2027. 𝐇𝐔𝐊𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐔𝐏𝐀𝐇 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐉𝐀𝐑 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐃𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐒𝐀𝐋𝐀𝐇 𝐏𝐀𝐇𝐀𝐋𝐀𝐍𝐘𝐀

Foto: Prokal



Pertanyaan:
Afwan yai izin bertanya
Sebenarnya mengambil upah dalam mengajar ilmu itu bagaimana hukumnya yai? 
 Supaya hati tetap terjaga ikhlas dan biaya kehidupan juga terpenuhi walaupun ttp harus ada bisnis nanti

Mohon arahan antum yai
[Ibnu Adnan Al Ghazali]

Jawaban:
Hukumnya boleh dan tidak terlarang menurut Madzhab Syafi'i. Adapun dari segi pahala yang didapatkan bagi pengajar ilmu, pendakwah dan lain sebagainya yang ada tujuan duniawi pada ibadah yang dilakukan seperti ada tujuan mendapatkan uang ada khilaf menurut Ulama Syafi'iyah:
1. Menurut Syeikh Izzuddin bin Abdussalam pahala tidak ia dapatkan.
2. Menurut Imam Ghazali tergantung dominan yang mana; bila dominan ibadah maka mendapatkan pahala tapi kurang, sedangkan bila tujuan duniawi lebih dominan seperti lebih kuat mengharapkan uang maka tidak mendapatkan pahala. 
3. Menurut Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami tetap mendapatkan pahala walaupun tujuan ukhrawi sedikit. Sedangkan Imam Ramli menyetujui pendapat Imam Ghazali diatas Yaitu yang diperhitungkan dominan yang mana.

Itu semua selagi tidak masuk riya' pada perbuatan tersebut, jika tidak tidak mendapatkan pahala sama sekali menurut kesepakatan Ulama Syafi'iyah.

يَجُوزُ أَخْذُ الْأُجْرَةِ عَلَى الْأَذَانِ وَنَحْوِهِ كَالْإِمَامَةِ وَالتَّدْرِيسِ بِاتِّفَاقِ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ
“Boleh hukumnya mengambil upah atas pekerjaan adzan dan sesamanya, seperti menjadi imam (shalat) dan mengajar, berdasarkan kesepakatan ulama kalangan Hanafiyah dan Syafi'iyah”
[Al Fiqh Ala Madzaahib Al Arba'ah I/325]

وَلَوْ أَشْرَكَ فِي النِّيَّةِ مَا لَا تُطْلَبُ لَهُ نِيَّةٌ، فَاتَهُ الْكُلُّ عِنْدَ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ، وَاعْتُبِرَ الْبَاعِثُ عِنْدَ الْغَزَالِيِّ. اهـ. قُلْتُ: رَجَعَ ابْنُ حَجَرٍ فِي "حَاشِيَةِ الْإِيضَاحِ" وَأَحَالَ عَلَيْهِ فِي غَيْرِهَا، أَنَّ لَهُ ثَوَابًا بِقَدْرِ قَصْدِهِ الْأُخْرَوِيِّ وَإِنْ قَلَّ. وَاعْتَمَدَ (م ر) كَلَامَ الْغَزَالِيِّ. وَهَذَا فِي غَيْرِ قَصْدِ نَحْوِ الرِّيَاءِ، أَمَّا هُوَ فَمُسْقِطٌ لِلثَّوَابِ مُطْلَقًا اتِّفَاقًا، قَالَهُ الْكُرْدِيُّ. 
“Seandainya seseorang mencampurkan dalam niatnya (suatu ibadah) dengan hal lain yang tidak memerlukan niat (tujuan duniawi), maka ia kehilangan seluruh pahalanya menurut pendapat Ibnu 'Abdis Salam. Sedangkan menurut Al-Ghazali, yang menjadi patokan adalah al-ba'its (faktor pendorong mana yang lebih kuat). Aku (penulis Bughyah) berkata: Ibnu Hajar (Al-Haitami) dalam Hasyiyah al-Idhah menarik pendapatnya—dan ia merujuk pada pendapat ini di kitab lainnya—bahwa orang tersebut tetap mendapatkan pahala sesuai kadar niat akhiratnya meskipun sedikit. Dan Imam Ramli menyandarkan pendapatnya pada perkataan Imam Al-Ghazali.

Keterangan (adanya pahala) ini berlaku jika niat tambahannya bukan berupa Riya. Adapun jika tujuannya adalah riya, maka hal itu menggugurkan pahala secara mutlak berdasarkan kesepakatan ulama (ittifaq). Demikian disampaikan oleh Al-Kurdi”
[Bughyah Al Mustarsyidiin Halaman 21]

(فَائِدَةٌ) كُلُّ عِبَادَةٍ وَقَعَ فِيهَا تَشْرِيكٌ فَإِنَّ فَاعِلَهَا يُثَابُ عَلَيْهَا إنْ غَلَبَ الْأُخْرَوِيُّ كَمَا لَوْ انْفَرَدَ، قَالَهُ الْغَزَالِيُّ. وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ: لَا ثَوَابَ لَهُ مُطْلَقًا، وَالْمَنْقُولُ الْأَوَّلُ.
“(Faidah) Setiap ibadah yang di dalamnya terjadi pencampuran niat (antara niat ibadah dan niat duniawi), maka pelakunya tetap mendapatkan pahala atas ibadah tersebut jika pendorong akhiratnya lebih dominan, (pahalanya) sama seperti jika ia berniat ibadah secara murni. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali.
Sedangkan Ibnu ‘Abdis Salam berkata: "Tidak ada pahala baginya secara mutlak." Namun, pendapat yang dikutip (sebagai pegangan/yang lebih kuat) adalah pendapat yang pertama (pendapat Imam Al-Ghazali)”
[Hasyiyah Al Qulyubi Ala Al Mahalli I/53]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: Ismidar Abdurrahman As Sanusi)

Link Diskusi:

Komentari

Lebih baru Lebih lama