2194. MINUM AIR ZAM-ZAM SUNAH DENGAN BERDIRI, BENARKAH?

(Foto: Instagram)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum bertanya guru 
ada kah p3mbahasan ttg minum ZAM ZAM dg cara berdiri hanya berlaku di kota Makkah saja
[𝗮𝗯𝗶𝗻𝘆𝗮 2𝗺𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Sejauh pengetahuan saya selama ini berdasarkan literatur klasik Syafi'iyah tidak ada keterangan seperti itu. Namun, memang ada sebagian pendapat Ulama yang menyatakan minum air zam-zam sunah dengan berdiri karena mengikuti teladan Baginda Nabi ﷺ karena tersebut dalam hadis yang Shahih beliau minum air zam-zam. Hanya saja, pendapat Ulama ini disanggah oleh Syeikh Al Bajuri dalam kitab Syarah Syamail dan beliau menyatakan perbuatan Rasulullah ﷺ itu hanya menerangkan kebolehan bagi diri beliau sendiri karenanya gugurlah pendapat Ulama yang menyatakan minum air zam-zam dengan berdiri adalah sunah karena mengikuti teladan Baginda Nabi ﷺ.

(قَوْلُهُ: لَا قَائِمًا) أَيْ لَا يُكْرَهُ الْأَكْلُ قَائِمًا (قَوْلُهُ: وَالشُّرْبُ قَائِمًا خِلَافُ الْأَوْلَى) عِبَارَةُ الرَّوْضِ وَشَرْحِهِ: وَالشُّرْبُ قَاعِدًا أَوْلَى مِنْهُ قَائِمًا أَوْ مُضْطَجِعًا، فَالشُّرْبُ قَائِمًا بِلَا عُذْرٍ خِلَافُ الْأَوْلَى، كَمَا اخْتَارَهُ فِي الرَّوْضَةِ، لَكِنَّهُ صَوَّبَ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ كَرَاهَتَهُ، وَأَمَّا شُرْبُهُ ﷺ قَائِمًا فَلِبَيَانِ الْجَوَازِ. قَالَ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ: وَيُسْتَحَبُّ لِمَنْ شَرِبَ قَائِمًا عَالِمًا أَوْ نَاسِيًا أَنْ يَتَقَيَّأَهُ؛ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ: «لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدُكُمْ قَائِمًا، فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ» اهـ. (وَاعْلَمْ) أَنَّهُ اسْتَثْنَى بَعْضُهُمْ شُرْبَ مَاءِ زَمْزَمَ وَقَالَ: إِنَّهُ يُسَنُّ الشُّرْبُ مِنْهُ قَائِمًا اتِّبَاعًا، فَقَدْ صَحَّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ شَرِبَ مِنْ زَمْزَمَ وَهُوَ قَائِمٌ. وَرَدَّهُ الْبَاجُورِيُّ فِي حَاشِيَةِ الشَّمَائِلِ بِمَا نَصُّهُ: وَإِنَّمَا شَرِبَ ﷺ وَهُوَ قَائِمٌ، مَعَ نَهْيِهِ عَنْهُ، لِبَيَانِ الْجَوَازِ، فَفِعْلُهُ لَيْسَ مَكْرُوهًا فِي حَقِّهِ، بَلْ وَاجِبٌ، فَسَقَطَ قَوْلُ بَعْضِهِمْ إِنَّهُ يُسَنُّ الشُّرْبُ مِنْ زَمْزَمَ قَائِمًا اتِّبَاعًا لَهُ ﷺ، وَلَا حَاجَةَ لِدَعْوَى النَّسْخِ أَوْ تَضْعِيفِ النَّهْيِ لِأَنَّهُ حَيْثُ أَمْكَنَ الْجَمْعُ وَجَبَ الْمَصِيرُ إِلَيْهِ.
“(perkataan Pengarang "Tidak sambil berdiri") Artinya, tidak dimakruhkan makan sambil berdiri.

(Perkataan Pengarang "Dan minum sambil berdiri itu menyelisihi yang utama/khilaf al-aula") Redaksi dalam kitab ar-Raudh beserta syarahnya berbunyi: "Minum sambil duduk itu lebih utama (afdal) daripada minum sambil berdiri atau berbaring. Maka, minum sambil berdiri tanpa adanya uzur hukumnya adalah khilaf al-aula (menyelisihi yang utama), sebagaimana yang dipilih (oleh Imam An-Nawawi) dalam kitab ar-Raudhah. Namun, beliau (Imam An-Nawawi) mensahihkan pendapat dalam Syarah Muslim bahwa hukumnya adalah makruh. Adapun tindakan Nabi ﷺ minum sambil berdiri adalah untuk menjelaskan kebolehannya".

Disebutkan dalam Syarah Muslim (karya Imam Nawawi): "Dan disunahkan bagi siapa saja yang minum sambil berdiri—baik dalam keadaan tahu (hukumnya) maupun lupa—untuk memuntahkannya kembali. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Muslim: 'Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Barang siapa yang lupa, maka muntahkanlah.'"

(Dan ketahuilah) bahwa sebagian ulama mengecualikan minum air zamzam. Mereka berpendapat: "Sesungguhnya disunahkan minum air zamzam sambil berdiri karena mengikuti (tindakan Nabi)". Sebab, telah sah (sahih) riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi ﷺ pernah minum air zamzam dalam keadaan berdiri. Namun, Al Bajuri menyanggah pendapat tersebut dalam kitab Hasyiyah asy-Syamail dengan redaksi sebagai berikut: "Hanyanya Nabi ﷺ minum dalam keadaan berdiri, padahal beliau melarangnya, adalah untuk menjelaskan kebolehannya (bayân al-jawâz). Maka, perbuatan tersebut tidaklah makruh bagi beliau, bahkan statusnya wajib (bagi Nabi untuk menjelaskan syariat). Oleh karena itu, gugurlah pendapat sebagian ulama yang menyatakan disunahkan minum air zamzam sambil berdiri karena mengikuti beliau ﷺ. Dan tidak perlu ada klaim adanya penghapusan hukum (nasakh) atau melemahkan hadis larangan tersebut, karena selama hadis-hadis tersebut masih mungkin dikompromikan (al-jam'u), maka wajib menempuh jalan kompromi tersebut.”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin III/367]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama