2200. HUKUM MENGAMALKAN QAUL QADIM IMAM SYAFI'I

(Foto: Al-Miftah Pamekasan Madura)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Pertanyaan lanjutan :

Bolehkah mengamalkan qoul qadim? 

Terimakasih
[+62 823-1713-7563]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

𝗛𝗨𝗞𝗨𝗠 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗔𝗠𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗤𝗔𝗨𝗟 𝗤𝗔𝗗𝗜𝗠 𝗜𝗠𝗔𝗠 𝗦𝗬𝗔𝗙𝗜'𝗜

𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 Imam Syafi'i tidak hanya dikatakan oleh seorang Ulama Syafi'iyah bahwa ia sudah dicabut oleh Imam Syafi'i sendiri sehingga beliau tidak membolehkan meriwayatkan dari beliau, sehingga ada Ulama Syafi'iyah menyebutkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 bukanlah termasuk Madzhab Syafi'i. Adapun terkait hukum mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 itu boleh tapi tentunya harus memenuhi kriteria yang akan disebutkan. Kriteria yang akan disebutkan mengecualikan kalau 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 bukan termasuk masalah yang dikecualikan oleh Ulama Syafi'iyah dan jika tidak maka boleh diamalkan secara mutlak. Sedangkan berbagai masalah 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 yang dianggap kuat yang dikecualikan tersebut Syeikh 𝘼𝙗𝙪 𝘽𝙖𝙠𝙖𝙧 𝘼𝙡-𝘼𝙨𝙮𝙠𝙝𝙖𝙧 menghitungnya 18 perkara, sementara Syeikh 𝘽𝙪𝙟𝙖𝙞𝙧𝙞𝙢𝙞 menghitung jumlahnya sampai 22 perkara. Sehingga untuk mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 yang tidak termasuk yang dikecualikan itu harus memenuhi kriteria berikut, yaitu: Orang yang akan mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 ia mesti sudah memenuhi kriteria sebagai tarjih yaitu mampu melakukan pemilahan pendapat yang kuat berdasarkan dalil yang ia temukan ia boleh berfatwa atau pun mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮. Melakukan tarjih ini bukanlah masalah gampang karena ia harus bisa menemukan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 itu berdasarkan hadis yang Shahih dan tidak ada hadis yang Shahih yang lain menentangnya. Tentunya, hal ini tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang apalagi orang awam seperti kita setidaknya ia menguasai:
° Ilmu Mukhtalif al-Hadits: Ilmu tentang hadis-hadis yang lahiriahnya tampak bertentangan dan cara mengompromikannya.

° Ilmu Nasikh wa al-Mansukh: Mengetahui mana hadis yang datang belakangan sebagai penghapus hukum terdahulu.

° Ihkam al-Asanid: Meneliti kesahihan jalur periwayatan.

Setelah memenuhi kriteria tersebut ia akan mengetahui bahwa 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 adalah pendapat yang kuat. Jika tidak demikian tidak boleh mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 terlebih bagi kita orang awam yang tidak mampu menempuh Metode tarjih dan menggali kesahihan hadis dan tidak ada hadis Shahih lain yang menentangnya, sehingga bisa dikatakan tidak boleh mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 imam Syafi'i yang masalah itu tidak ada termasuk yang dikecualikan dalam 18 atau 22 masalah yang keseluruhannya tidak saya rinci kan diuraikan tapi di ibarat yang dikutip.

Sehingga dapat diraih 𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻: Hukum mengamalkan Qaul Qadim diperbolehkan asal ia sudah memenuhi kriteria seorang ahli tarjih dan mampu meneliti 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 itu berdasarkan hadis Shahih dan tidak ada hadis yang Shahih yang lain bertentangan dengan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 itu dan jika tidak demikian maka tidak boleh mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 kecuali pada masalah-masalah yang Ulama mengecualikannya. Akan tetapi, bisa menempuh cara lain untuk kebolehan mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 bila secara jelas ada Ulama Syafi'iyah menyatakan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 itu bisa diamalkan seperti masalah mengqadha' atau hanya membayar fidyah Mayit yang meninggalkan kewajiban puasa. Qaul Qadim menentukan Hanya boleh membayar fidyah, sementara 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 membolehkan dengan cara mengqadha' puasa oleh ahli warisnya karena 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 tidak menentukan hanya boleh membayar fidyah saja. Masalah ini dinilai kuat oleh Imam Nawawi dan dinyatakan satu masalah yang dikecualikan mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 sebagaimana dikatakan oleh Syeikh 𝘼𝙡 𝘽𝙖𝙟𝙪𝙧𝙞. Sehingga bila tidak menemukan Pendapat yang mengunggulkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 maka tidak boleh mengamalkan 𝘘𝘢𝘶𝘭 𝘘𝘢𝘥𝘪𝘮 bila tidak memenuhi kriteria yang sudah disebutkan.

𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:

(مَسْأَلَةٌ ش) اَلْمَذْهَبُ الْقَدِيمُ لَيْسَ مَذْهَبًا لِلشَّافِعِيِّ ، لِأَنَّ الْمُقَلِّدَ مَعَ الْمُجْتَهِدِ كَالْمُجْتَهِدِ مَعَ الرَّسُولِ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، فَكَمَا أَنَّ الْحَادِثَ مِنْ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ نَاسِخٌ لِلْمُتَقَدِّمِ مِنْهَا إِجْمَاعًا حَتَّى يَجِبَ عَلَى الْمُجْتَهِدِ الْأَخْذُ بِهِ ، كَذَلِكَ الْمُقَلِّدُ مَعَ الْمُجْتَهِدِ ، وَأَمَّا الْمَسَائِلُ الَّتِي عَدُّوهَا وَجَعَلُوهَا مِمَّا يُفْتَى بِهِ عَلَى الْقَدِيمِ ، فَسَبَبُهَا أَنَّ جَمَاعَةً مِنَ الْمُجْتَهِدِينَ فِي مَذْهَبِهِ لَاحَ لَهُمْ فِي بَعْضِ الْمَسَائِلِ أَنَّ الْقَدِيمَ أَظْهَرُ دَلِيلًا فَأَفْتَوْا بِهِ ، غَيْرَ نَاسِبِي ذَلِكَ إِلَى الشَّافِعِيِّ كَالْقَوْلِ الْمُخَرَّجِ ، فَمَنْ بَلَغَ رُتْبَةَ التَّرْجِيحِ وَلَاحَ لَهُ الدَّلِيلُ أَفْتَى بِهَا ، وَإِلَّا فَلَا وَجْهَ لِعِلْمِهِ ، وَفَتْوَاهُ عَلَى أَنَّ الْمَسَائِلَ الَّتِي عَدُّوهَا أَكْثَرُهَا فِيهِ قَوْلٌ جَدِيدٌ ، فَتَكُونُ الْفَتْوَى بِهِ وَهِيَ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ مَسْأَلَةً : عَدَمُ وُجُوبِ التَّبَاعُدِ عَنِ النَّجَاسَةِ فِي الْمَاءِ الْكَثِيرِ بِقَدْرِ قُلَّتَيْنِ ، وَعَدَمُ تَنَجُّسِ الْمَاءِ الْجَارِي إِلَّا بِالتَّغَيُّرِ ، وَعَدَمُ النَّقْضِ بِلَمْسِ الْمَحْرَمِ ، وَتَحْرِيمُ أَكْلِ الْجِلْدِ الْمَدْبُوغِ ، وَالتَّثْوِيبُ فِي أَذَانِ الصُّبْحِ ، وَامْتِدَادُ وَقْتِ الْمَغْرِبِ إِلَى مَغِيبِ الشَّفَقِ ، وَاسْتِحْبَابُ تَعْجِيلِ الْعِشَاءِ ، وَعَدَمُ نَدْبِ قِرَاءَةِ السُّورَةِ فِي الْأَخِيرَتَيْنِ ، وَالْجَهْرُ بِالتَّأْمِينِ لِلْمَأْمُومِ فِي الْجَهْرِيَّةِ ، وَنَدْبُ الْخَطِّ عِنْدَ عَدَمِ الشَّاخِصِ ، وَجَوَازُ اقْتِدَاءِ الْمُنْفَرِدِ فِي أَثْنَاءِ صَلَاتِهِ ، وَكَرَاهَةُ تَقْلِيمِ أَظَافِرِ الْمَيِّتِ ، وَعَدَمُ اِعْتِبَارِ الْحَوْلِ فِي الرِّكَازِ ، وَصِيَامُ الْوَلِيِّ عَنِ الْمَيِّتِ الَّذِي عَلَيْهِ صَوْمٌ ، وَجَوَازُ اشْتِرَاطِ التَّحَلُّلِ بِالْمَرَضِ ، وَإِجْبَارُ الشَّرِيكِ عَلَى الْعِمَارَةِ ، وَجَعْلُ الصَّدَاقِ فِي يَدِ الزَّوْجِ مَضْمُونًا ، وَوُجُوبُ الْحَدِّ بِوَطْءِ الْمَمْلُوكَةِ الْمَحْرَمِ ، ذَكَرَهُ الْمَجْمُوعُ. وَيَجِبُ اِتِّفَاقًا نَقْضُ قَضَاءِ الْقَاضِي وَإِفْتَاءِ الْمُفْتِي بِغَيْرِ الرَّاجِحِ مِنْ مَذْهَبِهِ ، إِذْ مَنْ يَعْمَلُ فِي فَتْوَاهُ أَوْ عَمَلِهِ بِكُلِّ قَوْلٍ أَوْ وَجْهٍ فِي الْمَسْأَلَةِ ، وَيَعْمَلُ بِمَا شَاءَ مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ إِلَى تَرْجِيحٍ ، وَلَا يَتَقَيَّدُ بِهِ ، جَاهِلٌ خَارِقٌ لِلْإِجْمَاعِ ، وَلَا يَجُوزُ لِلْمُفْتِي أَنْ يُفْتِيَ الْجَاهِلَ الْمُتَمَسِّكَ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ صُورَةً بِغَيْرِ الرَّاجِحِ مِنْهُ.
“(Masalah: Syin - Fatwa Syeikh Abu Bakar Al Asykar -) Mazhab Qadim (pendapat lama) bukanlah mazhab bagi Imam Asy-Syafi'i. Karena kedudukan seorang mukallid (pengikut) di hadapan seorang mujtahid adalah seperti kedudukan seorang mujtahid di hadapan Rasulullah ﷺ sebagaimana dalil syarak yang datang kemudian secara Ijma' menghapus (nasikh) dalil yang terdengar mendahuluinya, sehingga wajib bagi mujtahid untuk mengambil dalil yang baru tersebut, demikian pula halnya dengan seorang mukallid di hadapan mujtahid. Adapun masalah-masalah yang mereka hitung dan jadikan sebagai perkara yang difatwakan berdasarkan Mazhab Qadim, sebabnya adalah karena sekelompok mujtahid di dalam mazhab beliau melihat jelas (tampak bagi mereka) pada sebagian masalah bahwa Mazhab Qadim memiliki dalil yang lebih kuat (azhar dalian), lalu mereka berfatwa dengannya tanpa menyandarkan fatwa tersebut kepada Imam Asy-Syafi'i—sama halnya seperti Qaul Mukharraj (pendapat yang diderivasi oleh murid-muridnya). Maka barang siapa yang telah mencapai derajat tarjih (mampu mengunggulkan pendapat) dan dalil tersebut tampak jelas baginya, ia boleh berfatwa dengannya. Jika tidak, maka tidak ada dasar bagi ilmu dan fatwanya. Lagipula, sebagian besar dari masalah-masalah yang mereka hitung tersebut sebenarnya juga memiliki Qaul Jadid (pendapat baru) di dalamnya, sehingga fatwa yang berlaku tetap menggunakan pendapat baru itu.

Masalah-masalah tersebut berjumlah 18 masalah, yaitu:
1. Tidak wajibnya menjauhkan diri dari najis pada air yang banyak (mencapai ukuran dua qullah).
2. Tidak najisnya air yang mengalir kecuali jika terjadi perubahan (sifat airnya).
3. Tidak batalnya wudu akibat menyentuh mahram.
4. Keharaman memakan kulit hewan yang telah disamak.
5. Syariat tathwib (seruan ash-shalatu khairum minan naum) pada azan subuh.
6. Memanjangnya waktu magrib sampai hilangnya syafak (mega merah).
7. Disunahkannya menyegerakan shalat Isya.
8. Tidak disunahkannya membaca surah pendek pada dua rakaat terakhir (rakaat ke-3 dan ke-4).
9. Mengeraskan bacaan amin bagi makmum dalam shalat jahriyyah (bacaan keras).
10. Disunahkannya membuat garis di atas tanah saat shalat ketika tidak ada benda yang tegak sebagai pembatas (syakhish).
11. Bolehnya orang yang shalat sendirian (munfarid) berubah niat menjadi makmum di tengah-tengah shalatnya.
12. Makruhnya memotong kuku mayat.
13. Tidak disyaratkannya haul (berlalunya waktu satu tahun) pada harta karun (rikaz).
14. Puasanya seorang wali untuk menggantikan mayat yang memiliki utang puasa.
15. Bolehnya mensyaratkan tahallul (keluar dari ihram) karena alasan sakit.
16. Memaksa mitra serikat (syarik) untuk ikut memperbaiki/membangun kembali fasilitas bersama.
17. Menjadikan mahar yang berada di tangan suami sebagai tanggungan yang dijamin (madhmunan).
18. Wajibnya hukuman had akibat menyetubuhi budak perempuan yang merupakan mahram sendiri. Hal ini disebutkan dalam kitab Al-Majmu'.

Dan secara konsensus (ittifaq), wajib membatalkan keputusan seorang qadi (hakim) dan fatwa seorang mufti jika diputuskan dengan pendapat yang tidak kuat (ghairul rajih) dari mazhabnya. Sebab, barang siapa yang dalam fatwa atau amalannya bertindak atas setiap pendapat atau wajah (pandangan ulama mazhab) dalam suatu masalah, dan mengamalkan apa saja yang ia kehendaki tanpa melihat pada aspek tarjih serta tidak terikat dengannya, maka ia adalah orang bodoh yang merusak ijma' (khariqun lil ijma'). Oleh karena itu, seorang mufti tidak boleh memberikan fatwa kepada orang awam—yang secara lahiriah berpegang teguh pada mazhab Syafi'i—dengan menggunakan pendapat yang tidak kuat (ghairul rajih) dari mazhab tersebut.”
[Bughyah Al Mustarsyidiin Halaman 8]

وَالْفَتْوَى عَلَى مَا فِي الْجَدِيدِ دُونَ الْقَدِيمِ، فَقَدْ رَجَعَ الشَّافِعِيُّ عَنْهُ وَقَالَ: لَا أَجْعَلُ فِي حِلٍّ مَنْ رَوَاهُ عَنِّي إلَّا فِي مَسَائِلَ يَسِيرَةٍ نَحْوُ السَّبْعَةَ عَشَرَ يُفْتِي فِيهَا بِالْقَدِيمِ، وَهَذَا كُلُّهُ فِي قَدِيمٍ لَمْ يُعَضِّدْهُ حَدِيثٌ صَحِيحٌ لَا مُعَارِضَ لَهُ، فَإِنْ اعْتَضَدَ بِدَلِيلٍ فَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ فَقَدْ صَحَّ أَنَّهُ قَالَ: إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَاضْرِبُوا بِقَوْلِي عُرْضَ الْحَائِطِ.

فَائِدَةٌ: الْمَسَائِلُ الَّتِي يُفْتِي بِهَا عَلَى الْقَوْلِ الْقَدِيمِ تَبْلُغُ اثْنَتَيْنِ وَعِشْرِينَ مَسْأَلَةً مِنْهَا عَدَمُ وُجُوبِ التَّبَاعُدِ عَنْ النَّجَاسَةِ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ وَالتَّثْوِيبُ فِي الْأَذَانِ وَعَدَمُ انْتِقَاضِ الْوُضُوءِ بِمَسِّ الْمَحَارِمِ وَطَهَارَةُ الْمَاءِ الْجَارِي الْكَثِيرِ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ، وَعَدَمُ الِاكْتِفَاءِ بِالْحَجَرِ إذَا انْتَشَرَ الْبَوْلُ وَتَعْجِيلُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَعَدَمُ مُضِيِّ وَقْتِ الْمَغْرِبِ بِمُضِيِّ خَمْسِ رَكَعَاتٍ، وَعَدَمُ قِرَاءَةِ السُّورَةِ فِي الْأَخِيرَتَيْنِ، وَالْمُنْفَرِدُ إذَا أَحْرَمَ بِالصَّلَاةِ ثُمَّ أَنْشَأَ الْقُدْوَةُ، وَكَرَاهِيَةُ قَلْمِ أَظْفَارِ الْمَيِّتِ، وَعَدَمُ اعْتِبَارِ النِّصَابِ فِي الرِّكَازِ، وَشَرْطُ التَّحَلُّلِ فِي الْحَجِّ بِعُذْرِ الْمَرَضِ، وَتَحْرِيمُ أَكْلِ جِلْدِ الْمَيْتَةِ بَعْدَ الدِّبَاغِ، وَلُزُومُ الْحَدِّ بِوَطْءِ الْمَحْرَمِ بِمِلْكِ الْيَمِينِ، وَقَبُولُ شَهَادَةِ فَرَعَيْنَ عَلَى كُلٍّ مِنْ الْأَصْلَيْنِ، وَغَرَامَةُ شُهُودِ الْمَالِ إذَا رَجَعُوا وَتَسَاقُطُ الْبَيِّنَتَيْنِ عِنْدَ التَّعَارُضِ، وَإِذَا كَانَتْ إحْدَى الْبَيِّنَتَيْنِ شَاهِدَيْنِ وَعَارَضَهَا شَاهِدٌ وَيَمِينٌ يُرَجَّحُ الشَّاهِدَانِ عَلَى الْقَدِيمِ وَعَدَمُ تَحْلِيفِ الدَّاخِلِ مَعَ بَيِّنَتِهِ إذَا عَارَضَهَا بَيِّنَةُ الْخَارِجِ وَإِذَا تَعَارَضَتْ الْبَيِّنَتَانِ وَأَرْخَتْ إحْدَاهُمَا قُدِّمَتْ عَلَى الْقَدِيمِ وَهُوَ الصَّحِيحُ عِنْدَ الْقَاضِي حُسَيْنٍ، وَإِذَا عَلِقَتْ الْأَمَةُ مِنْ وَطْءِ شُبْهَةٍ ثُمَّ مَلَكَهَا الْوَاطِئُ صَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ فِي الْقَدِيمِ وَاخْتُلِفَ فِي الصَّحِيحِ، وَتَزْوِيجُ أُمِّ الْوَلَدِ فِيهِ قَوْلَانِ وَاخْتَلَفَ فِي الصَّحِيحِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.
“Dan fatwa adalah berdasarkan apa yang ada dalam Qaul Jadid (pendapat baru Imam Syafi'i), bukan Qaul Qadim (pendapat lama). Karena Imam Asy-Syafi'i telah menarik kembali pendapat lama tersebut dan berkata: 'Aku tidak menghalalkan bagi siapa pun yang meriwayatkannya dariku,' kecuali dalam masalah-masalah yang sedikit, sekitar 17 masalah yang difatwakan dengan Qaul Qadim. Hal ini semua berlaku pada Qaul Qadim yang tidak didukung oleh hadis Shahih yang tidak memiliki penentang (hadis lain yang bertentangan). Jika didukung oleh dalil (hadis Shahih), maka itu adalah mazhab Asy-Syafi'i, karena telah sah bahwa beliau berkata: 'Apabila hadis itu Shahih, maka itulah mazhabku, dan campakkanlah perkataanku ke dinding.'

Faidah: Masalah-masalah yang difatwakan berdasarkan Qaul Qadim mencapai 22 masalah, di antaranya:
1. Tidak wajibnya menjauhkan diri dari najis pada air yang tenang (diam).
2. Tathwib (seruan ash-shalatu khairum minan naum) dalam azan (Subuh).
3. Tidak batalnya wudu akibat menyentuh mahram.
4. Sucinya air mengalir yang banyak selama tidak berubah (sifat airnya).
5. Tidak cukupnya menggunakan batu (saat istinja) apabila air kencing telah menyebar/meluas.
6. Menyegerakan shalat Isya'.
7. Tidak habisnya waktu Magrib dengan berlalunya waktu sekadar lima rakaat (artinya waktunya memanjang sampai hilangnya syafak).
8. Tidak membaca surah pendek pada dua rakaat terakhir (rakaat ke-3 dan ke-4).
9. Orang yang shalat sendirian (munfarid) apabila telah ihram shalat, kemudian berniat menjadi makmum di tengah shalatnya.
10. Makruhnya memotong kuku mayit.
11. Tidak diperhitungkannya nisab pada harta karun (rikaz).
12. Syarat tahallul dalam haji karena uzur sakit.
13. Keharaman memakan kulit bangkai setelah disamak.
14. Wajibnya hukuman had akibat menyetubuhi mahram dengan status budak (milkul yamin).
15. Diterimanya kesaksian dua orang saksi cabang (fara') atas masing-masing dari dua orang saksi asal (ashl).
16. Denda bagi saksi-saksi harta apabila mereka menarik kembali (ruju') kesaksiannya.
17. Gugurnya kedua bayyinah (bukti/saksi) ketika terjadi pertentangan (ta'arudh).
18. Jika salah satu dari dua bayyinah berupa dua orang saksi laki-laki dan ditentang oleh satu saksi beserta satu sumpah, maka dua saksi laki-laki itu diunggulkan menurut Qaul Qadim.
19. Tidak disumpahnya pihak dalam (yang menguasai barang) beserta bayyinah-nya, apabila ditentang oleh bayyinah dari pihak luar.
20. Jika dua bayyinah bertentangan dan salah satunya mencantumkan tanggal/waktu yang lebih awal (tarikh), maka ia didahulukan menurut Qaul Qadim, dan inilah yang sahih menurut Qadhi Husain.
21. Jika seorang budak perempuan hamil akibat persetubuhan syubhat, kemudian lelaki yang menyetubuhinya memilikinya, maka budak itu menjadi Ummul Walad (budak ibu anak) menurut salah satu dari dua pendapat dalam Qaul Qadim, dan terjadi perbedaan pendapat mengenai mana yang sahih.
22. Menikahkan Ummul Walad (oleh tuannya), di dalamnya ada dua pendapat (salah satunya Qaul Qadim), dan diperselisihkan mana yang Shahih. Wallahu A'lam.”
[Hasyiyah Al Bujairimi Ala Al Khathib I/54-55]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama