2101. 𝗧𝗔𝗥𝗜𝗞𝗛 : 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗕 𝗪𝗔𝗙𝗔𝗧𝗡𝗬𝗔 𝗦𝗔𝗬𝗬𝗜𝗗𝗜𝗡𝗔 𝗛𝗔𝗦𝗔𝗡 𝗕𝗜𝗡 𝗔𝗟𝗜 𝗖𝗨𝗖𝗨 𝗥𝗔𝗦𝗨𝗟𝗨𝗟𝗟𝗔𝗛 ﷺ

(Foto: Facebook)

Pertanyaan:
Assalamu alaikum para syaikh khusus nya syaikh ismidar, maaf saya mau nanya apakah benar cucu rosululloh sayyidina Hasan wafat nya di beri racun oleh orang terdekat nya? Alasan nya kenapa diberi racun oleh orang terdekat nya?Mohon ibarot nya🙏
[𝗔𝗯𝗱𝘂𝗹 𝗔𝘇𝗶𝘇]

Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Berdasarkan pernyataan para Ulama tidak terkecuali Ulama Syafi'iyah dan lainnya termasuk Ahli hadits memang sebab wafat Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib cucu Rasulullah ﷺ memang disebabkan oleh racun. Berdasarkan pernyataan tersebut pula orang yang terakhir meracuni beliau sampai menjemput ajalnya adalah orang terdekat beliau Yaitu istri beliau sendiri yaitu Ja'dah binti al-Asy'ats. Adapun alasannya berdasarkan suruhan Yazid bin Muawiyah yang berjanji akan menikahi si Ja'dah, walaupun akhirnya Yazid bin Muawiyah tidak jadi menikahinya. Namun, penyebutan ikut campur Yazid bin Muawiyah yang dilakukan si istri sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib ditolak oleh Imam Al Hafidz Ibnu Katsir yang beliau nyatakan sebagai riwayat yang tidak Shahih, meskipun demikian Ulama lain banyak mengutip riwayat tersebut.

تُوُفِّيَ الْحَسَنُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- بِالْمَدِيْنَةِ مَسْمُوْمًا، سَمَّتْهُ زَوْجَتُهُ جَعْدَةُ بِنْتُ الْأَشْعَثِ بْنِ قَيْسٍ، دَسَّ إِلَيْهَا يَزِيْدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ أَنْ تَسُمَّهُ فَيَتَزَوَّجَهَا، فَفَعَلَتْ، فَلَمَّا مَاتَ الْحَسَنُ بَعَثَتْ إِلَى يَزِيْدَ تَسْأَلُهُ الْوَفَاءَ بِمَا وَعَدَهَا، فَقَالَ: إِنَّا لَمْ نَرْضَكِ لِلْحَسَنِ أَفَنَرْضَاكِ لِأَنْفُسِنَا؟ وَكَانَتْ وَفَاتُهُ سَنَةَ تِسْعٍ وَأَرْبَعِيْنَ، وَقِيْلَ: فِي خَامِسِ رَبِيْعٍ الْأَوَّلِ سَنَةَ خَمْسِيْنَ، وَقِيْلَ: سَنَةَ إِحْدَى وَخَمْسِيْنَ، وَجَهَدَ بِهِ أَخُوْهُ أَنْ يُخْبِرَهُ بِمَنْ سَقَاهُ، فَلَمْ يُخْبِرْهُ، وَقَالَ: اللهُ أَشَدُّ نِقْمَةً إِنْ كَانَ الَّذِيْ أَظُنُّ، وَإِلَّا فَلَا يُقْتَلُ بِي وَاللهِ بَرِيْءٌ.
“Al-Hasan —semoga Allah meridhainya— wafat di Madinah karena diracun. Istrinya, Ja'dah binti al-Asy'ats bin Qais, yang meracuninya. Yazid bin Muawiyah mengirim pesan rahasia kepadanya agar dia meracuni Al-Hasan, dengan janji Yazid akan menikahinya maka ia pun melakukannya. Setelah Al-Hasan wafat, Ja'dah mengirim pesan kepada Yazid menagih janji yang pernah diucapkan. Yazid menjawab: "Kami saja tidak meridhaimu untuk Al-Hasan, lantas apakah kami akan meridhaimu untuk diri kami sendiri". Wafatnya beliau terjadi pada tahun 49 Hijriah. Ada pula yang berpendapat pada tanggal 5 Rabiul Awwal tahun 50 Hijriah, dan pendapat lain mengatakan tahun 51 Hijriah. Saudara beliau (Husain) telah berupaya keras membujuknya agar memberitahu siapa yang telah memberinya racun, namun Al-Hasan tetap tidak mau memberitahunya.Beliau berkata: "Allah lebih dahsyat pembalasan-Nya jika memang benar orang yang aku curigai itu pelakunya. Jika bukan dia, maka jangan sampai ada orang yang terbunuh (dihukum) karena aku, demi Allah, ia tidak bersalah”.”
[As Suyuthi, Tarikh Al Khulafaa' Halaman 147]

ابْنُ عُلَيَّةَ: عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، عَنْ عُمَيْرِ بنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى الحَسَنِ بنِ عَلِيٍّ نَعُوْدُهُ، فَقَالَ لِصَاحِبِي: يَا فُلاَنُ! سَلْنِي. ثُمَّ قَامَ مِنْ عِنْدِنَا، فَدَخَلَ كَنِيْفاً، ثُمَّ خَرَجَ، فَقَالَ: إِنِّيْ -وَاللهِ - قَدْ لَفظْتُ طَائِفَةً مِنْ كَبِدِي قَلَبْتُهَا بِعُوْدٍ، وَإِنِّي قَدْ سُقِيْتُ السُّمَّ مِرَاراً، فَلَمْ أُسْقَ مِثْلَ هَذَا. فَلَمَّا كَانَ الغَدُ، أَتيتُهُ وَهُوَ يَسُوْقُ، فَجَاءَ الحُسَيْنُ، فَقَالَ: أَيْ أَخِي! أَنْبِئنِي مَنْ سَقَاكَ? قَالَ: لِمَ! لِتَقْتُلَهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا أَنَا مُحدِّثُكَ شَيْئاً، إِنْ يَكُنْ صَاحِبِي الَّذِي أَظُنُّ، فَاللهُ أَشَدُّ نِقْمَةً، وَإِلاَّ - فَوَاللهِ - لاَ يُقتلُ بِي بَرِيْءٌ. -إلى أن قال- قَالَ قَتَادَةُ: قَالَ الحَسَنُ لِلْحُسَيْنِ: قَدْ سُقِيْتُ السُّمَّ غَيرَ مَرَّةٍ، وَلَمْ أُسْقَ مِثْلَ هَذِهِ، إِنِّيْ لأَضعُ كَبِدِي. فَقَالَ: مَنْ فَعَلَهُ؟ فَأَبَى أَنْ يُخْبِرَهُ.
“Ibnu 'Ulayyah meriwayatkan dari Ibnu 'Aun, dari 'Umair bin Ishaq, ia berkata: "Kami menemui al-Hasan bin Ali untuk menjenguknya. Beliau berkata kepada temanku: 'Wahai Fulan, bertanyalah kepadaku.' Kemudian beliau bangkit dari hadapan kami dan masuk ke kamar mandi, lalu keluar kembali dan berkata: 'Demi Allah, sungguh aku telah memuntahkan potongan hatiku yang aku bolak-balik dengan sebatang kayu. Aku telah berkali-kali diberi minum racun, namun tidak pernah diberi racun yang sedahsyat ini.'

Keesokan harinya, aku mendatanginya kembali saat beliau dalam keadaan sakaratul maut. Lalu datanglah al-Husain dan bertanya: 'Wahai saudaraku, beritahukanlah kepadaku siapa yang memberimu minum racun?' Al-Hasan bertanya: 'Untuk apa? Apakah untuk kau bunuh?' Al-Husain menjawab: 'Ya.' Al-Hasan berkata: 'Aku tidak akan memberitahumu sedikit pun. Jika benar orang yang aku duga (pelakunya), maka Allah jauh lebih keras pembalasan-Nya. Namun jika bukan dia pelakunya, maka demi Allah, jangan sampai ada orang yang tidak bersalah terbunuh karena aku.'"

-Sampai ungkapan penulis - Qatadah meriwayatkan: "Al-Hasan berkata kepada al-Husain: 'Aku telah diberi minum racun bukan hanya sekali, namun aku belum pernah diberi racun seperti ini. Sungguh aku (seperti) mengeluarkan hatiku.' Al-Husain bertanya: 'Siapa yang melakukannya?' Namun al-Hasan enggan memberitahunya".”
[Adz Dzahabi, Siyar A'lam An Nubalaa', III/273-274]
 
قَالَ الوَاقِدِيُّ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ حَسَنٍ، قَالَ: كَانَ الحَسَنُ كَثِيْرَ النِّكَاحِ، وَقَلَّ مَنْ حَظِيَتْ عِنْدَهُ، وَقَلَّ مَنْ تَزَوَّجَهَا إِلاَّ أَحبَّتْهُ، وَصَبَتْ بِهِ. فَيُقَالُ: إِنَّهُ كَانَ سُقِيَ، ثُمَّ أُفْلِتَ، ثُمَّ سُقِيَ فَأُفْلِتَ، ثُمَّ كَانَتِ الآخِرَةُ، وَحَضرَتْهُ الوَفَاةُ، فَقَالَ الطَّبِيْبُ: هَذَا رَجُلٌ قَدْ قَطَعَ السُّمُّ أَمْعَاءهُ. وَقَدْ سَمِعْتُ بَعضَ مَنْ يَقُوْلُ: كَانَ مُعَاوِيَةُ قَدْ تَلَطَّفَ لِبَعضِ خَدَمِهِ أَنْ يَسْقِيَهُ سُمّاً.

أَبُو عَوَانَةَ: عَنْ مُغِيْرَةَ، عَنْ أُمِّ مُوْسَى: أَنَّ جَعْدَةَ بِنْتَ الأَشْعَثِ بنِ قَيْسٍ، سَقَتِ الحَسَنَ السُّمَّ، فَاشْتَكَى، فَكَانَ تُوضَعُ تَحْتَهُ طِشْتٌ، وَتُرفَعُ أُخْرَى نَحْواً مِنْ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً.
“Al-Waqidi berkata: Abdullah bin Ja'far menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Hasan, ia berkata: "Al-Hasan adalah orang yang sering menikah, namun sedikit wanita yang tetap tinggal (lama) bersamanya. Dan tidaklah seorang wanita menikahinya melainkan ia pasti mencintai dan terpikat kepadanya. Dikatakan bahwa beliau pernah diberi minum racun namun selamat, kemudian diberi lagi dan selamat, hingga akhirnya pada pemberian yang terakhir beliau wafat. Saat ajal menjelang, tabib yang merawatnya berkata: 'Lelaki ini telah terputus usus-ususnya akibat racun'. Aku (Abdullah bin Hasan) juga mendengar sebagian orang berkata bahwa Muawiyah telah membujuk secara halus sebagian pelayan al-Hasan untuk memberinya minum racun.

Abu 'Awanah meriwayatkan dari Mughirah, dari Ummu Musa: "Bahwasanya Ja'dah binti al-Asy'ats bin Qais memberi minum racun kepada al-Hasan. Akibatnya, beliau jatuh sakit parah. Selama kurang lebih empat puluh hari, sebuah baskom diletakkan di bawahnya (untuk menampung muntahan/darah) dan baskom lainnya diangkat (setelah penuh)".”
[Adz Dzahabi, Siyar A'lam An Nubalaa', III/274-275]

وَقَالَ أَبُو بَكْرِ بْنِ أَبِي الدُّنْيَا، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بن صالح العتكي ومحمد؟ ؟ عُثْمَانَ الْعِجْلِيُّ قَالَا: ثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنِ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ عُمَيْرِ بْنِ إِسْحَاقَ. قَالَ: دخلت أنا ورجل آخر مِنْ قُرَيْشٍ عَلَى الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ فَقَامَ فَدَخَلَ الْمَخْرَجَ ثمَّ خَرَجَ فَقَالَ: لَقَدْ لَفَظْتُ طَائِفَةً مِنْ كَبِدِي أُقَلِّبُهَا بِهَذَا الْعُودِ، وَلَقَدْ سُقِيتُ السُّمَّ مِرَارًا وَمَا سُقِيتُ مَرَّةً هِيَ أَشَدُّ مِنْ هَذِهِ. قَالَ: وَجَعَلَ يَقُولُ لِذَلِكَ الرَّجُلِ: سَلْنِي قَبْلَ أَنْ لَا تَسْأَلَنِي، فَقَالَ مَا أَسْأَلُكَ شَيْئًا يُعَافِيكَ اللَّهُ، قَالَ: فَخَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ عُدْنَا إِلَيْهِ مِنَ الْغَدِ. وَقَدْ أَخَذَ فِي السُّوقِ فَجَاءَ حُسَيْنٌ حَتَّى قَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ: أَيْ أَخِي! مَنْ صَاحِبُكَ؟ قَالَ: تُرِيدُ قَتْلَهُ، قَالَ: نَعَمْ! قَالَ لَئِنْ كَانَ صَاحِبَيِ الَّذِي أَظُنُّ لَلَّهُ أَشَدُّ نِقْمَةً. وَفِي رِوَايَةٍ: فَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْهُ مَا أُحِبُّ أَنْ تَقْتُلَ بِي بَرِيئًا.

وَرَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ عَنْ ابن عَوْنٍ. وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ الْوَاقِدِيُّ: حدَّثني عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أُمِّ بَكْرٍ بنت المسور. قالت: الْحَسَنُ سُقِيَ مِرَارًا كُلُّ ذَلِكَ يُفْلِتُ مِنْهُ، حَتَّى كَانَتِ الْمَرَّةُ الْآخِرَةُ الَّتِي مَاتَ فِيهَا فَإِنَّهُ كَانَ يَخْتَلِفُ كَبِدُهُ، فَلَمَّا مَاتَ أَقَامَ نِسَاءُ بَنِي هَاشِمٍ عَلَيْهِ النَّوْحَ شَهْرًا. 
“Abu Bakar bin Abi ad-Dunya berkata: Abdurrahman bin Shalih al-'Ataki dan Muhammad bin Utsman al-'Ijli menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari Ibnu 'Aun, dari 'Umair bin Ishaq, ia berkata: "Aku dan seorang laki-laki lain dari kaum Quraisy menemui al-Hasan bin Ali. Beliau bangkit lalu masuk ke kamar kecil, kemudian keluar dan berkata: 'Sungguh aku telah memuntahkan potongan hatiku, aku membolak-balikkannya dengan kayu ini. Aku telah berkali-kali diberi minum racun, namun tidak pernah aku diberi (racun) yang lebih berat daripada yang kali ini'. Umair berkata: Al-Hasan terus berkata kepada laki-laki (Quraisy) tersebut: 'Bertanyalah kepadaku sebelum engkau tidak bisa lagi bertanya kepadaku.' Laki-laki itu menjawab: 'Aku tidak ingin menanyakan apa pun padamu, semoga Allah memberikanmu kesembuhan'. Kami pun keluar dari kediamannya, lalu kembali lagi menjenguknya keesokan harinya. Saat itu beliau sudah dalam keadaan sakaratul maut (ya-khudzu fis-suuq). Al-Husain datang lalu duduk di dekat kepalanya dan bertanya: 'Wahai saudaraku! Siapa orang yang melakukan ini padamu (siapa pelakunya)?' Al-Hasan bertanya: 'Apakah engkau ingin membunuhnya?' Al-Husain menjawab: 'Ya!' Al-Hasan berkata: 'Jika pelakunya adalah orang yang aku duga, maka Allah jauh lebih keras pembalasan-Nya'. Dalam riwayat lain disebutkan: 'Maka Allah jauh lebih hebat kekuatan-Nya dan lebih pedih siksaan-Nya'. Diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Sa'ad dari Ibnu 'Ulayyah, dari Ibnu 'Aun. Dan Muhammad bin Umar al-Waqidi berkata: Abdullah bin Ja'far menceritakan kepadaku, dari Ummu Bakar binti al-Miswar, ia berkata: "Al-Hasan telah berkali-kali diracun dan semuanya berhasil selamat, hingga pada kali terakhir yang menyebabkan kematiannya. Saat itu hatinya sampai terpotong-potong (keluar dalam bentuk gumpalan). Ketika beliau wafat, wanita-wanita dari Bani Hasyim mengadakan masa berkabung (meratap) untuknya selama satu bulan".”
[Ibnu Katsir, Al Bidaayah Wa An Nihaayah, VIII/46-47]

قَالَ الْوَاقِدِيُّ: وحدثني عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَسَنٍ قَالَ: كَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ كَثِيرَ نِكَاحِ النِّسَاءِ، وَكَانَ قَلَّ مَا يَحْظَيْنَ عنده، وكان قل امرأة تزوجها إلا أحبته وضنت به، فيقال أنه كان سُقي سماً، ثُمَّ أَفْلَتَ، ثُمَّ سُقي فَأَفْلَتَ ثُمَّ كَانَتِ الْآخِرَةُ تُوُفِّيَ فِيهَا، فَلَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ الطبيب وهو يختلف إليه: هذا رجل قَطَّعَ السُّمُّ أَمْعَاءَهُ، فَقَالَ الْحُسَيْنُ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَخْبِرْنِي مَنْ سَقَاكَ؟ قَالَ: وَلِمَ يَا أَخِي؟ قَالَ: أَقْتُلُهُ وَاللَّهِ قَبْلَ أَنْ أَدْفِنَكَ ولا أَقْدِرَ عَلَيْهِ أَوْ يَكُونُ بِأَرْضٍ أَتَكَلَّفُ الشُّخُوصَ إِلَيْهِ.

فَقَالَ: يَا أَخِي إِنَّمَا هَذِهِ الدُّنْيَا لَيَالٍ فَانِيَةٌ، دَعْهُ حَتَّى أَلْتَقِيَ أَنَا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ، وَأَبَى أَنْ يُسَمِّيَهُ.

وَقَدْ سَمِعْتُ بَعْضَ مِنْ يَقُولُ: كَانَ مُعَاوِيَةُ قَدْ تَلَطَّفَ لِبَعْضِ خَدَمِهِ أَنْ يَسْقِيَهُ سُمًّا.

قَالَ مُحَمَّدُ بن سعد: وأنا يحيى بن حمال أَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أُمِّ مُوسَى أَنْ جَعْدَةَ بِنْتَ الْأَشْعَثِ بْنِ قَيْسٍ سَقَتِ الْحَسَنَ السُّمَّ فَاشْتَكَى مِنْهُ شَكَاةً، قَالَ فكان يوضع تحت طشت وَيُرْفَعُ آخَرُ نَحْوًا مِنْ أَرْبَعِينَ يَوْمًا.

وَرَوَى بَعْضُهُمْ أَنَّ يَزِيدَ بْنَ مُعَاوِيَةَ بَعْثَ إِلَى جَعْدَةَ بِنْتِ الْأَشْعَثِ أَنْ سُمِّي الْحَسَنَ وَأَنَا أَتَزَوَّجُكِ بَعْدَهُ، فَفَعَلَتْ، فَلَمَّا مَاتَ الْحَسَنُ بَعَثَتْ إِلَيْهِ فَقَالَ: إِنَّا وَاللَّهِ لَمْ نَرْضَكِ لِلْحَسَنِ أَفَنَرْضَاكِ لِأَنْفُسِنَا؟ وَعِنْدِي أَنَّ هَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ، وَعَدَمُ صِحَّتِهِ عَنْ أَبِيهِ مُعَاوِيَةَ بِطَرِيقِ الْأُولَى والأحرى...
“Al-Waqidi berkata: Abdullah bin Ja'far menceritakan kepadaku dari Abdullah bin Hasan, ia berkata: "Al-Hasan bin Ali adalah pria yang banyak menikahi wanita, namun sedikit sekali wanita yang menetap lama di sisinya. Hampir tidak ada wanita yang ia nikahi melainkan wanita itu pasti mencintai dan sangat menyayanginya. Dikatakan bahwa beliau pernah diracun lalu selamat, kemudian diracun lagi dan selamat, hingga pada pemberian yang terakhir beliau wafat. Saat ajal menjemputnya, tabib yang datang menjenguknya berkata: 'Lelaki ini, racun telah memotong-motong ususnya.' Al-Husain bertanya: 'Wahai Abu Muhammad (kunyah al-Hasan), beritahukanlah kepadaku siapa yang memberimu racun?' Al-Hasan bertanya balik: 'Untuk apa, wahai saudaraku?' Al-Husain menjawab: 'Demi Allah, aku akan membunuhnya sebelum aku menguburkanmu, atau jika aku tidak sanggup (saat ini) atau ia berada di negeri yang jauh, aku akan memaksakan diri untuk mendatangi tempatnya.' Al-Hasan pun berkata: 'Wahai saudaraku, dunia ini hanyalah malam-malam yang fana. Biarkanlah dia sampai aku dan dia bertemu di sisi Allah.' Dan beliau enggan menyebutkan namanya.
Aku (perawi) juga mendengar sebagian orang berkata: Bahwa Muawiyah telah membujuk secara halus sebagian pelayan al-Hasan untuk memberinya minum racun". 

Muhammad bin Sa'ad berkata: Yahya bin Hamal mengabarkan kepada kami, Abu 'Awanah mengabarkan kepada kami dari al-Mughirah dari Ummu Musa:
"Bahwasanya Ja'dah binti al-Asy'ats bin Qais memberi minum racun kepada al-Hasan, sehingga beliau jatuh sakit akibat racun tersebut. Ummu Musa berkata: 'Sebuah baskom (untuk menampung gumpalan darah/muntah) diletakkan di bawahnya dan baskom lainnya diangkat (setelah penuh), hal itu berlangsung selama kurang lebih empat puluh hari.'". Sebagian orang meriwayatkan bahwa Yazid bin Muawiyah mengirim pesan kepada Ja'dah binti al-Asy'ats: 'Racunilah al-Hasan, maka aku akan menikahimu setelahnya.' Ja'dah pun melakukannya. Ketika al-Hasan wafat, Ja'dah menagih janji tersebut kepada Yazid, namun Yazid menjawab:
'Demi Allah, kami tidak rida engkau menjadi istri al-Hasan, lantas apakah kami akan rida engkau menjadi istri bagi kami?'. Namun menurutku (Imam Al Hafidz Ibnu Katsir) riwayat ini tidaklah sahih. Dan ketidaksahihannya atas ayahnya (Muawiyah) lebih utama dan lebih jelas lagi”.
[Ibnu Katsir, Al Bidaayah Wa An Nihaayah, VIII/47]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Link Diskusi:

Komentari

Lebih baru Lebih lama