(Foto: Artikel Tsirwah)
Pertanyaan:
>> عاقلة البردلا
Assalamualaikum.
Aq org yg susah memikir kan najis.
Aq bekerja dgn tiga org, pd suatu saat bagian peralatan dapur di letak di belakang warung, Dan di situ banyak anjing berkeliaran belakang warung.
Aq tidak secara jelas tau anjing menjilat, dan aq tanya sama temanq dia juga tidak melihat, tinggal satu org lg, tp jauh tempat nya sehingga sulit
Apa aq harus mencari tau baru bisa menghukumi?
Yang saya ingin tanyakan ustadz...
Apa perlu kita bertanya tendang seseorang untuk perihal najis?
Sangat di butuhkan kali jawaban ini ustadz...
Jawaban:
>> ɑɣɑɳɠ ɑƙʋ
Gak perlu pusing masalah najis, selama belum nampak jelas (terlihat oleh mata) maka hukum asalnya tidak najis (tetap suci).
(قاعدة مهمة): وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله فيه قولان معروفان بقولي الاصل. والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر، عملا بالاصل المتيقن
“(Qoidah penting), bahwasanya sesuatu yang asalnya suci lalu muncul dugaan kuat terkena najis (karena dugaannya sesuatu itu bersinggungan dengan najis), maka dalam hal ini ada dua pendapat yang ma'ruf berdasarkan qoidah hukum asal. Adapun secara dzohir atau secara umum, pendapat yang rojih adalah pendapat yang menyatakan bahwasanya sesuatu itu tetap dianggap suci berdasarkan hukum asal yang telah diyakini” (I'anatut Tholibin jilid 1, hlm. 124)
>> عاقلة البردلا
Boleh mengambil ijtihad apabila bukan najis mughaladah... Kalau mughaladah tetap tidak boleh diambil sembarangan tadz
والوجه الثاني : أنه يجوز له أن يجتهد : لأن أكثر أحواله في الاجتهاد أن يكون مستعملا بماء طاهر في الظاهر مع وجود ماء طاهر بيقين ، وذلك جائز : ألا ترى لو استعمل من إناء على شاطئ نهر أو بحر ، جاز ، وإن كانت طهارته من طريق الطاهر ، *وقد يجوز أن يكون نجسا بولوغ كلب ، أو غيره ، ولا يلزمه أن يستعمل ماء البحر ، وإن كان على يقين الطهارة* . قال صاحب هذا الوجه واشتراط الشافعي السفر إنما هو لوجوب الاجتهاد لا لجوازه .
>> 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Berdasarkan ibarat yang sampeyan tampilkan yang teks asalnya merupakan pernyataan Imam Al Mawardi dalam kitab Al Haawi yang sekaligus mengutip pernyataan Ulama Syafi'iyah yang lain seperti Imam Abu Ishaq Al Marwadzi pada pendapat yang kedua maka boleh melakukan ijtihad atau mencari tahu kejelasan hukum najis tapi bukan sebuah kewajiban karena disana dinyatakan boleh bukan wajib hal ini selaras dengan penjabaran Ulama Syafi'iyah yang lain selagi tidak jelas melihat sendiri semisal anjing menjilat maka dikembalikan kepada hukum asal yaitu suci dan tetap boleh digunakan air itu. Kasus semisal ini sangat banyak disebutkan oleh Ulama Syafi'iyah dalam karya mereka. Hal itu tidak Hanya pada kasus air seperti juga kasus barang-barang maka selagi tidak melihat sendiri misalnya anjing menjilat atau tubuhnya basah atau barang-barang basah maka tetap mengambil hukum asal yaitu suci dan mengenai masalah mencari tahu hukumnya boleh demi memantapkan hati dan tidak dihukumi wajib dan andai tidak mencari tahu dan selama tidak diketahui kejelasannya maka air atau barang-barang dihukumi suci dan tidak dihukumi najis dengan memandang hukum asal.
(فَصْلٌ)
: فَإِذَا ثَبَتَ جَوَازُ اجْتِهَادِهِ فِي قَلِيلِ الْأَوَانِي وَكَثِيرِهَا سَوَاءٌ كَانَ الطَّاهِرُ أَقَلَّ أَوْ أَكْثَرَ، فَمَتَى لَمْ يَجِدْ مِنَ الطَّاهِرِ إِلَّا مَا اشْتَبَهَ بِالنَّجِسِ وَجَبَ عَلَيْهِ الِاجْتِهَادُ، وإن وجد ماء طاهراً بيقين ومعه إناآن قَدْ يَشْتَبِهُ عَلَيْهِ الطَّاهِرُ مِنْهُمَا مِنَ النَّجِسِ، لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا؛ لِأَنَّهُ سَبِيلٌ إِلَى الْعُدُولِ عَنْهُمَا بِاسْتِعْمَالِ مَا يَتَيَقَّنُ طَهَارَتَهُ، لَكِنِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَجُوزُ لَهُ الِاجْتِهَادُ فِيهِمَا أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ حَكَاهُمَا أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ فِي شَرْحِهِ:
أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَجْتَهِدَ؛ لِأَنَّ الِاجْتِهَادَ إِنَّمَا يَجُوزُ عِنْدَ الضَّرُورَةِ إِلَيْهِ كَمَا لَا يَجُوزُ الِاجْتِهَادُ فِي الْقِبْلَةِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى عَيْنِهَا وَلَا فِي أَحْكَامِ الشَّرْعِ مَعَ وُجُودِ النَّصِّ فِيهَا، قَالَ صَاحِبُ هَذَا الْوَجْهِ: وَدَلِيلُ ذَلِكَ مِنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ قَوْلُهُ: " وَلَوْ كان في السفر وكان معه إنا آن فَيَسْتَيْقِنُ أَنَّ أَحَدَهُمَا نَجِسٌ وَالْآخَرَ لَمْ يُنَجَّسْ تَأَخَّى " فَجَعَلَ السَّفَرَ شَرْطًا فِي جَوَازِ الِاجْتِهَادِ وَلَا يَكُونُ السَّفَرُ شَرْطًا إِلَّا لِعَدَمِ مَا سِوَى ذَلِكَ مِنَ الْمَاءِ.
وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَجْتَهِدَ، لِأَنَّ أَكْثَرَ أَحْوَالِهِ فِي الِاجْتِهَادِ أَنْ يَكُونَ مُسْتَعْمَلًا بِمَاءٍ طَاهِرٍ فِي الظَّاهِرِ مَعَ وُجُودِ مَاءٍ طَاهِرٍ بِيَقِينٍ، وَذَلِكَ جَائِزٌ؛ أَلَا تَرَى لَوِ اسْتَعْمَلَ مِنْ إِنَاءٍ عَلَى شَاطِئِ نَهْرٍ أَوْ بَحْرٍ، جَازَ، وَإِنْ كَانَتْ طَهَارَتُهُ مِنْ طَرِيقِ الطَّاهِرِ، وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ نَجِسًا بِوُلُوغِ كَلْبٍ، أَوْ غَيْرِهِ، وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَسْتَعْمِلَ مَاءَ الْبَحْرِ، وَإِنْ كَانَ عَلَى يَقِينِ الطَّهَارَةِ، قَالَ صَاحِبُ هَذَا الْوَجْهِ وَاشْتِرَاطُ الشَّافِعِيِّ السَّفَرَ إِنَّمَا هُوَ لِوُجُوبِ الِاجْتِهَادِ لَا لِجَوَازِهِ.
“(Pasal)Apabila telah tetap (sah) kebolehan berijtihad dalam masalah wadah yang sedikit maupun banyak, baik jumlah yang suci lebih sedikit maupun lebih banyak, maka kapanpun seseorang tidak menemukan air suci kecuali yang telah tercampur/meragukan (isytabaha) dengan yang najis, maka wajib baginya untuk berijtihad. Namun, jika ia menemukan air yang yakin kesuciannya, sementara bersamanya ada dua wadah yang meragukan (antara suci dan najis), maka ia tidak wajib berijtihad pada salah satu dari dua wadah tersebut. Hal ini karena ia bisa langsung berpaling dari keduanya dengan menggunakan air yang sudah diyakini kesuciannya. Akan tetapi, para sahabat kami (ulama Syafi'iyyah) berbeda pendapat: Apakah ia boleh (boleh, bukan wajib) berijtihad pada dua wadah tersebut atau tidak? Ada dua pendapat (wajhan) yang diceritakan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi dalam syarahnya:
1. Pendapat Pertama: Tidak Boleh Ia tidak diperbolehkan berijtihad.
•𝗔𝗹𝗮𝘀𝗮𝗻: Alasannya, ijtihad hanya diperbolehkan ketika dalam keadaan darurat (butuh).
• 𝗔𝗻𝗮𝗹𝗼𝗴𝗶 : Sebagaimana tidak boleh berijtihad menentukan arah kiblat padahal ia mampu melihat fisik Ka'bah secara langsung, dan tidak boleh berijtihad dalam hukum syariat padahal ada teks (nash) yang jelas mengenainya.
• 𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹: Pendukung pendapat ini mengambil dalil dari teks Imam Syafi'i yang berbunyi: "Jika seseorang dalam perjalanan (safar) dan bersamanya ada dua wadah, ia yakin salah satunya najis dan yang lain tidak, maka ia harus meneliti (ta'akhkha/berijtihad).". Imam Syafi'i menjadikan "safar" sebagai syarat, dan tidaklah safar dijadikan syarat kecuali karena biasanya dalam safar tidak ditemukan air lain (darurat).
2. Pendapat Kedua: Boleh. Ia diperbolehkan untuk berijtihad.
• 𝗔𝗹𝗮𝘀𝗮𝗻:Kondisi maksimal dari ijtihadnya adalah ia menggunakan air yang "tampak suci secara lahiriah" padahal ada air yang "yakin suci", dan hal itu diperbolehkan.
• 𝗔𝗻𝗮𝗹𝗼𝗴𝗶: Tidakkah Anda melihat jika seseorang menggunakan air dari sebuah wadah di pinggir sungai atau laut, maka hukumnya boleh? Padahal kesucian air di wadah itu hanya berdasarkan lahiriahnya saja (ada kemungkinan terkena jilatan anjing atau lainnya tanpa diketahui), sementara ia tidak diharuskan langsung menggunakan air laut/sungai meskipun air laut/sungai itu sudah pasti yakin kesuciannya. Pendukung pendapat kedua ini mengatakan bahwa penyebutan "syarat safar" oleh Imam Syafi'i hanyalah untuk menunjukkan kewajiban berijtihad (karena tidak ada air lain), bukan untuk membatasi kebolehan berijtihad”.
[Al Haawi Al Kabiir I/347]
(فَرْعٌ) أَدْخَلَ كَلْبٌ رَأْسَهُ فِي إنَاءٍ وَأَخْرَجَهُ وَلَمْ يُعْلَمْ هَلْ وَلَغَ فِيهِ: قَالَ صَاحِبُ لحاوي وَغَيْرُهُ إنْ كَانَ فَمُهُ يَابِسًا فَالْمَاءُ طَاهِرٌ بِلَا خِلَافٍ: وَإِنْ كَانَ رَطْبًا فَوَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَةِ الْمَاءِ لِأَنَّ الرُّطُوبَةَ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ فِي وُلُوغِهِ فَصَارَ كَالْحَيَوَانِ إذَا بَالَ فِي مَاءٍ ثُمَّ وَجَدَهُ مُتَغَيِّرًا حُكِمَ بِنَجَاسَتِهِ بِنَاءً عَلَى هَذَا السَّبَبِ الْمُعَيَّنِ وَأَصَحُّهُمَا أَنَّ الْمَاءَ بَاقٍ عَلَى طَهَارَتِهِ لِأَنَّ الطَّهَارَةَ يَقِينٌ وَالنَّجَاسَةَ مَشْكُوكٌ فِيهَا وَيَحْتَمِلُ كَوْنُ الرُّطُوبَةِ مِنْ لُعَابِهِ وَلَيْسَ كَمَسْأَلَةِ بَوْلِ الْحَيَوَانِ لِأَنَّ هُنَاكَ تَيَقَّنَّا حُصُولَ النَّجَاسَةِ وَهُوَ سَبَبٌ ظَاهِرٌ فِي تَغَيُّرِ الماء بخلاف هذا والله أعلم
“(Cabang Bahasan) Jika seekor anjing memasukkan kepalanya ke dalam sebuah wadah lalu mengeluarkannya, namun tidak diketahui apakah ia menjilat (walagha) ke dalamnya atau tidak maka Penulis kitab Al-Hawi (Imam Al-Mawardi) dan ulama lainnya berkata: Jika mulut anjing tersebut kering, maka air tersebut tetap suci tanpa ada perbedaan pendapat (di antara ulama). Jika mulutnya basah, maka ada dua pendapat (wajhan):
1. Pendapat pertama: Air tersebut dihukumi najis. Karena basahnya mulut merupakan indikasi yang tampak nyata (dalilun zhahir) bahwa ia telah menjilat. Hal ini dianalogikan seperti hewan yang kencing di dalam air, kemudian air tersebut ditemukan berubah (sifatnya); maka air itu dihukumi najis berdasarkan penyebab tertentu yang tampak ini.
2. Pendapat kedua (yang paling Shahih/Ashah): Bahwa air tersebut tetap pada kesuciannya. Alasannya, karena status suci itu adalah sebuah keyakinan (yaqin), sedangkan najis adalah sesuatu yang diragukan (masykuk fiihi). Ada kemungkinan bahwa basahnya mulut itu berasal dari air liurnya saja (tanpa menjilat ke air). Ini tidak sama dengan masalah kencing hewan tadi; karena dalam kasus kencing hewan, kita telah meyakini masuknya najis (air kencing) ke air dan itu adalah penyebab yang jelas atas berubahnya sifat air. Berbeda dengan kasus ini (yang belum tentu menjilat).
Wallahu A'lam (Dan Allah Maha Mengetahui)”.
[Al Majmuu' Syarh Al Muhadzdzab I/180]
(قَاعِدَةٌ مُهِمَّةٌ): وَهِيَ أَنَّ مَا أَصْلُهُ الطَّهَارَةُ وَغَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَنَجُّسُهُ لِغَلَبَةِ النَّجَاسَةِ فِي مِثْلِهِ، فِيهِ قَوْلَانِ مَعْرُوفَانِ بِقَوْلَيِ الْأَصْلِ وَالظَّاهِرِ أَوِ الْغَالِبِ، أَرْجَحُهُمَا أَنَّهُ طَاهِرٌ، عَمَلًا بِالْأَصْلِ الْمُتَيَقَّنِ، لِأَنَّهُ أَضْبَطُ مِنَ الْغَالِبِ الْمُخْتَلِفِ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَزْمَانِ، (وَذَلِكَ كَثِيَابِ خَمَّارٍ وَحَائِضٍ وَصِبْيَانٍ)، وَأَوَانِي مُتَدَيِّنِينَ بِالنَّجَاسَةِ، وَوَرَقٍ يَغْلِبُ نَثْرُهُ عَلَى نَجَسٍ، وَلُعَابِ صَبِيٍّ، وَجُوخٍ اشْتَهَرَ عَمَلُهُ بِشَحْمِ الْخِنْزِيرِ، وَجُبْنٍ شَامِيٍّ اشْتَهَرَ عَمَلُهُ بِإِنْفَحَةِ الْخِنْزِيرِ. وَقَدْ جَاءَهُ (ﷺ) جُبْنَةٌ مِنْ عِنْدِهِمْ فَأَكَلَ مِنْهَا وَلَمْ يَسْأَلْ عَنْ ذَلِكَ. ذَكَرَهُ شَيْخُنَا فِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ.
(قَوْلُهُ: وَذَلِكَ) أَيْ مَا كَانَ الْأَصْلُ فِيهِ الطَّهَارَةَ وَغَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَنَجُّسُهُ. (قَوْلُهُ: كَثِيَابِ خَمَّارٍ) أَيْ مَنْ يَصْنَعُ الْخَمْرَ أَوْ يَتَعَاطَاهُ وَهُوَ مُدْمِنٌ لَهُ، وَمِثْلُ ثِيَابِهِ أَوَانِيهِ. (قَوْلُهُ: وَحَائِضٍ وَصِبْيَانٍ) أَيْ وَمَجَانِينَ وَجَزَّارِينَ، فَيُحْكَمُ عَلَى ثِيَابِهِمْ بِالطَّهَارَةِ عَلَى الْأَرْجَحِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ. (قَوْلُهُ: وَأَوَانِي مُتَدَيِّنِينَ بِالنَّجَاسَةِ) أَيْ أَوَانِي مُشْرِكِينَ مُتَدَيِّنِينَ بِاسْتِعْمَالِ النَّجَاسَةِ، كَطَائِفَةٍ مِنَ الْمَجُوسِ يَغْتَسِلُونَ بِأَبْوَالِ الْبَقَرِ تَقَرُّبًا.
(قَوْلُهُ: وَوَرَقٍ يَغْلِبُ نَثْرُهُ عَلَى نَجَسٍ) فِي الْمُغْنِي: سُئِلَ ابْنُ الصَّلَاحِ عَنِ الْأَوْرَاقِ الَّتِي تُعْمَلُ وَتُبْسَطُ وَهِيَ رَطْبَةٌ عَلَى الْحِيطَانِ الْمَعْمُولَةِ بِرَمَادٍ نَجَسٍ. فَقَالَ: لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا، أَيْ عَمَلًا بِالْأَصْلِ. (قَوْلُهُ: وَلُعَابِ صَبِيٍّ) فِي الْقَامُوسِ: اللُّعَابُ كَغُرَابٍ، مَا سَالَ مِنَ الْفَمِ. اهـ. أَيْ فَهُوَ طَاهِرٌ بِالنِّسْبَةِ لِلْأُمِّ وَغَيْرِهَا، وَإِنْ كَانَ يُحْتَمَلُ اخْتِلَاطُهُ بِقَيْئِهِ النَّجَسِ عَمَلًا بِالْأَصْلِ، وَلِعُمُومِ الْبَلْوَى بِهِ. وَمِثْلُهُ لُعَابُ الدَّوَابِّ وَعَرَقُهَا فَهُمَا طَاهِرَانِ.
(قَوْلُهُ: وَجُوخٍ إلخ) فِي الْمُغْنِي: سُئِلَ ابْنُ الصَّلَاحِ عَنِ الْجُوخِ الَّذِي اشْتَهَرَ عَلَى أَلْسِنَةِ النَّاسِ أَنَّ فِيهِ شَحْمَ الْخِنْزِيرِ؟ فَقَالَ: لَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهِ إِلَّا بِتَحَقُّقِ النَّجَاسَةِ. اهـ. (قَوْلُهُ: وَجُبْنٍ شَامِيٍّ إلخ) أَيْ فَهُوَ طَاهِرٌ عَمَلًا بِالْأَصْلِ. (قَوْلُهُ: بِإِنْفَحَةِ الْخِنْزِيرِ) قَالَ فِي الْمِصْبَاحِ: الْإِنْفَحَةُ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَفَتْحِ الْفَاءِ وَتَثْقِيلِ الْحَاءِ أَكْثَرُ مِنْ تَخْفِيفِهَا. وَنُقِلَ عَنِ الْجَوْهَرِيِّ أَنَّهَا هِيَ الْكَرِشُ. وَنُقِلَ عَنِ التَّهْذِيبِ أَنَّهَا لَا تَكُونُ إِلَّا لِكُلِّ ذِي كَرِشٍ، وَهُوَ شَيْءٌ يُسْتَخْرَجُ مِنْ بَطْنِهِ أَصْفَرُ، يُعْصَرُ فِي صُوفَةٍ مُبْتَلَّةٍ فِي اللَّبَنِ فَيَغْلَظُ كَالْجُبْنِ. وَلَا يُسَمَّى إِنْفَحَةً إِلَّا وَهُوَ رَضِيعٌ، فَإِذَا رَعَى قِيلَ اسْتَكْرَشَ، أَيْ صَارَتْ إِنْفَحَتُهُ كَرْشًا. اهـ.
(قَوْلُهُ: وَقَدْ جَاءَهُ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إلخ) تَأْيِيدٌ لِكَوْنِهِ يُعْمَلُ بِالْأَصْلِ بِالنِّسْبَةِ لِلْجُبْنِ، وَيُقَاسُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ مِمَّا مَرَّ. (قَوْلُهُ: جُبْنَةٌ) بِضَمِّ الْجِيمِ وَسُكُونِ الْبَاءِ وَفَتْحِ النُّونِ. وَقَوْلُهُ: مِنْ عِنْدِهِمْ أَيْ أَهْلِ الشَّامِ. (قَوْلُهُ: فَأَكَلَ مِنْهَا) أَيْ مِنَ الْجُبْنَةِ. (قَوْلُهُ: وَلَمْ يَسْأَلْ) أَيْ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ. وَقَوْلُهُ: عَنْ ذَلِكَ أَيْ عَنْ كَوْنِهِ عُمِلَ بِإِنْفَحَةِ الْخِنْزِيرِ. (قَوْلُهُ: ذَكَرَهُ شَيْخُنَا فِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ) أَيْ ذَكَرَ مُعْظَمَ مَا فِي هَذِهِ الْقَاعِدَةِ.
“(Kaidah Penting): Yaitu bahwa segala sesuatu yang pada dasarnya adalah suci, namun diduga kuat telah terkena najis karena faktor kebiasaan (najis tersebut sering terjadi pada hal serupa), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat masyhur yang dikenal dengan sebutan "Pendapat Hukum Asal" (Al-Ashl) dan "Pendapat Lahiriah/Mayoritas" (Az-Zhahir/Al-Ghalib). Pendapat yang paling kuat (Arjah) di antara keduanya adalah: Benda tersebut tetap suci, karena berpegang pada hukum asal yang sudah diyakini. Sebab, hukum asal itu lebih konsisten/terukur daripada faktor kebiasaan yang selalu berubah-ubah tergantung kondisi dan waktu. (Hal itu seperti pakaian pemabuk, pakaian wanita haid, dan pakaian anak-anak), wadah-wadah milik orang yang (dalam agamanya) tidak peduli dengan najis, kertas-kertas yang biasanya diletakkan di atas tempat najis, air liur anak kecil, kain wol (joukh) yang tersohor dibuat menggunakan lemak babi, serta keju Syam yang tersohor dibuat menggunakan infahah (rennet) babi. Sungguh telah sampai kepada Nabi ﷺ sebuah keju dari pihak mereka (penduduk Syam), lalu beliau memakannya dan tidak menanyakan hal itu (cara pembuatannya). Hal ini disebutkan oleh guru kami dalam Syarh al-Minhaj.
.........
(Perkataan Pengarang "Hal itu) maksudnya adalah benda yang hukum asalnya suci namun diduga kuat telah terkena najis.
(Perkataan Pengarang "Seperti pakaian pemabuk") maksudnya orang yang memproduksi khamar atau yang mengonsumsinya secara terus-menerus (pecandu). Sama seperti pakaiannya, hukum wadah-wadahnya pun sama (tetap suci).
(Perkataan Pengarang "Wanita haid dan anak-anak) maksudnya juga termasuk orang gila dan tukang jagal; maka pakaian mereka dihukumi suci menurut pendapat yang paling kuat karena berpegang pada hukum asal.
(Perkataan Pengarang "Wadah-wadah orang yang tidak peduli najis") maksudnya wadah milik kaum musyrik yang dalam keyakinannya biasa menggunakan najis, seperti sekte Majusi yang mandi dengan air kencing sapi sebagai bentuk pendekatan diri (ritual).
(Perkataan Pengarang "Kertas yang biasanya diletakkan di atas najis") dalam kitab Al-Mughni: Ibnu Shalah ditanya tentang kertas-kertas yang dibuat dan dihamparkan dalam keadaan basah di atas dinding yang terbuat dari abu najis. Beliau menjawab: "Tidak dihukumi najis," maksudnya karena berpegang pada hukum asal.
(Perkataan Pengarang "Air liur anak kecil") dalam Al-Qamus: Al-Lu'ab itu seperti lafaz Ghurab, yaitu sesuatu yang mengalir dari mulut. Maksudnya, air liur itu suci bagi si ibu atau orang lain, meskipun ada kemungkinan bercampur dengan muntahan anak yang najis; tetap dihukumi suci karena berpegang pada hukum asal dan karena hal ini sulit dihindari (umumul balwa). Sama halnya dengan air liur hewan ternak dan keringatnya, keduanya suci.
(Perkataan Pengarang "Kain wol/Joukh",dst) dalam Al-Mughni: Ibnu Shalah ditanya tentang kain wol yang tersohor di lisan masyarakat bahwa di dalamnya terdapat lemak babi. Beliau menjawab: "Tidak dihukumi najis kecuali jika najis tersebut sudah dipastikan (nyata)."
(Perkataan Pengarang "Keju Syam", dst) maksudnya ia tetap suci karena berpegang pada hukum asal.
(Perkataan Pengarang "Dengan rennet babi") dalam Al-Misbah dikatakan: Al-Infahah (rennet) dengan hamzah kasrah, fa fathah, dan ha yang bertasydid—ini lebih populer daripada yang tanpa tasydid. Dinukil dari Al-Jauhari bahwa itu adalah lambat (kurisy). Dinukil dari At-Tahdzib bahwa itu hanya ada pada hewan yang memiliki lambat, yaitu zat berwarna kuning yang dikeluarkan dari perutnya, diperas dengan wol yang dibasahi susu sehingga mengental seperti keju. Disebut infahah hanya selama hewan tersebut masih menyusu; jika sudah merumput, disebut istakrasya (sudah menjadi lambat dewasa).
(Perkataan Pengarang "Telah sampai kepada Nabi ﷺ", dst) ini adalah penguat bagi sikap berpegang pada hukum asal dalam masalah keju, dan hal-hal lain yang telah disebutkan di atas dianalogikan (qiyas) kepadanya.
(Perkataan Pengarang "Keju") dengan jim dhommah, ba sukun, dan nun fathah.
(Perkataan Pengarang "Dari sisi mereka") maksudnya penduduk Syam.
(Perkataan Pengarang "Lalu beliau memakannya") maksudnya memakan keju tersebut.
(Perkataan Pengarang "Dan beliau tidak bertanya) maksudnya Nabi ﷺ tidak bertanya tentang hal itu, yakni apakah ia dibuat dengan rennet babi atau tidak.
(Perkataan Pengarang "Disebutkan oleh guru kami dalam Syarh al-Minhaj") maksudnya beliau menyebutkan sebagian besar isi dari kaidah ini”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/104-105]
Lihatlah! Penggunaan barang-barang dan pakaian dan semisalnya yang disebutkan dalam ibarat I'aanah atau Fathul Mu'in yang umumnya semuanya itu ada kemungkinan terkena najis tapi dari segi penggunaan diperbolehkan karena dianggap suci dan teladan dari Rasulullah ﷺ yang memakan seumpama keju padahal masyarakat ada menyebutkan semacam keju itu terbuat dari rennet (lemak) babi tapi oleh Baginda Nabi ﷺ langsung memakannya tanpa bertanya atau memberitahu apa benar ia terbuat dari lemak babi. Nah! Dengan contoh yang disebutkan itu dan juga teladan Rasulullah ﷺ tidak ada kewajiban mencari tahu tentang kejelasan suatu benda memang dihukumi najis kalau itu wajib tentu Rasulullah ﷺ sendiri lebih dulu melakukannya. Namun, siapa yang mau melakukannya demi menghindari keraguan najis tidaknya diperbolehkan mencari tahu dan jika meninggalkan hal itu tidak lah bermasalah selagi tidak diketahui hakikatnya dan suatu benda tersebut dihukumi suci menimbang asalnya.
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
Link Diskusi:
