2079. 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐀𝐅𝐃𝐇𝐀𝐋 𝐃𝐈𝐉𝐀𝐃𝐈𝐊𝐀𝐍 𝐒𝐄𝐁𝐀𝐆𝐀𝐈 𝐈𝐌𝐀𝐌 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐓

(Foto: Muslim.or.id)


Pertanyaan:
Assalamualaikum izin bertanya yi, lebih afdhol mana seorang faqih tapi tidak fasih sedang kan fasih tapi bukan faqih
Ketika menjadi imam sholat
Dan lebih afdhol mana seorang faqih fasih dengan orang yang hafidzul Qur'an tapi tidak faqih
[𝐒𝐮𝐥𝐦𝐞𝐧]

Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Lebih utama dijadikan imam antara yang ditanyakan adalah orang yang Faqih ketimbang orang Fasih atau bagus bacaannya dan banyak hafalan Al Qur'an karena hajat Faqih lebih banyak diperlukan dalam shalat daripada selainnya. Itu semua selain imam Ratib dan Pemimpin umat. Sedangkan pertanyaan kedua Yaitu "Dan lebih afdhol mana seorang faqih fasih dengan orang yang hafidzul Qur'an tapi tidak faqih" maka yang Afdhal adalah yang Faqih lagi Bagus bacaannya. Keutamaan ini tentunya faqih yang tidak Fasih itu tidak sampai Merubah makna setiap bacaan yang ia lantunkan, jika sampai merubah makna tentu tidak Afdhal karena ia membawa sifat Lahnun (rusak) bacaannya karena setiap kondisi imam seperti itu tidak sah shalatnya dan orang bermakmum padanya.

ثُمَّ إِذَا اجْتَمَعَ جَمَاعَةٌ مِمَّنْ فِيهِ أَهْلِيَّةُ الْإِمَامَةِ، يُقَدَّمُ مِنْهُمُ الْأَفْقَهُ فِي الصَّلَاةِ، فَالْأَصَحُّ قِرَاءَةً، فَالْأَكْثَرُ قُرْآنًا، فَالْأَزْهَدُ، فَالْأَوْرَعُ، فَالْمُهَاجِرُ، فَالْأَقْدَمُ هِجْرَةً، فَالْأَسَنُّ فِي الْإِسْلَامِ، فَالْأَشْرَفُ نَسَبًا، فَالْأَحْسَنُ ذِكْرًا، فَالْأَنْظَفُ ثَوْبًا، فَبَدَنًا، فَصَنْعَةً أَيْ كَسْبًا فَيُقَدَّمُ الزَّارِعُ وَالتَّاجِرُ عَلَى غَيْرِهِمَا، فَالْأَحْسَنُ صَوْتًا، فَالْأَحْسَنُ خَلْقًا -بِفَتْحِ الْخَاءِ- بِأَنْ يَكُونَ سَلِيمَ الْأَعْضَاءِ مِنَ الْآفَةِ مُسْتَقِيمًا، فَالْأَحْسَنُ وَجْهًا أَيِ الْأَجْمَلُ صُورَةً فَهُوَ غَيْرُ الْأَحْسَنِ خَلْقًا كَمَا سَمِعْتَ، فَالْأَحْسَنُ زَوْجَةً، فَالْأَبْيَضُ ثَوْبًا فَيُقَدَّمُ عَلَى لَابِسِ غَيْرِ الْأَبْيَضِ، وَيُقَدَّمُ الْأَبْيَضُ وَجْهًا عَلَى غَيْرِهِ، فَإِنِ اسْتَوَيَا وَتَشَاحَّا أَقْرَعَ بَيْنَهُمَا. هَذَا كُلُّهُ إِنْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ إِمَامٌ رَاتِبٌ وَلَا إِمَامٌ أَعْظَمُ وَلَا نَائِبُهُ وَلَا رَبُّ مَنْزِلٍ، وَإِلَّا قُدِّمَ الْوَالِي فِي مَحَلِّ وِلَايَتِهِ عَلَى غَيْرِهِ وَلَوْ عَلَى رَبِّ الْمَنْزِلِ وَالْإِمَامِ الرَّاتِبِ، وَإِنِ اخْتَصَّ ذَلِكَ الْغَيْرُ بِصِفَاتٍ مُرَجِّحَةٍ مِنْ فِقْهٍ وَغَيْرِهِ.
“Kemudian, apabila berkumpul sekelompok orang yang semuanya memiliki kelayakan untuk menjadi imam, maka yang didahulukan (prioritas) di antara mereka adalah:
1. Paling Faqih (paham ilmu agama) dalam urusan shalat.
2. Paling Fasih/Bagus bacaan Al-Qur'annya.
3. Paling Banyak hafalan Al-Qur'annya.
4. Paling Zahid (meninggalkan hal yang syubhat/tidak berguna bagi akhirat).
5. Paling Wara’ (menghindari hal yang haram dan syubhat).
6. Muhajir (yang pernah berhijrah).
7. Paling Dahulu hijrahnya.
8. Paling Tua usianya dalam Islam.
9. Paling Mulia nasabnya (keturunannya).
10. Paling Baik reputasinya (nama baiknya).
11. Paling Bersih pakaiannya, lalu badannya.
12. Paling Baik Profesinya (cara mencari nafkahnya), maka petani dan pedagang didahulukan atas selain keduanya.
13. Paling Bagus suaranya.
14. Paling Bagus Fisiknya (Khalqan - dengan fathah pada kha'), yakni anggota tubuhnya selamat dari cacat/penyakit dan tegak.
15. Paling Bagus Wajahnya (paling tampan), ini berbeda dengan bagus fisik sebagaimana yang engkau dengar.
16. Paling Baik Istrinya.
17. Paling Putih Pakaiannya, maka ia didahulukan atas yang memakai pakaian selain putih.
18. Paling Putih Wajahnya (bersih wajahnya) didahulukan atas yang lain.

Jika mereka tetap setara (dalam semua kriteria tersebut) dan saling berebut (bersikukuh ingin jadi imam), maka dilakukan undian di antara mereka. Aturan (urutan prioritas) ini semua berlaku jika di sana tidak ada Imam Ratib (imam tetap masjid), tidak ada Imam A’dzam (penguasa tertinggi/pemimpin negara), tidak ada wakilnya, dan tidak ada Pemilik Rumah. Jika ada mereka, maka Penguasa (Wali) didahulukan di wilayah kekuasaannya atas orang lain, meskipun atas pemilik rumah dan imam ratib, walaupun orang lain tersebut memiliki sifat-sifat unggul seperti kefaqihan dan sebagainya”
[Nihaayah Az Zain Halaman 135]

(قَوْلُهُ فَأَفْقَهُ) أَيْ فِي بَابِ الصَّلَاةِ، وَإِنْ لَمْ يَحْفَظْ مِنْ الْقُرْآنِ إلَّا الْفَاتِحَةَ اهـ. ح ل. وَعِبَارَةُ أَصْلِهِ مَعَ شَرْحِ م ر، وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْأَفْقَهَ فِي بَابِ الصَّلَاةِ وَإِنْ لَمْ يَحْفَظْ مِنْ الْقُرْآنِ إلَّا الْفَاتِحَةَ أَوْلَى مِنْ الْأَقْرَإِ وَإِنْ حَفِظَ جَمِيعَ الْقُرْآنِ انْتَهَتْ
“(Perkataan Pengarang "Lalu paling Faqih") maksudnya dalam bab shalat meskipun tidak hafal Al-Quran kecuali surat Al Fatihah, Habis Kutipan Ali bin Ibrahim Al Halbiy.

Redaksi Asalnya beserta Syarh Ar Ramli: "Berpijak pada pendapat yang paling Shahih bahwa lebih Faqih pada bab shalat meskipun tidak hafal Al-Quran kecuali surat Al Fatihah lebih utama daripada lebih Qari (bagus bacaannya) meskipun (si Qari ini) hafal seluruh Al Qur'an", Habis”
[Hasyiyah Al Jamal Ala Syarh Al Manhaj I/532]

لَوْ اجْتَمَعَ فِي الْإِمَامَةِ الْأَفْقَهُ، وَالْأَقْرَأُ، وَالْأَوْرَعُ الْأَصَحُّ: تَقْدِيمُ الْأَفْقَهِ عَلَيْهِمَا، لِاحْتِيَاجِ الصَّلَاةِ إلَى مَزِيدِ الْفِقْهِ، لِكَثْرَةِ عَوَارِضِهَا، وَقِيلَ: بِالتَّسَاوِي لِتَعَادُلِ الْفَضِيلَتَيْنِ
“Seandainya berkumpul (beberapa kandidat) untuk menjadi imam, yang terdiri dari orang yang paling faqih (paham ilmu agama), orang yang paling bagus bacaan Al-Qur'annya, dan orang yang paling wara’ (hati-hati dari syubhat), maka pendapat yang paling sahih (Al-Ashah) adalah: Mendahulukan orang yang paling faqih di atas keduanya (si Qari dan si wara’). Hal ini dikarenakan shalat lebih membutuhkan keluasan ilmu fiqih, mengingat banyaknya perkara mendadak/permasalahan ('awaridh) yang mungkin terjadi di dalam shalat. Namun, ada pula pendapat (qila/lemah) yang menyatakan: kedudukan mereka adalah setara, karena kedua keutamaan (kefaqihan dan kebagusan bacaan) tersebut dianggap seimbang”.
[Al Asybaah Wa An Nazhaair Li As Suyuthi Halaman 339]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Link Diskusi:

Komentari

Lebih baru Lebih lama