(Foto: Facebook)
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum wr wb
Apakah sholat tarawih hanya di lakukan berjamaah atau boleh sendirian.?
Minta Refrensi dalil dan kitab🙏
[𝐅𝐢𝐢1278]
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Dalil dari keterangan kitab Ulama Madzhab Syafi'i bisa melihat disini 👇
𝐓𝐀𝐌𝐁𝐀𝐇𝐀𝐍
Berikut dalil hadits dan pemaparan Salah seorang Ulama yang tidak asing lagi didengar telinga dan disebutkan dalam tulisan yaitu Syeikh Al Bajuri terkait sejarah tarawih pada masa Rasulullah ﷺ, Sampai masa Khalifah 4 setelah peninggalan beliau. Inti dari dalil yang disebutkan oleh Syeikh Bajuri adalah kebolehan Shalat tarawih dengan sendiri bahkan tetap Disunahkan dan juga sunah dengan berjamaah sebagaimana pada zaman ini. Sebab dulu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengimami shalat tarawih Hanya 8 raka'at dan sisanya sampai 20 raka'at beliau mencukupkan dikerjakan di rumah beliau dan juga diikuti oleh para sahabat juga mencukupkan bilangan 20 raka'at dirumah mereka masing-masing. Juga pelaksanaan shalat tarawih setelah peninggalan Nabi ﷺ ada yang melakukan secara sendiri-sendiri dan adapula diimami oleh sekelompok kecil masing-masing dan para wanita pun ada dipimpin oleh seorang wanita sebagai imam. Sampai akhirnya, pada Pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab beliau menyatukan jama'ah tarawih para sahabat di menurut sejarah diimami oleh Ubay bin Ka'ab. Perbuatan Sayyidina Umar bin Khattab itu disambut baik oleh Sayyidina Utsman bin Affan, sampai-sampai beliau berungkap "Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana ia telah menerangi masjid-masjid kita". Perbuatan Sayyidina Umar tersebut kemudian menjadi pegangan Madzhab Syafi'i dan umumnya Ulama Ahlussunah Wal Jama'ah Bahwa tidak semua amaliyah tidak dikerjakan oleh Baginda Nabi ﷺ di cap sebagai bid'ah yang tercela apalagi haram sebagaimana tuduhan orang-orang sekarang. Sejarah tarawih yang disebutkan dalam hadits itu pun tidak bisa dijadikan sandaran orang yang berpendapat pada zaman Nabi shalat tarawih Hanya 8 raka'at karena terbukti penjabaran Ulama termasuk Syeikh Bajuri bahwa sisanya sampai genap 20 raka'at disempurnakan dirumah tidak Mutlak 8 raka'at saja. Berikut ini pemaparan Syeikh Bajuri 👇
قَوْلُهُ: (وَالثَّالِثُ) أَيْ مِنَ النَّوَافِلِ الثَّلَاثِ الْمُؤَكَّدَاتِ. قَوْلُهُ: (صَلَاةُ التَّرَاوِيحِ) أَيْ وَلَوْ فُرَادَى، وَتُسَنُّ الْجَمَاعَةُ فِيهَا وَفِي الْوِتْرِ بَعْدَهَا -إِلَى أَنْ قَالَ- وَقَدْ وَرَدَ فِي فَضْلِهَا آثَارٌ شَهِيرَةٌ مِنْهَا مَا وَرَدَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: "أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فِي رَمَضَانَ وَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى النَّاسُ بِصَلَاتِهِ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ بِذَلِكَ، وَكَثُرَ النَّاسُ فِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ فَصَلَّى وَصَلَّوا بِصَلَاتِهِ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الثَّالِثَةُ كَثُرَ النَّاسُ حَتَّى ضَاقَ الْمَسْجِدُ عَلَى أَهْلِهِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ. فَلَمَّا صَلَّى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ، وَقَالَ لَهُمْ: (إِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمْ اللَّيْلَةَ، وَلَكِنْ خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا). ثُمَّ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ وَصَدْرِ خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، ثُمَّ جَمَعَ عُمَرُ الرِّجَالَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَالنِّسَاءَ عَلَى سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ، وَلِذَلِكَ قَالَ عُثْمَانُ فِي خِلَافَتِهِ: (نَوَّرَ اللَّهُ قَبْرَ عُمَرَ كَمَا نَوَّرَ مَسَاجِدَنَا). وَمُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَهُمْ لَيْلَتَيْنِ فَقَطْ، وَالْمَشْهُورُ أَنَّهُ خَرَجَ لَهُمْ ثَلَاثَ لَيَالٍ، وَهِيَ لَيْلَةُ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَخَمْسٍ وَعِشْرِينَ وَسَبْعٍ وَعِشْرِينَ، وَلَمْ يَخْرُجْ لَهُمْ لَيْلَةَ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ. وَإِنَّمَا لَمْ يَخْرُجْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْوَلَاءِ رِفْقًا بِهِمْ. وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، لَكِنْ كَانَ يُكْمِلُهَا عِشْرِينَ فِي بَيْتِهِ، وَكَانَتِ الصَّحَابَةُ تُكْمِلُهَا كَذَلِكَ فِي بُيُوتِهِمْ بِدَلِيلِ أَنَّهُ كَانَ يُسْمَعُ لَهُمْ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ النَّحْلِ، وَإِنَّمَا لَمْ يُكْمِلْ بِهِمُ الْعِشْرِينَ فِي الْمَسْجِدِ شَفَقَةً عَلَيْهِمْ.
“(Perkataan Pengarang "Dan yang ketiga") Yakni bagian dari tiga shalat sunnah yang sangat dianjurkan (muakkad).
(Perkataan Pengarang "Shalat tarawih") Yakni (tetap disunnahkan) meskipun dilakukan secara sendirian (furada). Namun disunnahkan berjamaah di dalamnya dan dalam shalat Witir sesudahnya.
- Sampai Ungkapan beliau -
Sungguh telah diriwayatkan mengenai keutamaannya riwayat-riwayat yang masyhur, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha: Bahwasanya Rasulullah ﷺ keluar di tengah malam pada bulan Ramadhan dan shalat di masjid, lalu orang-orang bermakmum dengan shalat beliau. Keesokan harinya orang-orang membicarakan hal itu, sehingga jumlah jamaah bertambah banyak pada malam kedua dan mereka shalat bersama beliau. Pada malam ketiga, jamaah semakin banyak hingga masjid tidak lagi muat menampung orang-orang, namun beliau tidak keluar menemui mereka (untuk Tarawih) sampai beliau keluar untuk shalat Subuh. Usai shalat Subuh, beliau menghadap mereka dan bersabda: Sesungguhnya kondisi kalian semalam tidaklah tersembunyi bagiku (aku mengetahuinya), namun aku khawatir shalat malam ini akan diwajibkan atas kalian sehingga kalian tidak sanggup melaksanakannya.'
Kemudian Rasulullah ﷺ wafat dan urusannya tetap demikian (Tarawih dilakukan sendiri-sendiri atau kelompok kecil) pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan awal kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhuma. Kemudian Umar menyatukan jamaah laki-laki di bawah pimpinan (imam) Ubay bin Ka'ab, dan jamaah wanita di bawah pimpinan Sulaiman bin Abi Hatsmah. Karena itulah, Utsman berkata pada masa kekhalifahannya: 'Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana ia telah menerangi masjid-masjid kita'.
Konsekuensi dari hadits ini adalah bahwa Nabi ﷺ keluar menemui mereka hanya dua malam saja, namun pendapat yang masyhur adalah beliau keluar selama tiga malam, yaitu malam ke-23, 25, dan 27. Beliau tidak keluar pada malam ke-29. Nabi ﷺ tidak keluar (menemui jamaah) secara berturut-turut adalah karena bentuk kelembutan beliau kepada mereka. Beliau mengimami mereka sebanyak delapan rakaat, namun beliau menyempurnakannya menjadi dua puluh rakaat di rumah beliau. Para sahabat pun menyempurnakannya (menjadi 20 rakaat) di rumah-rumah mereka, dengan bukti bahwa terdengar dari rumah mereka suara dengungan seperti dengungan lebah (suara tadarus/shalat). Beliau tidak menyempurnakan 20 rakaat bersama mereka di masjid hanyalah karena rasa kasih sayang beliau kepada mereka (agar tidak dianggap wajib)”
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Ibnu Qasiim I/134-135]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
Link Diskusi:
