2189. HUKUM MENYEWAKAN BARANG SEWAAN

(Foto: PengusahaMuslim.com)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
>> 𝗜𝗺𝗿𝗮'𝗮𝗵 𝗛𝗶𝗷𝗿𝗮𝗵
Assalamualaikum wr.wb
Bolehkah jika suatu barang yang sy sewa, kemudian sy sewakan lagi ke orang lain, barangnya seperti motor atau mobil ? 😊🙏

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
>> 𝗜𝘀𝗿𝗶𝗻𝗶 𝗠𝗮𝗱𝗶𝘂𝗻 𝗛𝗮𝘀𝗺𝗮-𝗷𝗸𝘁
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Boleh.

Menurut pendapat dari ulama Hanabillah dan ulama Syafi'iyah, boleh bagi pihak penyewa menyewakan kembali barang yang telah ia sewa ketika sudah diterima.

Imam Ibnu Qudamah (Ulama Madzhab Hambali) mengatakan :

ﻓﺼﻞ : ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﺘﺄﺟﺮ ﺃﻥ ﻳﺆﺟﺮ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﺘﺄﺟﺮﺓ ﺇﺫﺍ ﻗﺒﻀﻬﺎ . ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺣﻤﺪ . ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﺴﻴﺐ ، ﻭﺍﺑﻦ ﺳﻴﺮﻳﻦ ، ﻭﻣﺠﺎﻫﺪ ، ﻭﻋﻜﺮﻣﺔ ، ﻭﺃﺑﻲ ﺳﻠﻤﺔ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ، ﻭﺍﻟﻨﺨﻌﻲ ، ﻭﺍﻟﺸﻌﺒﻲ ، ﻭﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ، ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ.

Fasal : Boleh bagi pihak penyewa menyewakan kembali apabila barang yang disewa ketika sudah diterima, seperti yang di-nash oleh Imam Ahmad bin Hanbal, adapun ini juga pendapatnya Said bin Al Musayyab, Ibnu Sirin, Mujahid Ikrimah, Abi Salamah bin Abdur Rahman, An-nakho'i, Sya'bi, At tsauri, Imam Syafi'i.
( Al Mughni, juz 8/278 )

>> 𝗩𝗶𝘁𝗵𝗮 𝗙𝗶𝗻𝗮𝗹𝗶𝗮
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Boleh.

Abu Ishaq al-Shirazi mengatakan :

فصل وللمستأجر أن يؤجر العين المستأجرة إذا قبضها لان الإجارة كالبيع وبيع المبيع يجوز بعد القبض فكذلك إجارة المستأجر.

Fasal : 
Penyewa mempunyai hak untuk menyewakan barang yang disewa ketika sudah diterima, karena sewa itu seperti menjual, dan menjual barang yang telah dibeli itu diperbolehkan setelah diterima, begitu pula dengan sewa menyewa.
( al-Muhadzdzab, juz 2/258 )

>> 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀-𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Hukum penyewa (orang yang menyewa) menyewakan kembali suatu barang ada rinciannya sebagai berikut:

1. 𝗠𝗘𝗡𝗬𝗘𝗪𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗡𝗘𝗥𝗜𝗠𝗔 𝗕𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚

Dalam kondisi ini ada khilaf Ulama:
° 𝗕𝗼𝗹𝗲𝗵, inilah pendapat Mayoritas Ulama diberbagai Madzhab. Yang berpendapat demikian adalah: Said bin al-Musayyib, Ibnu Sirin, Mujahid, Ikrimah, Abu Salamah bin Abdul Rahman, an-Nakha'i, asy-Sya'bi, ats-Tsauri, asy-Syafii, serta Ashhabur Ra’yi dan Imam Ahmad.

° 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵; Al-Qadhi dari kalangan mazhab Hambali menyebutkan adanya riwayat lain yang menyatakan bahwa hal itu tidak boleh, karena Nabi ﷺ melarang mengambil keuntungan dari apa yang belum dijamin (dhamman), sedangkan manfaat barang tersebut belum masuk ke dalam jaminannya. Alasan lainnya, karena itu merupakan transaksi atas sesuatu yang belum masuk ke dalam jaminannya, sehingga tidak boleh, sebagaimana larangan menjual barang yang ditakar atau ditimbang sebelum diserahterimakan.

Yang paling Shahih dari kedua pendapat tersebut adalah pendapat yang pertama. Berdasarkan pendapat tersebut maka penyewa tidak boleh menyewakannya kembali kecuali kepada orang yang sepadan tingkat pemakaiannya atau yang lebih ringan tingkat kerusakannya (dampaknya terhadap barang) 

2. 𝗠𝗘𝗡𝗬𝗘𝗪𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗦𝗘𝗥𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗜𝗠𝗔

Pada kondisi ini dirinci lagi:
• 𝗗𝗶𝘀𝗲𝘄𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗮𝗶𝗻 (𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴. Pada kondisi ini ada khilaf Ulama:
° Hukumnya tidak boleh menurut salah satu dari tiga pendapat dalam mazhab kami (Syafii), dan salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Hambali, serta merupakan pendapat Abu Hanifah. Alasannya, karena manfaat tersebut dimiliki melalui akad pertukaran (mu'awadhah), maka status serah terima (qabdh) menjadi syarat sahnya akad sebagaimana pada fisik barang (a'yan). Pendapat ini juga ditetapkan oleh Imam Al Khathib As Syarbini dari kalangan Madzhab Syafi'i.

° Pendapat kedua menyatakan: Boleh, karena menerima fisik barang tidak memindahkan tanggung jawab kerusakan (dhamman) kepadanya, sehingga kebolehan transaksi tidak digantungkan pada serah terima tersebut.

• 𝗗𝗶𝘀𝗲𝘄𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝗮𝘀𝗮𝗹 (𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴)
Pada kondisi ini juga terjadi khilaf Ulama perbedaan pendapat diberbagai Madzhab:

° Tidak boleh, karena merupakan akad atas barang sebelum diserahterimakan.

° Boleh, karena proses serah terima tidaklah mustahil/sulit dilakukan baginya (pemilik asal), berbeda dengan pihak asing.
Dasar analogi keduanya adalah: Kasus menjual makanan sebelum serah terima; hukumnya tidak sah jika dijual kepada selain penjual asal (menurut satu riwayat yang bulat), lalu apakah sah jika dijual kembali kepada penjual asalnya? Dalam hal ini ada dua riwayat. Pendapat terakhir ini diklaim paling Shahih menurut Imam Nawawi sebagaimana dikutip oleh Imam Al Khathib As Syarbini (Madzhab Syafi'i).

3. 𝗠𝗘𝗡𝗬𝗘𝗪𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗧𝗘𝗟𝗔𝗛 𝗦𝗘𝗥𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗜𝗠𝗔 𝗞𝗘𝗣𝗔𝗗𝗔 𝗣𝗘𝗠𝗜𝗟𝗜𝗞 𝗔𝗦𝗔𝗟 (𝗣𝗘𝗠𝗜𝗟𝗜𝗞 𝗕𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚)

Adapun menyewakan kembali barang setelah diserahterimakan kepada pihak yang menyewakan (pemilik asli), hukumnya boleh. Ini adalah pendapat Ahmad dan asy-Syafii radhiyallahu 'anhu. Sementara Abu Hanifah berpendapat tidak boleh, karena hal itu akan menimbulkan kontradiksi hukum. Alasannya, kewajiban menyerahkan barang dibebankan atas transaksi sewa pertama (al-kira'), namun ketika pemilik asal menyewanya kembali, ia menjadi pihak yang berhak menerima barang tersebut. Akibatnya, ia menjadi pihak yang wajib menyerahkan sekaligus pihak yang berhak menerima atas objek yang sama, dan ini adalah sebuah kontradiksi.

𝗔𝗿𝗴𝘂𝗺𝗲𝗻 𝗠𝗮𝗱𝘇𝗵𝗮𝗯 𝗸𝗮𝗺𝗶 𝗦𝘆𝗮𝗳𝗶'𝗶: Sesungguhnya setiap akad yang diperbolehkan dilakukan dengan pihak selain pelaku akad, maka boleh pula dilakukan dengan pelaku akad itu sendiri, seperti dalam kasus jual beli.
Argumen yang mereka (Mazhab Hanafi) sebutkan tidaklah tepat, karena penyerahan pertama sebenarnya telah terjadi. Adapun hak penyerahan yang sekarang ini adalah proses penyerahan yang lain (baru). Argumen mereka patah dengan kasus jual beli; di mana penjual wajib menyerahkan fisik barang, namun jika ia membelinya kembali, ia berhak menerima penyerahan barang tersebut.

Wallahu A'lam

Ibarat:

تكملة المجموع شرح المهذب الجـــــــــزء الخامس عشر صـــــــــ ٥٩-٦٠
(فَرْعٌ) يَجُوزُ لِلْمُسْتَأْجِرِ أَنْ يُؤَجِّرَ الْعَيْنَ الَّتِي اسْتَأْجَرَهَا إِذَا قَبَضَهَا، وَنَصَّ أَحْمَدُ عَلَى ذَلِكَ، وَهُوَ قَوْلُ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، وَابْنِ سِيرِينَ، وَمُجَاهِدٍ، وَعِكْرِمَةَ، وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَالنَّخَعِيِّ، وَالشَّعْبِيِّ، وَالثَّوْرِيِّ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَصْحَابِ الرَّأْيِ.
وَذَكَرَ الْقَاضِي مِنَ الْحَنَابِلَةِ فِيهِ رِوَايَةً أُخْرَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ رِبْحِ مَا لَمْ يُضْمَنْ، وَالْمَنَافِعُ لَمْ تَدْخُلْ فِي ضَمَانِهِ، وَلِأَنَّهُ عَقْدٌ عَلَى مَا لَمْ يَدْخُلْ فِي ضَمَانِهِ فَلَمْ يَجُزْ كَبَيْعِ الْمَكِيلِ وَالْمَوْزُونِ قَبْلَ قَبْضِهِ.
وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ؛ لِأَنَّ قَبْضَ الْعَيْنِ قَامَ مَقَامَ قَبْضِ الْمَنَافِعِ بِدَلِيلِ أَنَّهُ يَجُوزُ التَّصَرُّفُ فِيهَا، فَجَازَ الْعَقْدُ عَلَيْهَا كَبَيْعِ الثَّمَرَةِ عَلَى الشَّجَرَةِ، وَقِيَاسُ الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى بَاطِلٌ عَلَى هَذَا الْأَصْلِ.
إِذَا ثَبَتَ هَذَا: فَإِنَّهُ لَا تَجُوزُ إِجَارَتُهُ إِلَّا لِمَنْ يَقُومُ مَقَامَهُ أَوْ دُونَهُ فِي الضَّرَرِ لِمَا مَضَى.
فَأَمَّا إِجَارَتُهَا قَبْلَ قَبْضِهَا فَلَا تَجُوزُ مِنْ غَيْرِ الْمُؤَجِّرِ فِي أَحَدِ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ عِنْدَنَا، وَأَحَدِ الْوَجْهَيْنِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ؛ لِأَنَّ الْمَنَافِعَ مَمْلُوكَةٌ بِعَقْدِ مُعَاوَضَةٍ، فَاعْتُبِرَ فِي جَوَازِ الْعَقْدِ عَلَيْهَا الْقَبْضُ كَالْأَعْيَانِ.
وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ؛ لِأَنَّ قَبْضَ الْعَيْنِ لَا يَنْتَقِلُ بِهِ الضَّمَانُ إِلَيْهِ، فَلَمْ يَقِفْ جَوَازُ التَّصَرُّفِ عَلَيْهِ.
فَأَمَّا إِجَارَتُهَا قَبْلَ الْقَبْضِ مِنَ الْمُؤَجِّرِ — وَهُوَ الْوَجْهُ الثَّالِثُ عِنْدَنَا، وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ — فَإِذَا قُلْنَا: لَا يَجُوزُ مِنْ غَيْرِ الْمُؤَجِّرِ، كَانَ فِيهِ وَجْهَانِ:
أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ؛ لِأَنَّهُ عَقْدٌ عَلَيْهَا قَبْلَ قَبْضِهَا.
وَالثَّانِي: يَجُوزُ؛ لِأَنَّ الْقَبْضَ لَا يَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ بِخِلَافِ الْأَجْنَبِيِّ.
وَأَصْلُهُمَا: بَيْعُ الطَّعَامِ قَبْلَ قَبْضِهِ لَا يَصِحُّ مِنْ غَيْرِ بَائِعِهِ رِوَايَةً وَاحِدَةً، وَهَلْ يَصِحُّ مِنْ بَائِعِهِ؟ عَلَى رِوَايَتَيْنِ.
فَأَمَّا إِجَارَتُهَا بَعْدَ قَبْضِهَا مِنَ الْمُؤَجِّرِ فَجَائِزَةٌ، وَبِهَذَا قَالَ أَحْمَدُ وَالشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يَجُوزُ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى تَنَاقُضِ الْأَحْكَامِ، لِأَنَّ التَّسْلِيمَ مُسْتَحَقٌّ عَلَى الْكِرَاءِ، فَإِذَا اكْتَرَاهَا صَارَ مُسْتَحَقًّا لَهُ، فَيَصِيرُ مُسْتَحَقًّا لِمَا يَسْتَحِقُّ عَلَيْهِ، وَهَذَا تَنَاقُضٌ.
دَلِيلُنَا: أَنَّ كُلَّ عَقْدٍ جَازَ مَعَ غَيْرِ الْعَاقِدِ جَازَ مَعَ الْعَاقِدِ كَالْبَيْعِ، وَمَا ذَكَرُوهُ لَا يَصِحُّ لِأَنَّ التَّسْلِيمَ قَدْ حَصَلَ، وَهَذَا الْمُسْتَحَقُّ لَهُ تَسْلِيمٌ آخَرُ يَبْطُلُ بِالْبَيْعِ، فَإِنَّهُ يُسْتَحَقُّ عَلَيْهِ تَسْلِيمُ الْعَيْنِ، فَإِذَا اشْتَرَاهَا اسْتَحَقَّ تَسْلِيمَهَا

مغني المحتاج الجـــــــــزء الثالث صـــــــــ ٤٧٢
وَلَيْسَ لِلْمُسْتَأْجِرِ فِي إجَارَةِ الْعَيْنِ أَنْ يُؤَجِّرَ الْعَيْنَ الْمُؤَجَّرَةَ قَبْلَ قَبْضِهَا مِنْ أَجْنَبِيٍّ، وَفِي إجَارَتِهَا لِلْمُؤَجِّرِ وَجْهَانِ: قَالَ الْمُصَنِّفُ: الْأَصَحُّ صِحَّتُهَا مِنْهُ. اهـ. وَيُفَرَّقُ بَيْنَ الْإِجَارَةِ وَالْبَيْعِ بِأَنَّهُ يُتَسَامَحُ فِي الْمَنَافِعِ مَا لَا يُتَسَامَحُ فِي الْأَعْيَانِ،

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama