2076. 𝐏𝐔𝐀𝐒𝐀 𝐑𝐀𝐌𝐀𝐃𝐇𝐀𝐍 𝐈𝐊𝐔𝐓 𝐍𝐔 𝐋𝐄𝐁𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐈𝐊𝐔𝐓 𝐌𝐔𝐇𝐀𝐌𝐌𝐀𝐃𝐈𝐘𝐀𝐇, 𝐁𝐎𝐋𝐄𝐇𝐊𝐀𝐇?

(Foto: Muslim.or.id)

Pertanyaan:
Assalamualaikum kyai Afwan mau bertanya, hukum orang yang berpuasa mengikuti NU, namun lebaran nya ikut Muhammadiyah karena didaerah tersebut kebanyakannya Muhammadiyah, bagaimana??🙏
[+62 831-4717-1353]

Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Tidak boleh dia ikut Muhammadiyah bahkan melakukan pengumuman yang menyelisihi pemerintah tersebut hukumnya haram.

[س]: مَا حُكْمُ إِعْلَانِ أَوَّلِ رَمَضَانَ أَوْ شَوَّالَ عَلَى عُمُومِ الْمُسْلِمِينَ بِالْحِسَابِ لِلْمُحَاسِبِ أَوْ مَنْ صَدَّقَهُ قَبْلَ إِثْبَاتِ الْحَاكِمِ وَقَبْلَ إِعْلَانِ وِزَارَةِ الدِّينِيَّةِ، هَلْ هُوَ جَائِزٌ أَمْ لَا؟. [فَرْعُ بَايُو وَاغِي].

[ج]: إِنَّ إِثْبَاتَ أَوَّلِ رَمَضَانَ أَوْ شَوَّالَ بِالْحِسَابِ لَا يُوجَدُ مِنَ الْأَحَادِيثِ أَوِ الْآثَارِ شَيْءٌ، وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَمَنْ بَعْدَهُ مِنَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ لَا يُثْبِتُونَهُ بِالْحِسَابِ، وَإِنَّ أَوَّلَ مَنْ أَجَازَ الْإِثْبَاتَ بِالْحِسَابِ هُوَ مُطَرِّفُ بْنُ الشِّخِّيرِ شَيْخُ الْإِمَامِ الْبُخَارِيِّ. وَأَمَّا إِعْلَانُ الْإِثْبَاتِ قَبْلَ إِعْلَانِ وِزَارَةِ الدِّينِيَّةِ الَّذِي يُؤَدِّي إِلَى الْفَوْضَى وَاخْتِلَافِ الْكَلِمَةِ فَهُوَ حَرَامٌ.
“[Pertanyaan]:
Apa hukum mengumumkan awal Ramadan atau Syawal kepada khalayak umum umat Islam berdasarkan hitungan ahli hisab (al-muhasib) atau orang yang membenarkannya, sebelum adanya penetapan dari Hakim (pemerintah) dan sebelum pengumuman Kementerian Agama? Apakah hal itu diperbolehkan atau tidak? (Pertanyaan dari cabang Banyuwangi).

[Jawaban]:
Sesungguhnya mengenai penetapan awal Ramadan atau Syawal dengan menggunakan hitungan (hisab), tidak ditemukan satu pun dasar dari hadis-hadis maupun atsar (perkataan sahabat). Dan sesungguhnya Rasulullah ﷺ serta orang-orang setelah beliau dari kalangan Khulafaur Rasyidin tidak menetapkannya dengan hisab.

Adapun orang pertama yang memperbolehkan penetapan dengan hisab adalah Mutarrif bin asy-Syikhir, guru dari Imam al-Bukhari.

Sedangkan mengenai mengumumkan penetapan (hisab tersebut) sebelum adanya pengumuman dari Kementerian Agama yang mana hal itu dapat menyebabkan kekacauan (al-fawdha) dan perpecahan suara (di tengah masyarakat), maka hukumnya adalah HARAM”
[Ahkamul Fuqaha', Solusi Problematika Umat, Lembaga Bahtsul Masail Nu, Halaman 9, Nomor: 274, Cet. Menara Kudus]

وَفِي آخِرِ الشَّهْرِ أَيْ شَهْرِ رَمَضَانَ تَصُومُ جَمَاعَةٌ وَتُعَيِّدُ أُخْرَى فَهَذَا وَضْعٌ غَيْرُ مَقْبُولٍ، فَمِنَ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ أَنَّ حُكْمَ الْحَاكِمِ أَوْ قَرَارَ وَلِيِّ الْأَمْرِ يَرْفَعُ الْخِلَافَ فِي الْأُمُورِ الْمُخْتَلَفِ فِيهَا.
“Dan di akhir bulan (yaitu bulan Ramadhan), jika ada satu kelompok masyarakat yang masih berpuasa sementara kelompok lainnya sudah berhari raya (Idul Fitri), maka ini adalah kondisi yang tidak dapat diterima. Sebab, termasuk hal yang telah disepakati (konsensus ulama) adalah bahwa keputusan Hakim (Pemerintah) atau ketetapan Pemimpin (Waliyyul Amri) dapat menghilangkan perbedaan pendapat dalam masalah-masalah yang di dalamnya terdapat perselisihan (ijtihad)”
[Fiqh As Syiyaam Li Yusuf Al Qardhawi Halaman 32, Cet. Dar Al Wafa]

قَوْلُهُ (الْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ) وَفِي رِوَايَةِ التِّرْمِذِيِّ «الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ» وَالظَّاهِرُ أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْلٌ وَلَيْسَ لَهُمُ التَّفَرُّدُ فِيهَا بَلِ الْأَمْرُ فِيهَا إِلَى الْإِمَامِ وَالْجَمَاعَةِ وَيَجِبُ عَلَى الْآحَادِ اتِّبَاعُهُمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَةِ وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَدٌ الْهِلَالَ وَرَدَّ الْإِمَامُ شَهَادَتَهُ يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُتَ فِي حَقِّهِ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَعَ الْجَمَاعَةَ فِي ذَلِكَ
“Maksud dari sabda Nabi ﷺ: (Hari raya Idulfitri adalah hari di mana kalian semua berbuka/berlebaran), dan dalam riwayat Imam At-Tirmidzi disebutkan: 'Puasa itu adalah hari di mana kalian semua berpuasa'. Makna yang tampak (zhahir) dari hadis ini adalah: bahwa urusan-urusan ini (penentuan awal puasa dan lebaran) bukanlah hak bagi individu perorangan (al-ahad) untuk ikut campur di dalamnya, dan tidak boleh bagi mereka untuk menyendiri (berbeda sendiri) dalam hal tersebut. Melainkan, urusan dalam hal ini dikembalikan kepada Imam (Pemimpin/Pemerintah) dan Jamaah (umat secara luas/institusi resmi). Wajib bagi individu-individu perorangan untuk mengikuti ketaatan mereka kepada Imam dan Jamaah. Berdasarkan prinsip ini, maka apabila ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun kemudian Imam (pemerintah) menolak kesaksiannya, maka sepatutnya tidak berlaku (ketetapan hukum) apa pun atas dirinya terkait urusan-urusan tersebut (puasa/lebaran), dan wajib baginya untuk tetap mengikuti jamaah (keputusan resmi pemerintah) dalam masalah itu”
[Hasyiyah As Sindi Ala Sunan Ibnu Majah I/509]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Link Diskusi:

Artikel terkait 👇 

Komentari

Lebih baru Lebih lama