2056. 𝐌𝐄𝐌𝐏𝐄𝐑𝐁𝐀𝐍𝐘𝐀𝐊 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐖𝐀𝐓 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐌𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐃𝐀𝐍 𝐇𝐀𝐑𝐈 𝐉𝐔𝐌'𝐀𝐓

Foto: Facebook 

.........................

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْــــــــمَٰنِ الرَّحِـــــــــيْمِ

𝐊𝐀𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐅𝐈𝐐𝐈𝐇 : 𝐌𝐄𝐍𝐂𝐀𝐑𝐈 𝐏𝐀𝐇𝐀𝐋𝐀 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐌𝐏𝐄𝐑𝐁𝐀𝐍𝐘𝐀𝐊 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐖𝐀𝐓 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐇𝐀𝐑𝐈 𝐃𝐀𝐍 𝐌𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐉𝐔𝐌'𝐀𝐓

𝐏𝐄𝐍𝐃𝐀𝐇𝐔𝐋𝐔𝐀𝐍

Para Ulama Syafi'iyah menyebutkan bahwa diantara perkara sunah adalah memperbanyak bershalawat kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam pada malam dan siang hari Jum'at. Para Ulama Syafi'iyah mengutip dari Syeikh Abu Thalib Al Makkiy penulis kitab Qutil Quluub yang menyebutkan bahwa sekurangnya (minimal) banyaknya Bacaan shalawat yang dibaca 300 kali. Berdasarkan pendapat ini Imam As Sakhawi berkomentar "Aku belum menemukan dasar dalil (mustanad) beliau mengenai penetapan jumlah tersebut. Ada kemungkinan beliau menerima (pemahaman) itu dari salah satu orang saleh, baik melalui pengalaman spiritual (tajribah) atau cara lainnya.
Atau, bisa jadi beliau termasuk orang yang berpendapat bahwa kategori 'banyak' itu minimal tercapai dengan jumlah 300, sebagaimana para ulama pernah menukil sebuah pendapat dalam pembahasan hadis Mutawatir bahwa jumlah minimal (perawi) agar mencapai derajat mutawatir adalah 313-an orang (jumlah pasukan Badar). Dalam hal ini, beliau mungkin membulatkan angka tersebut dengan membuang angka satuannya". Disebutkan pula pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Daruquthni bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَمَانِينَ مَرَّةً غُفِرَ لَهُ ذُنُوبُ ثَمَانِينَ سَنَةٍ
"Barang siapa yang bershalawat kepadaku pada hari Jum'at 80 kali diampuni dosanya selama 80 tahun". Terkait hadits tersebut Syeikh Abu Abdullah An Nu'mani mengatakan bahwa hadits tersebut hadits Hasan.

Dalam sebuah hadits disebutkan pula keutamaan bershalawat pada hari atau malam Jum'at, diantaranya:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ

"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, maka perbanyaklah bershalawat kepadaku di dalamnya, karena shalawat kalian dihadapkan kepadaku".


أَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا.
"Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada malam Jumat dan hari Jumat. Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali". Kedua hadits ini disebutkan oleh Syeikh Bakri Syatha Dimyathi dalam kitab I'aanah tanpa menyebutkan perawi hadits.

Berdasarkan keterangan tersebut dan juga intisari hadits tersebut dapat dipahami bahwa memperbanyak bershalawat kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam pada malam atau hari Jum'at merupakan amalan yang utama karena mengandung pahala yang agung asal dilakukan dengan keikhlasan. Menelisik intisari hadits bisa bershalawat sekali, ini paling minim bagi orang yang mau menggapai pahala, juga bisa 80 kali dan Bagus lagi 300 kali pada malam hari dan 300 kali pada siang hari Jum'at sebagaimana dikutip oleh ulama Syafi'iyah dari Syeikh Abu Thalib Al Makkiy dan siapa yang bisa beramal dengan ini adalah yang paling utama.

𝐋𝐀𝐅𝐀𝐃𝐙 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐖𝐀𝐓

Syeikh Ali Syibramalisy menyebutkan bahwa Imam Ramli seperti Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami tidak ada menyebutkan redaksi shalawat yang dibaca pada waktu tersebut. Seyogianya keutamaan itu sudah didapat dengan redaksi mana pun. Namun, telah diketahui bahwa redaksi yang paling utama adalah Shalawat Ibrahimiyah.

Terlepas dari pernyataan Syeikh Ali Syibramalisy tersebut maka Lafadz shalawat yang bagus dibaca pada malam dan siang hari Jum'at adalah lafadz shalawat yang dikemukakan oleh Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami dan beliau menyebutkan itulah lafadz shalawat yang paling Afdhal ketimbang lainnya. Berikut bacaannya:

اَللّٰهُمَّ؛ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، وَذُرِّيَّتِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، وَذُرِّيَّتِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
وَكَمَا يَلِيقُ بِعَظِيمِ شَرَفِهِ وَكَمَالِهِ وَرِضَاكَ عَنْهُ، وَمَا تُحِبُّ وَتَرْضَىٰ لَهُ، دَائِمًا أَبَدًا، عَدَدَ مَعْلُومَاتِكَ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ، وَرِضَا نَفْسِكَ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ، أَفْضَلَ صَلَاةٍ وَأَكْمَلَهَا وَأَتَمَّهَا، كُلَّمَا ذَكَرَكَ وَذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ، وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ وَذَكَرَهُ الْغَافِلُونَ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَذٰلِكَ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ.

"Ya Allah; limpahkanlah rahmat kepada Muhammad, hamba-Mu, Rasul-Mu, Nabi yang ummi, juga kepada keluarga Muhammad, istri-istrinya ibu para mukminin, keturunannya, dan ahli baitnya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim di seluruh alam semesta. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Dan berkahilah Muhammad, hamba-Mu, Rasul-Mu, Nabi yang ummi, juga keluarga Muhammad, istri-istrinya ibu para mukminin, keturunannya, dan ahli baitnya, sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim di seluruh alam semesta. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
(Limpahkanlah pula rahmat) yang sesuai dengan keagungan kemuliaannya, kesempurnaannya, dan keridhaan-Mu atasnya, serta apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai untuknya, senantiasa selama-lamanya, sebanyak bilangan pengetahuan-Mu, sebanyak tinta kalimat-kalimat-Mu, sejauh keridhaan diri-Mu, dan seberat timbangan Arasy-Mu; sebagai shalawat yang paling utama, paling sempurna, dan paling lengkap, setiap kali orang-orang yang ingat menyebut nama-Mu dan menyebut namanya, dan setiap kali orang-orang yang lalai lupa dari mengingat-Mu dan mengingatnya. Dan limpahkanlah salam yang sempurna seperti itu pula, serta kepada kami bersama mereka".

Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami juga mengutip Lafadz shalawat dari Syeikh Ibnu Hammaam dan beliau menyebutkan Lafadz shalawat yang beliau sebutkan lebih Afdhal meskipun tambahan Lafadz shalawat lain akan lebih utama lagi, berikut lafadz nya:

اَللّٰهُمَّ؛ صَلِّ أَبَدًا أَفْضَلَ صَلَوَاتِكَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، وَزِدْهُ شَرَفًا وَتَكْرِيمًا، وَأَنْزِلْهُ الْمَنْزِلَ الْمُقَرَّبَ عِنْدَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

"Ya Allah; limpahkanlah selamanya shalawat-Mu yang paling utama kepada pemimpin kami, hamba-Mu, Nabi-Mu, dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarganya. Berilah salam kepadanya dengan salam yang sebanyak-banyaknya, tambahkanlah kemuliaan dan kehormatan baginya, dan tempatkanlah ia di tempat yang dekat di sisi-Mu pada hari kiamat."

Oleh karenanya, yang lebih utama digabung lafadz shalawat dari Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami dan dari Syeikh Al Hammaam demi memperoleh keutamaan yang lebih.

Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami berungkap "Redaksi ini telah menghimpun apa yang termaktub dalam mayoritas bacaan tasyahud (yang merupakan redaksi terbaik), serta semua yang disimpulkan oleh para ulama yang mereka klaim sebagai yang terbaik. Redaksi ini melebihi itu semua dengan tambahan-tambahan balaghah yang istimewa, maka ia layak menjadi yang terbaik secara mutlak.'
Sampai beliau berkata: Al-Muhaqqiq Kamal bin al-Humam berkata: 'Semua keutamaan redaksi ada dalam doa: Allahumma shalli abadan... (dst)'. Maka tidak diragukan lagi bahwa redaksi yang aku (Ibnu Hajar) sebutkan ini mencakup semua isi doa tersebut bahkan lebih, maka ia lebih utama dan lebih afdal", pernyataan beliau dikutip oleh Syeikh Alwi As Segaf dalam kitab Tarsyiih Al Mustafidin, kemudian beliau berungkap "Demikian perkataan beliau (Syaikh Ibnu Hajar), dan darinya aku menukil. Maka peganglah erat-erat (shalawat ini), dan perbanyaklah membacanya semampumu, karena ia sangat layak untuk itu. Dan janganlah sekali-kali kamu mengutamakan yang lain selama tidak melebihi (kualitas) shalawat ini, meskipun dikatakan mengandung berbagai rahasia dan keutamaan; karena perumpamaannya seperti: "Semua buruan ada di dalam perut keledai liar" (artinya: semua kebaikan sudah terkumpul di sini). Semoga Allah senantiasa membimbing hidayahku dan hidayahmu."

Terakhir; Berikut adalah Lafadz shalawat yang Disunahkan dibaca pada malam Jum'at atau siangnya daripada Imam Ghazali sebagaimana dikutip oleh Syeikh Bakri Syatha Dimyathi dalam I'aanah mengutip pernyataan Imam Ghazali dalam kitab Ihyaa' 👇

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيّ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَكُونُ لَكَ رِضَاءً وَلِحَقِّهِ أَدَاءً، وَأَعْطِهِ الْوَسِيلَةَ، وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الَّذِي وَعَدْتَهُ، وَاجْزِهِ عَنَّا مَا هُوَ أَهْلُهُ، وَاجْزِهِ أَفْضَلَ مَا جَزَيْتَ نَبِيًّا عَنْ أُمَّتِهِ، وَصَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى جَمِيعِ إِخْوَانِهِ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصَّالِحِينَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad hamba, nabi dan rasul mu yang seorang Nabi yang Ummi. Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, shalawat yang menjadi keridhaan bagi-Mu dan pemenuhan hak baginya. Berilah ia wasilah, bangkitkanlah ia di kedudukan yang Engkau janjikan, balaslah ia dari kami dengan balasan yang layak baginya, dan balaslah ia dengan seutama-utama balasan yang Engkau berikan kepada seorang Nabi dari umatnya. Serta bershalawatlah kepadanya dan kepada seluruh saudaranya dari para Nabi dan orang-orang shalih, wahai Dzat yang paling penyayang". Shalawat ini dibaca tujuh kali, Imam Ghazali menyebutkan "Maka sungguh telah dikatakan: 'Barangsiapa mengucapkannya dalam 7 Jumat, setiap Jumat 7 kali, maka wajib baginya syafaat Nabi ﷺ.'

Imam Ghazali juga menyebutkan siapa yang mau menambah dari lafadz shalawat yang beliau sebutkan bisa menggunakan Lafadz shalawat yang beliau sebutkan ini yang Ma'tsur (Bersumber dari Nabi) 👇

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ فَضَائِلَ صَلَوَاتِكَ، وَنَوَامِيَ بَرَكَاتِكَ، وَشَرَائِفَ زَكَوَاتِكَ، وَرَأْفَتَكَ، وَرَحْمَتَكَ، وَتَحِيَّتَكَ، عَلَىٰ مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ، وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ، وَرَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَائِدِ الْخَيْرِ، وَفَاتِحِ الْبِرِّ، وَنَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَسَيِّدِ الْأُمَّةِ.
اَللّٰهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا تُزْلِفُ بِهِ قُرْبَهُ، وَتُقِرُّ بِهِ عَيْنَهُ، يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ. اَللّٰهُمَّ أَعْطِهِ الْفَضْلَ وَالْفَضِيلَةَ وَالشَّرَفَ وَالْوَسِيلَةَ، وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيعَةَ، وَالْمَنْزِلَةَ الشَّامِخَةَ الْمُنِيفَةَ.
اَللّٰهُمَّ أَعْطِ مُحَمَّدًا سُؤْلَهُ، وَبَلِّغْهُ مَأْمُولَهُ وَاجْعَلْهُ أَوَّلَ شَافِعٍ، وَأَوَّلَ مُشَفَّعٍ، اَللّٰهُمَّ عَظِّمْ بُرْهَانَهُ، وَثَقِّلْ مِيزَانَهُ، وَأَبْلِجْ حُجَّتَهُ، وَارْفَعْ فِي أَعْلَى الْمُقَرَّبِينَ دَرَجَتَهُ.
اَللّٰهُمَّ احْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ شَفَاعَتِهِ، وَأَحْيِنَا عَلَىٰ سُنَّتِهِ، وَتَوَفَّنَا عَلَىٰ مِلَّتِهِ، وَأَوْرِدْنَا حَوْضَهُ، وَاسْقِنَا بِكَأْسِهِ، غَيْرَ خَزَايَا وَلَا نَادِمِينَ، وَلَا شَاكِّينَ وَلَا مُبَدِّلِينَ، وَلَا فَاتِنِينَ وَلَا مَفْتُونِينَ، آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

"Ya Allah, jadikanlah keutamaan selawat-Mu, keberkahan-Mu yang senantiasa tumbuh, kesucian-Mu yang mulia, serta kasih sayang, rahmat, dan penghormatan-Mu, tercurah kepada Muhammad, pemimpin para Rasul, imam bagi orang-orang bertakwa, penutup para Nabi, utusan Tuhan semesta alam, penuntun kebaikan, pembuka kebajikan, Nabi pembawa rahmat, dan pemimpin umat.
Ya Allah, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji (Maqam Mahmud), yang dengannya Engkau menambah kedekatannya dan menyenangkan hatinya, serta dicemburui (karena kemuliaannya) oleh orang-orang terdahulu maupun yang terkemudian. Ya Allah, berikanlah kepadanya keutamaan, kemuliaan, kehormatan, wasilah, derajat yang tinggi, serta kedudukan yang luhur lagi mulia.
Ya Allah, berikanlah Muhammad apa yang ia minta, sampaikanlah harapannya, dan jadikanlah ia sebagai pemberi syafaat pertama dan orang pertama yang dikabulkan syafaatnya. Ya Allah, agungkanlah bukti kebenarannya, beratkanlah timbangan kebaikannya, cemerlangkanlah hujjahnya, dan angkatlah derajatnya di tingkat tertinggi bersama orang-orang yang dekat dengan-Mu.
Ya Allah, kumpulkanlah kami dalam kelompoknya, jadikanlah kami termasuk ahli syafaatnya, hidupkanlah kami di atas sunnahnya, wafatkanlah kami di atas agamanya, giringlah kami menuju telaganya (Al-Haudz), dan berilah kami minum dari gelasnya tanpa rasa hina, tanpa penyesalan, tanpa keraguan, tanpa mengubah ajaran, tanpa membawa fitnah, dan tanpa terjerumus ke dalam fitnah. Kabulkanlah wahai Tuhan semesta alam."

Imam Ghazali berungkap "Secara garis besar, dengan lafadz shalawat apa pun yang ia baca, meskipun dengan shalawat tasyahud yang masyhur, maka ia sudah dianggap telah bershalawat. Dan seyogianya ia menambahkan istighfar, karena hal itu juga disunnahkan pada hari ini".

Bila dirasa kepanjangan bisa dipilih salah satu dan yang saya sarankan Lafadz shalawat dari Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami diawal apalagi dapat membaca dari beliau, Syeikh Ibnu Hammaam dan Imam Ghazali akankah sangat utama tapi terlalu panjang, andai mau diulangi sampai 300 kali tentunya kelamaan sekali.

Semoga bermanfaat 🤲 

Wallahu A'lam 

Sumber bacaan:
1. Tarsyiih Al Mustafidin Bi Tausyieh Fath Al Mu'in 
2. Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin 
3. Hawasyi As Syarwani Ala Tuhfah Al Muhtaaj

(𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Sumber:

Komentari

Lebih baru Lebih lama