(Foto: Media Indonesia)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum, asatidz rahimakumullah
يُسْتَحَبُّ لِكُلِّ مَنْ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ خَارِجَ الصَّلَاةِ أَنْ يَقُولَ عَقِبَ فَرَاغِهِ مِنْهَا آمِينَ، بِالْمَدِّ أَوِ الْقَصْرِ بِلَا تَشْدِيدِ فِيهِمَا.
*Menukil dari Ar Raudhah
Saya mau bertanya, maksud dari kalimat فِيهِمَا itu bagaimana? Merujuk pada apa?
Jazaakumullah Khairan
[𝗔𝗵𝗺𝗮𝗱 𝗦𝗮𝗶𝗳𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Dhamir فِيهِمَا merujuk lafadz بِالْمَدِّ أَوِ الْقَصْرِ. Yakni: Menurut Imam Nawawi cara membaca Aamiin bisa dengan cara mad yaitu membaca panjang Huruf Alif atau atau tidak dengan cara panjang tapi pendek bunyi Alifnya sehingga bila dituliskan "Aamin", keduanya boleh dilakukan tapi baik membaca Mad atau tanpa mad tapi tanpa MENTASYDIDKAN huruf Mim-nya, itulah yang sebenarnya maksud ungkapan imam Nawawi tersebut. Sehingga lengkapnya 👇
فَرْعٌ: يُسْتَحَبُّ لِكُلِّ مَنْ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ خَارِجَ الصَّلَاةِ أَنْ يَقُولَ عَقِبَ فَرَاغِهِ مِنْهَا آمِينَ، بِالْمَدِّ أَوِ الْقَصْرِ بِلَا تَشْدِيدِ فِيهِمَا.
“Cabang Bahasan: Dianjurkan bagi setiap orang yang membaca surat Al Fatihah ketika shalat atau diluar shalat mengucapkan setelah rampung dari Al Fatihah Aamiin dengan mad atau dengan pendek dengan tanpa mentasydidkan pada keduanya (mad atau pendek)”.
[Raudhah At Thaalibiin I/247]
Adapun bila membaca Aamiin dengan cara mentasydidkan huruf Mim-nya maka menurut kebanyakan Ulama Syafi'iyah shalatnya batal karena kalau Mim-nya dibaca Tasydid bermakna orang yang menuju sehingga bila tidak bermaksud menuju kepada Allah shalatnya dihukumi batal. Namun, bila bermaksud menuju kepada Allah shalatnya tidak batal. Demikian pula bila tidak bermaksud apa-apa yakni hanya sekedar membaca menurut pendapat yang dianggap Mu'tamad oleh Syeikh Al Bajuri shalatnya tidak batal tapi yang diterangkan Syeikh Bakri Syatha Dimyathi shalatnya batal bila tidak bermaksud apa-apa, dan beliau menegaskan bahwa itulah yang ditegaskan dalam kitab Tuhfah (karya Syekh Ibnu Hajar Al Haitami). Maka oleh karena itu, seyogyanya bila tetap membaca Tasydid Huruf Mim-nya harus berniat menuju kepada Allah atau berniat doa walaupun beserta makna aslinya dan jangan sampai tidak bermaksud apa-apa demi menghindari khilaf Ulama yang ada yang berpendapat batal shalatnya bila tanpa bermaksud apa-apa.
Menurut Syeikh Al Bajuri cara membaca Aamiin dengan mentasydidkan huruf Mim-nya dibenarkan meskipun menurut Imam Ramli cara membaca seperti itu termasuk lahan atau lahnun atau kesalahan membaca bahkan Syeikh Nawawi al-Bantani Mengutip pernyataan Imam Nawawi cara membaca demikian termasuk Gharib (asing/aneh) menurut Mayoritas Ulama dan segolongan Ulama Syafi'iyah menganggap cara membaca demikian termasuk Lahnun atau kelahan membaca orang Awam. Karenanya seyogyanya kita menghindari membaca demikian dan bila seandainya misalnya ada seorang imam membaca begitu tidak mengapa kita melakukan mufaraqah demi bersikap berhati-hati karena bisa saja Imam itu tidak bermaksud doa atau tidak bermaksud menuju kepada Allah atau tidak bermaksud apa-apa.
