(Foto: Lirboyo.net)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum.
Mau naya.
Diskripsi masalah.
Tadi pagi ada tetangga saya meninggal, sebelum jenazah diberangkatkan ke kuburan, ada seorang ustadz menyampaikan ke masyarakat yang hadir. Dengan ucapan.
Saksikan nya almarhum ini orang baik. Karna ada hadis yang mengatkan jika ada orang disaksikan oleh tetangganya satu orang aja dengan peyaksian yang baik maka Allah mencatatnya dia orang baik.
Perayaannya.
Apa benar ada hadis yang menjelaskan seperti dlm diskripsi diatas?
2.apa boleh kita bersaksi baik pada jenazah sedangkan secara dohir dia orang fasiq.
Atas jawabannya terima kasih banyak 🙏✍🏻
[𝗙𝗮𝗵𝗿𝘂𝗱 𝗖𝗲𝗹𝗹]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
1. Hadits tentang memberikan kesaksian terhadap Mayit bahwa ia adalah orang yang baik memang banyak sekali disebutkan dalam kitab-kitab hadis Mu'tabar dan sebagiannya disinyalir pada ibarat yang akan ditampilkan nanti.
2. Secara ringkas tidak boleh dan tidak layak karena memberikan kesaksian terhadap Mayit sebagai pengakuan ia adalah orang yang baik jika memang keadaannya demi dan jika tidak maka tidak perlu bersaksi demikian dan tidak layak bersaksi demikian. Namun, bila hati kita digerakkan oleh Allah untuk bersaksi demikian itu sebuah pertanda Allah menganggap mayit tersebut baik maka tidak salahnya kita bersaksi demikian dan jika tidak ada gerakan hati seperti itu tidak perlu bersaksi demikian. Akan tetapi, bila seseorang ketika hidupnya sering melakukan kemaksiatan dan dosa tidak mengapa kita bersaksi ia buruk perangainya. Hal ini bukanlah untuk mencela mayit tapi:
1. Memberi peringatan (tahdzir) dari jalan mereka.
2. Agar tidak mengikuti jejak langkah mereka.
3. Serta agar tidak berakhlak dengan akhlak mereka.
وَيُسْتَحَبُّ الثَّنَاءُ عَلَى الْمَيِّتِ وَذِكْرُ مَحَاسِنِهِ.
٤٧٦ - وَرُوِينَا فِي "صَحِيحَيِ الْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ" عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَجَبَتْ"، ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: "وَجَبَتْ"، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: "هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ".
٤٧٧ - وَرُوِينَا فِي "صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ" عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ، قَالَ: قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ، فَجَلَسْتُ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَمَرَّتْ بِهِمْ جَنَازَةٌ، فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا خَيْرٌ، فَقَالَ عُمَرُ: وَجَبَتْ، ثُمَّ مُرَّ بِأُخْرَى، فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا خَيْرٌ، فَقَالَ عُمَرُ: وَجَبَتْ، ثُمَّ مُرَّ بِالثَّالِثَةِ، فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا شَرٌّ، فَقَالَ عُمَرُ: وَجَبَتْ، قَالَ أَبُو الْأَسْوَدِ: فَقُلْتُ: وَمَا وَجَبَتْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ؟ قَالَ: قُلْتُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ"، فَقُلْنَا: وَثَلَاثَةٌ؟ قَالَ: "وَثَلَاثَةٌ"، فَقُلْنَا: وَاثْنَانِ؟ قَالَ: "وَاثْنَانِ"، ثُمَّ لَمْ نَسْأَلْهُ عَنِ الْوَاحِدِ.
وَالْأَحَادِيثُ بِنَحْوِ مَا ذَكَرْنَا كَثِيرَةٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
“Disunnahkan memuji mayit dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya.
476. Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Orang-orang melewati (membawa) sebuah jenazah, lalu mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wajabat (Telah wajib)". Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan. Maka Nabi bersabda: "Wajabat (Telah wajib)". Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bertanya: "Apa yang dimaksud 'telah wajib'?" Beliau menjawab: "Jenazah ini kalian puji dengan kebaikan, maka wajib baginya surga. Dan jenazah itu kalian sebut dengan keburukan, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi."
477. Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dari Abu al-Aswad, ia berkata: Aku datang ke Madinah lalu duduk bersama Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Kemudian ada sebuah jenazah yang lewat di hadapan mereka, lalu jenazah itu dipuji dengan kebaikan. Umar berkata: "Wajabat". Lalu lewat jenazah yang lain dan dipuji dengan kebaikan. Umar berkata: "Wajabat". Kemudian lewat jenazah ketiga dan disebut dengan keburukan. Umar berkata: "Wajabat". Abu al-Aswad berkata: Aku bertanya, "Apa yang dimaksud 'wajabat', wahai Amirul Mukminin?" Umar menjawab: "Aku mengatakan sebagaimana yang dikatakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: 'Siapa saja orang muslim yang dipersaksikan kebaikannya oleh empat orang, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.' Kami bertanya: 'Bagaimana jika tiga orang?' Beliau menjawab: 'Tiga orang juga.' Kami bertanya: 'Bagaimana jika dua orang?' Beliau menjawab: 'Dua orang juga.' Kemudian kami tidak bertanya kepada beliau tentang persaksian satu orang."
Hadis-hadis yang semakna dengan apa yang kami sebutkan ini sangat banyak. Wallahu A'lam”.
[Al Adzkaar Li An Nawawi Halaman 165]
(فَائِدَةٌ) مَا يَقَعُ كَثِيْرًا مِنْ أَنَّ شَخْصًا مِنَ الْحَاضِرِيْنَ لِلصَّلاَةِ عَلَى الْمَيِّتِ يَسْتَشْهِدُوْا عَلَيْهِ بَعْدَ السَّلاَمِ مِنْهَا فَيَقُوْلُوْنَ أَهْلُ الْخَيْرِ لَهُ أَصْلٌ فِي السُّنُّةِ إلاَّ اَنَّ الْعَوَامَّ طَرَّدُوْهُ فِي كُلِّ مَيِّتٍ وَلَوْ كَانَ مُتَجَاهِرًا بِالْمَعَاصِيْ وَلَيْسَ بِلاَئِقٍ وَاِنَّمَا اللاَّئِقُ إِنْ كَانَ مُتَجَاهِرًا اَوْ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ أَوْ لَمْ يَكُنْ متُجَاهِرًا وَعَلِمُوْا أَنَّهُ مَاتَ وَهُوَ مُصِرٌّ أَنْ لاَ يَذْكُرُوْهُ بِخَيْرٍ بَلْ لَوْ كَانَتِ الْمَصْلَحَةُ فِي ذِكْرِمُسَاوِيْهِ لِلتَّحْذِيْرِ مِنْ بِدْعَتِهِ وَسُوْءِ طَوِيَّتِهِ جَازَ لَهُمْ أَنْ يَذْكُرُوْهُ بِالشَّرِّ كَمَا نَقَلَهُ الْعَلْقَمِِيُّ عِنْدَ شُيُوْخِهِ وَلَا يَرِدُ عَلَى ذٰلِكَ أَنَّهُمْ كَيْفَ يُمَكَّنُونَ مِنْ ذِكْرِ الْمَوْتَى بِالشَّرِّ مَعَ مَا وَرَدَ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ مِنَ النَّهْيِ عَنْ سَبِّ الْأَمْوَاتِ كَقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ "لَا تَذْكُرُوا هَلْكَاكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ" وَقَوْلِهِ "اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِيهِمْ" لِأَنَّ النَّهْيَ عَنْ ذٰلِكَ كَمَا قَالَهُ النَّوَّوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَمِثْلُهُ الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ إِنَّمَا هُوَ فِي غَيْرِ الْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِينَ وَفِي غَيْرِ الْمُتَظَاهِرِينَ بِفِسْقٍ أَوْ بِدْعَةٍ. فَأَمَّا هٰؤُلَاءِ فَلَا يَحْرُمُ ذِكْرُهُمْ بِالشَّرِّ لِلتَّحْذِيرِ مِنْ طَرِيقَتِهِمْ وَالِاقْتِدَاءِ بِآثَارِهِمْ وَالتَّخَلُّقِ بِأَخْلَاقِهِمْ، ذَكَرَ ذٰلِكَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ عَبْدُ الْكَرِيمِ فِي حَاشِيَتِهِ عَلَى شَرْحِ السِّتِّينَ.
“(Faidah) Banyak terjadi fenomena di mana seseorang dari jamaah yang hadir dalam salat jenazah dimintai kesaksiannya atas si mayit setelah salam. Mereka kemudian berucap, "Ahli Khair" (dia orang baik). Hal ini sebenarnya memiliki dasar dalam Sunnah, hanya saja orang awam memukul rata (menerapkannya secara terus-menerus) kepada setiap mayit, meskipun mayit tersebut adalah orang yang terang-terangan melakukan maksiat (mujahiran bil ma’ashi). Tindakan (pukul rata) tersebut tidaklah layak. Yang semestinya adalah:
• Jika si mayit terang-terangan melakukan maksiat atau mati dalam keadaan tersebut,
• Atau ia tidak terang-terangan namun orang-orang tahu bahwa ia mati dalam keadaan terus-menerus melakukan maksiat (tanpa tobat),
Maka hendaknya mereka tidak menyebutnya dengan kebaikan. Bahkan, jika terdapat kemaslahatan dengan menyebutkan keburukannya—seperti untuk memperingatkan orang lain dari bid'ah yang dilakukannya atau buruknya perangai/niatnya—maka boleh bagi mereka menyebutkannya dengan keburukan, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Alqami dari guru-gurunya.
