2135. ANTARA ILMU FALAK (ASTRONOMI) DAN ILMU NUJUM (ASTROLOGI) DAN HUKUM MEMPELAJARINYA

(Foto: Arin.id)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum mau nanya hukum mempelajari ilmu falakiyah seperti dalam kitab abu masyar Al falaki dll. Seperti hari nass dan bagus. Menghitung menang dan kalah. Kecocokan pasangan. Siapa yg mati duluan istri atau suami dan karakter menurut jodiak / buruz. Kalo di Jawa mirip primbon
Apa sama kaya hukum ramal
[𝗖𝗮𝗵 𝗔𝗻𝗴𝗼𝗻...]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Antara ilmu Falak (Astronomi) dan Ilmu Nujum ((Astrologi) meskipun secara umum menyangkut kajian ilmu tentang mengetahui peredaran bintang tapi secara topik yang dibahas tidak lah sama. Ilmu Falak objek kajiannya untuk menghitung posisi benda langit untuk menentukan waktu salat, arah kiblat, gerhana, dan awal bulan qamariah. Sedangkan ilmu Nujum (Astrologi) walaupun menyangkut kajian tentang masalah perbintangan tapi ilmu yang menghubungkan posisi dan pergerakan benda langit dengan nasib, karakter manusia, atau kejadian-kejadian di bumi yang bersifat gaib. Objek kajiannya untuk ramalan nasib (horoskop), keberuntungan, jodoh, atau prediksi bencana berdasarkan rasi bintang (zodiak).

Jadi, kurang tepat jika ilmu Falak disematkan pada ilmu untuk menentukan hari baik dan Na'as, Menentukan jodoh yang baik dan lain sebagainya karena objek kajian itu dibahas di ilmu Nujum bukan ilmu Falak, sedangkan ilmu Falak sifatnya pasti tidak ada jenis ramalan seperti menentukan hari baik dan sebagainya seperti ilmu untuk menentukan arah kiblat, menentukan puasa dan sebagainya. Jadi, mempelajari ilmu Falak adalah wajib secara fardhu kifayah sedangkan jenis menentukan hari baik dan Na'as, Menentukan jodoh dan sebagainya adalah ilmu Nujum yang kerap kali disebut ilmu ramalan karena menentukan sesuatu yang tidak jelas kebenarannya seperti menentukan hari baik dan itu merupakan perkara ghaib yang hanya hak Allah mengetahui hakikatnya. Jenis ilmu ini adalah haram dipelajari karena menetapkan apa yang tidak jelas sebab ia merupakan perkara ghaib bahkan pelakunya dianggap kafir bila berkeyakinan apa yang ia tetapkan itu menjadikan sesuatu itu terjadi tanpa campur Allah didalamnya kecuali memang didasarkan sebab akibat seperti sudah sering terjadi. Karenanya, Pahamilah!!!

وَيَجِبُ تَعَلُّمُ عِلْمِ الْفَلَكِ بَلْ تَتَحَتَّمُ مَعْرِفَتُهُ، لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنْ مَعْرِفَةِ الْقِبْلَةِ، وَمَا يَتَعَلَّقُ بِالْأَهِلَّةِ كَالصَّوْمِ، سِيَّمَا فِي هَذَا الزَّمَانِ لِجَهْلِ الْحُكَّامِ وَتَسَاهُلِهِمْ وَتَهَوُّرِهِمْ، فَإِنَّهُمْ يَقْبَلُونَ شَهَادَةَ مَنْ لَا يُقْبَلُ بِحَالٍ.
“Wajib hukumnya mempelajari ilmu falak (astronomi), bahkan pengetahuan tentangnya menjadi suatu keharusan. Hal ini karena ilmu tersebut menjadi dasar untuk mengetahui arah kiblat dan hal-hal yang berkaitan dengan hilal (bulan sabit) seperti penentuan waktu puasa. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, dikarenakan ketidaktahuan para penguasa (hakim), sikap meremehkan, serta kecerobohan mereka; sesungguhnya mereka menerima kesaksian dari orang yang sama sekali tidak layak untuk diterima kesaksiannya”.
[Bughyah Al Mustarsyidiin Halaman 300]

وَسُئِلَ فَسَحَ اللهُ فِي مُدَّتِهِ، سُؤَالًا: وَقَعَ فِي عِبَارَاتِ الْفُقَهَاءِ مَا يُصَرِّحُ بِتَحْرِيمِ عِلْمِ التَّنْجِيمِ، هَلِ الْمُرَادُ بِهِ حِسَابِيَّاتُهُ أَوْ أَحْكَامُهُ؟ فَإِنْ خَصَّصْتُمُ الْحُكْمَ بِأَحْكَامِهِ مُعَلِّلِينَ بِأَنَّهُ إِنْبَاءٌ عَنِ الْغَيْبِ، فَمَا عِلَّةُ تَحْرِيمِهِمْ لِلطَّبِيعِيَّاتِ مَعَ أَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ ظَاهِرِ كَلَامِهِمُ اشْتِرَاكُ الْحُكْمَيْنِ فِي عِلَّةٍ وَاحِدَةٍ؟ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ: الْعُلُومُ الْمُتَعَلِّقَةُ بِالنُّجُومِ مِنْهَا مَا هُوَ وَاجِبٌ كَالِاسْتِدْلَالِ بِهَا عَلَى الْقِبْلَةِ وَالْأَوْقَاتِ وَاخْتِلَافِ الْمَطَالِعِ وَاتِّحَادِهَا وَنَحْوِ ذَلِكَ. وَمِنْهَا مَا هُوَ جَائِزٌ كَالِاسْتِدْلَالِ بِهَا عَلَى مَنَازِلِ الْقَمَرِ وَعُرُوضِ الْبِلَادِ وَنَحْوِهِمَا، وَمِنْهَا مَا هُوَ حَرَامٌ كَالِاسْتِدْلَالِ بِهَا عَلَى وُقُوعِ الْأَشْيَاءِ الْمُغَيَّبَةِ بِأَنْ يَقْضِيَ بِوُقُوعِ بَعْضِهَا مُسْتَدِلًّا بِهَا عَلَيْهِ، بِخِلَافِ مَا إِذَا قَالَ: إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اطَّرَدَتْ عَادَتُهُ بِأَنَّ هَذَا النَّجْمَ إِذَا حَصَلَ لَهُ كَذَا كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى وُقُوعِ كَذَا فَهَذَا لَا مَنْعَ مِنْهُ لِأَنَّهُ لَا مَحْذُورَ فِيهِ. وَأَمَّا الْبَحْثُ فِي الطَّبِيعِيَّاتِ فَإِنْ أُرِيدَ بِهِ مَعْرِفَةُ الْأَشْيَاءِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ عَلَى طَرِيقِ أَهْلِ الشَّرْعِ فَلَا مَنْعَ وَلَيْسَ مُشَابِهًا لِلتَّنْجِيمِ الْمُحَرَّمِ، وَإِنْ أُرِيدَ بِهِ مَعْرِفَةُ مَا هِيَ عَلَيْهِ عَلَى طَرِيقِ الْفَلَاسِفَةِ فَهُوَ حَرَامٌ لِأَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى مَفَاسِدَ كَاعْتِقَادِ قِدَمِ الْعَالَمِ وَنَحْوِهِ مِمَّا لَا يَخْفَى مِنْ قَبَائِحِهِمْ، وَحُرْمَتُهُ حِينَئِذٍ مُشَابِهَةٌ لِحُرْمَةِ التَّنْجِيمِ الْمُحَرَّمِ حَيْثُ أَفْضَى كُلٌّ مِنْهُمَا إِلَى الْمَفْسَدَةِ وَإِنِ اخْتَلَفَتْ نَوْعًا وَقُبْحًا، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ.
“(Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami) ditanya sebuah pertanyaan: "Dalam ungkapan para ahli fikih terdapat pernyataan tegas mengenai keharaman ilmu nujum (astrologi). Apakah yang dimaksud itu adalah aspek hitungannya (hisab) atau aspek hukum-hukum ramalannya (ahkam)? Jika Anda mengkhususkan hukum haram tersebut pada ramalannya dengan alasan bahwa itu adalah pemberitahuan tentang hal gaib, lalu apa alasan mereka mengharamkan ilmu alam (tabiiyyat), padahal secara lahiriah dari perkataan mereka, kedua hukum tersebut berserikat dalam satu alasan (illat) yang sama?"

