2105. 𝗠𝗨'𝗔𝗠𝗔𝗟𝗔𝗛: 𝗔𝗞𝗔𝗗 𝗞𝗘𝗧𝗜𝗞𝗔 𝗠𝗘𝗠𝗔𝗡𝗖𝗜𝗡𝗚 𝗗𝗜 𝗞𝗢𝗟𝗔𝗠 𝗣𝗘𝗠𝗔𝗡𝗖𝗜𝗡𝗚𝗔𝗡

(Foto: Kompasiana.com)

Pertanyaan:
Jika kita mancing di kolam orang,lalu kita bayar 50k,itu mancingnya gimna hukumnya,ikan yang di dpat itu halal apa haram?akadnya akad apa?jika demikian
[+62 821-1929-9384]

Jawaban:
Uang yang dijadikan pembayaran ketika memancing di kolam pemancingan sebagaimana yang ditanyakan maka status hukum memancingnya, ikan yang didapat dan juga akadnya dirinci sebagai berikut 👇 
• Apabila uang yang diserahkan melakukan akad sewa maka akadnya batal yakni tidak sah dan ikan yang didapat tidak berhak dimiliki oleh orang yang memancing karena akad Ijarah (sewa) tidak sah dengan mengambil manfaat benda didalam barang yang disewa seperti menyewa kolam untuk memancing ikan atau menyewa pohon untuk diambil buahnya walaupun kebiasaan masyarakat sudah kerap melakukan itu.

• Apabila akadnya akad Bai' atau jual-beli yaitu membeli ikan yang berada didalam kolam adalah sah jika kolamnya kecil dan airnya jernih atau nampak ikannya yang mana untuk menghasilkan ikan sangat mudah dan tidak sulit dan jika tidak demikian juga tidak sah.

Ketika akadnya tidak sah maka hukumnya malah tidak boleh memancing di kolam pemancingan tersebut dan masalah ikannya tidak boleh dimiliki oleh orang yang memancing. Namun, ada solusi yang ditawarkan Yaitu uang yang diserahkan bertujuan atau melakukan akad membayar tiket masuk atau menyewa kolam saja bukan menyewa untuk mendapatkan ikan, nanti setelah ikan dapat baru diserahkan kepada pemilik kolam, bagi yang mendapatkan bisa memiliki ikannya dengan cara melakukan akad jual beli atau dihibahkan oleh pemilik kolam, bisa juga uang 50k itu bertujuan harga borongan ikan meskipun praktek ini juga tidak dibenarkan bila menggunakan akad jual-beli karena ikannya belum nampak oleh pembeli (pemancing). Karenanya, agar aman akad yang dilakukan dengan akad sewa kolam atau sewa pasilitas mancingnya dan ikan yang didapat tetap menjadi milik tuan kolam.
 
* (فَرْعٌ) قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَأْجِرَ الْبِرْكَةَ لِأَخْذِ السَّمَكِ مِنْهَا لِأَنَّ الْأَعْيَانَ لَا تُمْلَكُ بِالْإِجَارَةِ فَلَوْ اسْتَأْجَرَ الْبِرْكَةَ لِيَحْبِسَ فِيهَا الْمَاءَ لِيَجْتَمِعَ فِيهَا السَّمَكُ وَيَصْطَادَهُ فَوَجْهَانِ (أَحَدُهُمَا) لَا يَجُوزُ قَالَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ (وَأَصَحُّهُمَا) عِنْدَ الْأَصْحَابِ جَوَازُهُ وَبِهِ قَطَعَ صَاحِبُ الشَّامِلِ وَآخَرُونَ لِأَنَّ الْبِرْكَةَ يُمْكِنُ الِاصْطِيَادُ بِهَا فَجَازَتْ إجَارَتُهَا كَالشَّبَكَةِ قَالُوا وَقَوْلُ الشَّافِعِيِّ لَا تَجُوزُ إجَارَةُ الْبِرْكَةِ لِلْحِيتَانِ أَرَادَ بِهِ إذَا حَصَلَ فِيهَا سَمَكٌ وَأَجَّرَهَا لِأَخْذِ مَا حَصَلَ فِيهَا وَهَذِهِ الْإِجَارَةُ بَاطِلَةٌ لِأَنَّهَا إجَارَةٌ لِأَخْذِ الْغَيْرِ فَأَمَّا الْبِرْكَةُ الْفَارِغَةُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
“(Cabang Bahasan) Imam Syafi'i dan Ashab (Ulama Syafi'iyah) berkata: "Tidak diperbolehkan menyewa kolam/empang untuk mengambil ikan di dalamnya, karena benda konkret (fisik ikan) tidak bisa dimiliki melalui akad sewa-menyewa (ijarah)". Namun, jika seseorang menyewa kolam untuk membendung air di dalamnya agar ikan-ikan berkumpul sehingga ia bisa memancingnya/menangkapnya, maka ada dua pendapat (wajah):
1. Pendapat pertama: Tidak diperbolehkan. Ini dikemukakan oleh Syekh Abu Hamid.
2. Pendapat kedua (yang paling shahih menurut para Ashab) Hukumnya boleh. Pendapat ini ditegaskan oleh penulis kitab Asy-Syamil dan ulama lainnya, karena kolam tersebut memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana menangkap ikan, maka menyewanya diperbolehkan sebagaimana menyewa jaring ikan. Para ulama menjelaskan: Adapun perkataan Imam Syafi'i bahwa "tidak boleh menyewa kolam untuk ikan", yang beliau maksud adalah apabila di dalam kolam tersebut sudah ada ikannya, lalu seseorang menyewanya untuk mengambil ikan yang sudah ada itu. Akad sewa seperti ini batil (tidak sah) karena itu merupakan penyewaan untuk mengambil barang (bukan jasa/manfaat). Adapun jika kolamnya dalam keadaan kosong (untuk sarana menjebak ikan), maka hukumnya boleh. Wallahu A'lam”
[Al Majmuu' Syarh Al Muhadzdzab IX/285]

(قَوْلُهُ: وَبِغَيْرِ مُتَضَمِّنٍ إِلَخْ) مَعْطُوفٌ عَلَى بِمُتَقَوِّمِهِ، أَيْ وَخَرَجَ بِغَيْرِ مُتَضَمِّنٍ لِاسْتِيفَاءِ عَيْنٍ، مَا تَضَمَّنَ اسْتِيفَاءَهَا: أَيْ اسْتِئْجَارُ مَنْفَعَةٍ تَضَمَّنَ اسْتِيفَاءَ عَيْنٍ، كَاسْتِئْجَارِ الشَّاةِ لِلَبَنِهَا، وَبِرْكَةٍ لِسَمَكِهَا، وَشَمْعَةٍ لِوُقُودِهَا، وَبُسْتَانٍ لِثَمَرَتِهِ، فَكُلُّ ذَلِكَ لَا يَصِحُّ. وَهَذَا مِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى، وَيَقَعُ كَثِيْرًا
“(Perkataan Pengarang "Dan dengan tanpa mencakup pengambilan zat benda, dst") frasa ini di'athafkan (disambungkan) kepada kata bi mutaqawwimihi. Maknanya: dikecualikan dengan syarat "tanpa mencakup pengambilan zat benda" adalah segala sesuatu yang mencakup pengambilan zat benda tersebut. Yaitu: menyewa suatu manfaat yang di dalamnya termasuk mengambil/menghabiskan zat benda, seperti:
• Menyewa kambing untuk diambil susunya.
• Menyewa kolam untuk diambil ikannya.
• Menyewa lilin untuk diambil apinya/bakarannya.
• Menyewa kebun untuk diambil buahnya.

Maka, semua hal tersebut tidak sah (akad sewanya). Dan masalah ini termasuk dalam perkara yang sering terjadi di masyarakat (umumul balwa) dan sangat sering dipraktikkan”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin III/114]

الرُّكْنُ الرَّابِعُ الْمَنْفَعَةُ، فَلَا يَصِحُّ عَقْدُ إِجَارَةٍ إِلَّا (فِي) مَحْضِ (مَنْفَعَةٍ) حَالَةٍ، فَلَا يَصِحُّ اسْتِئْجَارُ الْبُسْتَانِ لِلثِّمَارِ، وَالشَّاةِ لِلَبَنِهَا أَوْ لِصُوفِهَا أَوْ وَلَدِهَا، وَالْبِرْكَةِ لِسَمَكِهَا.
“Rukun (Akad Ijarah) yang keempat adalah manfaat,. Maka tidak sah akad sewa (ijarah) kecuali pada murni manfaat yang ada saat itu. Maka tidak sah menyewa kebun untuk diambil buah-buahannya, menyewa kambing untuk diambil susunya, bulunya, atau anaknya, dan tidak sah menyewa kolam untuk diambil ikannya”.
[Nihaayah Az Zain Halaman 264]

وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا قُدْرَةُ تَسْلِيمِهِ، فَلَا يَصِحُّ بَيْعُ آبِقٍ، وَضَالٍّ، وَمَغْصُوبٍ، لِغَيْرِ قَادِرٍ عَلَى انْتِزَاعِهِ، وَكَذَا سَمَكُ بِرْكَةٍ شَقَّ تَحْصِيلُهُ.
(قَوْلُهُ: وَكَذَا سَمَكُ بِرْكَةٍ) أَيْ وَكَذَلِكَ لَا يَصِحُّ بَيْعُ سَمَكِ بِرْكَةٍ لِغَيْرِ قَادِرٍ عَلَى أَخْذِهِ.
وَمِثْلُ الْبَيْعِ: الشِّرَاءُ بِهِ، بِأَنْ يَدْفَعَ ثَمَنًا  كَمَا عَلِمْتَ - (وَقَوْلُهُ: شَقَّ تَحْصِيلُهُ) أَيِ السَّمَكِ عَلَى الْمُشْتَرِي، أَيْ أَوْ عَلَى الْبَائِعِ فِي الصُّورَةِ الَّتِي زِدْنَاهَا. 
“Dan disyaratkan juga (dalam jual beli) adanya kemampuan untuk menyerahkan barang. Maka, tidak sah menjual budak yang kabur (ābiq), hewan yang hilang (dhāll), dan barang yang dighashab (diambil paksa) kepada orang yang tidak mampu mengambilnya kembali. Begitu pula (tidak sah menjual) ikan di kolam yang sulit untuk menangkapnya.

(Perkataan Pengarang "Begitu pula ikan di kolam") maksudnya: demikian pula tidak sah menjual ikan di dalam kolam bagi orang yang tidak mampu mengambilnya. Serupa dengan hukum menjual adalah membeli dengan barang tersebut (baratertukar), yaitu dengan menjadikannya sebagai alat pembayaran —sebagaimana yang telah engkau ketahui—. (Dan perkataan pengarang: "Sulit menangkapnya") maksudnya: ikan tersebut sulit didapat oleh pembeli, atau oleh penjual dalam gambaran kasus yang telah kami tambahkan”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin III/11]

وَلَا بَيْعُ السَّمَكِ فِي الْمَاءِ إِلَّا إِذَا كَانَ فِي بِرْكَةٍ صَغِيرَةٍ لَا يَمْنَعُ الْمَاءُ رُؤْيَتَهُ وَسَهُلَ أَخْذُهُ فَيَصِحُّ فِي الْأَصَحِّ، فَإِنْ كَانَتِ الْبِرْكَةُ كَبِيرَةً لَا يُمْكِنُ أَخْذُهُ إِلَّا بِمَشَقَّةٍ شَدِيدَةٍ لَمْ يَصِحَّ عَلَى الْأَصَحِّ.
“Dan tidak sah menjual ikan di dalam air, kecuali jika ikan tersebut berada di kolam yang kecil di mana airnya tidak menghalangi pandangan untuk melihatnya dan mudah untuk mengambilnya, maka hukumnya sah menurut pendapat yang paling Shahih (Al-Ashah). Namun, jika kolamnya besar sehingga tidak mungkin mengambil ikan tersebut kecuali dengan kesulitan yang sangat berat, maka hukumnya tidak sah menurut pendapat yang paling Shahih”
[Al Iqnaa' Li As Syarbini II/275]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab 

(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)

Link Diskusi:

Komentari

Lebih baru Lebih lama