Pertanyaan:
Assalamualaikum.. wr.wb..,
Izin bertanya :bagaimanakah hukum pandangan fiqih melakukan/memakai alat susuk yg di tanam di anggota badan laki²/perempuan ?
Dan ketika ajal tiba (mninggal dunia) apakah wajib susuk tersebut di ambil lagi dri tubuh si prmasang ?
Mohon bantuan jawaban nya dan sertakan referensi yg otentik nya 🙏🙏🙏
[Aing]
Jawaban:
Wa'alaikumsalam
1. Memakai susuk sebagaimana berlaku pada zaman sekarang diperbolehkan dengan syarat tujuannya dibenarkan syariat bukan bertujuan untuk maksiat, jika tidak hukumnya haram. Baik pemakaian susuk itu untuk pengobatan dan lain sebagainya.
Ibarot:
ثمرة الروضه ج ١ ص ٥٣
مسئلة : هل يحرم لبس ابرة الذهب أو الفضة المغروزة تحت الجلد لأن بعض الناس لبسه للتزن وبعضهم للقوة وبعضهم للتداوى وبعضهم لغير ذلك؟ الجواب لا يحرم لأنه لا يعد لبسا عرفا ولأنها مستورة ويؤيد ذلك قولهم يحل لبس الذهب المموه بنجاس ان حصل منه شيء على م ر ج ١ ص ٧٣ ونقله البجيرمي على الخطيب ج ١ ص ٩٣، وأما التعليل بأنه للتزين أو غيره فلا يمنع جوازه لأنه باعتبار القصد فإن قصد به المعصية حرم من جهة المعصية لا من جهة اللبس ألا ترى أن الأكل إذا قصد منه المعصية صار حراما من جهتها لا من جهته فإن قلتم اليس هذا من الوشم لأن البرة تنجست بالدم قلنا ليس منه لعدم ظهور الدم عبارة الكردي فى الكبرى التى فى هامش الترمس ج ١ ص ٢٠٧ وفرق بين الشوكة الوشم بأن الدم فى الوشم ظهر واختلط بأجنبي بخلافه فى الشوكة انتهى ولا يخفى أن الشوكة إذا استتر جميعهما صارت فى حكم الباطن انتهى والله أعلم .
“Tshamarat al-Raudhah Juz 1 Hlm. 53
Masalah: Apakah haram memakai jarum emas atau perak yang ditusukkan/ditanam di bawah kulit? Sebab sebagian orang memakainya untuk perhiasan, sebagian untuk kekuatan (seperti susuk/daya tahan tubuh), sebagian untuk pengobatan, dan sebagian lagi untuk tujuan lainnya.
Jawaban: Tidak haram, karena hal tersebut secara adat ('urf) tidak dikategorikan sebagai "memakai" (lubs) dan karena benda tersebut tertutup (di dalam kulit). Hal ini didukung oleh perkataan para ulama: "Boleh memakai emas yang disepuh/dilapisi dengan najis jika ada sesuatu darinya..." sebagaimana tercantum dalam Nihayat al-Muhtaj karya Imam Ar-Ramli (Juz 1 Hlm. 73) dan dinukil oleh Al-Bujairimi atas Al-Khatib (Juz 1 Hlm. 93).
Adapun alasan bahwa hal itu dilakukan untuk perhiasan atau tujuan lainnya, maka hal tersebut tidak menghalangi kebolehannya, karena hukumnya dilihat dari segi niat/maksudnya. Jika seseorang berniat maksiat dengannya, maka hukumnya haram dari sudut pandang maksiat tersebut, bukan dari sudut pandang pemakaiannya. Tidakkah engkau melihat bahwa makan—jika ditujukan untuk melakukan maksiat—menjadi haram dari sudut pandang maksiatnya, bukan dari sudut pandang zat makannya?
Jika kalian bertanya: "Bukankah ini termasuk tato (al-wasym), karena jarum tersebut terkena darah yang najis?". Kami jawab: "Bukan termasuk tato, karena darahnya tidak tampak (keluar ke permukaan)".
Redaksi Syaikh Al-Kurdi dalam kitab Al-Kubra yang berada di catatan pinggir (hasyiyah) Al-Tarmasi (Juz 1 Hlm. 207): "Dibedakan antara duri (yang tertancap masuk kulit) dan tato; bahwa darah pada tato itu muncul ke permukaan dan bercampur dengan zat asing, berbeda halnya dengan duri". Selesai.
Dan tidak samar lagi bahwa duri apabila seluruh bagiannya telah tertutup (masuk ke dalam kulit), maka hukumnya menjadi hukum bagian dalam (batin). Selesai. Wallahu a'lam.”
2. Diantara sebab Mayit digali kuburannya ialah mayit itu membawa harta semacam cincin, berbeda halnya dengan susuk, susuk itu perbuatan pemasangan dengan cara dibenamkan atau ditelan maka tidak wajib digali kuburannya untuk dikeluarkan susuk yang berada di tubuh si mayit. Walhasil susuk yang dipakai seseorang hingga ia meninggal susuk itu masih belum dikeluarkan maka tidak wajib dikeluarkan.
Lihat Kitab Kaasyifah as Sajaa:
للمال إذا دفن معه) أي أو وقع فيه مال خاتم أو غيره فيجب نبشه وإن تغير لأخذه سواء أطلبه مالكه أم لا، ومثله ما لو دفن في مغصوب من أرض أو ثوب ووجد ما يدفن أو يكفن فيه الميت فيجب نبشه وإن تغير ليرد كل لصاحبه ما لم يرض ببقائه أي إذا طلب مالكه وإلا فلا، ولو بلع مالاً لنفسه ومات لم ينبش أو مال غيره وطلبه مالكه نبش وشق جوفه وأخرجه منه ورد لصاحبه إلا إذا ضمنه الورثة فلا يشق حينئذٍ على المعتمد
====
Fokus pada Ungkapan:
ولو بلع مالاً لنفسه ومات لم ينبش
"Jika dia menelan hartanya sendiri dan meninggal (kuburannya) tidak digali"
Walllahu A'lamu Bis Showaab
Dijawab oleh (Ismidar Abdurrahman As-Sanusi)
Link Diskusi: