2121. 𝗧𝗔𝗝𝗪𝗜𝗗 : 𝗛𝗨𝗥𝗨𝗙 𝗠𝗜𝗠 𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗕𝗘𝗥𝗧𝗘𝗠𝗨 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗛𝗨𝗥𝗨𝗙 𝗕𝗔

(MasRozak dot COM)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum izin bertanya :

Dlm ktb Fath al-Rohman disampaikan :
اذا لقيت الميم الساكنة باء يجوز اخفاءها واظهارها وادغامها مثاله وما هم بمؤمنيت
" Ktk ada mim mati bertemu ba' maka boleh di bc 3 wajah yaitu ikhfa' (syafawy), izhar & idghom ".
3 wajah ini juga disampaikan oleh syaikh Zakariyya & Aly Mala al-Qory dlm syarah Jazariyyah. Utk wajah idghom diungkapkan dg bahasa WA QILA.
Sementara itu imam Abu Amr al-Dany dlm ktbnya "Tahdid fil Itqon" mengutip sabda imam Ahmad bin Ya'qub, beliau berkata " Para Qurro' ijma' bahwasanya ktk ada mim mati bertemu ba' maka harus dibaca jelas (Tabyin) dan tdk boleh dibaca idghom".
Pertanyaan kulo :
Bagaimanakah cara membaca mim mati yg bertemu ba' dg wajah idghom (versi 3) ?? apa betul cara bacanya adl mim mati dimasukkan ke ba' sehingga berbunyi "WA MA HUBBIMUKMININ"? dan ini bacaan imam siapa dr 7 iman Qurro' ?
Demikian ini mengingat :
1. Mayoritas kitab dlm kasus diatas hanya menampilkan 2 Wajah yaitu ikhfa syafawi & izhar.
2. Bacaan Quran adl Tauqifi tdk bs diqiyaskan sekalipun sudah memenuhi kreteria qiyas dlm lughot araby.
3. Dlm Fatawa Haditsiyyah Ibn hajar berkata : bahasa ijma' dlm fan Qiroah menurut imam Nawawi & Rofii adl 7 imam Qorro' dg dasar bahwa bacaan Syadz yg haram adl qiroah diluar qiroahnya 7 imam.
Dg semua pertimbangan td, kami mohon pencerahan terkait metode mmbc dg idghom & itu bacaan imam siapa dr 7 Qurro' ? krn setahu kami 7 imam tdk ada yg membaca dg model WA MA HUBBIMUKMININ.
matur nuwun lan ngapunten sakderenge yai
[+62 898-9725-536]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh 

Ada khilaf pada bacaan mim mati bertemu huruf Ba' sebagaimana ditanyakan selengkapnya cermati lah redaksi ibarat dibawah ini 👇 

نِهَايَةُ الْقَوْلِ الْمُفِيدِ، صَفْحَةُ ١٦٨
الْفَصْلُ الْخَامِسُ فِي الْكَلَامِ عَلَى الْمِيمِ السَّاكِنَةِ: وَلَهَا عِنْدَ حُرُوفِ الْمُعْجَمِ ثَلَاثَةُ أَحْكَامٍ: إِخْفَاءٌ، وَإِدْغَامٌ، وَإِظْهَارٌ:
١ - فَالْأَوَّلُ: الْإِخْفَاءُ عِنْدَ الْبَاءِ بِغُنَّةٍ ظَاهِرَةٍ عَلَى مَا اخْتَارَهُ الْحَافِظُ الدَّانِيُّ وَغَيْرُهُ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ، وَهُوَ الَّذِي عَلَيْهِ أَهْلُ الْأَدَاءِ بِمِصْرَ وَالشَّامِ وَالْأَنْدَلُسِ وَسَائِرِ الْبِلَادِ الْغَرْبِيَّةِ، سَوَاءٌ كَانَ سُكُونُهَا مُتَأَصِّلًا نَحْوَ {يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ} [آل عمران: ١٠١] وَ {يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ} [غافر: ١٦] أَوْ عَارِضًا نَحْوَ {بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ} [الأنعام: ٥٣] وَ {أَعْلَمُ بِالظَّالِمِينَ} [الأنعام: ٥٨] فِي قِرَاءَةِ أَبِي عَمْرٍو وَيَعْقُوبَ. وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ كَأَبِي الْحَسَنِ أَحْمَدَ بْنِ الْمُنَادِي وَغَيْرِهِ إِلَى إِظْهَارِهَا عِنْدَهَا إِظْهَارًا تَامًّا؛ أَيْ مِنْ غَيْرِ غُنَّةٍ، وَهُوَ اخْتِيَارُ مَكِّيٍّ الْقَيْسِيِّ وَغَيْرِهِ، وَهُوَ الَّذِي عَلَيْهِ أَهْلُ الْأَدَاءِ بِالْعِرَاقِ وَسَائِرِ الْبِلَادِ الشَّرْقِيَّةِ. وَحَكَى أَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوبَ التَّائِبُ إِجْمَاعَ الْقُرَّاءِ عَلَيْهِ. وَالْوَجْهَانِ صَحِيحَانِ، مَأْخُوذٌ بِهِمَا، إِلَّا أَنَّ الْإِخْفَاءَ أَوْلَى لِلْإِجْمَاعِ عَلَى إِخْفَائِهَا عِنْدَ الْقَلْبِ، وَعَلَى إِخْفَائِهَا فِي قِرَاءَةِ أَبِي عَمْرٍو وَيَعْقُوبَ حَالَةَ الْإِدْغَامِ. وَهَذَا هُوَ الْمُسَمَّى عِنْدَهُمْ بِالْإِخْفَاءِ الشَّفَوِيِّ لِخُرُوجِ الْبَاءِ وَالْمِيمِ مِنَ الشَّفَتَيْنِ. وَفِي الْمَرْعَشِيِّ نَقْلًا عَنِ الرِّعَايَةِ: إِنْ قُلْتَ: مَنْ أَظْهَرَ الْمِيمَ هُنَا هَلْ يُظْهِرُ غُنَّتَهَا؟ قُلْتُ: الْمَنْقُولُ عَنْ نَشْرِ ابْنِ الْجَزَرِيِّ أَنَّهُ لَا يُظْهِرُهَا، وَإِنْ كَانَتِ الْمِيمُ لَا تَخْلُو عَنْ أَصْلِ الْغُنَّةِ؛ إِذْ لَوْلَا أَصْلُ الْغُنَّةِ لَكَانَتِ الْمِيمُ بَاءً لِاتِّفَاقِهِمَا فِي الْمَخْرَجِ وَالصِّفَاتِ وَالْقُوَّةِ اهـ. وَفِي الْقَوْلِ الْمُفِيدِ: وَوَجْهُ إِخْفَاءِ الْمِيمِ عِنْدَ الْبَاءِ أَنَّهُمَا لَمَّا اشْتَرَكَا فِي الْمَخْرَجِ وَتَجَانَسَا فِي الِانْفِتَاحِ وَالِاسْتِفَالِ ثَقُلَ الْإِظْهَارُ وَالْإِدْغَامُ الْمَحْضُ، فَذَهَبَتِ الْغُنَّةُ، فَعُدِلَ إِلَى الْإِخْفَاءِ اهـ.

Nihayatul Qawl al-Mufid, halaman 168
Bab Kelima: Pembahasan tentang Mim Sakinah (Mati)
Mim mati apabila bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah memiliki tiga hukum: Ikhfa, Idgham, dan Izhar.
1. Pertama: Ikhfa
Hukumnya adalah Ikhfa saat bertemu dengan huruf Ba disertai ghunnah (dengung) yang jelas. Inilah pendapat yang dipilih oleh Al-Hafiz Ad-Dani dan para peneliti lainnya. Inilah pendapat yang dipegang oleh para ahli ada' (pembaca Al-Qur'an) di Mesir, Syam, Andalusia, dan seluruh negeri Barat. Hal ini berlaku baik sukunnya asli (seperti contoh pada ya'tashim billah dan yaumahum barizun) maupun sukun aridh (karena sebab tertentu, seperti contoh pada bi-a'lama bisy-syakirin dan a'lamu bizh-zhalimin dalam qira'at Abu 'Amr dan Ya'qub). Sebagian kelompok, seperti Abu al-Hasan Ahmad bin al-Munadi dan yang lainnya, berpendapat untuk meng-izhar-kannya (menjelaskannya) secara sempurna, yaitu tanpa ghunnah. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Makki al-Qaisi dan selainnya, serta menjadi pendapat para ahli ada' di Iraq dan seluruh negeri Timur. Ahmad bin Ya'qub at-Ta'ib meriwayatkan ijma' (kesepakatan) para qurra' atas hal tersebut. Kedua cara tersebut adalah sah dan boleh diamalkan, namun cara Ikhfa lebih utama dikarenakan adanya kesepakatan dalam meng-ikhfa-kannya saat Qalb (Iqlab), dan juga saat Ikhfa dalam qira'at Abu 'Amr dan Ya'qub pada keadaan Idgham. Inilah yang disebut oleh mereka dengan Ikhfa Syafawi, karena keluarnya huruf Ba dan Mim berasal dari kedua bibir.

Dalam kitab Al-Mar'asyi, dinukil dari kitab Ar-Ri'ayah: Jika engkau bertanya, "Siapa saja yang meng-izhar-kan Mim di sini, apakah ia juga menampakkan ghunnah-nya?" Maka jawabannya: Menurut nukilan dari kitab An-Nasyr karya Ibn al-Jazari, ia tidak menampakkan ghunnah-nya. Meskipun pada hakikatnya Mim tidak pernah lepas dari asal ghunnah, karena jika tidak ada asal ghunnah, niscaya Mim akan menjadi Ba karena kesamaan keduanya dalam hal makhraj (tempat keluar), sifat, dan kekuatannya. Selesai. Dalam kitab Al-Qawl al-Mufid disebutkan: Adapun alasan di-ikhfa-kannya Mim saat bertemu Ba adalah karena keduanya berserikat dalam makhraj dan memiliki kesamaan dalam sifat infitah (terbukanya rongga mulut) dan istifal (rendahnya lidah), sehingga terasa berat untuk meng-izhar-kan atau meng-idgham-kan secara murni. Maka ghunnah-nya pun hilang (dari izhar dan idgham), sehingga beralihlah hukumnya menjadi Ikhfa. Selesai.
[Nihaayah Al Qaul Al Mufiid Halaman 168]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab 

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama