2122. 𝗦𝗛𝗜𝗚𝗛𝗔𝗧 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗨𝗖𝗔𝗣𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗞𝗘𝗣𝗔𝗗𝗔 𝗦𝗘𝗞𝗨𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡 𝗣𝗘𝗥𝗘𝗠𝗣𝗨𝗔𝗡

(Foto: pinterest)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamu'alaikum ..
Kenapa mengucap السلام عليكم memakai dhomir كم semua ,untuk pria / wanita dan meskipun cuma pada 1 orang sedangkan كم adalah khithob untuk jama' 🤔
[𝗘𝘃𝗮 𝗟𝗮𝘁𝗵𝗶𝗳𝗮𝗵]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh 

Ketika mengucapkan salam yang Afdhal menggunakan shighat jamak meskipun ditujukan untuk seorang diri, tujuannya untuk memasukkan para malaikat pada ucapan salam dan makhluk lain yang mendengar salam tersebut juga sebagai bentuk penghormatan. Sehingga walaupun salam diucapkan satu orang kepada satu orang dengan satu orang tetap menggunakan shighat jamak, itulah yang ditunjukkan oleh Sunah, walaupun tidak masalah menggunakan shighat jamak bila ditujukan untuk seorang ketika sama-sama sendiri dan semisalnya.

Lalu ditanya: Kenapa sesama perempuan juga menggunakan shighat:

السلام عليكم ، tidak: السلام عليكن ؟

Alasannya menurut saya itu semata-mata menyesuaikan dengan sunah dan tidak ada ditunjukkan adanya nas yang memberlakukan ucapan salam:

السلام عليكن 

Kalau itu disyariatkan tentu sudah ditunjukkan oleh nas, maka langsung mengikuti nas lebih baik. Walaupun secara Nahwu boleh saja karena Dhamir كن merujuk kepada banyak perempuan. Akan tetapi, mengikuti nas syariat lebih utama. Lalu Kenapa para Ulama menyebutkan shighat jamak salam dengan:

السلام عليكم 

Bukan:

السلام عليكن 

Bila merujuk perempuan jamak? Menurut hemat saya karena ungkapan pertama lebih umum digunakan; baik Hanya beberapa kelompok lelaki atau lelaki bergabung dengan perempuan, kemungkinan itulah alasannya, meskipun ini hanya menurut saya pribadi sebab tidak adanya nas Ulama terkait ini, hanya ada nas yang pertama yakni ketika mengucapkan salam Afdhal menggunakan shighat jamak meskipun untuk seorang, meskipun boleh dengan shighat Mufrad. Meskipun demikian, ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan salam kepada sekumpulan perempuan dan Imam Ibnu 'Allan menyebutkan Baginda Nabi ﷺ mengucapkan salam kepada mereka dengan ungkapan : السَّلَامُ عَلَيْكُنَّ. Karenanya, sesuai prosedur Ilmu Nahwu dhamir itu disesuaikan dengan kata ganti orang yang dituju, penafsiran Imam Ibnu Allan itu sudah sangat cocok karena salam yang ditujukan Nabi ﷺ kepada sekumpulan perempuan maka sudah sepantasnya menggunakan dhamir untuk perempuan Jamak (عَلَيْكُنَّ). Karenanya, bila mengamalkan ini juga baik.

Adapun permasalahan kenapa mengucapkan salam menggunakan ungkapan Jamak meskipun hanya sendirian? Jawabnya: Dhamir Jamak tersebut untuk memasukkan para malaikat dan orang Shaleh yang mendengar salam yang kita ucapkan dan walaupun kita dalam keadaan sendirian hendaknya hati kita masukkan siapapun yang mendengar salam kita walaupun kita tidak tahu orangnya karena sesungguhnya mereka yang mendengar juga turut menjawab salam kita. Ada juga alasan lainnya Yaitu demi untuk memberikan kemuliaan.

وَالْأَفْضَلُ فِي الِابْتِدَاءِ وَالرَّدِّ الْإِتْيَانُ بِصِيغَةِ الْجَمْعِ حَتَّى فِي الْوَاحِدِ لِأَجْلِ الْمَلَائِكَةِ وَالتَّعْظِيمِ.
(قَوْلُهُ: وَالْأَفْضَلُ فِي الِابْتِدَاءِ وَالرَّدِّ إِلَخْ) قَالَ النَّوَوِيُّ فِي «الْأَذْكَارِ»: اعْلَمْ أَنَّ الْأَفْضَلَ أَنْ يَقُولَ الْمُسَلِّمُ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ»، فَيَأْتِيَ بِضَمِيرِ الْجَمْعِ، وَإِنْ كَانَ الْمُسَلَّمُ عَلَيْهِ وَاحِدًا، وَيَقُولُ الْمُجِيبُ: «وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ»، وَيَأْتِي بِوَاوِ الْعَطْفِ فِي قَوْلِهِ: «وَعَلَيْكُمُ». وَمِمَّنْ نَصَّ عَلَى أَنَّ الْأَفْضَلَ فِي الْمُبْتَدِئِ أَنْ يَقُولَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ»، الْإِمَامُ أَقْضَى الْقُضَاةِ أَبُو الْحَسَنِ الْمَاوَرْدِيُّ فِي كِتَابِهِ «الْحَاوِي» فِي كِتَابِ السِّيَرِ، وَالْإِمَامُ أَبُو سَعِيدٍ الْمُتَوَلِّي مِنْ أَصْحَابِنَا فِي كِتَابِ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَغَيْرِهِمَا. وَدَلِيلُهُ مَا رَوَيْنَاهُ فِي «مُسْنَدِ الدَّارِمِيِّ» وَ«سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ» وَ«التِّرْمِذِيِّ»، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ»، فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ ثُمَّ جَلَسَ. فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: «عَشْرٌ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ»، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَهَجَلَسَ، فَقَالَ: «عِشْرُونَ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ»، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَهَجَلَسَ، فَقَالَ: «ثَلَاثُونَ». قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ. وَفِي رِوَايَةٍ لِأَبِي دَاوُدَ مِنْ رِوَايَةِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ زِيَادَةٌ عَلَى هَذَا: قَالَ: ثُمَّ أَتَى آخَرُ فَقَالَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وَمَغْفِرَتُهُ»، فَقَالَ: «أَرْبَعُونَ»، وَقَالَ: «هَكَذَا تَكُونُ الْفَضَائِلُ». اهـ.
(قَوْلُهُ: حَتَّى فِي الْوَاحِدِ) أَيْ يَأْتِي الْمُبْتَدِئُ بِصِيغَةِ الْجَمْعِ، وَلَوْ كَانَ الْمُسَلَّمُ عَلَيْهِ وَاحِدًا، وَيَأْتِي الرَّادُّ بِذَلِكَ أَيْضًا، وَلَوْ كَانَ الْمُسَلِّمُ عَلَيْهِ وَاحِدًا.
(وَقَوْلُهُ: لِأَجْلِ الْمَلَائِكَةِ) أَيْ نَظَرًا لِمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ. قَالَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ: إِذَا قُلْتَ: «السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ»، أَوْ سَلَّمْتَ عَلَى أَحَدٍ فِي الطَّرِيقِ، فَقُلْتَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ»، فَأَحْضِرْ فِي قَلْبِكَ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ لِلهِ فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، وَمَيِّتٍ وَحَيٍّ، فَإِنَّ مَنْ فِي ذَلِكَ الْمَقَامِ يَرُدُّ عَلَيْكَ، فَلَا يَبْقَى مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلَا رُوحٌ مُطَهَّرٌ، يَبْلُغُهُ سَلَامُكَ إِلَّا وَيَرُدُّ عَلَيْكَ، وَهُوَ دُعَاءٌ فَيُسْتَجَابُ فِيكَ فَتَفْلِحُ. وَمَنْ لَمْ يَبْلُغْهُ سَلَامُكَ مِنْ عِبَادِ اللهِ الْمُهِيمِ فِي جَلَالِهِ الْمُشْتَغِلِ بِهِ، فَأَنْتَ قَدْ سَلَّمْتَ عَلَيْهِ فِي هَذَا الشُّمُولِ، فَإِنَّ اللهَ يَنُوبُ عَنْهُ فِي الرَّدِّ عَلَيْكَ، وَكَفَى بِهَذَا شَرَفًا لَكَ حَيْثُ يُسَلِّمُ عَلَيْكَ الْحَقُّ. فَلَيْتَهُ لَمْ يَسْمَعْ أَحَدٌ مِمَّنْ سَلَّمْتَ عَلَيْهِ، حَتَّى يَنُوبَ اللهُ عَنِ الْكُلِّ فِي الرَّدِّ عَلَيْكَ. اهـ. (مَنَاوِي)
“Dan yang paling utama dalam memulai (salam) dan menjawabnya adalah dengan menggunakan bentuk jamak (plural), meskipun kepada satu orang, demi menghormati malaikat dan bentuk pengagungan.

(Perkataan Pengarang "Dan yang paling utama dalam memulai dan menjawab", dst) Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar: "Ketahuilah bahwa yang paling utama adalah orang yang memberi salam mengucapkan: 'Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh' dengan menggunakan kata ganti jamak (kum), meskipun orang yang diberi salam hanya satu orang. Dan bagi yang menjawab hendaknya mengucapkan: 'Wa 'alaikumussalamu wa rahmatullahi wa barakatuh', dengan menyertakan wawu 'athaf pada ucapannya: Wa 'alaikum."

Di antara ulama yang menegaskan bahwa yang paling utama bagi yang memulai salam adalah mengucapkan 'Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh' adalah Imam Aqdlal-Qudhat (pimpinan para hakim) Abu al-Hasan al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi pada Kitab As-Siyar, serta Imam Abu Sa'id al-Mutawalli dari kalangan ulama mazhab kami (Syafi'iyah) dalam Kitab Shalat al-Jumu'ah, dan selain keduanya. Dalilnya adalah apa yang kami riwayatkan dalam Musnad ad-Darimi, Sunan Abu Dawud, dan Tirmidzi, dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam lalu berkata: 'Assalamu 'alaikum'. Maka beliau menjawab salamnya, kemudian orang itu duduk. Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: '(Pahala) sepuluh.' Lalu datang orang lain dan berkata: 'Assalamu 'alaikum wa rahmatullah'. Beliau menjawabnya, lalu orang itu duduk. Nabi bersabda: '(Pahala) dua puluh.' Lalu datang orang lain lagi dan berkata: 'Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh'. Beliau menjawabnya, lalu orang itu duduk. Nabi bersabda: '(Pahala) tiga puluh'." Imam Tirmidzi berkata: "Hadis hasan."

Dalam riwayat lain milik Abu Dawud dari riwayat Mu'adh bin Anas radhiyallahu 'anhu terdapat tambahan: Ia berkata: "Kemudian datang orang lain dan berkata: 'Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh wa maghfiratuhu'. Nabi bersabda: '(Pahala) empat puluh,' dan beliau bersabda: 'Demikianlah keutamaan itu diberikan'." Selesai.

(Perkataan Pengarang "Bahkan kepada satu orang") Yakni, orang yang memulai salam menggunakan bentuk jamak, meskipun orang yang disalami hanya satu, dan orang yang menjawab pun melakukan hal yang sama, meskipun orang yang memberi salam hanya satu.

(Perkataan Pengarang "Demi malaikat") Yakni, dengan mempertimbangkan malaikat yang menyertai orang tersebut. Ibnu al-Arabi berkata: "Jika engkau mengucapkan: 'Assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahis-shalihin' (Keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh), atau engkau memberi salam kepada seseorang di jalan lalu engkau mengucapkan: 'Assalamu 'alaikum', maka hadirkanlah dalam hatimu setiap hamba Allah yang saleh di bumi maupun di langit, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Sesungguhnya siapa saja yang berada di derajat tersebut akan menjawab salammu. Maka tidak tersisa satu pun malaikat yang didekatkan kepada Allah, atau jiwa yang disucikan, yang sampai salammu kepadanya melainkan ia akan menjawabmu. Hal itu merupakan doa yang akan dikabulkan bagimu sehingga engkau beruntung. Dan bagi hamba-hamba Allah yang tidak sampai salammu kepadanya karena mereka sedang tenggelam dalam keagungan-Nya dan sibuk dengan-Nya, maka engkau telah memberi salam kepada mereka dalam cakupan yang luas ini, karena sesungguhnya Allah akan mewakili mereka untuk menjawab salammu. Cukuplah ini sebagai kemuliaan bagimu, di mana Al-Haqq (Allah ﷻ) sendiri yang menjawab salammu. Maka andai saja tidak ada seorang pun dari mereka yang engkau salamkan mendengar salammu, hingga Allah sendiri yang mewakili semuanya untuk menjawab salammu." Selesai dari (Al-Munawi)”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin IV/187-188]

(وَهَذَا مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَ اللَّفْظِ) فَقَالَ لَهُنَّ: السَّلَامُ عَلَيْكُنَّ، (وَالْإِشَارَةِ) بِالْيَدِ الْيَمِينِ لِتُنَبِّهَهُنَّ لِسَلَامِهِ، وَكَانَ ذَلِكَ لِعَدَمِ مُبَالَغَتِهِ فِي الْجَهْرِ بِالسَّلَامِ مَعَ بُعْدِهِنَّ فِي الْجُمْلَةِ. (وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ فِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُدَ) عَنْ أَسْمَاءَ فِي كِتَابِ الْأَدَبِ مِنْ «سُنَنِهِ»: «مَرَّ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ (فَسَلَّمَ عَلَيْنَا)»، وَهُوَ ظَاهِرٌ فِي السَّلَامِ اللَّفْظِيِّ، وَالْجَمْعُ بَيْنَ الرِّوَايَاتِ خَيْرٌ مِنْ إِلْغَاءِ بَعْضِهَا. وَقَدْ جَاءَ أَيْضًا عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا، لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى؛ فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ، وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْكَفِّ». قَالَ التِّرْمِذِيُّ: إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ. فَفَوَجَبَ حَمْلُ مَا وَرَدَ مِنْ أَنَّهُ أَشَارَ بِالسَّلَامِ عَلَى أَنَّهُ جَمَعَ مَعَهُ اللَّفْظَ بِهِ لِئَلَّا يُخَالِفَ الْقَوْلَ. عَلَى أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَجْمَعْ بِذَلِكَ وَأَبْقَى عَلَى أَنَّهُ أَشَارَ مِنْ غَيْرِ لَفْظٍ مُبَيِّنًا أَنَّ النَّهْيَ تَنْزِيهِيٌّ لَا تَحْرِيمِيٌّ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَحْذُورٌ، لَكِنَّ الْأَوَّلَ أَوْلَى فَلِذَا سَلَكَهُ الْمُصَنِّفُ هُنَا. وَفِي «الْأَذْكَارِ» قَالَ الْحَلِيمِيُّ: وَكَانَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لِلْعِصْمَةِ مَأْمُونًا مِنَ الْفِتْنَةِ، فَمَنْ وَثِقَ بِنَفْسِهِ فِي السَّلَامِ فَلْيُسَلِّمْ، وَإِلَّا فَالصَّمْتُ أَسْلَمُ.
“(Dan hal ini dipahami bahwa beliau mengumpulkan antara ucapan)," yakni beliau mengucapkan kepada mereka: Assalamu 'alaikunna (Keselamatan atas kalian), "(dan isyarat)" dengan tangan kanan untuk mengingatkan mereka akan salam beliau. Hal tersebut dilakukan karena beliau tidak mengeraskan suaranya dalam memberi salam, mengingat posisi mereka yang secara umum agak jauh. (Hal ini diperkuat oleh riwayat Abu Dawud)" dari Asma' dalam kitab Al-Adab di dalam Sunan-nya: "Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melewati kami (lalu beliau memberi salam kepada kami secara lisan)." Ini jelas menunjukkan adanya salam secara lisan. Menggabungkan (mengompromikan) antara berbagai riwayat lebih baik daripada mengabaikan salah satunya. Telah datang juga riwayat dari At-Tirmidzi dari hadis Ibnu Umar secara marfu': "Bukanlah dari golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Janganlah kalian menyerupai orang Yahudi dan Nasrani; karena salamnya orang Yahudi adalah isyarat dengan jari-jemari, dan salamnya orang Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan." At-Tirmidzi berkata: "Sanadnya lemah.", Maka, wajib memaknai riwayat yang menyebutkan bahwa beliau memberi isyarat saat memberi salam, sebagai isyarat yang digabungkan dengan ucapan salam, agar tidak bertentangan dengan ucapan (salam). Seandainya beliau tidak menggabungkannya dengan ucapan—dan tetap berpegang pada riwayat bahwa beliau memberi isyarat tanpa ucapan—dengan penjelasan bahwa larangan tersebut bersifat tanzih (makruh/kurang utama) bukan tahrim (haram), maka itu pun tidak menjadi masalah. Namun, pendapat yang pertama lebih utama, dan itulah yang dipilih oleh penulis (Imam An-Nawawi) di sini. Dalam kitab Al-Adhkar, Al-Halimi berkata: "Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam karena sifat 'ishmah (terjaga dari dosa) yang dimilikinya, beliau aman dari fitnah. Maka, barangsiapa yang percaya diri (terhadap integritas dirinya) dalam memberi salam (kepada wanita), silakan memberi salam; namun jika tidak, maka diam lebih selamat.",”.
Daliil Al Faalihiin V/333]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab 

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama