(Foto: pngtree)
Pertanyaan:
Kalau misalnya ada seseorang meninggal hari ini lebaran kurang 4 hari lagi sementara dia blm berzakat apa dia kewajiban dizakati??
Dan contoh ketika saya berzakat kpd si A
Hari ini
Pas mau lebaran 1 hari lgi
Si A itu meninggal
Apakah hrs diulang lagi zkt nya🙏
[+62 895-4008-91444]
Jawaban:
1. Orang yang meninggal sebelum lebaran atau sebelum malam Idul Fitri tepatnya sebelum tenggelam matahari pada akhir Ramadhan tidak wajib dikeluarkan zakatnya karena syarat wajib zakat fitrah adalah mendapati bagian akhir Ramadhan dan awal Syawal sehingga bila tidak mendapati keduanya atau hanya salah satunya tidak wajib zakat fitrah. Karenanya, bagi Ahli warisnya tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah atas nama mayit yang meninggal tersebut. Yang dinamakan bagian akhir Ramadhan dan bagian awal Syawal seperti tenggelam matahari atau waktu Maghrib hari terakhir Ramadhan pukul 18.10 Wib maka diwaktu 18.10 dinamakan awal Syawal karena Ramadhan sudah berakhir sebab sudah masuk waktu berbuka, sedangkan mendapati waktu akhir Ramadhan seperti beberapa menit sebelum pukul 18.10 atau pukul 18.09.
2. Sesuai contoh pertanyaan yang diajukan mengenai mustahik zakat meninggal padahal seseorang sudah mengeluarkan zakat sebelum waktu wajib zakat fitrah maka itu dinamakan Menta'jil (mendahulukan) mengeluarkan zakat fitrah sebelum waktu wajib zakat fitrah. Oleh karena orang yang mengeluarkan zakat fitrah sebelum waktu wajibnya sebagaimana disebutkan di pertanyaan yaitu sebelum lebaran 2-4 hari maka disyaratkan boleh dan sah Menta'jil zakat fitrah orang yang menerima zakat masih hidup sampai waktu wajib zakat fitrah tiba, oleh karena itu, bila penerima zakat meninggal sebelum waktu wajib zakat fitrah tiba maka orang yang mengeluarkan zakat fitrah sebelum waktu wajibnya wajib mengeluarkan zakat fitrah kembali karena tidak memenuhi syarat sah Menta'jil zakat fitrah. Hal ini juga disyaratkan pula bagi orang yang mengeluarkan zakat yakni ia harus hidup sampai masuk waktu wajib zakat fitrah seperti tenggelam matahari pada hari terakhir Ramadhan, maka seandainya ia mengeluarkan zakat fitrah sebelum waktu wajibnya dan tiba waktu wajib ia meninggal dunia atau sebelum itu zakat yang disegerakan tidak sah karena tidak memenuhi syarat. Namun, bagi Ahli warisnya tidak wajib mengeluarkan zakat lagi atas namanya karena ia belum menjumpai waktu wajib zakat fitrah.
Kesimpulan kasus nomor 2; disebabkan kematian penerima zakat sebelum waktu wajib zakat fitrah tiba maka orang yang mengeluarkan zakat fitrah sebelum waktu wajibnya wajib mengeluarkan zakat fitrah kembali karena Menta'jil zakat fitrah tidak memenuhi syarat sah sehingga zakat yang dahulu ia tunaikan dianggap tidak sah.
𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐊𝐞𝐭𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 (1) :
وَيُشْتَرَطُ فِي الْمُؤَدَّى عَنْهُ أَمْرَانِ: الْأَوَّلُ الْإِسْلَامُ، فَلَا تُخْرَجُ الْفِطْرَةُ عَنْ كَافِرٍ، وَفِي الْمُرْتَدِّ مَا مَرَّ. الثَّانِي أَنْ يُدْرِكَ وَقْتَ وُجُوبِهَا الَّذِي هُوَ آخِرُ جُزْءٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَوَّلُ جُزْءٍ مِنْ شَوَّالٍ. فَتُخْرَجُ عَمَّنْ مَاتَ بَعْدَ الْغُرُوبِ وَعَمَّنْ وُلِدَ قَبْلَهُ وَلَوْ بِلَحْظَةٍ، دُونَ مَنْ مَاتَ قَبْلَهُ وَدُونَ مَنْ وُلِدَ بَعْدَهُ.
“Disyaratkan bagi orang yang ditunaikan zakatnya (Muwadda 'anhu) dua perkara:
1. Islam: Maka zakat fitrah tidak dikeluarkan untuk orang kafir. Adapun mengenai orang murtad, berlaku ketentuan yang telah dijelaskan sebelumnya.
2. Mendapati waktu wajibnya zakat: Yaitu (berada pada) bagian akhir dari bulan Ramadan dan bagian awal dari bulan Syawal.
Maka, zakat tetap dikeluarkan bagi orang yang meninggal setelah matahari terbenam (malam Idul Fitri) dan bagi bayi yang lahir sebelum matahari terbenam walaupun hanya sesaat. Hal ini berbeda dengan orang yang meninggal sebelum matahari terbenam atau bayi yang lahir setelah matahari terbenam (maka tidak wajib dikeluarkan zakat fitrah)”
[Nihaayah Az Zain Halaman 179]
𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐊𝐞𝐭𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 (2) :
وَيُشْتَرَطُ فِي إِجْزَاءِ الْمُعَجَّلِ شُرُوطٌ: أَنْ يَبْقَى الْمَالِكُ أَهْلًا لِلْوُجُوبِ إِلَى آخِرِ الْحَوْلِ، أَوْ دُخُولِ شَوَّالٍ فِي تَعْجِيلِ الْفِطْرَةِ، وَأَنْ يَبْقَى الْمَالُ أَيْضًا إِلَى آخِرِهِ، فَلَوْ مَاتَ، أَوْ تَلَفَ الْمَالُ، أَوْ خَرَجَ عَنْ مِلْكِهِ وَلَمْ يَكُنْ مَالَ التِّجَارَةِ، لَمْ يَقَعِ الْمُعَجَّلُ زَكَاةً. وَأَنْ يَكُونَ الْقَابِضُ فِي آخِرِ الْحَوْلِ مُسْتَحِقًّا، فَلَوْ مَاتَ، أَوْ ارْتَدَّ قَبْلَهُ، أَوْ اسْتَغْنَى بِغَيْرِ الْمُعَجَّلِ، لَمْ يُحْسَبِ الْمَدْفُوعُ إِلَيْهِ عَنِ الزَّكَاةِ، لِخُرُوجِهِ عَنِ الْأَهْلِيَّةِ عِنْدَ الْوُجُوبِ.
------------
1. 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐳𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐅𝐢𝐭𝐫𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚
وَيُشْتَرَطُ فِي إِجْزَاءِ الْمُعَجَّلِ شُرُوطٌ: أَنْ يَبْقَى الْمَالِكُ أَهْلًا لِلْوُجُوبِ إِلَى آخِرِ الْحَوْلِ، أَوْ دُخُولِ شَوَّالٍ فِي تَعْجِيلِ الْفِطْرَةِ، وَأَنْ يَبْقَى الْمَالُ أَيْضًا إِلَى آخِرِهِ، فَلَوْ مَاتَ، أَوْ تَلَفَ الْمَالُ، أَوْ خَرَجَ عَنْ مِلْكِهِ وَلَمْ يَكُنْ مَالَ التِّجَارَةِ، لَمْ يَقَعِ الْمُعَجَّلُ زَكَاةً.
“Disyaratkan beberapa syarat agar zakat yang disegerakan dianggap sah:
1. Pemilik harta (muzakki) harus tetap memenuhi kriteria wajib zakat hingga akhir tahun (haul), atau hingga masuknya bulan Syawal dalam kasus menyegerakan zakat fitrah.
2. Harta tersebut juga harus tetap ada hingga akhir tahun. Maka, jika pemiliknya meninggal dunia, atau hartanya rusak, atau harta tersebut keluar dari kepemilikannya (dan itu bukan harta dagang), maka zakat yang disegerakan tersebut tidak dianggap sebagai zakat yang sah.
2. 𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐙𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚
وَأَنْ يَكُونَ الْقَابِضُ فِي آخِرِ الْحَوْلِ مُسْتَحِقًّا، فَلَوْ مَاتَ، أَوْ ارْتَدَّ قَبْلَهُ، أَوْ اسْتَغْنَى بِغَيْرِ الْمُعَجَّلِ، لَمْ يُحْسَبِ الْمَدْفُوعُ إِلَيْهِ عَنِ الزَّكَاةِ، لِخُرُوجِهِ عَنِ الْأَهْلِيَّةِ عِنْدَ الْوُجُوبِ.
“Penerima zakat (mustahik) harus tetap dalam kondisi berhak menerima zakat pada akhir tahun (ini konteksnya zakat harta selain zakat tijarah karena waktu wajibnya adalah Akhir tahun, sedangkan zakat fitrah waktu wajibnya dengan tenggelam matahari pada hari akhir Ramadhan dan atau awal Syawal). Maka, jika ia meninggal dunia, murtad sebelum akhir tahun (atau sebelum akhir waktu wajib zakat fitrah) , atau menjadi kaya karena sebab lain (bukan karena zakat yang diberikan tersebut), maka apa yang telah diberikan kepadanya tidak dianggap sebagai zakat, karena ia telah keluar dari kriteria penerima zakat pada saat waktu wajibnya tiba”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin II/185]
(مَسْأَلَةٌ) لَوْ غَابَ الْمَالِكُ أَوِ الْآخِذُ عَنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ لَمْ يُجْزِ الْمُعَجَّلُ عِنْدَ (حج) خِلَافًا لِـ (مر). قَالَ الشَّرْقَاوِيُّ: قَرَّرَ الْحِفْنِيُّ أَنَّ غَيْبَةَ الدَّافِعِ لَا تَضُرُّ فِي زَكَاةِ الْفِطْرِ. وَلَوْ مَاتَ الْمَدْفُوعُ لَهُ مَثَلًا لَزِمَ الْمَالِكُ الدَّفْعُ ثَانِيًا. وَلَا يُجْزِئُ دَفْعُ الْمُعَجَّلِ لِغَيْرِ مُسْتَحِقٍّ وَقْتَ الْقَبْضِ وَإِنِ اسْتَحَقَّهُ وَقْتَ الْوُجُوبِ.
“(Masalah) Jika pemilik harta (muzakki) atau penerima zakat (mustahik) tidak berada di tempat domisili kewajiban zakat, maka zakat yang disegerakan (sebelum waktunya) dianggap tidak sah menurut pandangan Ibnu Hajar al-Haitami (حج), berbeda dengan pendapat Syamsuddin ar-Ramli (مر). Asy-Syarqawi berkata: Al-Hifni menetapkan bahwa ketidakhadiran pembayar zakat tidaklah berpengaruh (tetap sah) dalam kasus zakat fitrah.
Seandainya orang yang diberi zakat itu meninggal dunia (sebelum waktu wajib zakat tiba), maka pemilik harta wajib membayar zakat untuk kedua kalinya. Pembayaran yang disegerakan tidaklah dianggap sah jika diberikan kepada orang yang bukan berhak menerima pada saat penyerahan, meskipun ia menjadi orang yang berhak pada saat waktu wajib zakat tiba”
[Itsmid Al A'inain Fii Ikhtilaaf As Syaikhain Fii Hamisy Bughyah Halaman 51]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: Ismidar Abdurrahman As Sanusi)
Link Diskusi:
Artikel terkait 👇
