(Foto: Bekesah)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Asalamualaikum mau bertanya, kan gaada solat sunah sblum solat idul fitri/adha, gmna kalo solat sunnah tahiatul masjid dulu sbelum melaksanakan solat idul fitri/adha apakah boleh?
[𝗿𝗶𝗳𝗮𝗹]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Pernyataan penanya "𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘬𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘰𝘭𝘢𝘵 𝘴𝘶𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘣𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘰𝘭𝘢𝘵 𝘪𝘥𝘶𝘭 𝘧𝘪𝘵𝘳𝘪/𝘢𝘥𝘩𝘢".
Pernyataan tersebut benar, bahkan telah disebutkan dalam hadits yang Shahih Nabi ﷺ tidak melakukannya, baik sebelum maupun sesudah shalat ied. Adapun kaitannya dengan melakukan shalat Tahiyyatul masjid sebelum shalat Ied sebagaimana ditanyakan maka masuk kepada masalah mengerjakan shalat sunah sebelum shalat Ied.
Menurut Madzhab Syafi'i melakukan shalat sunah sebelum shalat Ied bagi imam adalah makruh karena ada faktor yang lebih penting daripada shalat sunah yaitu khutbah. Namun, sebagian Ulama Syafi'iyah menyebutkan bahwa kemakruhan tersebut jika ia memimpin shalat Ied sekaligus jadi Khathib. Akan tetapi, bila sebagaimana berlaku dikampung kami (khususnya) Imam dan Khathib beda orang maka tidak makruh ia melakukan shalat sunah kala itu. Itupun jika waktu shalat Ied sudah masuk dan shalat itu mau dilakukan, sekiranya sebelum masuk waktu shalat Ied maka tidak dimakruhkan, demikianlah menurut Syeikh Al Qulyubi. Namun, walaupun dihukumi makruh shalatnya tetap dinilai sah, demikianlah menurut Syeikh Ali Syibramalisy. Adapun melakukan shalat sunah setelah shalat Ied bagi imam adalah makruh secara mutlak.
Adapun bagi selain imam seperti para makmum ada tafsilan.
• Bila sebelum shalat Ied tidak dimakruhkan. Namun, sebagian Ulama Syafi'iyah mensyaratkan demi tidak mendapat hukum Makruh yaitu shalat sunah yang dilakukan sesudah meninggi matahari - sebagaimana waktu shalat Dhuha - karena bila sebelumnya hukumnya makruh karena ada larangan shalat sunah pada waktu yang dilarang shalat yaitu setelah terbit matahari sebelum matahari meninggi. Karena inilah, bila sudah meninggi matahari tidak ada sebab kemakruhan. Ulama yang mensyaratkan ini seperti Syeikh Al Imam Al Khathib As Syarbini, Syeikh Bakri Syatha Dimyathi, Syeikh Al Bajuri dan juga Syeikh Nawawi al-Bantani. Namun, sebagian Ulama yang lain tidak mensyaratkan bahkan membolehkan secara mutlak asal dilakukan sebelum shalat Ied.
• Bila sesudah shalat Ied ada rinciannya:
° Jika mendengar khutbah dihukumi makruh.
° Jika tidak mendengar khutbah maka boleh melakukan shalat sunah. Meskipun menurut sebagian Ulama Syafi'iyah seperti Syeikh Al Qulyubi memakruhkan secara mutlak yakni baik mendengar khutbah maupun tidak.
Demikian lah ketentuan fiqih Syafi'iyah terkait melakukan shalat sunah sebelum atau sesudah shalat Ied. Adapun menurut Madzhab selain Syafi'iyah juga menghukumi makruh, bahkan makruhnya secara mutlak yaitu bagi imam maupun makmum, baik di masjid maupun tempat shalat Ied lainnya, kecuali menurut Madzhab Maliki yang memakruhkan itu bila dilakukan di mushalla atau selain masjid, sedangkan di masjid maka tidak makruh. Sekiranya, penanya atau selainnya menganut Madzhab selain Syafi'iyah begitulah ketentuan hukum di Madzhab tersebut.
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Melakukan shalat sunah Tahiyyatul masjid dibedakan hukumnya menurut Madzhab Syafi'i antara imam atau makmum, juga bagi makmum ada rincian tersendiri yang jika diringkas sebagai berikut:
1. 𝗕𝗔𝗚𝗜 𝗜𝗠𝗔𝗠
• Jika sebelum shalat Ied Makruh melakukan shalat sunah seperti Tahiyyatul masjid kecuali menurut sebagian Ulama Syafi'iyah yaitu: Bila waktu shalat Ied belum masuk atau ia tidak bertindak sebagai Khathib.
• Jika setelah shalat Ied dimakruhkan secara mutlak.
2. 𝗕𝗔𝗚𝗜 𝗠𝗔𝗞𝗠𝗨𝗠
• Jika sebelum shalat Ied tidak dimakruhkan asal dilakukan setelah matahari meninggi, walaupun menurut sebagian pendapat Ulama Syafi'iyah menghukumi boleh dan tidak dihukumi makruh secara mutlak.
• Jika sesudah shalat Ied hukumnya makruh jika dapat mendengar khutbah, sedangkan jika tidak mendengar khutbah seperti karena bising, jauh dan semisalnya maka tidak makruh, meskipun menurut sebagian pendapat Ulama Syafi'iyah tidak membedakan hukum itu seperti pendapat Syeikh Al Qulyubi. Adapun selain Madzhab Syafi'i menghukumi makruh melakukan shalat sunah sebelum atau sesudah shalat Ied - seperti shalat Tahiyyatul masjid - kecuali menurut Madzhab Maliki jika dilakukan di masjid.
𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:
وَلَوْ ارْتَفَعَتِ الشَّمْسُ لَمْ يُكْرَهْ النَّفْلُ قَبْلَ الصَّلَاةِ لِغَيْرِ الْإِمَامِ، وَأَمَّا بَعْدَهَا فَإِنْ لَمْ يَسْمَعِ الْخُطْبَةَ فَكَذَلِكَ وَإِلَّا كُرِهَ، لِأَنَّهُ يَكُونُ مُعْرِضًا عَنِ الْخَطِيبِ بِالْكُلِّيَّةِ وَأَمَّا الْإِمَامُ فَيُكْرَهُ لَهُ النَّفْلُ قَبْلَهَا وَبَعْدَهَا لِمُخَالَفَتِهِ فِعْلَهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَلِاشْتِغَالِهِ بِغَيْرِ الْأَهَمِّ.
“Dan jika matahari telah meninggi, maka tidak dimakruhkan melakukan shalat sunnah sebelum shalat Ied bagi selain imam (makmum/munfarid). Adapun setelah shalat Ied, jika ia tidak mendengar khutbah maka hukumnya sama (tidak makruh), namun jika mendengarnya maka hukumnya makruh, karena hal itu berarti ia berpaling secara total dari khatib. Adapun bagi imam maka makruh baginya melakukan shalat sunah sebelum dan sesudah shalat Ied karena Menyalahi yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dan karena ia menyibukkan diri hal yang bukan prioritas”
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/261]
وَلَوْ ارْتَفَعَتِ الشَّمْسُ لَمْ يُكْرَهْ النَّفْلُ قَبْلَهَا لِغَيْرِ الْإِمَامِ، وَأَمَّا بَعْدَهَا فَإِنْ لَمْ يَسْمَعِ الْخُطْبَةَ فَكَذَلِكَ، وَإِلَّا كُرِهَ؛ لِأَنَّهُ يَكُونُ مُعْرِضاً عَنِ الْخَطِيبِ بِالْكُلِّيَّةِ، وَأَمَّا الْإِمَامُ فَيُكْرَهُ لَهُ النَّفْلُ قَبْلَهَا وَبَعْدَهَا؛ لِمُخَالَفَتِهِ فِعْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِاشْتِغَالِهِ بِغَيْرِ الْأَهَمِّ.
“Dan jika matahari telah meninggi, maka tidak dimakruhkan melakukan shalat sunnah sebelum shalat Ied bagi selain imam. Adapun setelah shalat Ied jika ia tidak mendengar khutbah, maka hukumnya sama (tidak makruh). Namun jika ia mendengarnya, maka hukumnya makruh, karena hal itu berarti ia berpaling secara total dari khatib. Adapun bagi imam maka makruh baginya melakukan shalat sunah sebelum dan sesudah shalat Ied karena Menyalahi yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dan karena ia menyibukkan diri hal yang bukan prioritas”
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Syarh Ibnu Qasiim I/225]
وَلَا يُكْرَهُ لِغَيْرِ الْإِمَامِ التَّنَفُّلُ قَبْلَهَا بَعْدَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ وَلَا بَعْدَهَا إِنْ لَمْ يَسْمَعِ الْخُطْبَةَ وَإِلَّا كُرِهَ أَمَّا الْإِمَامُ فَيُكْرَهُ لَهُ التَّنَفُّلُ قَبْلَهَا وَبَعْدَهَا.
“Dan tidak dimakruhkan bagi selain imam untuk melakukan shalat sunnah sebelum shalat Ied (yakni) setelah matahari meninggi, tidak pula (makruh) setelah shalat Ied jika ia tidak mendengar khutbah. Namun jika ia mendengarnya, maka hukumnya makruh. Adapun bagi imam, dimakruhkan baginya melakukan shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat Ied”.