Maka beliau menjawab: "Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bintang itu ada beberapa macam:
1. Wajib: Seperti menjadikannya dalil untuk menentukan arah kiblat, waktu-waktu (salat), serta perbedaan atau kesamaan tempat terbitnya bintang (mathali'), dan sejenisnya.
2. Boleh (Jaiz): Seperti menjadikannya dalil untuk mengetahui garis edar bulan (manazil al-qamar), letak lintang suatu negeri (urudh al-bilad), dan sejenisnya.
3. Haram: Seperti menjadikannya dalil atas terjadinya hal-hal gaib, dengan cara memastikan terjadinya sesuatu berdasarkan posisi bintang tersebut. Berbeda halnya jika seseorang berkata: 'Sesungguhnya Allah SWT telah menjalankan kebiasaan-Nya (adat) bahwa jika bintang ini dalam kondisi begini, maka hal itu menjadi pertanda akan terjadinya begini.' Hal ini tidak dilarang karena tidak ada unsur bahaya (akidah) di dalamnya.

Adapun pembahasan mengenai ilmu alam (tabiiyyat), jika yang dimaksud adalah mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya menurut jalan ahli syariat, maka tidak dilarang dan tidak serupa dengan astrologi yang diharamkan. Namun, jika yang dimaksud adalah mengetahui sesuatu menurut jalan para filsuf (kuno), maka itu haram; karena hal itu dapat menjerumuskan pada kerusakan akidah, seperti keyakinan bahwa alam semesta ini kekal/tanpa awal (qidam al-alam) dan keburukan lainnya yang sudah jelas. Keharamannya saat itu serupa dengan keharaman astrologi, di mana masing-masing berujung pada kerusakan (mufsadah), meskipun berbeda jenis dan tingkat keburukannya. Wallahu Subhanahu wa Ta'ala A'lam”.
[Al Fatawa Al Haditsiyyah Li Ibn Hajar Al Haitami Halaman 34]

(مَسْأَلَةٌ): إِذَا سَأَلَ رَجُلٌ آخَرَ: هَلْ لَيْلَةُ كَذَا أَوْ يَوْمُ كَذَا يَصْلُحُ لِلْعَقْدِ أَوِ النُّقْلَةِ؟ فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى جَوَابٍ؛ لِأَنَّ الشَّارِعَ نَهَى عَنِ اعْتِقَادِ ذَلِكَ وَزَجَرَ عَنْهُ زَجْرًا بَلِيغًا، فَلَا عِبْرَةَ بِمَنْ يَفْعَلُهُ. وَذَكَرَ ابْنُ الْفِرْكَاحِ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْمُنَجِّمُ يَقُولُ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ إِلَّا اللهُ، وَلَكِنْ أَجْرَى اللهُ الْعَادَةَ بِأَنَّهُ يَقَعُ كَذَا عِنْدَ كَذَا، وَالْمُؤَثِّرُ هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَهَذِهِ عِنْدِي لَا بَأْسَ فِيهَا، وَحَيْثُ جَاءَ الذَّمُّ يُحْمَلُ عَلَى مَنْ يَعْتَقِدُ تَأْثِيرَ النُّجُومِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ. وَأَفْتَى الزَّمْلَكَانِيُّ بِالتَّحْرِيمِ مُطْلَقًا.
“Apabila seseorang bertanya pada orang lain, apakah malam ini baik untuk di gunakan akad nikah atau pindah rumah maka pertanyaan seperti tidak perlu dijawab, karena nabi pembawa syariat melarang meyakini hal semacam itu dan mencegahnya dengan pencegahan yang sempurna maka tidak ada pertimbangan lagi bagi orang yang masih suka mengerjakannya, Imam Ibnu Farkah menuturkan dengan menyadur pendapat Imam syafii : Bila ahli nujum tersebut meyakini bahwa yang menjadikan segala sesuatu hanya Allah hanya saja Allah menjadikan sebab akibat dalam setiap kebiasaan maka keyakinan semacam ini tidak apa-apa yang bermasalah dan tercela adalah bila seseorang berkeyakinan bahwa bintang-bintang dan makhluk lain adalah yang mempengaruhi akan terjadinya sesuatu itu sendiri (bukan Allah)”. 
[Ghooyah At Talkhish al Muraad Min Fatawa Ibn Ziyad Halaman 337, Daar al Fikr dicetak bersama Bughyah]

فَمَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الْأَسْبَابَ الْعَادِيَّةَ كَالنَّارِ وَالسِّكِّينِ وَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ تُؤَثِّرُ فِي مُسَبَّبَاتِهَا كَالْحَرْقِ وَالْقَطْعِ وَالشِّبَعِ وَالرِّيِّ بِطَبْعِهَا وَذَاتِهَا فَهُوَ كَافِرٌ بِالْإِجْمَاعِ، أَوْ بِقُوَّةٍ خَلَقَهَا اللهُ فِيهَا فَفِي كُفْرِهِ قَوْلَانِ، وَالْأَصَحُّ أَنَّهُ لَيْسَ بِكَافِرٍ بَلْ فَاسِقٌ مُبْتَدِعٌ، وَمِثْلُ الْقَائِلِينَ بِذَلِكَ الْمُعْتَزِلَةُ الْقَائِلُونَ بِأَنَّ الْعَبْدَ يَخْلُقُ أَفْعَالَ نَفْسِهِ الِاخْتِيَارِيَّةَ بِقُدْرَةٍ خَلَقَهَا اللهُ فِيهِ، فَالْأَصَحُّ عَدَمُ كُفْرِهِمْ. وَمَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الْمُؤَثِّرَ هُوَ اللهُ لَكِنْ جَعَلَ بَيْنَ الْأَسْبَابِ وَمُسَبَّبَاتِهَا تَلَازُمًا عَقْلِيًّا بِحَيْثُ لَا يَصِحُّ تَخَلُّفُهَا فَهُوَ جَاهِلٌ، وَرُبَّمَا جَرَّهُ ذَلِكَ إِلَى الْكُفْرِ، فَإِنَّهُ قَدْ يُنْكِرُ مُعْجِزَاتِ الْأَنْبِيَاءِ لِكَوْنِهَا عَلَى خِلَافِ الْعَادَةِ. وَمَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الْمُؤَثِّرَ هُوَ اللهُ وَجَعَلَ بَيْنَ الْأَسْبَابِ وَالْمُسَبَّبَاتِ تَلَازُمًا عَادِيًّا بِحَيْثُ يَصِحُّ تَخَلُّفُهَا فَهُوَ الْمُؤْمِنُ النَّاجِي إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، فَالْفِرَقُ فِي ذَلِكَ أَرْبَعَةٌ كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ كُتُبِ السَّنُوسِيِّ.
“Barangsiapa meyakini bahwa sebab-sebab adat (hukum alam)—seperti api, pisau, makan, dan minum—dapat memberi pengaruh pada dampaknya—seperti membakar, memotong, kenyang, dan hilangnya rasa haus—secara watak dan zatnya sendiri, maka ia kafir menurut ijmak (kesepakatan ulama). Atau (jika ia meyakini sebab tersebut berpengaruh) melalui kekuatan yang Allah ciptakan di dalamnya, maka dalam hal kekafirannya terdapat dua pendapat; pendapat yang paling sahih adalah ia tidak kafir, melainkan fasik yang melakukan bid'ah. Contoh orang yang berpendapat demikian adalah kaum Mu'tazilah yang berpendapat bahwa seorang hamba menciptakan perbuatan ikhtiarnya sendiri dengan kemampuan yang Allah ciptakan di dalam dirinya; maka pendapat yang paling sahih adalah mereka tidak kafir.

Barangsiapa meyakini bahwa yang memberi pengaruh hanyalah Allah, namun ia menjadikan hubungan antara sebab dan akibat sebagai hubungan kelaziman secara akal (talazum aqli) sekiranya mustahil terjadi perpisahan (antara sebab dan akibat), maka ia adalah orang yang bodoh (jahil). Hal itu terkadang dapat menyeretnya kepada kekufuran, karena ia bisa saja mengingkari mukjizat para nabi disebabkan mukjizat tersebut terjadi menyalahi adat (hukum alam) dan barangsiapa meyakini bahwa yang memberi pengaruh hanyalah Allah, dan ia menjadikan hubungan antara sebab dan akibat sebagai hubungan kelaziman secara adat (talazum 'adi) sekiranya mungkin saja terjadi perpisahan (akibat tidak terjadi meski ada sebab), maka dialah mukmin yang selamat, insya Allah Ta'ala. Maka tingkatan manusia dalam hal ini ada empat kelompok sebagaimana yang diambil dari kitab-kitab Imam as-Sanusi”
[Tuhfah Al Muriid Ala Syarh Jauhar At Tauhiid Li As Syeikh Ibrahim Al Bajuri Halaman 66, Al Haramain]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama