(Foto: RBTV Disway)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamu'alaikum yi...izin bertanya
Sudah lah kita pisah saja
Kata tersebut di sebut talaq soreh apa kinayah yah??
[+62 831-6077-2776]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Bila diucapkan dengan bahasa kita bukan bahasa Arab maka termasuk terjemah dari الفراق maka termasuk kinayah. Walaupun pada kasus ini ulama Syafi'iyah ada perselisihan pendapat ada mengklaim sebagai pendapat yang Mu'tamad termasuk Sharih namun yang lain mengklaim pendapat yang Mu'tamad adalah kinayah sedangkan pendapat yang Mu'tamad disebutkan diawal hakikatnya adalah Dha'if.
Jadi, jika suami yang non arab mengucapkan "Ya udah, kita pisah saja" maka ungkapan itu termasuk kinayah karena terjemah dari kata الفراق kecuali mengucapkan dengan bahasa arab sesuai prosedurnya. Sebab lafadz الفراق ketika diterjemahkan ke bahasa non arab bisa berpengertian selain thalak seperti pisah ranjang, pisah rumah, dan pisah lainnya.
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Ketika ungkapan kata "𝗣𝗶𝘀𝗮𝗵" dilontarkan oleh suami menggunakan bahasa sehari-hari atau bukan bahasa Arab maka sifatnya termasuk terjemah dari الفراق yang tergolong Sharih atau kinayah terjadi khilaf:
1. 𝗧𝗲𝗿𝗴𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝗦𝗵𝗮𝗿𝗶𝗵
Pendapat ini dianut oleh Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari pada kitab Syarah beliau seperti Asnal Mathaalib Syarh Raudh At Thaalib, Al Manhaj, demikian pula Imam Al Mawardi, dan juga pemilik kitab Al Muharar dan Al Ubab.
2. 𝗧𝗲𝗿𝗴𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝗞𝗶𝗻𝗮𝘆𝗮𝗵
Pendapat ini dianut oleh sekumpulan Ulama Syafi'iyah seperti dalam kitab Raudhah karangan Imam Nawawi, juga kitab Ar Raudh, Al Irsyad, serta kitab Mughni (karangan Syeikh Al Khathib As Syarbini), Kitab Tuhfah (karangan Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami), Kitab Nihaayah (karangan Imam Ramli) dan Fathul Jawaad (karya Syekh Ibnu Hajar Al Haitami juga).
Jadi, tergantung berada di pihak mana. Namun sebagian Hawasyi (seperti diterangkan oleh Syeikh Bakri Syatha Dimyathi) menganggap lemah pendapat pertama.
Baik pendapat pertama maupun pendapat kedua boleh diamalkan.
وَتَرْجَمَةُ صَاحِبَيْهِ صَرِيْحٌ أَيْضًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ، وَنَقَلَ الْأَذْرَعِيُّ عَنْ جَمْعٍ الْجَزْمَ بِهِ.
(قَوْلُهُ: وَتَرْجَمَةُ صَاحِبَيْهِ) أَيِ الْفِرَاقِ وَالسَّرَاحِ. (وَقَوْلُهُ: صَرِيْحٌ أَيْضًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ): قَالَ فِي التُّحْفَةِ بَعْدَهُ عَلَى مَا اقْتَضَاهُ ظَاهِرُ أَصْلِهِ، وَاعْتَمَدَهُ الْأَذْرَعِيُّ، وَنَقَلَ عَنْ جَمْعٍ الْجَزْمَ بِهِ، لَكِنَّ الَّذِي فِي أَصْلِ الرَّوْضَةِ عَنِ الْإِمَامِ وَالرُّوْيَانِيِّ وَأَقَرَّاهُ أَنَّهَا كِنَايَةٌ لِبُعْدِهَا عَنِ الِاسْتِعْمَالِ اهـ. وَظَاهِرُهَا اعْتِمَادُ أَنَّهَا كِنَايَةٌ، وَجَزَمَ بِهَا فِي شَرْحِ الْإِرْشَادِ فَقَالَ: أَمَّا تَرْجَمَةُ السَّرَاحِ وَالْفِرَاقِ فَكِنَايَةٌ، خِلَافًا لِلْحَاوِي كَمَا صَحَّحَهُ فِي أَصْلِ الرَّوْضَةِ وَإِنْ أَطَالَ جَمْعٌ فِي رَدِّهِ اهـ. وَجَزَمَ بِهَا فِي النِّهَايَةِ أَيْضًا، فَعُلِمَ أَنَّ قَوْلَهُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ هُوَ جَارٍ فِيهِ - عَلَى مَا اقْتَضَاهُ ظَاهِرُ أَصْلِ الْمِنْهَاجِ - وَهُوَ الْمُحَرَّرُ، وَعَلَى مَا اعْتَمَدَهُ الْأَذْرَعِيُّ. وَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ الْمُعْتَمَدَ خِلَافُهُ. (قَوْلُهُ: الْجَزْمُ بِهِ) أَي بِهَذَا الْمُعْتَمَدِ، وَهُوَ ضَعِيفٌ كَمَا عَلِمْتَ.
“Dan terjemahan dari kedua 'kawannya' (yakni kata Al-Firaq dan As-Sarāh) adalah Sharih (tegas) juga menurut pendapat yang Mu’tamad (kuat), dan Imam Al-Adzra’i menukil dari sekelompok ulama yang memastikan (memantapkan) pendapat tersebut.
(Perkataan Pengarang "Dan terjemahan dari kedua kawannya") Yakni terjemahan untuk kata Al-Firaq (Pisah) dan As-Sarāh (Lepas).
(Perkataan Pengarang "Sharih juga menurut pendapat yang Mu’tamad") Dalam kitab At-Tuhfah (Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami) berkata bahwa status Sharih ini sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh zahir kitab asalnya (Al-Minhaj), dan pendapat ini dipegang oleh Al-Adzra’i serta dinukil dari sekelompok ulama yang memastikannya. Namun, pendapat yang terdapat dalam kitab Ash-shul Ar-Raudhah (karya Imam Nawawi) dari Imam Al-Haramain dan Ar-Ruyani—dan keduanya menyetujui pendapat tersebut—bahwa terjemahan keduanya (Pisah dan Lepas) adalah Kinayah, karena jauhnya kata-kata tersebut dari penggunaan (populer untuk cerai). Secara lahiriah, pendapat yang dianggap Mu'tamad (dalam konteks ini) adalah statusnya sebagai Kinayah. Hal ini ditegaskan dalam Syarh al-Irsyad yang menyebutkan: "Adapun terjemahan As-Sarāh dan Al-Firaq adalah Kinayah, berbeda dengan pendapat kitab Al-Hawi, sebagaimana yang disahihkan dalam Ash-shul Ar-Raudhah meskipun banyak ulama yang panjang lebar menolaknya". Pendapat Kinayah ini juga ditegaskan dalam kitab An-Nihayah (karya Imam Ar-Ramli). Maka diketahuilah bahwa perkataan "menurut pendapat yang Mu’tamad" (di awal teks) itu berjalan di atas apa yang dikehendaki oleh zahir asal kitab Al-Minhaj dan Al-Muharrar serta apa yang dipegang Al-Adzra’i. Namun engkau telah mengetahui bahwa pendapat Mu'tamad yang sebenarnya (di kalangan ulama muta'akhirin) adalah kebalikannya (yakni statusnya Kinayah).
(Perkataan Pengarang "Memastikannya") Yakni memastikan pendapat "Mu'tamad" yang menyatakan Sharih tadi, padahal pendapat itu lemah (dha'if) sebagaimana yang telah engkau ketahui”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin IV/9, Cet, Nurul Ilmi Surabaya]
(قَوْلُهُ: صَاحِبَيْهِ) أَيِ الْفِرَاقِ وَالسَّرَاحِ. وَقَوْلُهُ: "صَرِيحٌ أَيْضًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ" تَبِعَ شَيْخَ الْإِسْلَامِ فِي شُرُوْحِهِ عَلَى الرَّوْضِ وَالْمَنْهَجِ وَالْبَهْجَةِ كَالْحَاوِي وَالْمُحَرَّرِ وَالْعُبَابِ. لَكِنَّ الَّذِي فِي الرَّوْضَةِ وَالرَّوْضِ وَالْإِرْشَادِ وَجَرَى عَلَيْهِ فِي الْمُغْنِي وَالتُّحْفَةِ وَالنِّهَايَةِ وَفَتْحِ الْجَوَادِ: تَرْجَمَتُهَا كِنَايَةٌ.
“(Perkataan Pengarang "Kedua kawannya") Yakni kata Al-Firaq (Pisah) dan As-Sarāh (Lepas).
(Perkataan Pengarang "Sharih juga menurut pendapat yang Mu’tamad") Dalam hal ini, penulis mengikuti pendapat Syaikhul Islam (Zakariyya al-Anshari) dalam kitab-kitab syarah beliau terhadap Ar-Raudh, Al-Manhaj, dan Al-Bahjah; sebagaimana juga diikuti oleh kitab Al-Hawi, Al-Muharrar, dan Al-Ubab. Akan tetapi, pendapat yang tertera dalam kitab Ar-Raudhah (Imam Nawawi), Ar-Raudh, dan Al-Irsyad—serta pendapat yang diikuti dalam kitab Al-Mughni (Al-Khathib asy-Syirbini), At-Tuhfah (Ibnu Hajar al-Haitami), An-Nihayah (Syamsuddin ar-Ramli), dan Fathul Jawad—menyatakan bahwa: Terjemahan kedua kata tersebut adalah KINAYAH”.
[Tarsyiih Al Mustafidin Bi Tausyieh Fath Al Mu'in Halaman 335-336, Cet. Al Haramain]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