[Nihaayah Az Zain Halaman 113]
(وَلَا يُكْرَهُ النَّفَلُ قَبْلَهَا) بَعْدَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ (لِغَيْرِ الْإِمَامِ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ) لِانْتِفَاءِ الْأَسْبَابِ الْمُقْتَضِيَةِ لِلْكَرَاهَةِ، فَخَرَجَ بِقَبْلِهَا بَعْدَهَا. وَفِيهِ تَفْصِيلٌ فَإِنْ كَانَ يَسْمَعُ الْخُطْبَةَ كُرِهَ لَهُ كَمَا مَرَّ وَإِلَّا فَلَا، وَبِبَعْدِ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ قَبْلَهُ فَإِنَّهُ وَقْتُ كَرَاهَةٍ وَقَدْ تَقَدَّمَ حُكْمُهُ فِي بَابِهِ، وَبِغَيْرِ الْإِمَامِ فَيُكْرَهُ لَهُ النَّفَلُ قَبْلَهَا وَبَعْدَهَا لِاشْتِغَالِهِ بِغَيْرِ الْأَهَمِّ وَلِمُخَالَفَتِهِ فِعْلَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -
“('Dan tidak dimakruhkan shalat sunnah sebelum shalat Ied setelah matahari meninggi (bagi selain imam, dan Allah lebih mengetahui') karena tidak adanya sebab-sebab yang menuntut kemakruhan. Maka dikecualikan dengan kata 'sebelumnya' yaitu 'setelahnya'. Dan di dalam hukum setelahnya ini terdapat rincian: jika ia mendengar khutbah maka makruh baginya sebagaimana penjelasan lalu, dan jika tidak mendengar maka tidak makruh. Dikecualikan pula dengan kata 'setelah matahari meninggi' yaitu 'sebelumnya' (sebelum meninggi), karena waktu tersebut adalah waktu makruh (tahrim) yang hukumnya telah dijelaskan pada babnya tersendiri. Serta dikecualikan dengan kata 'selain imam', maka bagi imam dimakruhkan shalat sunnah sebelum dan sesudahnya karena ia menyibukkan diri dengan hal yang bukan prioritas dan karena menyelisihi perbuatan Nabi ﷺ ”
[Mughni Al Muhtaaj I/592]
وَيُكْرَهُ لَهُ بَعْدَ حُضُورِهِ التَّنَفُّلُ قَبْلَهَا وَبَعْدَهَا لِاشْتِغَالِهِ بِغَيْرِ الْأَهَمِّ وَلِمُخَالَفَتِهِ فِعْلَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -؛ لِأَنَّهُ صَلَّى عَقِبَ حُضُورِهِ وَخَطَبَ عَقِبَ صَلَاتِهِ كَمَا عُلِمَ مِنْ الْأَخْبَارِ لَا لِلْمَأْمُومِ فَلَا يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ قَبْلَهَا مُطْلَقًا وَلَا بَعْدَهَا إنْ لَمْ يَسْمَعْ الْخُطْبَةَ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَشْتَغِلْ بِغَيْرِ الْأَهَمِّ بِخِلَافِ مَنْ يَسْمَعُهَا؛ لِأَنَّهُ بِذَلِكَ مُعْرِضٌ عَنْ الْخَطِيبِ بِالْكُلِّيَّةِ «اَسْنَىٰ»
“Dan dimakruhkan bagi imam setelah kehadirannya untuk melakukan shalat sunnah sebelum shalat Ied dan sesudahnya, karena ia menyibukkan diri dengan hal yang bukan prioritas serta karena menyelisihi perbuatan Nabi ﷺ. Sebab, beliau ﷺ langsung melaksanakan shalat segera setelah kehadirannya dan langsung berkhutbah segera setelah shalatnya, sebagaimana diketahui dari riwayat-riwayat hadits.