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي التِّبْيَانِ: يُسْتَحَبُّ لِكُلِّ قَارِئٍ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِي غَيْرِهَا إِذَا فَرَغَ مِنَ الْفَاتِحَةِ أَنْ يَقُولَ: آمِينَ. وَفِي "آمِينَ" أَرْبَعُ لُغَاتٍ، قَالَ الْعُلَمَاءُ: أَفْصَحُهَا "آمِينَ" بِالْمَدِّ وَتَخْفِيفِ الْمِيمِ، وَالثَّانِيَةُ بِالْقَصْرِ (أَمِينَ)، وَهَاتَانِ مَشْهُورَتَانِ. وَالثَّالِثَةُ "آمِينَ" بِالْإِمَالَةِ مَعَ الْمَدِّ، حَكَاهُ الْوَاحِدِيُّ عَنْ حَمْزَةَ وَالْكِسَائِيِّ. وَالرَّابِعَةُ: تَشْدِيدُ الْمِيمِ مَعَ الْمَدِّ (آمِّينَ)، حَكَاهُ الْوَاحِدِيُّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ بْنِ الْفَضْلِ، قَالَ: وَيُحَقِّقُ ذٰلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ جَعْفَرَ الصَّادِقِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ مَعْنَاهُ: قَاصِدِينَ نَحْوَكَ وَأَنْتَ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ تُخَيِّبَ قَاصِدًا. هٰذَا كَلَامُ الْوَاحِدِيِّ. وَهٰذِهِ الرَّابِعَةُ غَرِيبَةٌ جِدًّا وَقَدْ عَدَّهَا أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ مِنْ لَحْنِ الْعَوَّامِ. قَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا: مَنْ قَالَهَا فِي الصَّلَاةِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ.
“Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Tibyan: Disunnahkan bagi setiap pembaca (Al-Qur'an), baik di dalam shalat maupun di luar shalat, apabila telah selesai membaca Al-Fatihah untuk mengucap: Amin.
Mengenai kata "Amin", terdapat empat dialek (cara baca):
1. Mad (Panjang di awal) dan meringankan Mim (Tanpa tasydid): Āmīn. Para ulama berkata ini adalah yang paling fasih.
2. Al-Qashr (Pendek di awal): Amīn. Dua cara ini adalah yang paling masyhur.
3. Imalah beserta Mad: Memiringkan bunyi harakat, diriwayatkan oleh Al-Wahidi dari Hamzah dan Al-Kisa'i.
4. Tasydid pada Mim beserta Mad: Āmmīn. Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dari Al-Hasan dan Al-Husain bin Al-Fadhl. Beliau berkata: Hal ini diperkuat oleh riwayat dari Ja'far Ash-Shadiq radhiyallahu 'anhu bahwa maknanya adalah: "Kami menuju kepada-Mu, dan Engkau Maha Mulia untuk mengecewakan orang yang menuju kepada-Mu." Ini adalah perkataan Al-Wahidi.
Cara keempat ini sangat asing (gharib) dan mayoritas ulama menganggapnya sebagai kesalahan bahasa orang awam (lahn al-awam). Segolongan ulama dari kalangan madzhab kami (Syafi'i) berkata: Barangsiapa mengucapkannya (dengan tasydid) di dalam shalat, maka shalatnya batal”.
[Kaasyifah As Sajaa Fii Syarh Safiinah An Najaa Halaman 71-72]
(قَوْلُهُ: وَيُسَنُّ تَأْمِينٌ) أَيْ لِقَارِئِهَا فِي الصَّلَاةِ وَخَارِجِهَا. وَاخْتُصَّ بِالْفَاتِحَةِ لِشَرَفِهَا وَاشْتِمَالِهَا عَلَى دُعَاءٍ، فَنَاسَبَ أَنْ يُسْأَلَ اللهُ إِجَابَتَهُ.
(قَوْلُهُ: وَالْمَدُّ) أَيْ أَوِ الْقَصْرُ. وَحُكِيَ التَّشْدِيدُ مَعَ الْقَصْرِ أَوْ الْمَدِّ، وَمَعْنَاهَا حِينَئِذٍ: قَاصِدِينَ. فَتَبْطُلُ الصَّلَاةُ مَا لَمْ يُرِدْ: قَاصِدِينَ إِلَيْكَ وَأَنْتَ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ تُخَيِّبَ مَنْ قَصَدَكَ، فَلَا تَبْطُلُ، لِتَضَمُّنِهِ الدُّعَاءَ. وَلَوْ لَمْ يَقْصِدْ شَيْئًا أَصْلًا بَطَلَتْ، كَمَا صَرَّحَ بِهِ فِي التُّحْفَةِ.
“(Perkataan Pengarang "Disunnahkan Ta'min/mengucap Amin") Yakni bagi pembaca Al-Fatihah di dalam shalat maupun di luarnya. Pengucapan Amin dikhususkan pada surat Al-Fatihah karena kemuliaan surat tersebut dan karena kandungannya yang memuat doa, sehingga sangat sesuai untuk memohon kepada Allah agar mengabulkannya.
(Perkataan Pengarang "Al-Mad") Yakni (boleh juga) Al-Qashr (pendek). Diriwayatkan pula cara baca tasydid (pada Mim) baik dibaca pendek atau panjang, yang mana maknanya saat itu berubah menjadi: "Orang-orang yang menuju/bermaksud". Maka shalatnya menjadi batal, kecuali jika ia (saat membaca Āmmīn dengan tasydid) bermaksud: "Kami menuju kepada-Mu dan Engkau Maha Mulia untuk mengecewakan orang yang menuju kepada-Mu". Jika berniat demikian, shalatnya tidak batal karena mengandung unsur doa. Namun jika ia tidak memaksudkan apa pun sama sekali (hanya sekadar bacaan), maka shalatnya batal sebagaimana ditegaskan dalam kitab At-Tuhfah”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/147]
(قَوْلُهُ: وَالتَّأْمِينُ) هُوَ وَالسُّورَةُ سُنَّتَانِ لَاحِقَتَانِ بِالْفَاتِحَةِ كَمَا أَنَّ الْاِفْتِتَاحَ وَالتَّعَوُّذَ سُنَّتَانِ سَابِقَتَانِ، فَلَهَا سُنَّتَانِ سَابِقَتَانِ وَسُنَّتَانِ لَاحِقَتَانِ. قَوْلُهُ: (أَيْ قَوْلُ آمِينَ) تَفْسِيرٌ لِلتَّأْمِينِ، يُقَالُ: أَمَّنَ الرَّجُلُ إِذَا قَالَ: آمِينَ، بِمَدِّ الْهَمْزَةِ وَتَخْفِيفِ الْمِيمِ مَعَ الْإِمَالَةِ وَعَدَمِهَا، وَبِالْقَصْرِ لَكِنَّ الْمَدَّ أَفْصَحُ. وَيَجُوزُ تَشْدِيدُ الْمِيمِ مَعَ الْمَدِّ وَالْقَصْرِ فَفِيهِ خَمْسُ لُغَاتٍ. وَجَعَلَ الرَّمْلِيُّ التَّشْدِيدَ لَحْنًا قَالَ: وَقِيلَ شَاذٌّ مُنْكَرٌ لَكِنْ لَا تَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ إِلَّا إِنْ قَصَدَ بِهِ مَعْنَاهَا الْأَصْلِيَّ وَحْدَهُ وَهُوَ "قَاصِدِينَ" بِخِلَافِ مَا لَوْ قَصَدَ الدُّعَاءَ وَلَوْ مَعَ مَعْنَاهَا الْأَصْلِيِّ، أَوْ أَطْلَقَ فَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ حِينَئِذٍ.
“(Perkataan Pengarang "Dan Ta'min") Ta'min (mengucap Amin) dan membaca surat (setelah Fatihah) adalah dua sunnah yang mengikuti Fatihah (لاحقة), sebagaimana doa Iftitah dan Ta'awudz adalah dua sunnah yang mendahului Fatihah (سابقة). Maka Fatihah memiliki dua sunnah sebelumnya dan dua sunnah sesudahnya.
(Perkataan Pengarang "Yaitu ucapan Amin") Ini adalah tafsir bagi kata "Ta'min". Dikatakan: Ammana ar-rajulu apabila seseorang mengucapkan "Amin" dengan memanjangkan hamzah (Mad) serta meringankan Mim (tanpa tasydid), baik dengan cara Imalah (memiringkan bunyi) atau tidak, dan juga boleh dengan cara Qashr (pendek), namun cara Mad adalah yang paling fasih. Boleh juga membaca tasydid pada huruf Mim disertai Mad maupun Qashr, sehingga total ada lima dialek cara baca. Imam Ar-Ramli menganggap bacaan tasydid sebagai kesalahan bahasa (lahn). Beliau berkata: "Dikatakan bahwa itu adalah bacaan yang syadz (asing) dan mungkar, namun tidak membatalkan shalat kecuali jika ia sengaja hanya memaksudkan makna aslinya saja, yaitu 'Orang-orang yang menuju'. Berbeda jika ia memaksudkan doa (meskipun dibarengi makna aslinya) atau jika ia mutlak (tidak memaksudkan apa pun), maka shalatnya tidak batal menurut pendapat yang kuat (Al-Mu'tamad)”
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Ibnu Qasiim I/168
(وَ) يُسَنُّ -وَلَوْ خَارِجَ الصَّلَاةِ، وَفِيهَا آكَدُ سَوَاءٌ الْإِمَامُ وَالْمُنْفَرِدُ وَالْمَأْمُومُ لِقِرَاءَتِهِ وَقِرَاءَةِ إِمَامِهِ الَّذِي سَمِعَ مِنْ آخِرِ فَاتِحَتِهِ جُمْلَةً مُفِيدَةً- (التَّأْمِينُ) أَيْ: قَوْلُ آمِينَ، بِمَعْنَى اسْتَجِبْ، مُخَفَّفَةَ الْمِيمِ مَعَ الْمَدِّ أَفْصَحُ مِنْهُ مَعَ الْقَصْرِ، فَإِنْ شَدَّدَ الْمِيمَ عَلَى مَعْنَى: قَاصِدِينَ إِلَيْكَ يَا رَبُّ وَأَنْتَ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ تُخَيِّبَ قَاصِدًا .. لَمْ يَضُرَّ، وَإِلَّا .. بَطَلَتْ صَلَاتُهُ.
“(Dan) disunnahkan —meskipun di luar shalat, dan di dalam shalat hukumnya lebih ditekankan (akkad), baik bagi imam, orang yang shalat sendirian (munfarid), maupun makmum yang membaca sendiri atau mendengar bacaan imamnya yang telah selesai membaca akhir Fatihah secara sempurna— untuk melakukan (Ta'min). Ta'min yaitu mengucapkan "Amin" yang bermakna "Kabulkanlah". Mim-nya dibaca ringan (tanpa tasydid); membacanya dengan Mad (panjang di awal) lebih fasih daripada dengan Qashr (pendek). Jika seseorang membaca tasydid pada huruf Mim dengan memaksudkan makna: "Kami menuju kepada-Mu wahai Tuhan, dan Engkau Maha Mulia untuk mengecewakan orang yang menuju kepada-Mu", maka hal itu tidak membahayakan (shalat tetap sah). Namun jika tidak (berniat demikian), maka batal shalatnya”.
[Busyral Kariim I/76]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
