(Foto: Facebook)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum, mohon ijin bertanya Para Yai, ketika menyembelih sapi kita tidak tau ada anak didalamnya, bagaimana hukumnya kita mengkonsumsi anak sapi itu, terimakasih 🙏🙏
[𝗔𝗸𝗵𝗺𝗮𝗱 𝗬𝗮𝗻𝗶]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Janin hewan yang disembelih induknya dan mendapati janinnya dalam keadaan mati adalah halal dimakan asal matinya disebabkan karena disembelih induknya bukan matinya karena sebab lain. Sedangkan bila matinya karena sebab lain seperti induknya dihempaskan ke tanah dan ia mati karena itu maka tidak halal dimakan, demikian juga sebab lainnya selain kematiannya karena disembelih induknya.
Adapun bila diragukan antara matinya disebabkan disembelih induknya atau lainnya maka ada khilaf; Menurut pendapat yang kuat tidak halal, tapi menurut Syeikh As Syaubari halal. Sekiranya anak janin hewan itu hidup dan hidupnya normal seperti biasa maka halal dimakan dengan cara disembelih, sedangkan bila hidupnya seperti hidup hewan selepas disembelih dan mati seketika maka juga dihukumi halal.
وَيَحِلُّ الْجَنِينُ بِذَبْحِ أُمِّهِ إِنْ مَاتَ فِي بَطْنِهَا، أَوْ خَرَجَ فِي حَرَكَةِ مَذْبُوحٍ، وَمَاتَ حَالاً.
(قَوْلُهُ: إِنْ مَاتَ فِي بَطْنِهَا) قَيْدٌ فِي حِلِّهِ بِذَكَاةِ أُمِّهِ، أَيْ يَحِلُّ إِنْ مَاتَ فِي بَطْنِهَا، أَيْ بِسَبَبِ ذَبْحِ أُمِّهِ بِأَنْ سَكَنَ عَقِبَ ذَبْحِهَا بِلَا مُهْلَةٍ، وَلَمْ يُوجَدْ سَبَبٌ يُحَالُ عَلَيْهِ مَوْتُهُ، فَلَوْ اضْطَرَبَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ بَعْدَ ذَبْحِهَا زَمَنًا طَوِيلًا، ثُمَّ سَكَنَ، لَمْ يَحِلَّ. وَلَوْ ضُرِبَتْ أُمُّهُ عَلَى بَطْنِهَا فَسَكَنَ، ثُمَّ ذُبِحَتْ فَوُجِدَ مَيْتًا، لَمْ يَحِلَّ لِإِحَالَةِ مَوْتِهِ عَلَى ضَرْبِ أُمِّهِ. وَلَوْ شَكَّ: هَلْ مَاتَ بِذَكَاةِ أُمِّهِ أَوْ لَا؟ فَالظَّاهِرُ: عَدَمُ حِلِّهِ. وَالَّذِي فِي حَاشِيَةِ الشَّوْبَرِيِّ: حِلُّهُ، قَالَ: لِأَنَّهَا سَبَبٌ فِي حِلِّهِ، وَالْأَصْلُ عَدَمُ الْمَانِعِ. وَلَوْ مَاتَ فِي بَطْنِهَا قَبْلَ ذَبْحِهَا كَانَ مَيْتَةً لَا مَحَالَةَ لِأَنَّ ذَكَاةَ أُمِّهِ لَمْ تُؤَثِّرْ فِيهِ، وَالْحَدِيثُ يُشِيرُ إِلَيْهِ.
“Dan janin itu menjadi halal dengan sebab penyembelihan induknya jika ia mati di dalam perut, atau jika ia keluar dalam keadaan bergerak seperti gerakan hewan yang disembelih (harakatul madzbuh), lalu mati seketika.
(Perkataan Pengarang "Jika janin itu mati di dalam perut induknya") Ini merupakan batasan (qaid) mengenai halalnya janin dengan sebab penyembelihan induknya. Artinya, janin tersebut halal jika mati di dalam perut, yakni mati disebabkan oleh penyembelihan induknya; dengan gambaran janin tersebut berhenti bergerak (mati) tepat setelah induknya disembelih tanpa ada jeda waktu, serta tidak ditemukan sebab lain yang menjadi penyebab kematiannya.
Jika janin tersebut masih bergerak-gerak di dalam perut induknya dalam waktu yang lama setelah induknya disembelih, kemudian baru diam (mati), maka janin itu tidak halal. Jika perut induknya dipukul sehingga janin tersebut diam (diduga mati), kemudian induknya disembelih dan janin ditemukan dalam keadaan mati, maka janin itu tidak halal karena kematiannya dinisbatkan pada pukulan terhadap induknya.
Apabila muncul keraguan: "Apakah janin ini mati karena penyembelihan induknya atau karena sebab lain?", maka pendapat yang kuat (azh-Zhahir) adalah tidak halal. Namun, pendapat yang tercantum dalam Hasyiyah asy-Syaubari menyatakan janin itu halal. Beliau berargumen: "Karena penyembelihan induk adalah sebab halalnya janin, dan hukum asalnya adalah tidak adanya penghalang (manik)."
Jika janin telah mati di dalam perut sebelum induknya disembelih, maka janin tersebut statusnya adalah bangkai (haram) tanpa keraguan, karena penyembelihan induknya tidak memberikan pengaruh apa pun pada janin tersebut. Hadis Nabi ﷺ juga mengisyaratkan hal demikian.
(Perkataan Pengarang "Atau keluar dalam keadaan bergerak seperti gerakan hewan yang disembelih") Mengecualikan kondisi apabila janin tersebut keluar dalam keadaan memiliki kehidupan yang stabil (hayatun mustaqirrah); maka dalam kondisi ini, janin tersebut wajib disembelih secara tersendiri (agar menjadi halal)”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin II/342]
(قَوْلُهُ: جَنِينُ الْمُذَكَّاةِ) أَيِ الَّذِي حَلَّتْهُ الرُّوحُ، وَأَمَّا الَّذِي لَمْ تَحُلَّهُ الرُّوحُ فَهُوَ مُلْحَقٌ بِمَا فِي بَاطِنِهَا. وَيَحِلُّ الْجَنِينُ وَلَوْ عَلَى صُورَةِ كَلْبٍ مَا لَمْ نُشَاهِدْ كَلْبًا نَطَّ عَلَيْهِ لِأَنَّ اللهَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ الْفَرْعَ عَلَى خِلَافِ أَصْلِهِ. قَوْلُهُ: (إِذَا خَرَجَ مِنْ بَطْنِ أُمِّهِ مَيْتًا) أَيْ بِسَبَبِ مَوْتِ أُمِّهِ لَا بِسَبَبٍ آخَرَ كَوَقْعَتِهَا عَلَى الْأَرْضِ.
“(Perkataan Pengarang "Janin dari hewan yang disembelih") Maksudnya adalah janin yang sudah ditiupkan ruh ke dalamnya. Adapun janin yang belum ditiupkan ruh, maka ia dihukumi sama seperti bagian dalam perut induknya. Janin tersebut tetap dihukumi halal meskipun rupa fisiknya menyerupai anjing, selama kita tidak melihat secara langsung ada anjing yang mengawini induknya. Hal ini karena Allah Maha Kuasa untuk menciptakan keturunan (fara') dengan bentuk yang berbeda dari induknya (ashl).
(Perkataan Pengarang "Apabila janin keluar dari perut induknya dalam keadaan mati") Yaitu mati disebabkan oleh kematian induknya (saat disembelih), bukan karena sebab lain, seperti misalnya induknya jatuh terhempas ke tanah (sebelum disembelih)”.
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Ibnu Qasiim I/39]
(Mujawib: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶 & 𝗔𝗵𝗺𝗮𝗱)
(Mushahhih: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
