(Foto: Instagram)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamu'alaikum
Bolehkah membaca do'a qunut sebelum ruku?
Terimakasih
[+62 823-1713-7563]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Tergantung Madzhab yang dianut. Sekiranya menganut Madzhab Syafi'i seperti saya maka tidak boleh dan tidak mencukupi qunut sebelum ruku' berdasarkan pendapat yang kuat dan shalat tetap sah dan sunah sujud sahwi serta mengulanginya setelah ruku'. Inilah pendapat yang resmi dalam Madzhab Syafi'i, walaupun lawan pendapat yang kuat menganggap cukup qunut sebelum ruku' dan juga tidak perlu sujud sahwi, tapi pendapat yang kuat adalah yang pertama yaitu tidak mencukupi sebagai qunut, sunah diulangi setelah ruku' dan sujud sahwi. Adapun bila berpijak pada pendapat Imam Malik dan ini jika menganut Madzhab Maliki maka qunut sebelum ruku' memang itulah tempatnya. Meskipun demikian, kedua Madzhab tersebut punya dalil yang sama-sama kuat yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahih keduanya, walaupun menurut Imam Al Baihaqi - Seorang Ulama Syafi'iyah dan termasuk ahli hadis - menyebutkan bahwa riwayat qunut setelah ruku' lebih banyak perawinya dan kuat hafalannya. Meskipun demikian, sebagian Ulama Ahli hadis ada yang beramal melakukan qunut setelah ruku' pada shalat shubuh, sedangkan pada qunut witir mereka melakukan qunut sebelum ruku' sebagai mengamalkan dua hadis seakan berlawanan tersebut.
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Melakukan qunut sebelum ruku' berpijak pada pendapat yang kuat dalam Madzhab Syafi'i tidak boleh, tidak mencukupi dan dianjurkan mengulanginya setelah ruku' dan sujud sahwi walaupun shalatnya tetap sah. Sedangkan menurut Imam Malik qunut sebelum ruku' memang itulah tempatnya.
𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:
وَإِنَّمَا اخْتُصَّ بِاعْتِدَالِهِ لِمَا صَحَّ - مِنْ أَكْثَرِ الطُّرُقِ - أَنَّهُ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَعَلَهُ لِلنَّازِلَةِ بَعْدَ الرُّكُوعِ، فَقِسْنَا عَلَيْهِ هَذَا. وَجَاءَ بِسَنَدٍ حَسَنٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ - كَانُوا يَفْعَلُونَهُ بَعْدَ الرُّكُوعِ. فَلَوْ قَنَتَ شَافِعِيٌّ قَبْلَهُ لَمْ يُجْزِهِ وَيَسْجُدُ لِلسَّهْوِ.
“Dan hanyanya qunut itu dikhususkan pada saat I'tidal nya karena telah sah—dari mayoritas jalur periwayatan—bahwa Beliau ﷺ melakukannya saat terjadi nazilah (musibah) setelah ruku', maka kami mengqiyaskan (menanalogikan) qunut subuh ini kepadanya. Dan telah datang sebuah riwayat dengan sanad yang hasan bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman—semoga Allah meridai mereka—dahulu melakukannya setelah ruku'. Maka, sekiranya seorang yang bermazhab Syafi'i melakukan qunut sebelum ruku', hal itu tidak sah (tidak mencukupi) baginya dan ia harus melakukan sujud sahwi”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/158]
(قَوْلُهُ أَيْ فِي اعْتِدَالِ رَكْعَتِهِ الثَّانِيَةِ) وَعِنْدَ الْإِمَامِ مَالِكٍ قَبْلَ الرُّكُوعِ، قَالَ الْعَامِرِيُّ: وَلِكُلٍّ حُجَّةٌ ثَابِتَةٌ فِي الصَّحِيحَيْنِ، وَقَدْ اخْتَارَ بَعْضُ الْمُحَدِّثِينَ أَنْ يَقْنُتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي الْفَجْرِ وَفِي الْوِتْرِ قَبْلَهُ، عَمَلًا بِالْأَمْرَيْنِ اهـ.
“(Perkataan Pengarang "Yaitu pada saat I'tidal rakaat kedua”) Sedangkan menurut Imam Malik, posisi qunut adalah sebelum ruku'. Al-'Amiri berkata: "Masing-masing mazhab memiliki argumen (dalil) kuat yang tsabit dalam kitab Shahihain (Bukhari & Muslim). Sebagian ahli hadis memilih pendapat untuk berqunut setelah ruku' pada shalat subuh, dan berqunut sebelum ruku' pada shalat witir, sebagai bentuk mengamalkan kedua dalil yang ada". Selesai kutipan”.
