𝗣𝗘𝗥𝗧𝗔𝗡𝗬𝗔𝗔𝗡:
Assalamu'alaikum
Deskripsi :
Saya ikut shalat tarawih di perantauan karena saya gak tahu saya niat shalat witir 2+1 eh ternyata imam niat shalat witirnya 3 rokaat sekaligus, akhirnya saya ikut 3 rokaat sekaligus bersama imam.
Pertanyaan :
Apakah yang saya lakukan sudah benar?
Atau harus niat mengubah rokaat dulu?
Terimakasih.
Notes :
Tarawihnya tanpa bilal
[+62 823-1713-7563]
𝗝𝗔𝗪𝗔𝗕𝗔𝗡:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Memang, kadang ada timbul pertanyaan dengan adanya kasus yang dialami terkhusus pertanyaan yang diajukan ini; sudah berniat witir 2 raka'at awal ternyata harusnya tasyahud akhir malah imam berdiri menambah raka'at Ketiga karena ia melakukan praktek menyambung 3 raka'at 1 salam. Untuk itu pahamilah penjelasan saya ini sekiranya amalan yang dilakukan penanya dianggap kurang tepat jadikan sebagai pengalaman dan seterusnya agar bisa melakukan yang sebaiknya sesuai ketentuan fiqih.
Pada kasus yang ditanyakan yang dilakukan kurang tepat karena shalat witir makmum dua raka'at maka ketika ia mengikuti imam yang shalat witir dengan niat 3 raka'at tentu ada perbedaan jumlah raka'at dalam niat antara imam dan makmum. Langkah yang terbaik adalah ketika imam berdiri menambah raka'at ketiga si makmum pada kasus berniat mufaraqah dan melakukan tasyahud akhir sendiri serta salam sendiri, karena ia berniat dua raka'at maka sebagaimana bermakmum pada imam berbeda raka'at seperti makmum shalat shubuh (misalnya qadha') bermakmum pada Imam shalat Maghrib. Solusi lain agar tetap sah mengikuti imam pada kasus tersebut si makmum terlebih dahulu mengubah niat jumlah raka'at seperti merubah niat dua raka'at menjadi tiga raka'at. Ini bisa sah jika ia mengubah raka'at dan jika tidak maka dianggap tidak sah. Hal ini sebagai mengikuti (taqlid) kepada pendapat Syeikh Ibnu Ziyad, walaupun pendapat ini dinilai Dha'if dan mendapat sanggahan Ulama Syafi'iyah yang lain apalagi sanggahan Syeikh Ibnu Hajar yang menyebutkan pendapat tersebut merupakan suatu kesalahan yang jelas dan tidak bisa diterima. Karena pendapat yang kuat bila seseorang berniat shalat witir dengan menyertakan jumlah raka'at seperti dua raka'at ia tidak boleh mengurangi atau menambah jumlah raka'at seperti kasus yang ditanyakan, sedangkan pendapat Syeikh Ibnu Ziyad diarahkan beliau membolehkan menambah dan mengurangi dan itulah yang disanggah oleh Syeikh Ibnu Hajar secara tegas, karena pendapat seperti itu (seperti pendapat Syeikh Ibnu Ziyad) menyamakan dengan kasus shalat sunah mutlak yang boleh ditambah dan dikurangi dengan terlebih dahulu merubah niat jumlah raka'at merupakan pendapat yang Waham (keliru). Sehubungan dengan ini Syeikh Zainuddin Al Malibari menyebutkan dalam kitab Fathul Mu'in 👇
وَلَوْ أَحْرَمَ بِالْوِتْرِ وَلَمْ يَنْوِ عَدَدًا صَحَّ، وَاقْتَصَرَ عَلَى مَا شَاءَ مِنْهُ عَلَى الْأَوْجَهِ. قَالَ شَيْخُنَا: وَكَأَنَّ بَحْثَ بَعْضِهِمْ إِلْحَاقَهُ بِالنَّفْلِ الْمُطْلَقِ مِنْ أَنَّ لَهُ إِذَا نَوَى عَدَدًا أَنْ يَزِيدَ وَيَنْقُصَ تَوَهُّمُهُ مِنْ ذَلِكَ، وَهُوَ غَلَطٌ صَرِيحٌ. وَقَوْلُهُ: إِنَّ فِي كَلَامِ الْغَزَالِيِّ عَنِ الْفَوْرَانِيِّ مَا يُؤْخَذُ مِنْهُ ذَلِكَ، وَهَمٌ أَيْضًا، كَمَا يُعْلَمُ مِنَ الْبَسِيطِ. وَيَجْرِي ذَلِكَ فِيمَنْ أَحْرَمَ بِسُنَّةِ الظُّهْرِ الْأَرْبَعِ بِنِيَّةِ الْوَصْلِ فَلَا يَجُوزُ لَهُ الْفَصْلُ بِأَنْ يُسَلِّمَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ، وَإِنْ نَوَاهُ قَبْلَ النَّقْصِ، خِلَافًا لِمَنْ وَهِمَ فِيهِ أَيْضًا. انْتَهَى.
“Seandainya seseorang melakukan ihram (takbiratul ihram) untuk shalat Witir dan tidak menyengaja (menentukan) jumlah rakaatnya, maka shalatnya sah. Ia boleh mencukupkan diri pada jumlah rakaat berapa pun yang ia kehendaki (antara 1-11 rakaat) menurut pendapat yang paling kuat (al-aujah). Syaikhuna (Syeikh Ibnu Hajar) berkata: 'Seolah-olah pendapat sebagian ulama yang menyamakan Witir dengan Nafil Mutlak (shalat sunnah tanpa sebab)—dalam hal bolehnya menambah atau mengurangi jumlah rakaat meski sudah diniatkan di awal—adalah sebuah persangkaan yang keliru, dan itu adalah kesalahan yang nyata', perkataannya (ulama tersebut) bahwa di dalam perkataan Al-Ghazali yang bersumber dari Al-Faurani terdapat poin yang bisa diambil kesimpulan seperti itu, juga merupakan sebuah waham (asumsi yang salah), sebagaimana diketahui dari kitab Al-Basith. Hal ini juga berlaku bagi orang yang ihram untuk shalat sunnah Zhuhur empat rakaat dengan niat washal (disambung langsung). Maka tidak diperbolehkan baginya melakukan fashl (memisah) dengan cara salam di rakaat kedua, meskipun ia berniat mengubahnya sebelum melakukan pengurangan tersebut. Ini berbeda dengan pendapat orang yang juga salah paham dalam masalah ini', selesai”.
Pada Hasyiyah I'aanah oleh Syeikh Bakri Syatha Dimyathi diperjelas 👇
وَقَوْلُهُ: وَهُوَ غَلَطٌ أَيِ التَّوَهُّمُ الْمَذْكُورُ غَلَطٌ صَرِيحٌ، لِأَنَّ الصُّورَةَ السَّابِقَةَ مَفْرُوضَةٌ فِيمَا إِذَا لَمْ يَنْوِ عَدَدًا، وَصُورَةَ الْبَعْضِ فَرَضَهَا فِيمَا إِذَا نَوَى عَدَدًا، وَبَيْنَهُمَا بَوْنٌ كَبِيرٌ.
