(Foto: muhammad wasitho abu fawaz - WordPress.com
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum
Di kampung saya sedang marak minta sumbangan untuk pembangunan masjid bohongan, gak tau asalnya darimana mobilnya juga bagus.
Pertanyaan :
1. Apa hukum minta sumbangan palsu?
2. Kalau kita memberinya apakah mendapatkan pahala jariyah?
[+62 823-1713-7563]
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
1. Hukumnya haram berdasarkan hadits:
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
"Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golonganku." (HR. Muslim)
Juga hadits larangan meminta untuk keuntungan diri sendiri apalagi untuk memperkaya diri sendiri:
مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya" (HR. Ahmad)
َالْـمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِيْ أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ.
"Minta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu" (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, dll)
يَا قَبِيْصَةُ، إِنَّ الْـمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ : رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ : لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ ، فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْش ٍ، –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْـمَسْأَلَةِ يَا قَبِيْصَةُ ، سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.
"Wahai Qabiishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram" (HR. Muslim, Abu Dawud , Ahmad, dll)
Terlebih perbuatan yang ditanyakan berdusta atas nama agama tidak ada celah hukum untuk diperbolehkan.
2. Bila sudah jelas tindakan meminta sumbangan dan semisalnya dengan berkedok agama padahal untuk keuntungan diri sendiri padahal mampu bekerja apalagi hidupnya lumayan termasuk perbuatan haram yang tidak boleh dilakukan maka siapa yang mengetahui tujuan orang meminta sumbangan seperti itu maka hukumnya haram memberi sumbangan itu karena jika dia dipandang melakukan dosa maka haram membantu maksiat atas dosa yang ia lakukan. Namun, bagi orang yang tidak tahu atau tidak yakin dan menduga kuat maka tidak ada masalah yakni boleh saja.
وَمِنْهَا: (الْإِعَانَةُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ)؛ أَيْ عَلَى مَعَاصِي اللهِ بِقَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ غَيْرِهِ. ثُمَّ إِنْ كَانَتِ الْمَعْصِيَةُ كَبِيرَةً كَانَتِ الْإِعَانَةُ عَلَيْهَا كَذَلِكَ، كَمَا فِي الزَّوَاجِرِ.
“Dan di antaranya (termasuk dosa) adalah: Membantu kemaksiatan; yaitu membantu perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah, baik dengan ucapan, perbuatan, atau selain keduanya. Kemudian, jika maksiat tersebut merupakan dosa besar, maka membantu perbuatan tersebut juga termasuk dosa besar, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Zawajir”
[Is'aad Ar Raafiq II/127]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: Ismidar Abdurrahman As Sanusi)
Link Diskusi:
