2075. 𝐇𝐔𝐊𝐔𝐌 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐓 𝐋𝐀𝐈𝐋𝐀𝐓𝐔𝐋 𝐐𝐀𝐃𝐀𝐑

(Foto: RRI)


Pertanyaan:
Kiayi di suatu daerah jika bertepatan tanggal ganjil, selalu d adakan salat lailatul qadar saya mohon penjelasannya serta redaksinya
[+62 898-4990-161]

Jawaban:
Shalat Lailatul Qadar secara khusus seperti dengan niat dan bacaan khusus merupakan amaliyah dari ulama Sufi atau juga ahli tarekat, orang Shaleh dan semisal mereka. Jenis shalat seperti itu sangat jarang disebutkan dalam ranah fiqih terkhusus fiqih Syafi'iyah. Hal ini terbukti disebagian kitab Mu'tabar Syafi'iyah dari kitab yang berjilid tebal/besar hingga kitab matan yang ringkas di pembahasan shalat sunah tidak ada mencantumkan jenis shalat ini, kalaupun ada anjuran khusus atau Disunahkan tentunya ada mereka masukkan ke pembahasan shalat sunah. Perbedaan mendasar antara Ulama Sufi, Thaariqah dan Makrifat dengan Ahli Fiqih bahwa selain Ahli fiqih dari yang disebutkan itu menilai Kutipan hadits dari dasar shalat tidak mesti berlandaskan pada hasil yang kokoh kedudukannya dan hadits tersebut kadang didapati dari penuturan para Ulama Shaleh yang merupakan kandungan Fadhail (keutamaan) yang didalamnya mengandung keutamaan melakukan ibadah. Lain halnya dengan Ahli Fiqih; kesunahan suatu ibadah atau dianjurkan adalah berdasarkan hadits yang dapat dijadikan sandaran baik kualitasnya Shahih minimal Dha'if dan hadits Dha'if boleh dijadikan amalan dengan berbagai syaratnya sedangkan hadits yang sangat Dha'if dan bahkan maudhu' tidak boleh dijadikan sandaran dalam beramal.

Adapun shalat Lailatul Qadar secara khusus walaupun para ulama sufi dan kitab Ala Sufi mencantumkan hadits maka haditsnya selalu tidak didapati sanad apalagi rawi sehingga dapat dikatakan setelah dicek hadits tersebut tidak dikenal dan tidak didapati dalam Kitab hadits Mu'tabar dan sering kali diklaim hadits yang dusta atas nama Rasulullah ﷺ. Umpamanya disebutkan dalam kitab Durratun Nashihin berikut 👇 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ مَرَّةً وَالْإِخْلَاصِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، فَإِذَا سَلَّمَ يَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ سَبْعِينَ مَرَّةً، فَلَا يَقُومُ مِنْ مَقَامِهِ حَتَّى يَغْفِرَ اللهُ لَهُ وَلِأَبَوَيْهِ، وَيَبْعَثُ اللهُ تَعَالَى مَلَائِكَةً إِلَى الْجِنَانِ يَغْرِسُونَ لَهُ الْأَشْجَارَ وَيَبْنُونَ الْقُصُورَ وَيُجْرُونَ الْأَنْهَارَ، وَلَا يَخْرُجُونَ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَرَى ذَلِكَ كُلَّهُ.
"Dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda: 'Barangsiapa melakukan shalat pada malam Lailatul Qadar sebanyak dua rakaat, yang mana pada setiap rakaatnya ia membaca Al-Fatihah satu kali dan surat Al-Ikhlas tujuh kali, kemudian setelah salam ia mengucapkan: Astaghfirullah wa atubu ilaih (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya) sebanyak tujuh puluh kali, maka ia tidak akan bangkit dari tempat duduknya sampai Allah mengampuni dirinya dan kedua orang tuanya. Dan Allah Ta’ala akan mengutus malaikat ke surga-surga untuk menanam pepohonan baginya, membangun istana-istana, dan mengalirkan sungai-sungai. Dan ia tidak akan keluar dari dunia (mati) sampai ia melihat itu semua'."
[Durratun Nashihin Halaman 222]

Coba cermati hadits tersebut hanya disebutkan dari Ibnu Abbas dan tidak tahu pasti siapa yang membawa hadits tersebut dan siapa Rawinya apakah ia Shahih Bahkan maudhu' selaku kita orang awam tidak tahu dan kalau dapat kejelasannya hadits tersebut maudhu' tentu tidak boleh kita amalkan. Bahkan orang masa kini kerap kali menyatakan hadits tersebut itu tidak ada asalnya.

Salah seorang Ulama bermadzhab Hanafi Yaitu Syeikh Ismail Al Haqi dalam tafsirnya menyebutkan jenis shalat Lailatul Qadar, karena disamping ia bermadzhab Hanafi beliau juga termasuk Sufi, dalam karyanya dan mengutip pernyataan pembesar Ulama Hanafi beliau menyatakan:

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَى لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ. وَكَانَ الصَّالِحُونَ يُصَلُّونَ فِي لَيْلَةٍ مِنَ الْعَشْرِ رَكْعَتَيْنِ بِنِيَّةِ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَعَنْ بَعْضِ الْأَكَابِرِ: مَنْ قَرَأَ كُلَّ لَيْلَةٍ عَشْرَ آيَاتٍ عَلَى تِلْكَ النِّيَّةِ لَمْ يُحْرَمْ بَرَكَتَهَا وَثَوَابَهَا. قَالَ الْإِمَامُ أَبُو اللَّيْثِ رَحِمَهُ اللهُ: أَقَلُّ صَلَاةِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ رَكْعَتَانِ، وَأَكْثَرُهَا أَلْفُ رَكْعَةٍ، وَأَوْسَطُهَا مِائَةُ رَكْعَةٍ. وَأَوْسَطُ الْقِرَاءَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ أَنْ يَقْرَأَ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ {إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ} مَرَّةً وَ{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَيُسَلِّمُ عَلَى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَيُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَعْدَ التَّسْلِيمِ، وَيَقُومُ حَتَّى يُتِمَّ مَا أَرَادَ مِنْ مِائَةٍ أَوْ أَقَلَّ أَوْ أَكْثَرَ. وَيَكْفِي فِي فَضْلِ صَلَاتِهَا مَا بَيَّنَ اللهُ مِنْ جَلَالَةِ قَدْرِهَا وَمَا أَخْبَرَ بِهِ الرَّسُولُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنْ فَضِيلَةِ قِيَامِهَا. وَصَلَاةُ التَّطَوُّعِ بِالْجَمَاعَةِ جَائِزَةٌ مِنْ غَيْرِ كَرَاهَةٍ لَوْ صَلَّوْا بِغَيْرِ تَدَاعٍ وَهُوَ الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ كَمَا فِي الْفَرَائِضِ، صَرَّحَ بِذَلِكَ كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ. قَالَ شَرْحُ النُّقَايَةِ وَغَيْرُهُ: وَفِي الْمُحِيطِ لَا يُكْرَهُ الِاقْتِدَاءُ بِالْإِمَامِ فِي النَّوَافِلِ مُطْلَقًا نَحْوَ الْقَدْرِ وَالرَّغَائِبِ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَنَحْوِ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ مَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، فَلَا تَلْتَفِتْ إِلَى قَوْلِ مَنْ لَا مَذَاقَ لَهُمْ مِنَ الطَّاعِنِينَ فَإِنَّهُمْ بِمَنْزِلَةِ الْعِنِّينِ لَا يَعْرِفُونَ ذَوْقَ الْمُنَاجَاةِ وَحَلَاوَةَ الطَّاعَاتِ وَفَضِيلَةَ الْأَوْقَاتِ.
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir (Ramadhan), beliau (Nabi SAW) mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Dahulu para shalihin melakukan shalat dua rakaat pada setiap malam dari sepuluh malam tersebut dengan niat Qiyam Lailatul Qadar. Diriwayatkan dari sebagian ulama besar: 'Barangsiapa membaca sepuluh ayat setiap malam dengan niat tersebut, maka ia tidak akan terhalang dari keberkahan dan pahalanya.'

Imam Abu Laits (As-Samarqandi) —rahimahullah— berkata: 'Minimal shalat Lailatul Qadar adalah dua rakaat, maksimalnya seribu rakaat, dan pertengahannya adalah seratus rakaat. Adapun kadar pertengahan bacaan dalam setiap rakaat adalah membaca setelah Al-Fatihah surat Inna Anzalnahu (Al-Qadr) satu kali dan Qul Huwallahu Ahad (Al-Ikhlas) tiga kali. Salam setiap dua rakaat, kemudian bershalawat kepada Nabi SAW setelah salam, lalu berdiri lagi hingga menyempurnakan bilangan yang diinginkan baik seratus, kurang, atau lebih. Cukuplah sebagai bukti keutamaan shalatnya apa yang telah Allah jelaskan tentang keagungan kedudukan malam tersebut dan apa yang dikabarkan Rasulullah SAW tentang fadhilah menghidupkannya, dan shalat sunnah secara berjamaah adalah boleh tanpa makruh (karahah) jika mereka melaksanakannya tanpa tada'i (ajakan massal), yaitu (tanpa) adanya azan dan iqamah sebagaimana dalam shalat fardhu; hal ini ditegaskan oleh banyak ulama. Disebutkan dalam Syarh an-Nuqayah dan lainnya, juga dalam kitab al-Muhith: 'Tidak makruh mengikuti imam dalam shalat-shalat nawafil (sunnah) secara mutlak, seperti shalat (Lailatul) Qadar, ar-Raghaib, malam nisfu Sya'ban, dan semisalnya. Karena apa yang dianggap baik oleh orang-orang mukmin, maka itu baik pula di sisi Allah.'

Maka, janganlah engkau menoleh (mempedulikan) perkataan orang-orang yang mencela yang tidak memiliki 'rasa' (dzauq), karena kedudukan mereka bagaikan orang yang impoten (secara spiritual); mereka tidak mengetahui lezatnya bermunajat, manisnya ketaatan, dan keutamaan waktu-waktu tersebut”
[Ruh Al Bayan X/483]

Dari ungkapan terakhir beliau sangat membuktikan bahwa beliau mendasarkan mementingkan aspek kelezatan Munajah bukan didasarkan dalil yang kuat. Dari keterangan tersebut disebutkan tidak makruh shalat tersebut dilakukan secara berjamaah. Lain halnya dari kitab kalangan Hanafiyah yang lain yang menghukumi Makruh. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam kitab Dur Al Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin, saya fikir konteks ini adalah fiqih Hanafi sedangkan yang disebutkan Syeikh Ismail Al Haqi diatas dalam sudut pandang Ala Sufi.

وَفِي الْأَشْبَاهِ عَنْ الْبَزَّازِيَّةِ: يُكْرَهُ الِاقْتِدَاءُ فِي صَلَاةِ رَغَائِبَ وَبَرَاءَةٍ وَقَدْرٍ، إلَّا إذَا قَالَ: نَذَرْتُ كَذَا رَكْعَةً بِهَذَا الْإِمَامِ جَمَاعَةً. اهـ.
(قَوْلُهُ وَقَدْرٍ) الظَّاهِرُ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَا لَيْلَةُ السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ لِمَا قَدَّمْنَاهُ عَنْ الزَّيْلَعِيِّ مِنْ أَنَّ الْأَخْبَارَ تَظَاهَرَتْ عَلَيْهَا.
“Disebutkan dalam kitab al-Asybah yang dinukil dari al-Bazzaziyyah: Dimakruhkan bermakmum (shalat berjamaah) dalam shalat Raghaib, shalat Bara'ah (Nisfu Sya'ban), dan shalat (Lailatul) Qadar, kecuali jika seseorang berkata (berniat): 'Saya bernazar shalat sekian rakaat dengan imam ini secara berjamaah.' Selesai kutipan.

(Perkataan penulis: 'dan shalat Qadar') Makna yang nampak jelas adalah bahwa yang dimaksud adalah malam ke-27 dari bulan Ramadhan, sebagaimana penjelasan yang telah kami kemukakan sebelumnya dari Imam az-Zaila'i bahwa riwayat-riwayat (hadis) saling menguatkan atas penentuan malam tersebut (sebagai malam Qadar)”
[Ad Dur Al Mukhtar Wa Hasyiyah Ibnu Abidin Al Hanafi II/49]

Oleh karena itu saya pribadi tidak menyarankan shalat Lailatul Qadar secara khusus dilakukan karena menimbang hadits yang dijadikan sumbernya tidak jelas apa derajatnya. Namun, bagi siapa yang mau shalat Lailatul Qadar bisa dengan niat shalat yang umum seperti shalat sunah yang dikenal sunah untuk menghidupkan malam dan mencari Lailatul Qadar dan ini lebih selamat dan bisa juga dengan shalat sunah mutlak. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Syeikh Ibnu Hajar 👇

وَلَا تَصِحُّ هَذِهِ الصَّلَوَاتُ بِتِلْكَ النِّيَّاتِ الَّتِي اسْتَحْسَنَهَا الصُّوفِيَّةُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَرِدَ لَهَا أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ نَعَمْ إنْ نَوَى مُطْلَقَ الصَّلَاةِ ثُمَّ دَعَا بَعْدَهَا بِمَا يَتَضَمَّنُ نَحْوَ اسْتِعَاذَةٍ أَوْ اسْتِخَارَةٍ مُطْلَقَةٍ لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأْسٌ
“Tidak sah shalat dengan niat seperti yang dianggap baik kalangan sufi tanpa dasar hadits sama sekali. Namun jika melakukan shalat muthlak dan berdoa sesudahnya dengan sesuatu yang mengandung semisal doa isti’adzah (mohon perlindungan) atau istikharah (meminta petunjuk Allah untuk di pilihkan yang terbaik) maka shalat tersebut sah-sah saja”
[Tuhfah Al Muhtaaj II/239]

Kalau ternyata hadits shalat Lailatul Qadar secara khusus yang disebutkan dalam kitab Ala Sufi tersebut diatas adalah hadits Dhaif maka menjadikan sebagai Fadhail (keutamaan) amal boleh dengan syarat:

(فَائِدَةٌ) شَرْطُ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ: أَنْ لَا يَكُونَ شَدِيدَ الضَّعْفِ، وَأَنْ يَدْخُلَ تَحْتَ أَصْلٍ عَامٍّ، وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ سُنِّيَّتَهُ بِذَلِكَ الْحَدِيثِ. اهـ. مُغْنِي. زَادَ فِي النِّهَايَةِ: وَفِي هَذَا الشَّرْطِ الْأَخِيرِ نَظَرٌ لَا يَخْفَى. اهـ. قَالَ سم : بَلْ لَا وَجْهَ لَهُ؛ لِأَنَّهُ لَا مَعْنَى لِلْعَمَلِ بِالضَّعِيفِ فِي مِثْلِ مَا نَحْنُ فِيهِ إِلَّا كَوْنُهُ مَطْلُوبًا طَلَبًا غَيْرَ جَازِمٍ، وَكُلُّ مَطْلُوبٍ طَلَبًا غَيْرَ جَازِمٍ سُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ سُنَّةً تَعَيَّنَ اعْتِقَادُ سُنِّيَّتِهِ. اهـ.
“(Faidah) Syarat mengamalkan hadis dhaif dalam perkara Fadhailul A’mal (keutamaan amal) ada tiga:
1. Kelemahannya tidak bersifat parah (syadidul dhu'fi).
2. Berada di bawah naungan dalil pokok yang umum (ashlun 'am).
3. Tidak meyakini bahwa amalan tersebut adalah sunnah (yang ditetapkan) berdasarkan hadis tersebut semata. Dikutip dari kitab Mughni Al Muhtaaj.

Penulis kitab Nihayah al-Muhtaj menambahkan: "Namun pada syarat yang terakhir ini (poin ke-3) terdapat keraguan (nadzar) yang sudah jelas (ketidaktepatannya)". Imam Ibnu Qasim al-Abbadi (سم) berkata: "Bahkan syarat tersebut (poin ke-3) tidak memiliki landasan alasan yang kuat; sebab tidak ada makna lain dari 'mengamalkan hadis dhaif' dalam konteks yang kita bahas ini kecuali bahwa amalan tersebut adalah sesuatu yang dianjurkan secara tidak mengikat (mathluban thalaban ghaira jazim). Sedangkan segala sesuatu yang dianjurkan secara tidak mengikat adalah disebut Sunnah. Dan apabila amalan itu adalah sunnah, maka secara otomatis seseorang mesti meyakini kesunnahannya”
[Tarsyiih Al Mustafidin Bi Tausyieh Fath Al Mu'in Halaman 22-23]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: Ismidar Abdurrahman As Sanusi)

Link Diskusi:

Artikel terkait 👇 

Komentari

Lebih baru Lebih lama