2095. 𝗔𝗗𝗔𝗕 : 𝗔𝗗𝗔𝗕 𝗠𝗘𝗟𝗘𝗧𝗔𝗞𝗞𝗔𝗡 𝗕𝗘𝗕𝗘𝗥𝗔𝗣𝗔 𝗞𝗜𝗧𝗔𝗕 𝗗𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗔𝗗𝗜𝗞𝗔𝗡 𝗞𝗜𝗧𝗔𝗕 𝗧𝗘𝗥𝗧𝗘𝗡𝗧𝗨 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗚𝗔𝗜 𝗔𝗟𝗔𝗦

(Foto: pngtree)


(مَسْأَلَةٌ): نَقَلَ ابْنُ الْمُلَقِّنِ عَنِ الْحَنَّاطِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ جَعْلُ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فِي كَاغِدٍ كُتِبَ فِيهِ الْبَسْمَلَةُ وَجَرَى عَلَيْهِ الْمُزَجَّدُ. وَقَالَ السَّمْهُودِيُّ: وَيُرَاعَى الْأَدَبُ فِي وَضْعِ الْكُتُبِ بِاعْتِبَارِ عُلُومِهَا وَشَرَفِهَا وَمُصَنِّفِيهَا وَجَلَالَتِهِمْ، فَيَضَعُ الْأَشْرَفَ أَعْلَى، ثُمَّ عَلَى التَّدْرِيجِ، فَيُقَدِّمُ الْمُصْحَفَ، ثُمَّ الْحَدِيثَ الصِّرْفَ كَصَحِيحِ مُسْلِمٍ، ثُمَّ تَفْسِيرَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ تَفْسِيرَ الْحَدِيثِ، ثُمَّ أُصُولَ الدِّينِ، ثُمَّ أُصُولَ الْفِقْهِ، ثُمَّ الْفِقْهَ، ثُمَّ النَّحْوَ. فَإِنِ اسْتَوَى كِتَابَانِ فِي فَنٍّ وَاحِدٍ أَعْلَى أَكْثَرَهُمَا قُرْآنًا أَوْ حَدِيثًا، فَإِنِ اسْتَوَيَا فَبِجَلَالَةِ الْمُصَنِّفِ. وَقَدْ أَفْتَى بَعْضُ الْمَشَايِخِ بِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ وَضْعُ كِتَابٍ مِنْ كُتُبِ الشَّرْعِ لِيَضَعَ عَلَيْهِ كِتَابًا آخَرَ يُطَالِعُهُ أَوْ يَقْرَؤُهُ لِمَا فِيهِ مِنَ الِامْتِهَانِ لِلْعِلْمِ.
“(Masalah) : Ibnu al-Mulaqqin menukil dari al-Hannath bahwasanya tidak diperbolehkan meletakkan emas atau perak di dalam kertas (kaghid) yang bertuliskan Bismillah; dan pendapat ini juga diikuti oleh al-Muzajjad. As-Samhudi berkata: "Hendaknya menjaga adab dalam meletakkan kitab-kitab berdasarkan jenis ilmunya, kemuliaannya, serta keagungan para penyusunnya. Maka, kitab yang paling mulia diletakkan di posisi paling atas, kemudian secara bertahap ke bawah. Urutannya adalah:
1.Mushaf (Al-Qur'an) diletakkan paling depan/atas.
2.Hadis murni (seperti Shahih Muslim).
3.Tafsir Al-Qur'an.
4.Syarah (Tafsir) Hadis.
5.Ushuluddin (Akidah/Tauhid). 6.Ushul Fiqh.
7.Fiqh.
8.Nahwu

Jika ada dua kitab dalam bidang ilmu yang sama, maka yang lebih tinggi adalah yang lebih banyak memuat ayat Al-Qur'an atau hadis. Jika keduanya masih setara, maka dilihat dari keagungan pengarangnya. Sebagian guru telah berfatwa bahwa tidak diperbolehkan menjadikan salah satu kitab syariat sebagai alas/tumpuan untuk meletakkan kitab lain yang sedang ditelaah atau dibaca, karena hal tersebut termasuk bentuk penghinaan (imtihan) terhadap ilmu”
[Ghaayah Talkhish Al Muraad Min Fatawa Ibn Ziyaad Fii Hamisy Bughyah Halaman 83]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Link Asal:

Komentari

Lebih baru Lebih lama