“Perkataan beliau (وهو غلط): Maksudnya, persangkaan (tawahhum) yang disebutkan sebelumnya adalah kesalahan yang nyata, karena gambaran masalah (shurah) yang terdahulu (yang dianggap sah) ditetapkan pada kondisi ketika seseorang TIDAK meniatkan jumlah rakaat tertentu. Sedangkan gambaran masalah yang diajukan oleh sebagian ulama tersebut (yang dianggap salah) ditetapkan pada kondisi ketika seseorang SUDAH meniatkan jumlah rakaat tertentu. Dan di antara kedua kondisi tersebut terdapat perbedaan yang sangat besar”
Jadi, berpijak pada pendapat yang kuat bila tidak berniat jumlah raka'at witir seperti "Aku niat shalat witir mengikuti imam" boleh baginya menambah dan mengurangi, sementara bila sudah menyebutkan bilangan rakaatnya maka tidak boleh menambah dan mengurangi walaupun terlebih dahulu merubah niat untuk merubah jumlah raka'at. Syeikh Bakri Syatha Dimyathi juga menjelaskan maksud pernyataan Syeikh Ibnu Hajar sebagaimana dikutip oleh Syeikh Zainuddin Al Malibari 👇
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إِذَا نَوَى عَدَدًا فِي الْوِتْرِ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَزِيدَ عَنْهُ أَوْ يَنْقُصَ، وَمِثْلُهُ مَا إِذَا نَوَى عَدَدًا فِي سُنَّةِ الظُّهْرِ بِأَنْ قَالَ: نَوَيْتُ سُنَّةَ الظُّهْرِ الْأَرْبَعَ، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَنْقُصَ عَنْهُ. وَيُقَاسُ عَلَيْهِ مَا إِذَا نَوَى رَكْعَتَيْنِ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَزِيدَ عَلَيْهِمَا.
“Kesimpulannya bahwa bila berniat jumlah raka'at pada shalat witir maka tidak diperkenankan baginya menambah dan mengurangi. Semisal itu pula bila berniat jumlah raka'at pada shalat sunah Dzuhur seperti ungkapannya "Aku berniat shalat sunah Dzuhur empat raka'at", maka tidak diperkenankan baginya mengurangi darinya, diqiyaskan pula bila berniat dua raka'at maka tidak diperkenankan baginya menambah atas keduanya"
Pernyataan Dha'if pendapat yang membolehkan menambah raka'at shalat witir setelah berniat menyertakan jumlah raka'at diutarakan oleh Syeikh Sa'id Ba'isyan, pernyataannya 👇
وَأَلْحَقَهُ بَعْضُهُمْ بِالنَّفْلِ الْمُطْلَقِ فِي أَنَّ مَنْ نَوَى عَدَدًا .. لَهُ أَنْ يَزِيدَ وَيَنْقُصَ، وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَأَفْتَى (حج) بِأَنَّ مَنْ صَلَّى الْوِتْرَ ثَلَاثًا لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ بَاقِيَهُ بِنِيَّةِ الْوِتْرِ، وَخَالَفَهُ (م ر).
“Sebagian Ulama menyamakan hukum shalat Witir dengan Nafal Mutlak (shalat sunnah tanpa sebab), dalam hal bahwa barangsiapa yang telah meniatkan jumlah rakaat tertentu maka ia boleh menambah atau menguranginya. Dan pendapat ini adalah dha'if (lemah). Ibnu Hajar berfatwa bahwa barangsiapa yang telah melaksanakan shalat Witir tiga rakaat (kemudian ingin menambahnya hingga batas maksimal 11), maka ia diperbolehkan melaksanakan sisa rakaatnya tersebut dengan niat Witir. Namun, Imam Ramli berbeda pendapat dengannya (Imam Ramli melarang penambahan jika sudah salam dari niat awal)”
[Busyral Kariim I/115]
Berikut pendapat Syeikh Ibnu Ziyad 👇
(مَسْأَلَةٌ): أَحْرَمَ بِالْوِتْرِ وَلَمْ يَنْوِ عَدَدًا جَازَ، وَاقْتَصَرَ عَلَى مَا شَاءَ مِنْ رَكْعَةٍ إِلَى إِحْدَى عَشْرَةَ. قُلْتُ: وَافَقَهُ ابْنُ حَجَرٍ. وَقَالَ (م ر): يَقْتَصِرُ عَلَى ثَلَاثٍ اهـ. وَكَذَا لَوْ نَوَى عَدَدًا فَلَهُ الزِّيَادَةُ وَالنَّقْصُ بِشَرْطِ تَغْيِيرِ النِّيَّةِ قَبْلَهُ، وَمِثْلُ الْوِتْرِ الرَّوَاتِبُ وَالضُّحَى فِي الْمَسْأَلَتَيْنِ.
“(Masalah) seseorang ihram (takbiratul ihram) shalat witir dan tanpa menentukan jumlahnya diperbolehkan. Diperkenankan (baginya) meringkas (jumlah rakaatnya) dari satu sampai sebelas raka'at. Aku (Syeikh Ibnu Ziyad) ungkapkan: (pernyataan tersebut) disepakati oleh Ibnu Hajar, sedangkan Imam Ramli berkata: 'Diperkenankan meringkas 3 raka'at (tidak boleh lebih), selesai. Demikian pula jika seseorang berniat (menyertakan) jumlah (raka'at) baginya diperkenankan menambah dan mengurangi dengan syarat merubah niat sebelumnya. Seumpama shalat witir (ini) adalah shalat rawatib dan Dhuha dalam dua permasalahan tersebut”.
[Ghaayah Talkhish Al Muraad Min Fatawa Ibn Ziyaad Fii Hamisy Bughyah Halaman 92]
Akhirnya, pada kasus yang ditanyakan perbuatan yang dilakukan makmum tersebut kurang tepat apalagi tanpa terlebih dahulu merubah niat jumlah raka'at, jika menyertakan merubah jumlah raka'at maka dapat dibenarkan walaupun berpijak pada pendapat yang Dha'if tapi bisa dijadikan acuan dalam beramal, sedangkan tanpa merubah niat jumlah raka'at maka tidak boleh (tidak sah). Walhasil, shalat witir tersebut diragukan tingkat keabsahannya karena tanpa merubah niat jumlah raka'at. Yang paling baik, demi mengamalkan pendapat yang kuat sebagaimana saya jelaskan diawal adalah berniat mufaraqah dan ini adalah lebih selamat dari ketidak absahannya. Namun, bisa mengamalkan pendapat Syeikh Ibnu Ziyad walaupun Dha'if dengan syarat terlebih dahulu merubah niat jumlah raka'at seperti "Aku berniat merubah niat 2 raka'at shalat witir menjadi 3 raka'at", cukup perantaraan hati.
𝐓𝐀𝐌𝐁𝐀𝐇𝐀𝐍:
Berpijak pada pendapat Syeikh Ibnu Ziyad sebagaimana dijelaskan diatas (pada uraian) karena ia menyamakan dengan kasus shalat sunah mutlak untuk kasus shalat witir ini secara khusus maka mengacu ketentuan shalat sunah mutlak. Oleh karena, di bab shalat sunah mutlak bila seseorang berniat menyertakan jumlah raka'at maka ia boleh mengurangi atau menambah jumlah raka'at dengan syarat merubah niat sebelumnya jika tidak maka shalatnya batal. Ini berpijak pada pendapat Syeikh Al Khathib As Syarbini dan Syekh Nawawi al-Bantani. Sedangkan berpijak pada pendapat Syeikh Sa'id Ba'isyan dan Syeikh Bakri Syatha Dimyathi shalatnya tidak batal sebelum merubah niat asal tidak dilakukan dengan sengaja dan tahu ketentuannya. Sehingga, bila dikaitkan dengan pertanyaan yang sang penanya langsung mengikuti imam witir tiga raka'at tanpa merubah niat maka shalatnya batal secara mutlak menurut Syeikh Al Khathib As Syarbini dan Syekh Nawawi al-Bantani, tidak batal shalatnya bila tidak sengaja dan tidak tahu hukumnya menurut Syeikh Sa'id Ba'isyan dan Syeikh Bakri Syatha Dimyathi, demikian pula menurut Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari.
(قَوْلُهُ: وَلَمْ يَنْوِ عَدَدًا) أَيْ بِأَنْ قَالَ: نَوَيْتُ الْوِتْرَ، وَأَطْلَقَ.
(قَوْلُهُ: صَحَّ) أَيْ إِحْرَامُهُ.
(قَوْلُهُ: وَاقْتَصَرَ عَلَى مَا شَاءَ مِنْهُ) أَيْ مِنَ الْوِتْرِ. أَيْ فَإِنْ شَاءَ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى وَاحِدَةٍ فَلَهُ ذَلِكَ، وَإِنْ شَاءَ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى ثَلَاثٍ فَلَهُ ذَلِكَ، وَهَكَذَا.
وَقَالَ سم (ابْنُ قَاسِمٍ): الَّذِي اعْتَمَدَهُ شَيْخُنَا الشِّهَابُ الرَّمْلِيُّ أَنَّ إِحْرَامَهُ يَنْحَطُّ عَلَى ثَلَاثٍ. اهـ.
(قَوْلُهُ: إِلْحَاقَهُ) أَيْ الْوِتْرَ.
(قَوْلُهُ: مِنْ أَنَّ لَهُ) أَيْ لِلْمُوتِرِ.
(قَوْلُهُ: تَوَهَّمَهُ) الْجُمْلَةُ خَبَرُ كَأَنَّ.
(وَقَوْلُهُ: مِنْ ذَلِكَ) أَيْ مِنْ قَوْلِهِمْ: لَوْ أَحْرَمَ بِالْوِتْرِ وَلَمْ يَنْوِ عَدَدًا، لَهُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى مَا شَاءَ.
وَقَوْلُهُ: وَهُوَ غَلَطٌ أَيِ التَّوَهُّمُ الْمَذْكُورُ غَلَطٌ صَرِيحٌ، لِأَنَّ الصُّورَةَ السَّابِقَةَ مَفْرُوضَةٌ فِيمَا إِذَا لَمْ يَنْوِ عَدَدًا، وَصُورَةَ الْبَعْضِ فَرَضَهَا فِيمَا إِذَا نَوَى عَدَدًا، وَبَيْنَهُمَا بَوْنٌ كَبِيرٌ.
(قَوْلُهُ: وَقَوْلُهُ) أَيْ هَذَا الْبَعْضُ. وَهُوَ مُبْتَدَأٌ خَبَرُهُ وَهَمٌ. وَهُوَ بِفَتْحِ الْهَاءِ مَصْدَرُ وَهِمَ، كَغَلَطٍ وَزْنًا وَمَعْنًى. أَمَّا الْوَهْمُ بِإِسْكَانِ الْهَاءِ، فَمَصْدَرُ وَهَمْتُ فِي الشَّيْءِ، بِالْفَتْحِ، مِنْ بَابِ وَعَدَ، إِذَا سَبَقَ إِلَى قَلْبِكَ وَأَنْتَ تُرِيدُ غَيْرَهُ. أَفَادَهُ فِي الْمِصْبَاحِ.
(قَوْلُهُ: مَا يُؤْخَذُ مِنْهُ ذَلِكَ) أَيْ أَنَّهُ إِذَا نَوَى عَدَدًا لَهُ أَنْ يَزِيدَ وَيَنْقُصَ.
(قَوْلُهُ: وَيَجْرِي ذَلِكَ إلخ) اسْمُ الْإِشَارَةِ يَعُودُ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ الزِّيَادَةِ وَالنَّقْصِ فِيمَا إِذَا نَوَى عَدَدًا.
الْمَفْهُومِ مِنَ الْحُكْمِ عَلَى مَا بَحَثَهُ بَعْضُهُمْ فِي الْوِتْرِ مِنْ إِلْحَاقِهِ بِالنَّفْلِ الْمُطْلَقِ، وَأَنَّهُ إِذَا نَوَى عَدَدًا فَلَهُ أَنْ يَزِيدَ أَوْ يَنْقُصَ عَنْهُ بِأَنَّهُ غَلَطٌ صَرِيحٌ.
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إِذَا نَوَى عَدَدًا فِي الْوِتْرِ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَزِيدَ عَنْهُ أَوْ يَنْقُصَ، وَمِثْلُهُ مَا إِذَا نَوَى عَدَدًا فِي سُنَّةِ الظُّهْرِ بِأَنْ قَالَ: نَوَيْتُ سُنَّةَ الظُّهْرِ الْأَرْبَعَ، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَنْقُصَ عَنْهُ. وَيُقَاسُ عَلَيْهِ مَا إِذَا نَوَى رَكْعَتَيْنِ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَزِيدَ عَلَيْهِمَا.
وَفِي حَوَاشِي التُّحْفَةِ لِلسَّيِّدِ عُمَرَ الْبَصْرِيِّ مَا نَصُّهُ: وَهَلْ لَهُ أَنْ يَنْوِيَ بِغَيْرِ عَدَدٍ ثُمَّ يَفْعَلَ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا؟ مُقْتَضَى مَا مَرَّ فِي الْوِتْرِ: نَعَمْ، وَلَيْسَ بِبَعِيدٍ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ. ثُمَّ رَأَيْتُ الْمُحَشِّيَ قَالَ: فَرْعٌ: يَجُوزُ أَنْ يُطْلِقَ فِي سُنَّةِ الظُّهْرِ الْمُتَقَدِّمَةِ مَثَلًا، وَيَتَخَيَّرُ بَيْنَ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعٍ. اهـ.
وَقَوْلُهُ: بِنِيَّةِ الْوَصْلِ لَا فَائِدَةَ فِيهِ بَعْدَ قَوْلِهِ: أَحْرَمَ بِسُنَّةِ الظُّهْرِ الْأَرْبَعِ.
(قَوْلُهُ: وَإِنْ نَوَاهُ) أَيْ الْفَصْلَ قَبْلَ النَّقْصِ، أَيْ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ بِالْفِعْلِ.
(قَوْلُهُ: خِلَافًا لِمَنْ وَهِمَ فِيهِ) أَيْ فِيمَا إِذَا أَحْرَمَ بِسُنَّةِ الظُّهْرِ الْأَرْبَعِ فَقَالَ إِنَّهُ يَجُوزُ السَّلَامُ مِنْ رَكْعَتَيْنِ.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/249]
(وَإِذَا نَوَى) قَدْرًا فِي النَّفْلِ الْمُطْلَقِ (عَدَدًا) أَوْ رَكْعَةً (فَلَهُ أَنْ يَزِيدَ) عَلَى مَا نَوَاهُ (وَ) أَنْ (يَنْقُصَ) عَنْهُ فِي غَيْرِ الرَّكْعَةِ كَمَا هُوَ مَعْلُومٌ، وَلَعَلَّ هَذَا هُوَ الْحَامِلُ لِلْمُصَنِّفِ، عَلَى التَّعْبِيرِ بِالْعَدَدِ إذْ الرَّكْعَةُ لَا تَدْخُلُ فِي كَلَامِهِ، لِأَنَّ الْوَاحِدَةُ لَا تُسَمَّى عَدَدًا إذْ الْعَدَدُ عِنْدَ جُمْهُورِ الْحُسَّابِ مَا سَاوَى نِصْفَ مَجْمُوعِ حَاشِيَتَيْهِ الْقَرِيبَتَيْنِ أَوْ الْبَعِيدَتَيْنِ عَلَى السَّوَاءِ. نَعَمْ الْعَدَدُ عِنْدَ النُّحَاةِ مَا وُضِعَ لِكَمِّيَّةِ الشَّيْءِ فَالْوَاحِدُ عِنْدَهُمْ عَدَدٌ فَيَدْخُلُ فِيهِ الرَّكْعَةُ، وَإِنَّمَا يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ (بِشَرْطِ تَغْيِيرِ النِّيَّةِ قَبْلَهُمَا) أَيْ الزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ إذْ لَا حَصْرَ لِلنَّفْلِ الْمُطْلَقِ كَمَا مَرَّ. نَعَمْ الْمُتَيَمِّمُ إذَا رَأَى الْمَاءَ فِي أَثْنَاءِ عَدَدٍ نَوَاهُ لَيْسَ لَهُ زِيَادَةٌ كَمَا عُلِمَ فِي بَابِ التَّيَمُّمِ (وَإِلَّا) أَيْ وَإِنْ لَمْ يُغَيِّرْ النِّيَّةَ قَبْلَهُمَا (فَتَبْطُلُ) الصَّلَاةُ بِذَلِكَ؛ لِأَنَّ الزِّيَادَةَ الَّتِي أَتَى بِهَا لَمْ تَشْمَلْهَا نِيَّتُهُ.
[Mughni Al Muhtaaj I/462]
وَأَمَّا النَّفْلُ الْمُطْلَقُ فَهُوَ مَا لَا يَتَقَيَّدُ بِوَقْتٍ وَلَا سَبَبٍ. قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الصَّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ، اسْتَكْثِرْ أَوْ أَقِلَّ". فَإِنْ نَوَى فَوْقَ رَكْعَةٍ وَلَمْ يُعَيِّنْ قَدْرًا فَلهُ الِاقْتِصَارُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَلَهُ الزِّيَادَةُ عَلَيْهِمَا مَا شَاءَ. وَإِذَا عَيَّنَ قَدْرًا فَلهُ الزِّيَادَةُ عَلَيْهِ وَلَهُ النَّقْصُ عَنْهُ بِالنِّيَّةِ فِيهِمَا وَإِلَّا بَطَلَ
[Nihaayah Az Zain Halaman 118]
(وَلَهُ) فِيهِ إِذَا أَحْرَمَ بِعَدَدٍ (أَنْ يَزِيدَ) عَلَى مَا نَوَاهُ فِي غَيْرِ مُتَيَمِّمٍ رَأَى الْمَاءَ أَثْنَاءَهُ (وَ) أَنْ (يَنْقُصَ) إِنْ كَانَ أَكْثَرَ مِنْ رَكْعَةٍ (بِشَرْطِ تَغْيِيرِ النِّيَّةِ قَبْلَ ذَلِكَ) أَيْ: قَبْلَ الزِّيَادَةِ وَالنَّقْصِ.
فَلَوْ نَوَى أَرْبَعًا وَسَلَّمَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ، أَوْ قَامَ لِخَامِسَةٍ قَبْلَ تَغْيِيرِ النِّيَّةِ .. بَطَلَتْ صَلَاتُهُ إِنْ عَلِمَ وَتَعَمَّدَ، فَلَوْ قَامَ لِزَائِدَةٍ سَهْوًا أَوْ جَهْلًا، ثُمَّ تَذَكَّرَ أَوْ عَلِمَ .. قَعَدَ وُجُوبًا، ثُمَّ إِنْ شَاءَ .. اسْتَمَرَّ عَلَى مَا نَوَاهُ أَوَّلًا، وَتَشَهَّدَ وَسَلَّمَ، وَإِنْ أَرَادَ الزِّيَادَةَ .. قَامَ إِلَيْهَا، وَسُنَّ لَهُ سُجُودُ السَّهْوِ فِي الصُّورَتَيْنِ؛ لِلزِّيَادَةِ سَهْوًا أَوْ جَهْلًا.
[Busyral Kariim I/118]
أَوْ نَوَى قَدْرًا فَلَهُ زِيَادَةٌ وَنَقْصٌ إِنْ نُوِيَا قَبْلَهُمَا وَإِلَّا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ. فَلَوْ نَوَى رَكْعَتَيْنِ فَقَامَ إِلَى ثَالِثَةٍ سَهْوًا ثُمَّ تَذَكَّرَ فَيَقْعَدُ وُجُوبًا، ثُمَّ يَقُومُ لِلزِّيَادَةِ إِنْ شَاءَ ثُمَّ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ آخِرَ صَلَاتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَشَأْ قَعَدَ وَتَشَهَّدَ وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ وَسَلَّمَ.
(قَوْلُهُ: أَوْ نَوَى قَدْرًا) أَيْ عَدَدًا مُعَيَّنًا. وَلَوْ حَذَفَهُ وَقَالَ: "وَلَهُ زِيَادَةٌ وَنَقْصٌ" عَطْفًا عَلَى قَوْلِهِ "فَلَهُ التَّشَهُّدُ" لَكَانَ أَوْلَى. لِأَنَّ الْعَطْفَ يَقْتَضِي أَنَّ نِيَّتَهُ قَدْرًا مُغَايِرًا لِنِيَّتِهِ فَوْقَ رَكْعَةٍ، مَعَ أَنَّهُ عَيَّنَهُ ثُمَّ ظَهَرَ أَنَّهُ لَيْسَ عَيْنَهُ بَلْ هُوَ أَعَمُّ مِنْهُ، لِأَنَّ نِيَّتَهُ قَدْرًا صَادِقٌ بِرَكْعَةٍ وَبِأَكْثَرَ، بِخِلَافِ نِيَّتِهِ فَوْقَ رَكْعَةٍ فَإِنَّهُ خَاصٌّ بِمَا زَادَ عَلَيْهَا. فَتَنَبَّهْ.
(وَقَوْلُهُ: إِنْ نُوِيَا) أَيِ الزِّيَادَةُ وَالنَّقْصُ. (وَقَوْلُهُ: قَبْلَهُمَا) أَيْ لِلزِّيَادَةِ وَالنَّقْصِ، وَهُوَ عَلَى التَّوْزِيعِ. أَيْ نَوَى الزِّيَادَةَ قَبْلَ الْإِتْيَانِ بِهَا، وَنَوَى النَّقْصَ قَبْلَ أَنْ يَشْرَعَ فِيهِ، كَأَنْ نَوَى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَبْلَ السَّلَامِ نَوَى الزِّيَادَةَ فَقَامَ وَأَتَى بِهَا، أَوْ نَوَى أَرْبَعًا عِنْدَ رَفْعِ رَأْسِهِ مِنَ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ نَوَى الِاقْتِصَارَ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، فَإِنَّهُ يَصِحُّ ذَلِكَ، بِخِلَافِ مَا لَوْ فَعَلَ الزِّيَادَةَ قَبْلَ أَنْ يَنْوِيَهَا أَوْ فَعَلَ النَّقْصَ قَبْلَ أَنْ يَنْوِيَهُ فَإِنَّهُ يُبْطِلُ الصَّلَاةَ.
وَعِبَارَةُ الرَّوْضِ وَشَرْحِهِ: فَإِنْ نَوَى أَرْبَعًا وَسَلَّمَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ أَوْ مِنْ رَكْعَةٍ، أَوْ قَامَ إِلَى خَامِسَةٍ عَامِدًا قَبْلَ تَغْيِيرِ النِّيَّةِ، بَطَلَتْ صَلَاتُهُ لِمُخَالَفَتِهِ مَا نَوَاهُ بِغَيْرِ نِيَّةٍ، لِأَنَّ الزِّيَادَةَ صَلَاةٌ ثَانِيَةٌ فَتَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ. وَلِهَذَا لَوْ كَانَ الْمُصَلِّي مُتَيَمِّمًا وَرَأَى الْمَاءَ لَمْ يَجُزْ لَهُ الزِّيَادَةُ. اهـ.
(قَوْلُهُ: وَإِلَّا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَنْوِهِمَا قَبْلَهُمَا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، أَيْ إِنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا.
(قَوْلُهُ: فَلَوْ نَوَى رَكْعَتَيْنِ إلخ) تَفْرِيعٌ عَلَى قَوْلِهِ وَإِلَّا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ. وَهُوَ كَالتَّقْيِيدِ لَهُ، فَكَأَنَّهُ قَالَ: مَحَلُّ الْبُطْلَانِ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ عَمْدًا، فَإِنْ كَانَ سَهْوًا بِأَنْ قَامَ مَنْ نَوَى رَكْعَتَيْنِ لِثَالِثَةٍ سَهْوًا فَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ، لَكِنْ يَجِبُ عَلَيْهِ عِنْدَ التَّذَكُّرِ أَنْ يَقْعَدَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ الزِّيَادَةَ نَوَاهَا وَقَامَ.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/269]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘿𝙞𝙨𝙠𝙪𝙨𝙞:
