(Foto: Muslim.or.id)
Pertanyaan:
Assalamualaikum kang mau tanya apakah di zaman sekrg jika kita ingin menikah mahar yg kita berikan cukup dengan hafalan Qur'an?!? Apakah hukum nya kiyai mohon penjelasannya
[𝗤𝗼𝗹𝗯𝘂𝗻 𝗦𝗮𝗹𝗶𝗺]
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Menikah dan sementara Maharnya atau Mas kawin berupa Hafalan Al-Quran yang dibacakan dihadapan calon istri tidak sah sama sekali karena kalau hanya Hafalan manfaatnya kembali kepada pembaca; dalam hal ini calon suami sedangkan hanya sekedar mendengar, sedangkan Maharnya itu untuk istri maka harus ada manfaatnya kembali kepada si calon istri. Maka yang baik sesuai Fiqih Syafi'iyah jika mau menjadikan mahar nikah sebagai bacaan Al-Quran walaupun berupa Hafalan dalam bentuk mengajarkan seperti mengajarkan Tajwid, Tafsir dan semisalnya yang mengajarkan itu merupakan bentuk memperoleh manfaat kepada calon istri, kalaupun hanya membacakan atau menghafalkan Al-Qur'an dihadapan calon istri sementara ia mendengarnya setidaknya ada maksud mengajarkan kalau tidak ada maksud mengajarkan sama sekali maka mahar tersebut tidak sah. Ketika maharnya tidak sah maka calon suami harus memberikan mahar Mitsil. Hendaknya pula memenuhi ketentuan menjadikan mahar berupa mengajarkan Al Qur'an yaitu disebutkan waktunya seperti berapa lama seperti sehari dan semisalnya atau disebutkan objeknya seperti surat apa dan semisalnya. Namun, menjadikan Mahar nikah berupa uang maupun barang lebih utama ketimbang mengajarkan Al Qur'an, Hadis dan ilmu lainnya.
(وَيَجُوْزُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُوْمَةٍ) كَتَعْلِيْمِهَا الْقُرْآنَ.
(قَوْلُهُ: كَتَعْلِيْمِهَا الْقُرْآنَ) -إِلَى أَنْ قَالَ- وَلَا فَرْقَ لِتَعْلِيْمِ الْقُرْآنِ بَيْنَ أَنْ يَكُوْنَ لِكُلِّهِ كَمَا هُوَ ظَاهِرُهُ أَوْ لِسُوَرٍ مُعَيَّنَةٍ مِنْهُ كَالْفَاتِحَةِ وَغَيْرِهَا أَوْ لِقَدْرٍ مُعَيَّنٍ مِنْ سُوْرَةٍ مُعَيَّنَةٍ كَرُبُعٍ مِنْ سُوْرَةِ يس وَإِنْ كَانَتْ تَعْرِفُهُ وَلَوْ بِقِرَاءَتِهِ عَلَيْهَا.
“Dan diperbolehkan (bagi seorang laki-laki) menikahi seorang wanita dengan mahar berupa jasa/manfaat yang jelas, seperti mengajarkannya Al-Qur'an.
(Perkataan Pengarang "Seperti mengajarkannya Al-Qur'an") —sampai pada perkataan— Tidak ada perbedaan dalam hal mengajarkan Al-Qur'an, apakah itu untuk seluruh isinya sebagaimana yang tampak secara tekstual, atau untuk surah-surah tertentu saja seperti surat Al-Fatihah dan lainnya, atau untuk kadar/ukuran tertentu dari surah tertentu seperti seperempat dari surah Yasin. Dan hal ini tetap sah meskipun si wanita sebenarnya sudah mengetahui/hafal surah tersebut, yaitu (mahar berupa jasa) dengan cara membacakannya di hadapan wanita itu (untuk simaan/memperbaiki bacaan)”
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Ibnu Qasiim II/123]
{حَوْلَ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ مَهْرًا لِلزَّوَاجِ}
سُؤَالٌ:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ مُنَوِّرِ الْبَصَائِرِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْأَوَائِلِ وَالْأَوَاخِرِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَتَابِعِيْهِمْ إِلَى الْيَوْمِ الْآخِرِ. أَمَّا بَعْدُ:
فَقَدْ وَرَدَ عَلَيَّ سُؤَالٌ مِنْ بَعْضِ طَلَبَةِ الْعِلْمِ مِنْ إِخْوَانِنَا الْإِنْدُوْنِيْسِيِّيْنَ. وَحَاصِلُ تَرْجَمَتِهِ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مَا نَصُّهُ: مَا قَوْلُكُمْ سَيِّدِيْ فِي عَقْدِ النِّكَاحِ بِمَهْرِ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ، كَقَوْلِ الْوَلِيِّ: أَنْكَحْتُكَ وَزَوَّجْتُكَ بِنْتِيْ فُلَانَةَ بِمَهْرِ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ. فَهَلْ يَصِحُّ عَقْدُ النِّكَاحِ أَوْ لَا؟ فَإِنْ قُلْتُمْ بِالْأَوَّلِ فَمَا يَجِبُ لَهَا، أَمَهْرُ الْمِثْلِ أَوْ لَا؟ وَكَيْفَ الْحُكْمُ فِي ذَلِكَ؟ وَهَلِ الْأَفْضَلُ أَمْهَارُ تَعْلِيْمِ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ أَوِ النَّقْدُ الْمُتَعَامَلُ فِي الْبَلَدِ؟ أَفِيْدُوْنَا جَوَابًا شَافِيًا فَإِنَّ الْمَسْأَلَةَ وَاقِعَةُ الْحَالِ.
فَالْجَوَابُ:
وَاللهُ الْمُوَفِّقُ لِلصَّوَابِ: إِنَّ عَقْدَ النِّكَاحِ فِي الصُّورَةِ الْمَذْكُورَةِ صَحِيحٌ. ثُمَّ إِذَا وَقَعَ بِمَهْرِ قِرَاءَةٍ كَمَا فِي السُّؤَالِ، فَإِنْ أُرِيدَ بِقِرَاءَتِهَا إِقْرَاؤُهَا إِيَّاهَا وَتَعْلِيْمُهَا إِيَّاهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ صَحِيحٌ وَيَكُونُ هُوَ الْمَهْرُ، وَهُوَ مِنْ بَابِ الْمَنْفَعَةِ، فَكَمَا يَجُوزُ الْمَهْرُ عَيْنًا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَنْفَعَةً كَتَعْلِيمِ شَيْءٍ مَعْلُومٍ مِنَ الْقُرْآنِ. وَقَدْ وَرَدَ بِذَلِكَ نَصُّ الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ الْمَشْهُوْرِ. وَفِي بَعْضِ أَلْفَاظِهِ فِي صَحِيْحِ الْبُخَارِيِّ: "زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ". وَالْمَعْنَى عَلَى أَنْ يُعَلِّمَهَا إِيَّاهُ. فَإِذَا كَانَ الْمُرَادُ بِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ تَعْلِيْمُهَا إِيَّاهَا بِحَيْثُ تَسْتَفِيْدُ مِنْ قِرَاءَتِهَا. وَكَذَا غَيْرُ الْفَاتِحَةِ كَإِسْمَاعِهَا حَدِيْثًا نَبَوِيًّا لِتَسْتَفِيْدَ مِنْهُ مَعْرِفَةَ حُكْمٍ أَوْ تَرْغِيْبًا أَوْ تَرْهِيْبًا، وَكَإِسْمَاعِهَا بَعْضَ الْأَشْعَارِ الْمُتَضَمِّنَةِ لِلزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا وَالتَّرْغِيْبِ فِي الْآخِرَةِ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ، بِحَيْثُ يَصِلُ إِلَى ذِهْنِهَا فَهُمُ الْمَعْنَى فَإِنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ. وَحَيْثُ لَمْ يُوجَدْ جَمِيعُ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ أَوْ غَيْرِهَا بِقَصْدِ تَعْلِيمِهَا إِيَّاهَا أَوْ تَعْلِيْمٍ مِنْ شَرْطِهِ هِيَ كَوَلَدِهَا وَعَبْدِهَا، وَكَذَا إِذَا لَمْ يُوْجَدْ اِسْتِفَادَتُهَا مِنْ قِرَاءَةِ غَيْرِ الْقُرْآنِ فَيَجِبُ لَهَا حِيْنَئِذٍ مَهْرُ الْمِثْلِ لِأَنَّ مُجَرَّدَ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ بِحَضْرَتِهَا وَهِيَ تَسْمَعُ لَا يَصِلُ إِلَيْهَا مَنْفَعَةٌ فَلَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ مَهْرًا؛ وَإِذَا أَفْسَدَ الْمَهْرُ الْمُسَمَّى فَالْمَرْجُوْعُ إِلَيْهِ مَهْرُ الْمِثْلِ. وَقَوْلُ السَّائِلِ: وَهَلِ الْأَفْضَلُ أَمْهَارُ تَعْلِيْمِ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ أَوِ النَّقْدُ الْمُتَعَامَلُ فِي الْبَلَدِ؟ فَجَوَابُهُ: أَنَّ الْأَفْضَلَ أَمْهَارُ النَّقْدِ الْمُتَعَامَلِ فِي الْبَلَدِ لِأَنَّ تَعْلِيْمَ الْفَاتِحَةِ يُعْتَبَرُ مِنَ الْمَنَافِعِ وَكَوْنُ الْمَهْرِ مَنْفَعَةً مُخْتَلَفٌ فِيْهِ. وَأَمَّا إِذَا كَانَ عَيْنًا نَقْدًا أَوْ غَيْرَهُ فَمُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ وَمُجْمَعٌ عَلَى جَوَازِهِ. وَمَا لَا خِلَافَ فِيْهِ أَوْلَى مِمَّا فِيْهِ خِلَافٌ. وَلِنَذْكُرْ بَعْضَ نُصُوْصِ الْعُلَمَاءِ فِيْمَا قُلْنَاهُ فِي الْجَوَابِ. قَالَ الْعَلَّامَةُ الْقَلْيُوبِيُّ عَلَى الْمَحَلِّي صَفْحَة : ٢٨٨ مِنَ الْجُزْءِ الثَّالِثِ : [وَلَوْ أَصْدَقَ تَعْلِيْمَ قُرْآنٍ] أَيْ جَعَلَ تَعْلِيْمَ الْقُرْآنِ لَهَا بِنَفْسِهِ أَوْ فِي ذِمَّتِهِ صَدَاقًا لَهَا ، وَكَتَعْلِيْمِهَا تَعْلِيْمُهُ لِعَبْدِهَا أَوْ لِوَلِيِّهَا الْوَاجِبِ عَلَيْهَا نَفَقَتُهُ . وَشَمَلَ مَا ذُكِرَ تَعْلِيْمُ الْقُرْآنِ لِكَافِرَةٍ يُرْجَى إِسْلَامُهَا وَهُوَ كَذَلِكَ ؛ وَكَالْقُرْآنِ فِي صِحَّةِ جَعْلِهِ صَدَاقًا سَمَاعُ حَدِيْثٍ أَوْ حُكْمٍ أَوْ وَعْظٍ أَوْ شِعْرٍ عَنْ كُلِّ مَا يَحِلُّ تَعْلِيْمُهُ ، وَفِيْهِ كُلْفَةٌ بِحَيْثُ تَصِحُّ الْإِجَارَةُ عَلَيْهِ وَيُقَدَّرُ جَمِيْعُ ذَلِكَ بِالزَّمَنِ ، كَيَوْمٍ أَوْ بِعَيْنِهِ كَسُوْرَةِ كَذَا ، أَوْ بِقِرَاءَتِهِ مَعَ سَمَاعِهَا مَثَلًا ، وَلَا تَجْمَعُ بَيْنَهُمَا ؛ وَإِلَّا بَطَلَ كَمَا فِي الْإِجَارَةِ.
“{Tentang Mahar berupa bacaan Al Fatihah bagi Suami}
Pertanyaan:
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang menyinari mata hati. Shalawat serta salam bagi baginda Muhammad... Amma ba'du: Telah datang pertanyaan dari sebagian penuntut ilmu saudara kami dari Indonesia, yang ringkasannya dalam bahasa Arab adalah: 'Bagaimana pendapat Anda mengenai akad nikah dengan mahar bacaan Al-Fatihah? Misalnya wali berkata: Aku nikahkan engkau dengan putriku fulanah dengan mahar bacaan Al-Fatihah. Apakah sah atau tidak? Jika sah, apakah wajib bayar mahar mitsil? Mana yang lebih utama, mahar pengajaran Al-Fatihah atau uang tunai? Berikan jawaban memuaskan karena masalah ini nyata terjadi'.
Jawaban:
Allah-lah pemberi petunjuk pada kebenaran: Akad nikah dalam bentuk tersebut adalah sah. Kemudian, jika mahar berupa 'bacaan' sebagaimana ditanyakan:
1. Jika yang dimaksud adalah mengajarinya: (suami mengajar istri sampai bisa membaca), maka itu sah dan itulah maharnya. Ini termasuk kategori 'manfaat'. Sebagaimana mahar boleh berupa barang, boleh juga berupa manfaat seperti mengajarkan Al-Qur'an. Ini berdasarkan hadis sahih: 'Aku nikahkan engkau dengannya dengan (mahar) apa yang engkau hafal dari Al-Qur'an,' yang maknanya adalah mengajarkannya.
2. Jika tujuannya agar istri mendapat faedah ilmu: Seperti membacakan hadis untuk menjelaskan hukum, motivasi (targhib), atau peringatan (tarhib), atau membacakan syair zuhud agar maknanya masuk ke dalam pikiran istri, maka itu boleh.
3. Jika tidak ada maksud mengajar dan tidak ada manfaat ilmu yang sampai (hanya sekadar membacakan di depan istri yang mendengarkan tanpa ada proses belajar), maka itu tidak sah sebagai mahar. Hal itu karena sekadar mendengar tidak memberikan manfaat (aset/jasa) bagi istri. Jika mahar yang disebutkan (mahar musamma) rusak/tidak sah, maka suami wajib membayar Mahar Mitsil. Adapun perkataan penanya: 'Mana yang lebih utama, mahar pengajaran Al-Fatihah atau uang tunai?' maka jawabannya: Mahar uang tunai lebih utama. Mengapa? Karena menjadikan 'manfaat' (jasa) sebagai mahar masih diperselisihkan sebagian ulama, sedangkan mahar berupa uang/barang adalah hal yang disepakati (ijma') kebolehannya. Sesuatu yang tidak ada perselisihan di dalamnya lebih utama untuk didahulukan.
Mari kita sebutkan sebagian teks para ulama mengenai apa yang telah kami sampaikan dalam jawaban tadi. Telah berkata Al-'Allamah Al-Qalyubi dalam kitabnya (Hasyiyah Al-Qalyubi) atas Syarah Al-Mahalli, halaman 288 juz 3: '[Dan jikalau seseorang memberikan mahar berupa pengajaran Al-Qur'an]' maksudnya adalah dia menjadikan pengajaran Al-Qur'an bagi istrinya—baik dia sendiri yang mengajar atau dia menjamin orang lain untuk mengajar—sebagai mas kawin. Dan termasuk kategori mengajarinya adalah mengajarkan budaknya atau wali yang nafkahnya menjadi tanggung jawab si istri. Hal yang disebutkan tadi juga mencakup pengajaran Al-Qur'an kepada wanita kafir yang diharapkan masuk Islam, dan hukumnya tetap sah. Sebagaimana Al-Qur'an, sah pula menjadikan mahar berupa:
• Mendengarkan hadis,
• Menjelaskan hukum,
• Memberi nasihat (mauizhah)
• Atau membacakan syair dari segala hal yang halal untuk diajarkan
• Serta yang memiliki kadar usaha (kulfah) sekira sah untuk dijadikan objek sewa (ijarah).
Semua itu harus ditentukan ukurannya, baik dengan waktu (seperti mengajar selama satu hari) atau dengan objeknya (seperti mengajarkan surah tertentu). Atau bisa juga dengan membacakannya sementara istri mendengarkannya. Namun, tidak boleh menggabungkan keduanya (antara standar waktu dan standar objek secara bersamaan), jika dilakukan maka maharnya batal sebagaimana aturan dalam bab sewa-menyewa (ijarah)”
[Qurratul Ain Bi Fatawa Ismail Al Zain Halaman 162-163]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
Link Diskusi:
Artikel terkait 👇
