(Foto: suara.com)
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum izin ustadz..
Jika ketentuan zakat fitrah taqlid kepada imam malik ..maka pengalokasiannya juga harus mengikut kepada imam malik kan..
Sedangkan zakat fitrah madzhab imam malik hanya di tasharrufkan kepada fakir miskin saja tidak boleh yg lain..
Sedangkan realita kita di kampung2 ni bayar pakai uang seharga beras ( makan pokok ) dan pentasharrufannya kepada fakir, miskin, mu'allaf, 'amil, dan sebagian ada yg tetap memasukkan Sabilillah.
Nahhh ini bagaimana ustadz ..???🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Khusus zakat fitrah nggeh . Izin saya diatas menyinggung masalah zakat fitrah menggunakan uang seharga beras ( makanan pokok ) kata ustadz kan maka taqlid kepada madzhab maliki bukan hanafi.
Nahhh sehingga tanyakan kembali jika zakat fitrah .. saya ulangi lagi *jika zakat fitrah* taqlid kepada maliki tentu mashrofnya juga harus ikut maliki kan.. sedangkan mashrof *zakat fitrah* madzhab maliki hanya terkhusus dua yaitu fakir dan miskin saja .
Sehingga realita yg ada di kampung2 kami bagaimana ustadz mereka sebenarnya mengikuti madzhab siapa jika solusi pakai uang seharga makanan pokok bisa lolos dengan taqlid maliki, lantas tidak lolos dalam pentasharrufannya karena madzhab maliki *zakat fitrah* hanya kepada fakir dan miskin
Didalam kitab mawahibul jalil syarah Mukhtasor kholil ( maliki ) halaman 376 disebutkan:
مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل الجزء الثاني صحـ 336 (مالكية)
ص ( وإنما تدفع لحر مسلم فقير ) ش ختم الباب ببيان مصرف زكاة الفطر فقال وإنما تدفع لحر مسلم فقير يعني أنه يشترط فيمن تدفع له زكاة الفطر ثلاثة شروط ( الأول ) الحرية ( والثاني ) الإسلام ( والثالث ) الفقر ولا خلاف في ذلك عندنا فلا تدفع لعبد ولا لمن فيه شائبة ولا لكافر ولا لغني قال في المدونة ولا يعطاها أهل الذمة ولا العبد قال أبو الحسن يريد ولا الأغنياء...
Lanjutan di halaman tersebut bawahnya ada 2 tanbihatun.
Tanbihat kedua menyatakan khilaf pendapat ibnu hajib bahwa mashrofnya zakat fitrah sama seperti mashrofnya zakat mal ( ashnaf 8 ) .
Di penghujung tanbihat kedua ini dinyatakan bahwa mayoritas pendapat maliki mashrofnya zakat fitrah hanya kepada fakir dan miskin
مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل الجزء الثاني صحـ 336 (مالكية)
الثاني: قال ابن الحاجب: ومصرفها مصرف الزكاة وقيل الفقير الذي لم يأخذ منها وعلى المشهور يعطى الواحد عن متعدد قال في التوضيح: ظاهر كلامه أنها تصرف في الأصناف الثمانية وليس كذلك فقد نص في الموازية على أنه لا يعطى منهامن يليها ولا من يحرسها وظاهر كلامهم أنه لا يعطى منها المجاهدون *وأكثر كلامهم أنها تعطى للفقراء والمساكين انتهى*.
Izin koreksinya ustadz 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙇🏻♂️🙇🏻♂️🙇🏻♂️🙇🏻♂️
[ABDUL CHALIM ( HALIM )]
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Memang benar, Bila bertaqlid kepada pendapat Madzhab Maliki mengenai zakat fitrah memakai uang maka sudah konsekuensinya segala ketentuan zakat fitrah memakai ketentuan Madzhab Maliki termasuk distribusi zakat fitrah kepada yang berhak menerimanya sesuai ketentuan Madzhab Maliki seperti Siapa yang penerima zakat fitrah menurut Madzhab Maliki, karena sebagimana sudah dibahas berdasarkan pendapat Pemuka Ulama Syafi'iyah yang dipelopori oleh Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami, Syeikh Amin Al Kurdi dan selain mereka demi tercapai keabsahan taqlid harus mengetahui ketentuan permasalahan yang mau ditaqlidi pada Madzhab tersebut dan sekaligus mengamalkan ketentuan itu itu di Madzhab tersebut. Berpijak pada pendapat tersebut maka orang yang bertaqlid kepada pendapat Madzhab Maliki yang mengabsahkan zakat fitrah memakai uang seharga makanan pokok maka segala ketentuan zakat fitrah mengacu Madzhab mereka, jangan Hanya memakai hukum boleh zakat fitrah memakai uang di Madzhab Maliki tapi ketentuan lain seperti ketentuan Mustahik zakat fitrah mengacu Madzhab Syafi'i, kalau ini diterapkan maka menurut Ulama yang kita sebut diatas taqlid tersebut tidak sah karena didalamnya terjadi Talfiq (mencampurkan dua pendapat dalam satu amaliyah). Sehingga, Ulama tersebut tadi mensyaratkan agar tidak termasuk Talfiq supaya segala ketentuan di Madzhab pada permasalahan yang mau ditaqlidi harus diketahui serta diamalkan dalam amaliyah zakat fitrah tersebut.
(Baca: 2020. 𝐏𝐑𝐎𝐁𝐋𝐄𝐌𝐀𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐓𝐀𝐐𝐋𝐈𝐃)
Adapun mengenai Mustahik zakat atau Asnaf zakat Alias Penerima zakat fitrah dalam Madzhab Maliki sebagaimana ibarat yang dipaparkan pada ilustrasi pertanyaan maka dapat diketahui bukanlah termasuk kesepakatan Ulama Malikiyyah Mustahik (penerima) zakat fitrah terfokus hanya Faqir atau miskin saja, sebab padanya ada khilaf Ulama Malikiyyah.
Berdasarkan pendapat yang Masyhur di Madzhab Maliki Mustahik zakat fitrah berbeda dengan Mustahik zakat mal (harta), kalau mustahik zakat mal adalah 8 Asnaf sebagaimana di Madzhab Syafi'i sedangkan Mustahik zakat fitrah hanya Faqir atau miskin saja. Namun, setelah saya cermati betul, di Madzhab Maliki ada pendapat yang menyebutkan Mustahik zakat fitrah sebagaimana zakat mal Yaitu 8 Asnaf. Pendapat ini Disnibatkan Ibnu Al Hathab (pengarang Mawaahib Al Jalil) dari Ibnu Hajib meskipun mendapat sanggahan dari beliau. Kendatipun demikian Imam Al Khalil dalam kitab As Syamil (saya juga tidak tahu tema kitab ini sebagai Syarh atau apa) menuturkan pendapat itu dengan Ungkapan Qila, lalu dikomentari oleh Ibnu Al Hathab itu Dzahir pendapat Ibnu Al Hajj.
Dari keterangan saya diatas setidaknya kita dapati pemahaman bahwa Meskipun pendapat Masyhur dan banyak diungkapkan oleh Ulama Malikiyyah Mustahik zakat fitrah Hanya Faqir miskin saja tapi ada sebagian pendapat yang berpendapat Mustahik zakat fitrah juga Mustahik zakat pada umumnya Yakni 8 Asnaf. Pendapat itu dinisbatkan kepada Ibnu Hajib dan atau Ibnu Al Hajj. Pemahaman istilah di Madzhab Maliki saya juga kurang tahu apakah Qila sama dengan di Madzhab Syafi'i yang menunjukkan pendapat yang Dha'if (lemah) atau tidak sama. Namun, merujuk pernyataan Syeikh Wahbah Zuhaili ada sedikit perbedaan redaksi, disana juga dijelaskan makna pendapat yang Masyhur di Madzhab Maliki, berikut ungkapannya 👇
ب ـ إِذَا قِيلَ: (الْمَذْهَبُ) يُرَادُ بِهِ مَذْهَبُ مَالِكٍ، وَإِذَا قِيلَ: (الْمَشْهُورُ) فَيَعْنِي مَشْهُورَ مَذْهَبِ مَالِكٍ، وَفِي ذَلِكَ إِشْعَارٌ بِخِلَافٍ فِي الْمَذْهَبِ. وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّ الْمُرَادَ (بِالْمَشْهُورِ): مَا كَثُرَ قَائِلُهُ.
جـ ـ إِذَا قِيلَ: «قِيلَ كَذَا» أَوْ «اخْتُلِفَ فِي كَذَا» أَوْ «فِي كَذَا قَوْلَانِ فَأَكْثَرُ» أَيْ أَنَّ هُنَاكَ اخْتِلَافاً فِي الْمَذْهَبِ.
“B - Jika dikatakan: (Al-Madzhab), maka yang dimaksud adalah Madzhab Malik (pendapat yang dianggap mewakili kerangka dasar madzhab).
Jika dikatakan: (Al-Masyhur), maka maksudnya adalah pendapat yang masyhur (populer) di dalam Madzhab Malik. Penggunaan istilah ini memberikan isyarat (isy'ar) adanya perbedaan pendapat (khilaf) di dalam internal madzhab tersebut. Pendapat yang dipegang (Al-Mu'tamad) mengenai definisi Al-Masyhur adalah: Pendapat yang banyak dikatakan (Ulama Malikiyyah).
C - Jika dikatakan: "Qila kadza" (Dikatakan demikian/), atau "Ukhtulifa fi kadza" (Dipelsisihkan dalam hal ini), atau "Fi kadza qaulani fa aktsar" (Dalam hal ini ada dua pendapat atau lebih), hal itu menunjukkan bahwa di sana terdapat perbedaan pendapat di dalam internal madzhab”
[Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu I/76]
Jadi, pendapat yang Masyhur disebutkan oleh Ibnu Al Hathab yang menyatakan Mustahik zakat fitrah di Madzhab Maliki hanya Faqir miskin saja itu berarti itulah yang unggul di dalam Madzhab Maliki atau banyak dikatakan oleh Ulama Malikiyyah. Itu pula menunjukkan adanya perbedaan pendapat. Sementara Istilah Qila menunjukkan ada perbedaan pendapat yang beragam dan disitu tidak ada yang menyebutkan Dha'if.
Oleh karena itu, bila sudah jelas adanya pendapat yang membolehkan zakat fitrah disalurkan ke selain Faqir miskin seperti saya jelaskan maka itu sebagai solusi dalam masalah zakat fitrah memakai uang bisa bertaqlid kepada Madzhab Maliki yaitu sebagian Ulama Malikiyyah seperti pendapat Ibnu Hajib dan atau Ibnu Al Hajj yang tentunya dengan melalui ketentuan taqlid. Ini bisa dijadikan solusi karena banyaknya kalangan kita Zakat fitrah memakai uang Deng bertedensi dengan harga makanan pokok. Jadi, tidak mutlak di Madzhab Maliki Mustahik zakat fitrah Hanya Faqir miskin tapi ada pendapat selainnya meskipun pendapat yang Masyhur memang demikian. Saya tampilkan ungkapan Ibnu Al Hathab biar lengkap 👇
(الثَّانِي) قَالَ ابْنُ الْحَاجِبِ: وَمَصْرِفُهَا مَصْرِفُ الزَّكَاةِ، وَقِيلَ الْفَقِيرُ الَّذِي لَمْ يَأْخُذْ مِنْهَا وَعَلَى الْمَشْهُورِ يُعْطَى الْوَاحِدُ عَنْ مُتَعَدِّدٍ، قَالَ فِي التَّوْضِيحِ: ظَاهِرُ كَلَامِهِ أَنَّهَا تُصْرَفُ فِي الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ فَقَدْ نَصَّ فِي الْمَوَّازِيَّةِ عَلَى أَنَّهُ لَا يُعْطَى مِنْهَامَنْ يَلِيهَا وَلَا مَنْ يَحْرُسُهَا، وَظَاهِرُ كَلَامِهِمْ أَنَّهُ لَا يُعْطَى مِنْهَا الْمُجَاهِدُونَ، وَأَكْثَرُ كَلَامِهِمْ أَنَّهَا تُعْطَى لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ، انْتَهَى. -إلى أن قال- (قُلْتُ) : أَمَّا مَا ذَكَرَهُ فِي ابْنِ السَّبِيلِ فَلَا إشْكَالَ فِيهِ؛ لِأَنَّهُ إنَّمَا أُخِذَ حِينَئِذٍ بِوَصْفِ الْفَقْرِ، وَأَمَّا لَوْ كَانَ مَعَهُ مَا يَكْفِيهِ وَهُوَ مُحْتَاجٌ إلَى مَا يُوصِلُهُ إلَى بَلَدِهِ فَظَاهِرُ كَلَامِ ابْنِ عَرَفَةَ الْمُتَقَدِّمِ أَوْ صَرِيحُهُ أَنَّهَا لَا تُصْرَفُ لَهُ، وَأَنَّهَا لَا تُصْرَفُ فِي شِرَاءِ رَقِيقٍ وَلَا لِغَارِمٍ وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَالْمُصَنِّفِ، وَكَذَلِكَ قَالَ ابْنُ رَاشِدٍ فِي اللُّبَابِ، وَنَصُّهُ: وَالْمُخْرَجُ إلَيْهِ مَنْ لَهُ أَخْذُ الزَّكَاةِ مِنْ الْفُقَرَاءِ عَلَى الْمَشْهُورِ، وَقِيلَ: الْفَقِيرُ الَّذِي لَمْ يَأْخُذْ مِنْهَا فِي يَوْمِهِ، انْتَهَى. قَالَ فِي الْجَلَّابِ: وَلَا تُدْفَعُ إلَّا إلَى حُرٍّ مُسْلِمٍ فَقِيرٍ، وَأَمَّا كَلَامُ الْمُدَوَّنَةِ فَلَيْسَ فِيهِ مَا يَقْتَضِي صَرْفُهَا لِغَيْرِ الْفَقِيرِ، وَأَمَّا كَلَامُ ابْنِ الْحَاجِبِ فَمُعْتَرَضٌ كَمَا تَقَدَّمَ، وَقَدْ اعْتَمَدَ الشَّارِحُ فِي شَامِلِهِ عَلَى نَحْوِ مَا ذَكَرَهُ هُنَاكَ لَكِنَّهُ حَكَاهُ بِقِيلِ، فَقَالَ وَمَصْرِفُهَا حُرٌّ مُسْلِمٌ فَقِيرٌ، وَقِيلَ مَصْرِفُ الزَّكَاةِ وَهُوَ ظَاهِرُهَا لَا لِغَنِيٍّ وَعَبْدٍ وَمُؤَلَّفٍ، انْتَهَى. فَأَشَارَ بِقَوْلِهِ، وَقِيلَ إلَى مَا قَالَهُ: إنَّهُ ظَاهِرُ كَلَامِ ابْنِ الْحَاجِّ فَتَأَمَّلْهُ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.
“(Kedua) Ibnu al-Hajib berkata: "Tempat penyaluran zakat fitrah (mashraf) sama dengan tempat penyaluran zakat mal (8 Asnaf)." Dan ada pendapat (qila) yang menyatakan: "Yaitu orang fakir yang belum menerima zakat fitrah pada hari itu." Dan menurut pendapat yang masyhur, satu zakat fitrah boleh diberikan kepada banyak orang. Telah disebutkan dalam kitab At-Taudhih: "Secara tekstual (zahir), perkataan Ibnu al-Hajib menunjukkan bahwa zakat fitrah disalurkan kepada delapan golongan (asnaf al-thamaniyah). Namun kenyataannya tidaklah demikian. Sebab, dalam kitab Al-Mawwaziyyah telah ditegaskan secara eksplisit bahwa zakat fitrah tidak diberikan kepada orang yang mengurusnya (amil) maupun yang menjaganya. Berdasarkan teks mereka (zahir kalamuhum), zakat fitrah juga tidak diberikan kepada para pejuang (mujahidun). Sebagian besar pendapat mereka menyatakan bahwa zakat fitrah hanya diberikan kepada fakir dan miskin. Selesai.
—Sampai pada perkataan—
(Saya berkata/Imam al-Hatthab): "Adapun apa yang ia sebutkan mengenai Ibnu Sabil (musafir), maka tidak ada masalah di dalamnya (boleh menerima), karena pada saat itu ia mengambilnya atas sifat kefakiran. Adapun jika ia memiliki harta yang cukup namun membutuhkan biaya untuk sampai ke negaranya, maka secara tekstual atau bahkan eksplisit dari perkataan Ibnu 'Arafah yang telah lewat, zakat fitrah tidak boleh diberikan kepadanya. Zakat fitrah juga tidak boleh digunakan untuk memerdekakan budak (riqab) maupun untuk orang yang terlilit utang (gharim). Ini adalah pendapat yang tampak dari perkataan Ibnu Abdissalam dan sang pengarang (Khalil). Begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu Rasyid dalam al-Lubab, teksnya berbunyi: 'Pihak yang menerima zakat fitrah adalah orang yang boleh menerima zakat (mal) dari kalangan fakir menurut pendapat yang masyhur. Ada pula pendapat (qila) yang mengatakan: Orang fakir yang belum menerima zakat fitrah pada harinya.'" —Selesai—.
(Pengarang kitab) Berkata: : "Zakat fitrah tidak diberikan kecuali kepada orang merdeka, muslim, dan fakir." Adapun perkataan dalam kitab Al-Mudawwanah, tidak ada di dalamnya yang mengharuskan penyalurannya kepada selain orang fakir. Sementara perkataan Ibnu al-Hajib (yang menyebut 8 asnaf) itu disanggah (mu'taradh) sebagaimana penjelasan sebelumnya. Sang pensyarah (Khalil) dalam kitab asy-Syamil bersandar pada apa yang disebutkan di sana, namun ia meriwayatkannya dengan redaksi Qila ia berkata: 'Tempat penyalurannya adalah orang merdeka, muslim, dan fakir. Ada pendapat (qila) yang mengatakan: Tempat penyalurannya sama dengan zakat mal (8 asnaf), namun secara tekstual tidak boleh diberikan kepada orang kaya, budak, dan mualaf.' —Selesai—. Maka dengan perkataan 'Qila', beliau mengisyaratkan bahwa itu adalah pendapat Ibnu al-Hajj, maka renungkanlah!
Wallahu A'lam”
[Mawaahib Al Jalil Fii Syarh Mukhtashar Kaliil II/376-377]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
Link Diskusi:
