2068. 𝐇𝐔𝐊𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐑𝐈𝐊𝐀𝐍 𝐙𝐀𝐊𝐀𝐓 𝐊𝐄𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐀𝐍𝐀𝐊 𝐒𝐄𝐍𝐃𝐈𝐑𝐈

Foto: YouTube 


Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz .. 
Apakah boleh zakat fitrah dan semacam nya itu di berikan KPD anak nya sendiri ..? 

(Anaknya berupa kiai masjid dan tergolong orng yg gak punya )
[kadal kejepit]

Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Sudah banyak kali saya sebutkan bahwa Kyai, Ustadz dan sebagainya dari pemuka agama tidak termasuk penerima zakat Berpijak pada pendapat yang kuat. Karena Berpijak pada pendapat tersebut Sabilillah hanyalah orang yang berperang menegakkan agama Allah tanpa bayaran. Meskipun ada sebagian pendapat sebagaimana dinuqil Imam Al Qaffal yg memasukkan penyuluh agama termasuk Sabilillah. Oleh karena itu, Berpijak pada pendapat yang kuat si Kyai tidak boleh menerima zakat.

Adapun kaitannya orang tua memberikan Zakat kepada anaknya sendiri harus dibedakan antara anaknya itu wajib ia nafkahi atau tidak wajib ia nafkahi. Bila ternyata anaknya tidak wajib ia nafkahi seperti karena sudah dewasa (baligh) dan mampu bekerja sendiri, kalau pun orang tua memberikan semacam nafkah bukanlah sebagai kewajiban hanya sebagai 𝐓𝐚𝐛𝐚𝐫𝐫𝐮'. Pada kondisi ini boleh orang tua memberikan zakat kepada anaknya walaupun dengan predikat Faqir miskin jika anaknya tergolong keduanya atau salah satunya. Ini juga termasuk orang yang wajib dinafkahi tapi nafkahnya jauh dari kecukupan maka boleh juga si orang tua memberikan zakat kepada anaknya sekedar kebutuhan kurangnya nafkah tersebut. Lain halnya dengan si anak tadi wajib dinafkahi orang tuanya seperti anaknya belum dewasa, termasuk pula tidak mampu bekerja karena sakit, dll, atau terhalang bekerja seperti karena sedang mencari ilmu dan tidak bisa bekerja maka boleh memberikan Zakat kepada anaknya walaupun dengan predikat Faqir miskin. Adapun bila anak tersebut wajib dinafkahi maka tetap boleh memberikan Zakat kepada anaknya selain dengan predikat keduanya seperti Mustahik zakat yang lain bila si anak termasuk Mustahik zakat.

بغية المسترشدين صـــــــــ ١٠٦ المكتبة الحرمين 
(مَسْأَلَةٌ ب ك) يَجُوزُ دَفْعُ زَكَاتِهِ لِوَلَدِهِ الْمُكَلَّفِ بِشَرْطِهِ إِذْ لَا تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ وَلِإِتْمَامِهَا عَلَى الرَّاجِحِ ، وَإِنْ كَانَ فَقِيراً ذَا عَيْلَةٍ ، وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ تَبَرُّعاً ، بِخِلَافِ مَنْ لَا يَسْتَقِلُّ بِنَفْسِهِ كَصَبِيٍّ وَعَاجِزٍ عَنِ الْكَسْبِ بِمَرَضٍ أَوْ زَمَانَةٍ أَوْ عَمًى لِوُجُوبِ نَفَقَتِهِ عَلَى الْوَالِدِ ، فَلَا يُعْطِيهِ الْمُنْفِقُ قَطْعاً وَلَا غَيْرُهُ عَلَى الرَّاجِحِ ، حَيْثُ كَفَتْهُ نَفَقَةُ الْمُنْفِقِ ، وَإِلَّا كَأَكُولٍ لَمْ يَكْفِهِ مَا يُعْطَاهُ فَيَجُوزُ أَخْذُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ ، وَمِثْلُهُ فِي ذَلِكَ الزَّوْجَةُ ، وَكَالزَّكَاةِ كُلُّ وَاجِبٍ كَالْكَفَّارَةِ
“(Masalah: Ba, Kaf) Boleh memberikan zakat kepada anak yang sudah mukallaf (baligh dan berakal) dengan syarat-syaratnya, karena (pada dasarnya) sang ayah tidak wajib lagi menanggung nafkahnya, serta untuk menyempurnakan nafkah tersebut menurut pendapat yang rajih (kuat), meskipun anak tersebut fakir dan memiliki tanggungan keluarga, sementara sang ayah memberikan nafkah kepadanya hanya sebagai bentuk kerelaan (tabarru'). Berbeda halnya dengan anak yang tidak mandiri, seperti anak kecil (shabiy) atau orang yang tidak mampu bekerja karena sakit, lumpuh, atau buta. Hal ini dikarenakan nafkah mereka wajib ditanggung oleh orang tuanya. Maka orang yang menanggung nafkah tersebut secara pasti (qath’an) dilarang memberikan zakat kepadanya. Demikian pula orang lain (selain ayah) tidak boleh memberinya zakat menurut pendapat yang rajih, sekiranya nafkah dari penanggungnya sudah mencukupi. Kecuali jika nafkahnya tidak mencukupi—seperti anak yang makannya sangat banyak sehingga apa yang diberikan kepadanya tidak cukup—maka ia boleh mengambil zakat sesuai kadar yang dibutuhkannya. Ketentuan ini juga berlaku bagi istri. Hukum yang berlaku pada zakat ini juga berlaku pada setiap kewajiban lain, seperti kafarat”
[Bughyah Al Mustarsyidiin Halaman 106]

حاشية الباجوري على ابن قاسم الجـــــــــزء الأول صـــــــــ ٢٨٥-٢٨٦ المكتبة نور العلم سورابايا 
(وَمَنْ تَلْزَمُ الْمُزَكِّيَ نَفَقَتُهُ لَا يَدْفَعُهَا) أَيِ الزَّكَاةَ (إِلَيْهِمْ بِاسْمِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ). وَيَجُوزُ دَفْعُهَا إِلَيْهِمْ بِاسْمِ كَوْنِهِمْ غُزَاةً وَغَارِمِينَ مَثَلًا.
(قَوْلُهُ: لَا يَجُوزُ دَفْعُهَا إِلَيْهِمْ) أَيْ وَلَا يُجْزِئُ أَيْضاً، وَالظَّاهِرُ عَوْدُ الضَّمِيرِ فِي «إِلَيْهِمْ» إِلَى مَنْ تَلْزَمُ الْمُزَكِّيَ نَفَقَتُهُمْ -إِلَى أَنْ قَالَ- وَقَوْلُهُ: بِاسْمِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ أَيْ بِاعْتِبَارِ كَوْنِهِمْ يُسَمَّوْنَ بِاسْمِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ؛ لِعَدَمِ تَسْمِيَتِهِمْ بِاسْمِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ لِغِنَاهُمْ بِنَفَقَتِهِ عَلَيْهِمْ، وَهَذَا قَيْدٌ خَرَجَ بِهِ دَفْعُهَا إِلَيْهِمْ بِاسْمِ غَيْرِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ مِنْ بَقِيَّةِ الْأَصْنَفِ إِذَا كَانُوا مِنْهُمْ كَمَا أَشَارَ إِلَيْهِ الشَّارِحُ بِقَوْلِهِ: وَيَجُوزُ دَفْعُهَا إِلَيْهِمْ بِاسْمِ كَوْنِهِمْ غُزَاةً أَوْ غَارِمِينَ مَثَلًا أَيْ أَوْ عَامِلِينَ أَوْ مُؤَلَّفِينَ أَوْ مُسَافِرِينَ، نَعَمِ الْمَرْأَةُ لَا تَكُونُ عَامِلَةً وَلَا غَازِيَةً كَمَا فِي الرَّوْضَةِ.
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Ibnu Qasiim I/285-286]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: Ismidar Abdurrahman As Sanusi)

Link Diskusi:

Artikel terkait 👇 

Komentari

Lebih baru Lebih lama