[Tarsyiih Al Mustafidin Bi Tausyieh Fath Al Mu'in Halaman 65]
وَلَوْ قَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ لَمْ يُجْزِهِ فِي الْأَصَحِّ، وَلَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِهِ فِي الْأَصَحِّ.
“Dan sekiranya ia melakukan qunut sebelum ruku', hal itu tidak boleh menurut pendapat yang ashah (paling sahih), namun shalatnya tidak batal karena hal tersebut menurut pendapat yang ashah”
[Busyral Kariim I/80]
صَحِيحِهِ. وَكَوْنُهُ بَعْدَ رَفْعِ الرَّأْسِ مِنَ الرُّكُوعِ فَلِمَا وَرَدَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَمَّا قَنَتَ فِي قِصَّةِ قَتْلَى بِئْرِ مَعُونَةَ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَقِسْنَا عَلَيْهِ قُنُوتَ الصُّبْحِ) نَعَمْ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (كَانَ يَقْنُتُ قَبْلَ الرَّفْعِ مِنَ الرُّكُوعِ) قَالَ الْبَيْهَقِيُّ: لَكِنْ رُوَاةُ الْقُنُوتِ بَعْدَ الرَّفْعِ أَكْثَرُ وَأَحْفَظُ فَهَذَا أَوْلَى. فَلَوْ قَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ قَالَ فِي الرَّوْضَةِ: لَمْ يُجْزِئْهُ عَلَى الصَّحِيحِ وَيَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَلَى الْأَصَحِّ.
“Adapun keberadaan qunut pada rakaat kedua diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Sedangkan keberadaannya setelah mengangkat kepala dari ruku' adalah berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ: (Ketika beliau berqunut dalam kisah para korban yang terbunuh di sumur Ma'unah, beliau berqunut setelah ruku', maka kami mengqiyaskan qunut subuh kepadanya). Benar, di dalam kitab As-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) diriwayatkan dari Anas radiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ: Dahulu beliau berqunut sebelum mengangkat kepala dari ruku'). Imam Al-Baihaqi berkata: 'Akan tetapi para perawi yang meriwayatkan qunut setelah mengangkat kepala (dari ruku') jumlahnya lebih banyak dan lebih kuat hafalannya, maka ini lebih utama.' Sekiranya seseorang berqunut sebelum ruku', Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Ar-Raudhah: 'Tidak sah baginya menurut pendapat yang sahih, dan ia bersujud sahwi menurut pendapat yang ashah',”
[Kifaayah Al Akhyaar I/93-94]
فَصْلٌ: اعْلَمْ أَنَّ مَحَلَّ الْقُنُوتِ عِنْدَنَا فِي الصُّبْحِ بَعْدَ الرَّفْعِ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ وَقَالَ مَالِكٌ رَحِمَهُ اللهُ: يَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ. قَالَ أَصْحَابُنَا: فَلَوْ قَنَتَ شَافِعِيٌّ قَبْلَ الرُّكُوعِ لَمْ يُحْسَبْ لَهُ عَلَى الْأَصَحِّ، وَلَنَا وَجْهٌ أَنْ يُحْسَبَ، وَعَلَى الْأَصَحِّ: يُعِيدُهُ بَعْدَ الرُّكُوعِ وَيَسْجُدُ لِلسَّهْوِ، وَقِيلَ: لَا يَسْجُدُ.
“Pasal: Ketahuilah bahwa tempat qunut subuh menurut Madzhab kami (Syafi'i) adalah setelah mengangkat kepala dari ruku' pada rakaat kedua. Sedangkan Imam Malik rahimahullah berkata: 'Ia berqunut sebelum ruku' '.
Para sahabat kami (ulama madzhab Syafi'i) berkata: 'Sekiranya seorang yang bermazhab Syafi'i berqunut sebelum ruku', maka hal itu tidak dianggap/dihitung baginya menurut pendapat yang ashah. Namun kita memiliki satu wajh (pendapat ulama internal mazhab) bahwa hal itu tetap dianggap. Dan menurut pendapat yang ashah: ia mengulangi qunutnya setelah ruku' dan melakukan sujud sahwi, sedangkan menurut sebagian pendapat (qila): ia tidak perlu sujud'.”
[Al Adzkaar Li An Nawawi Halaman 59]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