Hal tersebut tidaklah disanggah dengan pertanyaan: 'Bagaimana mungkin mereka diperbolehkan menyebut orang-orang mati dengan keburukan, padahal terdapat riwayat dalam Al-Bukhari dan lainnya mengenai larangan mencela orang yang telah mati?' Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam: 'Janganlah kalian menyebut orang-orang mati di antara kalian kecuali dengan kebaikan,' dan sabda beliau: 'Sebutkanlah kebaikan-kebaikan orang mati di antara kalian dan tahanlah diri dari (menyebut) keburukan-keburukan mereka.'"
Karena larangan tersebut—sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim dan senada dengan itu oleh Al-Izz bin Abdus Salam—hanyalah berlaku bagi selain orang kafir, orang munafik, dan selain orang yang menampakkan kefasikan atau bid'ah. Adapun mereka itu (kafir, munafik, dan pelaku bid'ah/fasiq yang terang-terangan), maka tidak diharamkan menyebut mereka dengan keburukan dengan tujuan:
• Memberi peringatan (tahdzir) dari jalan mereka.
• Agar tidak mengikuti jejak langkah mereka.
• Serta agar tidak berakhlak dengan akhlak mereka. Hal ini disebutkan oleh Al-Allamah Syekh Abdul Karim dalam Hasyiyah-nya atas kitab Syarh As-Sittiin”.
[Fath Al 'Allaam Bi Syarh Mursyid Al Anaam III/170]
وَقَالَ النَّوَوِيُّ قَالَ بَعْضُهُمْ مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ الثَّنَاءَ بِالْخَيْرِ لِمَنْ أَثْنَى عَلَيْهِ أَهْلُ الْفَضْلِ وَكَانَ ذَلِكَ مُطَابِقًا لِلْوَاقِعِ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُطَابِقٍ فَلَا وَكَذَا عَكْسُهُ قَالَ وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ عَلَى عُمُومِهِ وَأَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ فَأَلْهَمَ اللَّهُ تَعَالَى النَّاسَ الثَّنَاءَ عَلَيْهِ بِخَيْرٍ كَانَ دَلِيلًا عَلَى أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ سَوَاءٌ كَانَتْ أَفْعَالُهُ تَقْتَضِي ذَلِكَ أَمْ لَا فَإِنَّ الْأَعْمَالَ دَاخِلَةٌ تَحْتَ الْمَشِيئَةِ وَهَذَا إِلْهَامٌ يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى تَعْيِينِهَا وَبِهَذَا تَظْهَرُ فَائِدَةُ الثَّنَاءِ انْتَهَى وَهَذَا فِي جَانِبِ الْخَيْر وَاضح وَيُؤَيِّدهُ مَا رَوَاهُ أَحْمد وبن حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ مِنْ طَرِيقِ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوعًا مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَشْهَدُ لَهُ أَرْبَعَةٌ مِنْ جِيرَانِهِ الْأَدْنَيْنَ أَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ مِنْهُ إِلَّا خَيْرًا إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَدْ قَبِلْتُ قَوْلَكُمْ وَغَفَرْتُ لَهُ مَا لَا تَعْلَمُونَ وَلِأَحْمَدَ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوُهُ وَقَالَ ثَلَاثَةٌ بَدَلَ أَرْبَعَةٍ وَفِي إِسْنَادِهِ مَنْ لَمْ يُسَمَّ وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ مَرَاسِيلِ بَشِيرِ بْنِ كَعْبٍ أَخْرَجَهُ أَبُو مُسْلِمٍ الْكَجِّيُّ وَأَمَّا جَانِبُ الشَّرِّ فَظَاهِرُ الْأَحَادِيثِ أَنَّهُ كَذَلِكَ لَكِنْ إِنَّمَا يَقَعُ ذَلِكَ فِي حَقِّ مَنْ غَلَبَ شَرُّهُ عَلَى خَيْرِهِ وَقَدْ وَقَعَ فِي رِوَايَةِ النَّضْرِ الْمُشَارِ إِلَيْهَا أَوَّلًا فِي آخِرِ حَدِيثِ أَنَسٍ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً تَنْطِقُ عَلَى أَلْسِنَةِ بَنِي آدَمَ بِمَا فِي الْمَرْءِ مِنَ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى جَوَازِ ذِكْرِ الْمَرْءِ بِمَا فِيهِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ لِلْحَاجَةِ وَلَا يَكُونُ ذَلِكَ مِنَ الْغِيبَةِ وَسَيَأْتِي الْبَحْثُ عَنْ ذَلِكَ فِي بَابِ النَّهْيِ عَنْ سَبِّ الْأَمْوَاتِ آخِرِ الْجَنَائِزِ وَهُوَ أَصْلٌ فِي قَبُولِ الشَّهَادَةِ بِالِاسْتِفَاضَةِ وَأَنَّ أقل أَصْلهَا اثْنَان وَقَالَ بن الْعَرَبِيِّ فِيهِ جَوَازُ الشَّهَادَةِ قَبْلَ الِاسْتِشْهَادِ وَقَبُولُهَا قَبْلَ الِاسْتِفْصَالِ وَفِيهِ اسْتِعْمَالُ الثَّنَاءِ فِي الشَّرِّ لِلْمُؤَاخَاةِ وَالْمُشَاكَلَةِ وَحَقِيقَتُهُ إِنَّمَا هِيَ فِي الْخَيْرِ وَالله أعلم
“Imam Nawawi berkata: Sebagian ulama berpendapat bahwa makna hadis tersebut adalah: pujian kebaikan (bagi jenazah) berlaku bagi siapa saja yang dipuji oleh orang-orang yang memiliki keutamaan (ahlul fadhli), dan pujian itu sesuai dengan kenyataan (amalannya), maka ia termasuk ahli surga. Namun jika tidak sesuai dengan kenyataan, maka tidak (berlaku). Demikian pula sebaliknya (dalam hal celaan). Beliau (An-Nawawi) melanjutkan: Namun pendapat yang shahih adalah bahwa hadis ini berlaku secara umum. Siapa saja di antara kaum Muslimin yang meninggal dunia, lalu Allah Ta'ala mengilhamkan manusia untuk memujinya dengan kebaikan, maka itu adalah dalil (tanda) bahwa ia termasuk ahli surga, baik amal perbuatannya (secara lahiriah) tampak menuntut demikian atau tidak. Sebab, segala amal itu berada di bawah kehendak Allah (masyi’ah), dan ilham (pujian manusia) ini adalah petunjuk untuk menentukan ketetapan Allah tersebut. Di sinilah nampak faedah dari sebuah pujian. (Selesai kutipan Nawawi).
Hal ini (persaksian) dalam sisi kebaikan sudah jelas, dan didukung oleh riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dari jalan Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas secara marfu’: "Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia, lalu empat orang tetangga terdekatnya bersaksi bahwa mereka tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan, melainkan Allah Ta'ala akan berfirman: 'Aku telah menerima ucapan kalian, dan Aku telah mengampuni baginya apa yang tidak kalian ketahui'." Imam Ahmad juga meriwayatkan hadis serupa dari Abu Hurairah, namun menyebutkan "tiga orang" sebagai pengganti "empat orang", meskipun dalam sanadnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya (majhul), namun memiliki penguat (syahid) dari riwayat mursal Basyir bin Ka’ab.
Adapun dari sisi keburukan, secara tekstual hadis-hadis menunjukkan hal yang sama. Namun, hal itu hanya terjadi pada orang yang keburukannya lebih mendominasi daripada kebaikannya. Dalam riwayat An-Nadhr yang telah diisyaratkan sebelumnya di akhir hadis Anas disebutkan: "Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berbicara melalui lisan manusia tentang apa yang ada pada diri seseorang, baik itu kebaikan maupun keburukan". Hadis ini dijadikan dalil atas bolehnya menyebutkan seseorang sesuai dengan apa yang ada pada dirinya, baik kebaikan maupun keburukan jika ada keperluan (hajah), dan hal itu tidak termasuk ghibah (yang dilarang). Pembahasan mengenai ini akan datang pada bab "Larangan Mencaci Mayit" di akhir Kitab Jenazah. Hadis ini juga menjadi dasar diterimanya persaksian berdasarkan berita yang tersebar luas (istifadhah), dan bahwa jumlah minimal dasarnya adalah dua orang. Ibnu al-Arabi berkata: "Dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya memberikan kesaksian sebelum diminta, dan diterimanya kesaksian sebelum dimintai rinciannya (istifshal)." Dalam hadis ini juga terdapat penggunaan kata "pujian" (tsana') untuk hal buruk sebagai bentuk penyetaraan kata (musyakalah), padahal hakikat kata pujian hanya untuk hal yang baik. Wallahu A’lam”.
[Fath Al Baariy Li Ibn Hajar III/231]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
