Namun, bila puasanya 2-3 bulan masih dirasa mampu mengqadha' seluruhnya walaupun dengan mencicil. Karenanya, pahamilah baik-baik agar meraih pemahaman dan tentunya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kajian kali ini saya mengambil keterangan Dari Fiqih Empat Madzhab, Pendapat Ahli Tafsir Al Qur'an dan juga sebagian dari Ahli hadits berdasarkan keterangan mereka sebutkan dalam karya mereka, nanti di akhirnya saya akan kasih kesimpulannya agar dapat disimpulkan berdasarkan pendapat-pendapat yang disebutkan.
Pembaca yang Budiman!
Berdasarkan penelusuran saya dari kitab antar Madzhab yang empat tidak ada satupun pendapat yang mengugurkan Qadha' puasa yang wanita hamil dan menyusui tinggalkan, hanya mereka berselisih pendapat tentang wajibnya fidyah. Memang ada pendapat yang menggugurkan qadha' puasa bagi wanita hamil dan menyusui tapi mereka tidak termasuk dari kalangan empat Madzhab tapi sebagian sahabat Nabi ﷺ, Thabi'in dan Thabi' Thabi'in (setelah Thabi'in). Nanti kita akan memberikan ulasan tentang hukum mengambil pendapat mereka untuk diamalkan berdasarkan ketentuan dalam Madzhab Syafi'i. Kini kita akan menelusuri keterangan Ulama terkait masalah ini.
1. Imam Nawawi (Ulama Madzhab Syafi'i)
Seorang Ulama Senior di Madzhab Syafi'i menampilkan keterangan dalam karya beliau sebagai berikut 👇
* {فَرْعٌ} فِي مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِي الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ إذَا خَافَتَا فَأَفْطَرَتَا
* قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّهُمَا إنْ خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا لَا غَيْرَ أَوْ عَلَى أَنْفُسِهِمَا وَوَلَدِهِمَا أَفْطَرَتَا وَقَضَتَا وَلَا فِدْيَةَ عَلَيْهِمَا بِلَا خِلَافٍ وَإِنْ أَفْطَرَتَا لِلْخَوْفِ عَلَى الْوَلَدِ أَفْطَرَتَا وَقَضَتَا وَالصَّحِيحُ وُجُوبُ الْفِدْيَةِ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَلِلْعُلَمَاءِ فِي ذلك أربع مَذَاهِبَ (قَالَ) ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يُفْطِرَانِ وَيُطْعِمَانِ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا (وَقَالَ) عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ وَالْحَسَنُ وَالضَّحَّاكُ وَالنَّخَعِيُّ وَالزُّهْرِيُّ وَرَبِيعَةُ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالثَّوْرِيُّ وَأَبُو عُبَيْدٍ وَأَبُو ثَوْرٍ وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ يُفْطِرَانِ وَيَقْضِيَانِ وَلَا فِدْيَةَ كَالْمَرِيضِ (وَقَالَ) الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ يُفْطِرَانِ وَيَقْضِيَانِ وَيَفْدِيَانِ وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ مُجَاهِدٍ (وَقَالَ) مَالِكٌ: الْحَامِلُ تُفْطِرُ وَتَقْضِي وَلَا فِدْيَةَ، وَالْمُرْضِعُ تُفْطِرُ وَتَقْضِي وَتَفْدِي. قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: وَبِقَوْلِ عَطَاءٍ أَقُولُ.
* “{Cabang Masalah} Mengenai mazhab-mazhab ulama tentang wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir lalu berbuka (tidak puasa). Kami telah menyebutkan bahwa mazhab kami (Syafi'i) adalah:
* 1. Jika keduanya khawatir terhadap keselamatan diri mereka sendiri saja, atau khawatir terhadap diri mereka sekaligus anak mereka, maka keduanya berbuka dan wajib qadha tanpa ada kewajiban fidyah, tanpa ada perbedaan pendapat (di internal Syafi'iyah).
* 2. Jika keduanya berbuka karena hanya khawatir terhadap keselamatan anaknya, maka keduanya berbuka, wajib qadha, dan menurut pendapat yang Shahih wajib pula membayar fidyah.
Ibnu al-Mundzir berkata bahwa dalam masalah ini terdapat empat mazhab ulama:
• Pendapat 1: Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Sa'id bin Jubair berkata: Keduanya berbuka dan memberi makan (fidyah), serta tidak ada kewajiban qadha bagi keduanya.
• Pendapat 2: Atha' bin Abi Rabah, Al-Hasan (Al-Bashri), Ad-Dhahhak, An-Nakha'i, Az-Zuhri, Rabi'ah, Al-Auza'i, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Abu Ubaid, Abu Thaur, dan Ash-habur Ra'yi berkata: Keduanya berbuka dan wajib qadha, namun tidak ada fidyah, kedudukannya sama seperti orang sakit.
• Pendapat 3: Asy-Syafi'i dan Ahmad berkata: Keduanya berbuka, wajib qadha, dan wajib fidyah. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Mujahid.
• Pendapat 4: Malik berkata: Wanita hamil berbuka dan wajib qadha tanpa fidyah, sedangkan wanita menyusui berbuka, wajib qadha, dan wajib fidyah.
Ibnu al-Mundzir berkata: "Aku berpendapat dengan pendapatnya Atha' (yaitu qadha saja tanpa fidyah)." ”.
[Al Majmuu' Syarh Al Muhadzdzab VI/269]
Berdasarkan pendapat yang disebutkan Imam Nawawi mengutip pernyataan Imam Ibnu Mundzir dapat diketahui ada pendapat yang menggugurkan qadha' puasa bagi wanita hamil dan menyusui Yaitu pendapat Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar dari kalangan sahabat Nabi ﷺ, juga diikuti pendapat Sa'id bin Jubair Dari kalangan Thabi'in, Hanya diwajibkan membayar fidyah saja, sedangkan pendapat selainnya termasuk Imam Mujtahid Madzhab empat tidak ada menggugurkan qadha' puasa bagi keduanya.
2. Imam Ibnu Qudamah
Salah seorang Ulama Senior bermadzhab Hambali menerangkan dalam karyanya seperti berikut 👇
إذَا ثَبَتَ هَذَا، فَإِنَّ الْقَضَاءَ لَازِمٌ لَهُمَا. وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ، وَابْنُ عَبَّاسٍ: لَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا؛ لِأَنَّ الْآيَةَ تَنَاوَلَتْهُمَا، وَلَيْسَ فِيهَا إلَّا الْإِطْعَامُ، وَلِأَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: «إنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ» . وَلَنَا أَنَّهُمَا يُطِيقَانِ الْقَضَاءَ، فَلَزِمَهُمَا، كَالْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ، وَالْآيَةُ أَوْجَبَتْ الْإِطْعَامَ، وَلَمْ تَتَعَرَّضْ لِلْقَضَاءِ، فَأَخَذْنَاهُ مِنْ دَلِيلٍ آخَرَ. وَالْمُرَادُ بِوَضْعِ الصَّوْمِ وَضْعُهُ فِي مُدَّةِ عُذْرِهِمَا، كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ» . وَلَا يُشْبِهَانِ الشَّيْخَ الْهَرِمِ، لِأَنَّهُ عَاجِزٌ عَنْ الْقَضَاءِ، وَهُمَا يَقْدِرَانِ عَلَيْهِ.
قَالَ أَحْمَدُ: أَذْهَبُ إلَى حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ. يَعْنِي وَلَا أَقُولُ بِقَوْلِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ فِي مَنْعِ الْقَضَاءِ
“Jika hal ini telah tetap (berdasarkan keterangan sebelumnya, termasuk pendapat berbagai Madzhab) maka sesungguhnya kewajiban qadha adalah mutlak bagi keduanya (ibu hamil dan menyusui). Namun, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas berpendapat: Tidak ada kewajiban qadha bagi keduanya. Alasan mereka adalah karena ayat Al-Qur'an (Surah Al-Baqarah: 184) mencakup kondisi keduanya, dan dalam ayat tersebut tidak ada kewajiban kecuali memberi makan (fidyah). Selain itu, karena Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah menggugurkan beban puasa bagi wanita hamil dan menyusui'. Sedangkan dalil kami (Hambali): Bahwa keduanya mampu untuk melakukan qadha, maka qadha tersebut menjadi wajib bagi mereka, sebagaimana berlaku bagi wanita yang haid dan nifas. Adapun ayat tersebut (memang) mewajibkan memberi makan (fidyah), namun tidak menyinggung masalah qadha, sehingga kami mengambil (hukum qadha) dari dalil yang lain. Lalu, yang dimaksud dengan 'menggugurkan puasa' (dalam hadis tersebut) adalah menggugurkan pelaksanaannya selama masa udzur mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Amr bin Umayyah dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Allah menggugurkan beban puasa bagi musafir.' (Padahal musafir tetap wajib qadha). Keduanya (ibu hamil/menyusui) juga tidak bisa disamakan dengan orang tua renta, karena orang tua renta sudah tidak mampu melakukan qadha, sedangkan mereka berdua mampu melakukannya. Imam Ahmad berkata: 'Aku mengikuti hadis Abu Hurairah.' Maksudnya, beliau tidak mengambil pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dalam hal peniadaan (tidak adanya) kewajiban qadha”
[Al Mughni Li Ibn Qudamah III/150-151]
Berdasarkan kutipan Imam Ibnu Qudamah nama Sahabat Nabi yaitu Ibnu Abbas dan Ibnu Umar juga muncul yang menetapkan wanita hamil dan menyusui tidak wajib mengqadha' puasa mereka hanya diwajibkan membayar fidyah, namun Imam Ibnu Qudamah menyanggah pendapat keduanya.
3. Imam Ibnu Rusyd
Salah seorang Ulama Senior bermadzhab Maliki dalam karyanya menyebutkan 👇
[أَحْكَامُ الْمُرْضِعِ وَالْحَامِلِ وَالشَّيْخِ الْكَبِيرِ في الصيام]
وَأَمَّا بَاقِي هَذَا الصِّنْفِ وَهُوَ الْمُرْضِعُ وَالْحَامِلُ وَالشَّيْخُ الْكَبِيرُ فَإِنَّ فِيهِ مَسْأَلَتَيْنِ مَشْهُورَتَيْنِ:
إِحْدَاهُمَا: الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ إِذَا أَفْطَرَتَا مَاذَا عَلَيْهِمَا؟ وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ لِلْعُلَمَاءِ فِيهَا أَرْبَعَةُ مَذَاهِبَ:
أَحَدُهَا: أَنَّهُمَا يُطْعِمَانِ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا، وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ.
وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُمَا يَقْضِيَانِ فَقَطْ وَلَا إِطْعَامَ عَلَيْهِمَا، وَهُوَ مُقَابِلُ الْأَوَّلِ، وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَأَبُو ثَوْرٍ.
وَالثَّالِثُ: أَنَّهُمَا يَقْضِيَانِ وَيُطْعِمَانِ، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ.
وَالْقَوْلُ الرَّابِعُ: أَنَّ الْحَامِلَ تَقْضِي وَلَا تُطْعِمُ، وَالْمُرْضِعُ تَقْضِي وَتُطْعِمُ.
وَسَبَبُ اخْتِلَافِهِمْ: تَرَدُّدُ شَبَهِهِمَا بَيْنَ الَّذِي يُجْهِدُهُ الصَّوْمُ وَبَيْنَ الْمَرِيضِ، فَمَنْ شَبَّهَهُمَا بِالْمَرِيضِ قَالَ: عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ فَقَطْ، وَمَنْ شَبَّهَهُمَا بِالَّذِي يُجْهِدُهُ الصَّوْمُ قَالَ: عَلَيْهِمَا الْإِطْعَامُ فَقَطْ بِدَلِيلِ قِرَاءَةِ مَنْ قَرَأَ {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} [البقرة: 184] الْآيَةَ.
وَأَمَّا مَنْ جَمَعَ عَلَيْهِمَا الْأَمْرَيْنِ فَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ رَأَى فِيهِمَا مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ شَبَهًا فَقَالَ: عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ مِنْ جِهَةِ مَا فِيهِمَا مِنْ شَبَهِ الْمَرِيضِ، وَعَلَيْهِمَا الْفِدْيَةُ مِنْ جِهَةِ مَا فِيهِمَا مِنْ شَبَهِ الَّذِينَ يُجْهِدُهُمُ الصِّيَامُ، وَشَبَهِ أَنْ يَكُونَ شَبَّهَهُمَا بِالْمُفْطِرِ الصَّحِيحِ لَكِنْ يَضْعُفُ هَذَا، فَإِنَّ الصَّحِيحَ لَا يُبَاحُ لَهُ الْفِطْرُ.
وَمَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ أَلْحَقَ الْحَامِلَ بِالْمَرِيضِ، وَأَبْقَى حُكْمَ الْمُرْضِعِ مَجْمُوعًا مِنْ حُكْمِ الْمَرِيضِ وَحُكْمِ الَّذِي يُجْهِدُهُ الصَّوْمُ، أَوْ شَبَّهَهَا بِالصَّحِيحِ.
وَمَنْ أَفْرَدَ لَهُمَا أَحَدَ الْحُكْمَيْنِ أَوْلَى - وَاللَّهُ أَعْلَمُ - مِمَّنْ جَمَعَ، كَمَا أَنَّ مَنْ أَفْرَدَهُمَا بِالْقَضَاءِ أَوْلَى مِمَّنْ أَفْرَدَهُمَا بِالْإِطْعَامِ فَقَطْ لِكَوْنِ الْقِرَاءَةِ غَيْرَ مُتَوَاتِرَةٍ فَتَأَمَّلْ هَذَا فَإِنَّهُ بَيِّنٌ.
“[Hukum Wanita Menyusui, Hamil, dan Orang Tua Renta dalam Puasa]
Adapun golongan sisanya, yaitu wanita menyusui, wanita hamil, dan orang tua renta, maka di dalamnya terdapat dua permasalahan masyhur:
Permasalahan Pertama: Wanita hamil dan menyusui, jika keduanya tidak berpuasa, apa kewajiban mereka?
Dalam masalah ini, para ulama terbagi menjadi empat madzhab (pendapat):
1. Pendapat Pertama: Keduanya wajib memberi makan (fidyah) dan tidak ada qadha bagi keduanya. Ini diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.
2. Pendapat Kedua: Keduanya wajib qadha saja dan tidak ada kewajiban fidyah. Ini adalah kebalikan pendapat pertama, dan ini merupakan pendapat Abu Hanifah serta murid-muridnya, juga pendapat Abu Tsur.
3. Pendapat Ketiga: Keduanya wajib qadha sekaligus fidyah. Ini adalah pendapat Al-Syafi'i.
4. Pendapat Keempat: Wanita hamil wajib qadha saja tanpa fidyah, sedangkan wanita menyusui wajib qadha sekaligus fidyah. (Pendapat Imam Malik).
Sebab Perbedaan Pendapat:
Adanya kebimbangan dalam menyerupakan (tashbih) kondisi mereka berdua: apakah lebih mirip dengan orang yang merasa berat/payah jika berpuasa (al-ladhi yujhiduhu al-shawm) atau lebih mirip dengan orang sakit?
• Siapa yang menyerupakan mereka dengan orang sakit, maka ia berpendapat: wajib qadha saja.
• Siapa yang menyerupakan mereka dengan orang yang sangat payah berpuasa, maka ia berpendapat: wajib fidyah saja, dengan dalil qira’ah (sebagian sahabat) pada ayat: "Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin" [Al-Baqarah: 184].
• Adapun yang menggabungkan kedua kewajiban (qadha dan fidyah), tampaknya ia melihat adanya sisi kemiripan dengan kedua golongan tersebut sekaligus. Ia mewajibkan qadha karena kemiripan dengan orang sakit, dan mewajibkan fidyah karena kemiripan dengan orang yang payah berpuasa. Bisa juga ia menyerupakan mereka dengan orang sehat yang berbuka (dalam hal beban tambahannya), namun alasan ini lemah karena orang sehat tidak diperbolehkan berbuka.
• Sedangkan yang membedakan antara hamil dan menyusui, ia menyamakan wanita hamil dengan orang sakit (karena uzurnya ada pada dirinya sendiri), sementara ia tetap menetapkan bagi wanita menyusui gabungan hukum antara orang sakit dan orang yang payah berpuasa (karena uzurnya terkait orang lain/bayi), atau menyerupakannya dengan orang sehat.
Pendapat yang menetapkan salah satu saja dari kedua hukum tersebut (hanya qadha atau hanya fidyah) —wallahu a'lam— lebih utama daripada yang menggabungkan keduanya. Begitu pula, pendapat yang menetapkan qadha saja lebih utama daripada yang menetapkan fidyah saja, dikarenakan qira'ah (yang menjadi dasar fidyah saja) tersebut bukan mutawatir. Renungkanlah hal ini, karena sesungguhnya ini sudah sangat jelas”
[Bidaayah Al Mujtahid II /62-63]
Berdasarkan kutipan Imam Ibnu Rusyd diatas nama dua orang sahabat Nabi tersebut juga muncul. Namun, beliau menguatkan pendapat yang tetap mewajibkan qadha' puasa saja tanpa fidyah, menurutnya pendapat yang Hanya memberlakukan fidyah saja (seperti pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar) bukanlah termasuk Qiraah mutawatir.
4. Imam Al Mubarak Furi:
Salah seorang ahli hadits senior dalam karyanya menyebutkan 👇
(وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ يُفْطِرَانِ وَيَقْضِيَانِ وَيُطْعِمَانِ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ وَمَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ) أَمَّا أَنَّهُمَا يَقْضِيَانِ فَلِأَنَّهُمَا فِي حُكْمِ الْمَرِيضِ وَالْمَرِيضُ يُفْطِرُ وَيَقْضِي وَأَمَّا أَنَّهُمَا يُطْعِمَانِ فَلِآثَارِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ رَوَى أَبُو دَاوُدَ فِي سُنَنِهِ عن بن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فِي قَوْلُهُ (وعلى الذين يطيقونه) قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وهما يطيقان الطعام أَنْ يُفْطِرَا أَوْ يُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكَيْنَا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا يَعْنِي عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا وَأَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ كَذَلِكَ وَزَادَ في آخره وكان بن عَبَّاسٍ يَقُولُ لِأُمِّ وَلَدٍ لَهُ حُبْلَى أَنْتِ بِمَنْزِلَةِ الَّذِي لَا يُطِيقُهُ فَعَلَيْكَ الْفِدَاءُ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْكَ
وَصَحَّحَ الدَّارَقُطْنِيُّ إِسْنَادَهُ
وَرَوَى الْإِمَامُ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّأِ بَلَاغًا أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ سُئِلَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَامِلِ إِذَا خَافَتْ عَلَى وَلَدِهَا وَاشْتَدَّ عَلَيْهَا الصِّيَامُ فَقَالَ تُفْطِرُ وَتُطْعِمُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا مُدًّا مِنْ حِنْطَةٍ بِمُدِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ مَالِكٌ وَأَهْلُ الْعِلْمِ يَرَوْنَ عَلَيْهَا الْقَضَاءَ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ من أيام أخر وَيُرِيدُونَ ذَلِكَ مَرَضًا مِنَ الْأَمْرَاضِ مَعَ الْخَوْفِ عَلَى وَلَدِهَا انْتَهَى (وَقَالَ بَعْضُهُمْ يُفْطِرَانِ وَيُطْعِمَانِ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ شَاءَتَا قَضَتَا وَلَا إِطْعَامَ وَبِهِ يَقُولُ إِسْحَاقُ) فَعِنْدَهُ لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْقَضَاءِ وَالْإِطْعَامِ فَإِذَا أَفْطَرَتِ الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ قَضَتَا وَلَا إِطْعَامَ أَوْ أَطْعَمَتَا وَلَا قَضَاءَ........... وَقَالَ الْعَلَّامَةُ الشَّاهْ وَلِيُّ اللَّهِ فِي المصفى بَعْدَ ذِكْرِ قَوْلِ إِسْحَاقَ الْمَذْكُورِ مَا لَفْظُهُ أين قول بتطبيق أدله مناسب ترمي نمايد انْتَهَى
وَالظَّاهِرُ عِنْدِي أَنَّهُمَا فِي حُكْمِ الْمَرِيضِ فَيَلْزَمُ عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ فَقَطْ وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
“(Sebagian ahli ilmu berpendapat: Wanita hamil dan menyusui berbuka, wajib qadha, dan wajib memberi makan/fidyah. Ini adalah pendapat Sufyan al-Tsauri, Malik, Syafi'i, dan Ahmad). Adapun alasan kewajiban qadha adalah karena keduanya berada dalam hukum yang sama dengan orang sakit, sedangkan orang sakit berbuka lalu mengqadha. Adapun alasan kewajiban memberi makan adalah berdasarkan atsar (legacy pendapat) sebagian Sahabat Raḍiyallāhu 'anhum.
Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya: 'Wa 'alal ladzina yuthiqunahu', beliau berkata: 'Ini adalah keringanan bagi laki-laki dan perempuan tua renta yang masih sanggup memberi makan (fidyah) untuk berbuka atau memberi makan satu miskin tiap harinya. Juga bagi wanita hamil dan menyusui jika mereka khawatir (terhadap anak mereka), maka mereka berbuka dan memberi makan.'
Al-Bazzar juga mengeluarkannya dengan redaksi serupa dan menambahkan di akhirnya: 'Ibnu Abbas pernah berkata kepada Ummu Walad-nya yang sedang hamil: Engkau berkedudukan seperti orang yang tidak sanggup berpuasa, maka bagimu wajib fidyah dan tidak ada qadha bagimu.' Ad-Daraquthni mensahihkan sanadnya. Imam Malik juga meriwayatkan dalam al-Muwaththa' secara balaghah bahwa Abdullah bin Umar pernah ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya dan merasa berat menjalankan puasa, maka beliau menjawab: 'Ia berbuka dan memberi makan satu mud gandum dengan mud Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam untuk setiap harinya.'
Imam Malik berkata: 'Para ulama berpandangan bahwa ia tetap wajib qadha sebagaimana firman Allah: Faman kana minkum maridhan au 'ala safarin fa'iddatun min ayyamin ukhar. Mereka menganggap kondisi tersebut (hamil/menyusui) sebagai salah satu jenis sakit yang disertai kekhawatiran terhadap anak.' Selesai kutipan.
(Sebagian ulama lain berpendapat: Keduanya berbuka dan memberi makan tanpa qadha. Namun jika mereka mau, mereka boleh memilih qadha saja tanpa fidyah. Ini adalah pendapat Ishaq). Maka menurutnya, tidak boleh menggabungkan antara qadha dan fidyah. Jika hamil/menyusui berbuka, pilihannya: qadha saja tanpa fidyah, atau fidyah saja tanpa qadha. Al-Allamah Shah Waliyyullah (al-Dehlawi) berkata dalam kitab al-Mushaffa setelah menyebutkan pendapat Ishaq tersebut: 'Pendapat ini tampak lebih tepat dalam menerapkan dalil-dalil yang ada secara proporsional.' Selesai kutipan. Adapun pendapat yang kuat (zhahir) menurutku (Al-Mubarakfuri) adalah bahwa keduanya dihukumi seperti orang sakit, sehingga hanya wajib qadha saja. Wallahu Ta'ala A'lam”.
[Tuhfah Al Ahwadzi Syarh As Sunan At Tirmidzi III/330-331]
Pada redaksi Imam Al Mubarak Furi diatas selain nama sahabat Nabi ada nama Ishaq yang berpendapat wanita hamil dan menyusui bebas memilih antara mengqadha' puasa atau membayar fidyah dan sebaliknya (membayar fidyah tanpa qadha').
Siapa Ishaq? Beliau adalah Ishaq bin Rahwaih termasuk generasi Atba'ut Tabi'in (pengikut Tabi'in). Beliau adalah guru dari Imam Bukhari dan merupakan sahabat karib Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau ada disebut sebagai Mujtahid Muthlaq (setingkat dengan empat imam mazhab), namun mazhabnya tidak dibukukan secara luas seperti empat mazhab besar lainnya. Pendapat beliau dipilih oleh Shah Waliyyullah al-Dehlawi (1703–1762 M), beliau adalah seorang ulama besar, pembaharu (mujaddid), dan pemikir Islam paling berpengaruh dari India pada abad ke-18. Beliau hidup di masa kemunduran Kekaisaran Mughal dan dikenal karena usahanya menyatukan berbagai faksi umat Islam yang terpecah. Namun, Imam Al Mubarak Furi malah mengunggulkan pendapat yang wajib mengqadha' puasa saja tanpa fidyah.
Berdasarkan keterangan tersebut diatas maka dapat diketahui bahwa ada pendapat yang menggugurkan qadha' puasa bagi wanita hamil dan menyusui cukup membayar fidyah saja itulah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Sa'id bin Jubair dan Ishaq bin Rahwaih. Dua tokoh pertama merupakan sahabat Nabi ﷺ sedangkan Sa'id bin Jubair tokoh Thabi'in dan Ishaq bin Rahwaih tokoh Thabi' Thabi'in yang mereka itu tidak termasuk empat Madzhab. Lalu apakah boleh bertaqlid (mengikuti) pendapat mereka? Itu tergantung boleh tidak bertaqlid kepada sahabat Nabi dan selain empat Madzhab.
Mengenai bertaqlid kepada pendapat para sahabat Nabi pernah ditanyakan orang kepada Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami dan beliau memberikan jawabannya selengkapnya 👇
(وَسُئِلَ) - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - هَلْ يَجُوزُ تَقْلِيدُ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَمْ لَا فَمَا الدَّلِيلُ عَلَيْهِ؟
(فَأَجَابَ) نَفَعَنَا اللَّهُ تَعَالَى بِعُلُومِهِ بِقَوْلِهِ نَقَلَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ عَنْ الْمُحَقِّقِينَ امْتِنَاعَهُ عَلَى الْعَوَامّ لِارْتِفَاعِ الثِّقَةِ بِمَذَاهِبِهِمْ إذْ لَمْ تُدَوَّنْ وَتُحَرَّرْ وَجَزَمَ بِهِ ابْنُ الصَّلَاحِ.
وَأَلْحَقَ بِالصَّحَابَةِ التَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمَا مِمَّنْ لَمْ يُدَوَّنْ مَذْهَبُهُ وَبِأَنَّ التَّقْلِيدَ مُتَعَيِّنٌ لِلْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ فَقَطْ قَالَ لِأَنَّ مَذَاهِبَهُمْ انْتَشَرَتْ حَتَّى ظَهَرَ تَقْيِيدُ مُطْلَقِهَا وَتَخْصِيصُ عَامِّهَا بِخِلَافِ غَيْرِهِمْ فَفِيهِ فَتَاوَى مُجَرَّدَةٌ لَعَلَّ لَهَا مُكَمِّلًا أَوْ مُقَيِّدًا لَوْ انْبَسَطَ كَلَامُهُ فِيهَا لَظَهَرَ خِلَافُ مَا يَبْدُو مِنْهُ فَامْتَنَعَ التَّقْلِيدُ إذًا لِتَعَذُّرِ الْوُقُوفِ عَلَى حَقِيقَةِ مَذَاهِبِهِمْ. اهـ. وَالْقَوْلُ الثَّانِي جَوَازُ تَقْلِيدِهِمْ كَسَائِرِ الْمُجْتَهِدِينَ قَالَ ابْنُ السُّبْكِيّ وَهُوَ الصَّحِيحُ عِنْدِي.
غَيْرَ أَنِّي أَقُولُ لَا خِلَافَ فِي الْحَقِيقَةِ بَلْ إنْ تَحَقَّقَ مَذْهَبٌ لَهُمْ جَازَ وِفَاقًا وَإِلَّا فَلَا. اهـ. وَيُؤَيِّدُهُ مَا نَقَلَهُ الزَّرْكَشِيُّ عَنْ جَمْعٍ مِنْ الْعُلَمَاءِ الْمُحَقِّقِينَ أَنَّهُمْ ذَهَبُوا إلَى جَوَازِ تَقْلِيدِهِمْ وَاسْتَدَلَّ لَهُ ثُمَّ قَالَ وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ إنْ عُلِمَ دَلِيلُهُ وَصَحَّ طَرِيقُهُ وَلِهَذَا قَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ فِي فَتَاوِيهِ إذَا صَحَّ عَنْ صَحَابِيٍّ ثُبُوتُ مَذْهَبٍ جَازَ تَقْلِيدُهُ وِفَاقًا وَإِلَّا فَلَا؛ لَا لِكَوْنِهِ لَا يُقَلَّدُ بَلْ لِأَنَّ مَذْهَبَهُ لَمْ يَثْبُتْ كُلَّ الثُّبُوتِ. اهـ. كَلَامُ الزَّرْكَشِيّ فَتَأَمَّلْهُ مَعَ قَوْلِ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وِفَاقًا يَتَّضِحْ لَك اعْتِمَادُ مَا ذَكَرَهُ ابْنُ السُّبْكِيّ وَمُقْتَضَى قَوْلِ الْمَجْمُوعِ فَعَلَى هَذَا أَيْ وُجُوبِ التَّمَذْهُبِ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ يَلْزَمُ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي إثْبَاتِ مَذْهَبٍ إلَى أَنْ قَالَ وَلَيْسَ لَهُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبِ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ - وَبَسَطَ دَلِيلَهُ وَبَيَّنَ أَنَّ مَذْهَبَ الشَّافِعِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - أَقْوَمُ الْمَذَاهِبِ إنَّ ذَلِكَ مُفَرَّعٌ عَلَى الْقَوْلِ الضَّعِيفِ وَيَدُلُّ لَهُ قَوْلُ ابْنِ بُرْهَانٍ تَقْلِيدُ الصَّحَابَةِ مَبْنِيٌّ عَلَى جَوَازِ الِانْتِقَالِ فِي الْمَذَاهِبِ فَمَنْ مَنَعَهُ مَنَعَ تَقْلِيدَهُمْ لِأَنَّ فَتَاوِيهِمْ لَا يُقْدَرُ عَلَى اسْتِحْضَارِهَا فِي كُلِّ وَاقِعَةٍ حَتَّى يُمْكِنَ الِاكْتِفَاءُ بِهَا فَيُؤَدِّي إلَى الِانْتِقَالِ وَمَذَاهِبُ الْمُتَأَخِّرِينَ تَمَهَّدَتْ فَيَكْفِي الْمَذْهَبُ الْوَاحِدُ الْمُكَافِئُ طُولُ عُمُرِهِ. اهـ. وَهُوَ حُسْنٌ بَالِغٌ وَبِهِ يُعْلَمُ جَوَازُ تَقْلِيدِهِمْ فِي مَسَائِلَ إذْ لَا يَجِبُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ خِلَافًا لِلْحَنَفِيَّةِ.
“(Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami) ditanya - Semoga Allah merahmati beliau : Apakah diperbolehkan bertaqlid (mengikuti pendapat) kepada para Sahabat —semoga Allah meridai mereka— atau tidak? Dan apa dalilnya?
Beliau menjawab - Semoga Allah memberi kita manfaat dengan ilmunya—:
Imam al-Haramain menukil dari para ulama Muhaqqiqin (peneliti senior) tentang ketidakbolehan orang awam bertaqlid kepada Sahabat. Alasannya adalah hilangnya kepercayaan (validitas) terhadap Madzhab mereka, karena madzhab-madzhab tersebut tidak dibukukan (mudawwan) dan tidak direvisi secara sistematis (muharrar). Pendapat ini ditegaskan pula oleh Ibnu Shalah. Beliau (Ibnu Shalah) juga menyamakan para Tabi'in dan selainnya dengan para Sahabat, yaitu mereka yang Madzhabnya tidak dibukukan. Maka, kewajiban taqlid hanya dibatasi pada Empat Imam Mazhab saja. Beliau beralasan bahwa Madzhab empat tersebut telah tersebar luas, sehingga batasan bagi yang mutlak (taqyid al-muthlaq) dan pengecualian bagi yang umum (takhshish al-'amm) sudah jelas. Berbeda dengan selain mereka, yang ada hanyalah fatwa-fatwa lepas; yang mungkin saja memiliki penyempurna atau pembatas yang jika penjelasan mereka dijabarkan secara luas, niscaya akan tampak hal yang berbeda dari apa yang terlihat di permukaan. Maka saat itu, taqlid (kepada Sahabat) dilarang karena sulitnya mengetahui hakikat Madzhab mereka yang sebenarnya.
Pendapat kedua: Diperbolehkan bertaqlid kepada mereka sebagaimana mujtahid lainnya. Imam Ibnu Subki berkata: "Inilah pendapat yang benar menurutku". Namun, aku (Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami) katakan: Sebenarnya tidak ada perbedaan (pertentangan) yang hakiki. Jika suatu Madzhab (pendapat) dari mereka telah terverifikasi secara pasti, maka boleh diikuti berdasarkan kesepakatan (wifaqan). Jika tidak terverifikasi, maka tidak boleh. Hal ini diperkuat oleh nukilan Zarkasyi dari sekumpulan ulama muhaqqiqin bahwa mereka berpendapat boleh bertaqlid kepada Sahabat, dan beliau memaparkan dalilnya. Kemudian Zarkasyi berkata: "Inilah yang benar jika dalilnya diketahui dan sanadnya Shahih." Oleh karena itu, Ibnu 'Abdis Salam berkata dalam kitab fatwanya: "Jika sebuah Madzhab telah Shahih riwayatnya dari seorang Sahabat, maka boleh bertaqlid kepadanya secara mufakat. Jika tidak Shahih, maka tidak boleh; bukan karena ia tidak boleh ditaqlidi, melainkan karena Madzhabnya belum terverifikasi secara sempurna". Pahamilah perkataan Zarkasyi ini bersama dengan perkataan Ibnu 'Abdis Salam (mengenai kesepakatan), maka akan jelas bagimu kuatnya pendapat yang disebutkan Ibnu Subki.
Adapun apa yang tersirat dari perkataan dalam kitab al-Majmu': "Berdasarkan hal ini (kewajiban bermadzhab pada Madzhab tertentu), maka ia harus bersungguh-sungguh dalam menetapkan suatu mazhab..." sampai pada perkataan: "Dan ia tidak boleh bermadzhab dengan mazhab salah seorang Sahabat", serta pemaparan dalilnya bahwa Madzhab Syafi'i adalah Madzhab yang paling lurus—maka sesungguhnya hal tersebut dibangun di atas pendapat yang lemah (qawl dha’if).
Hal ini didukung oleh perkataan Ibnu Burhan: "Taqlid kepada Sahabat didasarkan pada bolehnya berpindah-pindah Madzhab (intiqal al-madzahib). Siapa yang melarang perpindahan Madzhab, maka ia melarang taqlid kepada Sahabat, karena fatwa-fatwa mereka tidak mungkin dihadirkan dalam setiap peristiwa sehingga bisa mencukupi (kebutuhan hukum), yang mana hal ini akan memaksa seseorang untuk berpindah ke pendapat lain. Sedangkan Madzhab ulama belakangan (empat mazhab) sudah mapan, sehingga satu Madzhab saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan seumur hidup". Ini adalah penjelasan yang sangat baik. Dari sini diketahui bolehnya bertaqlid kepada Sahabat dalam masalah-masalah tertentu, karena tidak wajib (menurut Syafi'iyah) untuk beriltizam (terpaku mati) pada satu madzhab tertentu, berbeda dengan pendapat kalangan Hanafiyah”
[Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubra IV/307]
Berdasarkan redaksi diatas maka ada silang pendapat ulama Syafi'iyah tentang bertaqlid kepada pendapat para sahabat Nabi, sebagian Ulama tidak membolehkan seperti Pendapat Imam Ibnu Shalah. Namun, menurut Ulama lain boleh dengan syarat riwayat dari pendapat sahabat tersebut Shahih dari mereka, jika syarat ini ditetapkan maka pada kasus ini boleh bertaqlid kepada pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar karena sebagaimana disinyalir dari pernyataan Imam Al Mubarak Furi sebelumnya riwayat dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar tersebut adalah Shahih. Hal serupa juga disebutkan imam Qurthuby dalam tafsirnya 👇
فَفَسَّرَ ابْنُ عَبَّاسٍ- إِنْ كَانَ الْإِسْنَادُ عَنْهُ صَحِيحًا-" يُطِيقُونَهُ" بِيُطَوَّقُونَهُ وَيَتَكَلَّفُونَهُ فَأَدْخَلَهُ بَعْضُ النَّقَلَةِ فِي الْقُرْآنِ. رَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ" وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ" قَالَ: أَثْبَتَتْ لِلْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ. وَرُوِيَ عَنْهُ أَيْضًا" وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعامُ مِسْكِينٍ" قَالَ: كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصَّوْمَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ إِذَا خَافَتَا عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا. وَخَرَّجَ الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ: رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ، هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ. وَرُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ:" وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعامُ" لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ، هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، وَهَذَا صَحِيحٌ. وَرُوِيَ عَنْهُ أَيْضًا أَنَّهُ قَالَ لِأُمِّ وَلَدٍ لَهُ حُبْلَى أَوْ مُرْضِعٍ: أَنْتِ مِنَ الَّذِينَ لَا يُطِيقُونَ الصِّيَامَ، عَلَيْكِ الْجَزَاءُ وَلَا عَلَيْكِ الْقَضَاءُ، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ. وَفِي رِوَايَةٍ: كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تُرْضِعُ- مِنْ غَيْرِ شَكٍّ- فَأُجْهِدَتْ فَأَمَرَهَا أَنْ تُفْطِرَ وَلَا تَقْضِيَ، هَذَا صَحِيحٌ.
“Maka Ibnu Abbas menafsirkan—jika sanadnya sahih—kata 'Yuthiqunahu' dengan makna 'Yuthawwaqunahu' (dibebankan dengan berat) atau 'Yatakallafunahu' (memaksakan diri dengan susah payah), lalu sebagian penukil memasukkannya ke dalam (tafsir) Al-Qur'an.
Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang ayat 'Wa 'alal ladzina yuthiqunahu', beliau berkata: 'Ayat ini ditetapkan bagi wanita hamil dan menyusui.' Diriwayatkan pula darinya (mengenai ayat yang sama): 'Ayat ini dahulu merupakan keringanan bagi laki-laki dan perempuan tua renta, padahal mereka (secara fisik) sanggup berpuasa, untuk tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk tiap harinya. Juga bagi wanita hamil dan menyusui jika mereka khawatir terhadap anak-anaknya, maka keduanya berbuka dan memberi makan'. Ad-Daraquthni juga mengeluarkan riwayat dari beliau (Ibnu Abbas) yang menyatakan: 'Diberikan keringanan bagi orang tua renta untuk berbuka dan memberi makan satu miskin tiap harinya, serta tidak ada kewajiban qadha baginya.' Ini adalah sanad yang Shahih. Diriwayatkan pula darinya bahwa beliau berkata: '(Ayat) Wa 'alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha'am... tidaklah dihapus (mansukh). Ia berlaku bagi laki-laki dan perempuan tua renta yang tidak sanggup lagi berpuasa, maka mereka memberi makan seorang miskin sebagai pengganti tiap harinya.' Dan ini (riwayat ini) Shahih. Diriwayatkan juga bahwa beliau (Ibnu Abbas) pernah berkata kepada seorang Ummu Walad-nya (budak yang melahirkan anaknya) yang sedang hamil atau menyusui: 'Engkau termasuk orang yang tidak sanggup berpuasa. Bagimu wajib membayar denda (fidyah) dan tidak ada kewajiban qadha bagimu.' Ini adalah sanad yang Shahih. Dalam riwayat lain: Beliau memiliki seorang Ummu Walad yang sedang menyusui—tanpa keraguan—lalu wanita itu merasa sangat payah, maka beliau memerintahkannya untuk berbuka dan tidak perlu menggantinya (qadha). Ini adalah riwayat yang Shahih".”
[Tafsir Al Qurthuby II/288]
Adapun bertaqlid selain kepada pendapat para sahabat seperti kepada Thabi'in dan Thabi' Thabi'in yaitu mereka tidak termasuk empat Madzhab maka juga terjadi silang pendapat ulama Syafi'iyah, sebagian tidak membolehkan seperti Pendapat Imam Ibnu Shalah dan bahkan beliau telah menuqil Ijma', walaupun nukilan Ijma' tersebut tidak Sharih sebab sebagian Ulama Syafi'iyah yang lain membolehkan bila pendapat mereka yang mau ditaqlidi dapat diketahui ketentuan dan syarat keabsahannya, untuk kasus ini dapat diketahui ketentuan dan syarat fidyah misalnya seperti ada mereka tulis dalam karya mereka dan jika ketentuan ini tidak dapat diketahui maka sudah barang tentu tidak boleh bertaqlid kepada mereka. Karenanya, ketika bertaqlid kepada pendapat Sa'id bin Jubair dan Ishaq bin Rahwaih harus mengetahui ketentuan pendapat itu dalam karya mereka dan jika tidak maka tidak boleh bertaqlid kepada mereka (Lihat tarsyiih Al Mustafidin Bi Tausyieh Fath Al Mu'in Halaman 3-4). Oleh karena itu, sangat mustahil mengetahui ketentuan itu maka bisa bertaqlid kepada pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar sebagaimana diatas karena riwayat dari mereka adalah Shahih.
Disamping itu, harus tahu besaran fidyah yang harus dikeluarkan menurut versi Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sebagaimana disinyalir sebelumnya dari imam Al Mubarak Furi besaran fidyah menurut Ibnu Umar 1 mud gandum, sedangkan versi Ibnu Abbas menurut keterangan disebutkan oleh Imam Qurthuby setengah Sha' gandum, pernyataan beliau 👇
الثَّالِثَةُ- وَاخْتَلَفَ مَنْ أَوْجَبَ الْفِدْيَةَ عَلَى مَنْ ذُكِرَ فِي مِقْدَارِهَا، فَقَالَ مَالِكٌ: مُدَّ بِمُدِّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ أَفْطَرَهُ، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: كَفَّارَةُ كُلِّ يَوْمٍ صَاعُ تَمْرٍ أَوْ نِصْفُ صَاعِ بُرٍّ. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ نِصْفُ صَاعٍ مِنْ حِنْطَةٍ، ذَكَرَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ. وَرُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَهُ الْكِبَرُ فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَصُومَ فَعَلَيْهِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ مِنْ قَمْحٍ. وَرُوِيَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ ضَعُفَ عَنِ الصَّوْمِ عَامًا فَصَنَعَ جَفْنَةً مِنْ طَعَامٍ ثُمَّ دَعَا بِثَلَاثِينَ مِسْكِينًا فَأَشْبَعَهُمْ.
“(Masalah Ketiga)—Para ulama yang mewajibkan fidyah bagi golongan tersebut berbeda pendapat mengenai kadarnya. Malik berkata: 'Satu mud dengan mud Nabi ﷺ untuk tiap hari yang ditinggalkan.' Pendapat ini juga diikuti oleh As Syafi'i. Abu Hanifah berkata: 'Kaffarah tiap harinya adalah satu sha' kurma atau setengah sha' gandum (burr).' Diriwayatkan dari Ibnu Abbas (kadarnya adalah) setengah sha' gandum (hinthah); hal ini disebutkan oleh Ad-Daraquthni. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata: 'Barangsiapa yang telah mencapai usia tua dan tidak sanggup berpuasa, maka wajib baginya tiap hari memberi satu mud gandum (qamh)'. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa beliau pernah merasa lemah untuk berpuasa selama satu tahun, lalu beliau membuat satu nampan besar makanan, kemudian mengundang 30 orang miskin dan mengenyangkan mereka semua sekaligus”.
[Tafsir Al Qurthuby II/289]
Riwayat yang disebutkan Imam Al Qurthuby tersebut dari Ibnu Abbas merupakan riwayat dari Imam Daruquthni menurut beliau nyatakan. Namun, dalam riwayat lain Ibnu Abbas tanpa menyebutkan jenis makanan seperti gandum tapi makanan secara umum seukuran satu mud ketika membicarakan tentang fidyah orang tua renta. Pernyataan beliau 👇
- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورِ بْنِ أَبِي الْجَهْمِ الشِّيعِيُّ , ثنا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ , ثنا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ , ثنا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: «إِذَا عَجَزَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ عَنِ الصِّيَامِ أَطْعَمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مَدًّا مَدًّا». إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Manshur bin Abi Jahm Asy Syi'ah, menceritakan kepada kami Nashr bin Ali, menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai', menceritakan kepada kami Khalid Al Hadzdza', dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia (Ibnu Abbas) berkata: 'Apabila orang tua renta tidak mampu berpuasa ia (hendaklah) memberi makan setiap hari sebanyak satu mud, satu mud', Isnad Shahih”
[Sunan Ad Daruquthni III/193
Oleh karena itu, berdasarkan pendapat Ibnu Abbas boleh saja membayar fidyah berupa gandum setengah Sha' dan selain gandum satu mud seperti beras. Adapun besaran 1 mud versi Syeikh Wahbah Zuhaili setara 675 gram atau setara 688 liter/kg. Berarti kurang 7 garis (merujuk kg yang biasa beredar di warung-warung). Adapun versi kitab Al Fiqh Al Manhaji 600 gram (lebih setengah kilogram). Adapun 1 sha' setara 2,75 liter/kg atau 2176 gram, (Lihat Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu I/142-143, Al Fiqh Al Manhaji Ala Madzhab Al Imaam As Syafi'i III/92). Sedangkan yang beredar di Indonesia 1 sha' 2,5 kg berdasarkan hitungan Ulama kontemporer Al Adzhar dan itu juga tidak masalah, namun lebih dari itu lebih baik demi berhati-hati.
𝐊𝐄𝐒𝐈𝐌𝐏𝐔𝐋𝐀𝐍
Berdasarkan uraian panjang lebar diatas maka dapat disimpulkan:
1. Ada pendapat yang menggugurkan qadha' puasa bagi wanita hamil dan menyusui yaitu pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar selaku tokoh sahabat Nabi, juga Sa'id bin Jubair, selaku tokoh Thabi'in dan Ishaq bin Rahwaih selaku tokoh Thabi' Thabi'in. Boleh bertaqlid kepada pendapat dua tokoh sahabat Nabi tersebut karena riwayat dari mereka adalah Shahih berdasarkan pendapat Ulama yang membolehkan bertaqlid kepada pendapat para sahabat Nabi, namun ukuran fidyah disesuaikan dengan pendapat mereka yaitu setengah Sha' gandum versi Ibnu Umar dari riwayat Imam Malik dan versi Ibnu Abbas dari riwayat Daruquthni, sedangkan satu riwayat dari Daruquthni ketika berbicara fidyah orang tua renta Ibnu Abbas mengatakan 1 mud tanpa menyebutkan jenis makanan. Jadi bisa disesuaikan dengan ketentuan itu, lalu ukuran itu kalikan dengan jumlah puasa yang ditinggalkan. Adapun bertaqlid kepada tokoh Thabi'in dan Thabi' Thabi'in sebagaimana dua tokoh lain selain sahabat Nabi tersebut maka juga diperbolehkan asal mengetahui ketentuan masalah mau bertaqlid kepada pendapat mereka seperti ketentuan fidyah dan jika tidak bisa diketahui maka tidak boleh bertaqlid kepada pendapat mereka, bertaqlid saja kepada pendapat tokoh sahabat Nabi tersebut diatas.
2. Kesimpulan hukum ini merupakan mengambil keringanan untuk wanita hamil dan menyusui yang terlalu banyak meninggalkan puasa sehingga sangat berat jika harus mengqadha' puasa semuanya bagi mereka. Namun, bagi mereka yang meninggalkan puasa relatif sedikit dari 1-2 bulan misalnya tidak disarankan bertaqlid kepada pendapat yang membolehkan diatas karena masih mampu dilakukan dan seakan ringan dilakukan, hendaknya mengikuti ketentuan di Madzhab yang mereka anut, sebab kajian ini untuk mencari keringanan bukan mencari yang enak dan kesukaran.
3. Jika kajian ini bertentangan dengan fatwa Ulama kontemporer sehaluan Ahlussunah Wal Jama'ah seperti Fatwa MUI, Bahtsul Masail, dan semisalnya hendaknya menilai yang mana dirasa mantap dihati dan kajian ini bukan mutlak tanpa ada kesalahan tapi sesuai analisa penulis.
Semoga bermanfaat 🤲
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Penulis: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