Hukum ini tidak berlaku bagi makmum, maka tidak dimakruhkan bagi makmum shalat sunnah sebelum shalat Id secara mutlak, tidak pula setelahnya jika ia tidak mendengar khutbah; karena ia tidak dianggap menyibukkan diri dengan hal yang bukan prioritas. Berbeda halnya dengan orang yang mendengar khutbah; karena dengan shalat sunnah tersebut ia dianggap berpaling dari khatib secara total".(Dikutip dari kitab—) Asnaa (Al Mathaalib, karya Syekh Al Islam Zakariya Al Anshari)”
[Hasyiyah At Tarmasiy Ala Manhaaj Al Qawiim Fii Syarh Bafadhal IV/464, & Asnaa Al Mathaalib Fii Syarh Raudh At Thaalib I/282]
(قَوْلُهُ: بَلْ يُكْرَهُ لَهُ التَّنَفُّلُ إلَخْ.) هَذَا إنْ كَانَ هُوَ الْخَطِيبَ أَمَّا حَيْثُ لَمْ يَخْطُبْ فَالْإِمَامُ كَغَيْرِهِ، وَلَا كَرَاهَةَ بَعْدَ الْخُطْبَةِ لِأَحَدٍ. اهـ. رَشِيدِيٌّ عَنْ الْقُوتِ (قَوْلُهُ: أَيْضًا، بَلْ يُكْرَهُ لَهُ إلَخْ.) ، أَمَّا غَيْرُهُ فَإِنْ كَانَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلَا كَرَاهَةَ، وَإِنْ كَانَ بَعْدَهَا فَإِنْ كَانَ يَسْمَعُ الْخُطْبَةَ كُرِهَ لَهُ، وَإِلَّا فَلَا. اهـ. م ر فِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ، وَاخْتَارَ ق ل الْكَرَاهَةَ سَمِعَ الْخُطْبَةَ أَوْ لَا. اهـ. وَالتَّفْصِيلُ بَيْنَ السَّمَاعِ، وَغَيْرِهِ يُفِيدُ انْعِقَادَهَا، وَإِنْ كَانَ سَامِعًا تَدَبَّرْ. (قَوْلُهُ: بَلْ يُكْرَهُ إلَخْ.) أَيْ: إنْ حَضَرَ وَقْتُ الصَّلَاةِ، وَإِلَّا فَلَا يُكْرَهُ لَهُ. اهـ. ق عَلَى الْجَلَالِ (قَوْلُهُ: أَيْضًا، بَلْ يُكْرَهُ إلَخْ.) لَكِنْ يَنْعَقِدُ ع ش
“(Perkataan Pengarang "Bahkan dimakruhkan baginya shalat sunnah" dst.) Ini berlaku jika imam tersebut adalah orang yang bertindak sebagai khatib. Adapun sekiranya ia tidak berkhutbah (hanya mengimami shalat saja), maka status imam tersebut sama seperti yang lain (makmum), dan tidak ada kemakruhan setelah khutbah bagi siapapun. Selesai kutipan dari Ar-Rasyidi dari kitab Al-Qut.
(Perkataan Pengarang Juga, "Bahkan dimakruhkan baginya" dst.) Adapun selain imam, jika shalat sunnah dilakukan sebelum shalat Id maka tidak makruh, dan jika dilakukan setelahnya, maka apabila ia mendengar khutbah hukumnya makruh, jika tidak mendengar maka tidak makruh. Selesai kutipan dari Imam al-Ramli dalam Syarh al-Minhaj. Namun Syeikh Qulyubi memilih pendapat bahwa hukumnya tetap makruh, baik ia mendengar khutbah maupun tidak. Selesai. Dan rincian antara mendengar dan tidak mendengar itu memberikan faidah bahwa shalat sunnahnya tetap sah (terwujud sah) meskipun ia mendengarnya (walau makruh), maka renungkanlah!
(Perkataan Pengarang "Bahkan dimakruhkan" dst.) Maksudnya: Jika waktu shalat Ied telah tiba (hadir), jika belum maka tidak makruh baginya. Selesai kutipan Qulyubi atas al-Jalal (Jalaludin Al Mahalli).
(Perkataan Pengarang juga "Bahkan dimakruhkan" dst.) Akan tetapi shalatnya tetap sah (menurut catatan) Syeikh Ali Syibramalisy.”
[Hasyiyah As Syarbini Ala Syarh Al Bahjah II/52-53]
يُكْرَهُ التَّنَفُّلُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ قَبْلَ صَلَاةِ الْعِيدِ وَبَعْدَهُ، لِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي قَبْلَ الْعِيدِ شَيْئاً، فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ، صَلَّى رَكْعَتَيْنِ»(٢) وَأَضَافَ الْحَنَابِلَةُ: لَا بَأْسَ بِالتَّنَفُّلِ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْمُصَلَّى. وَالْكَرَاهَةُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ سَوَاءٌ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ، وَسَوَاءٌ أَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ أَمِ الْمُصَلَّى، وَأَمَّا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ فَالْكَرَاهَةُ فِي حَالِ أَدَائِهَا فِي الْمُصَلَّى لَا فِي الْمَسْجِدِ. وَقَالَ الشَّافِعِيَّةُ: يُكْرَهُ التَّنَفُّلُ لِلْإِمَامِ قَبْلَ الْعِيدِ وَبَعْدَهُ، لِاشْتِغَالِهِ بِغَيْرِ الْأَهَمِّ، وَلِمُخَالَفَتِهِ فِعْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدْ رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا»(٣) وَلَا يُكْرَهُ النَّفَلُ قَبْلَ الْعِيدِ بَعْدَ ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ لِغَيْرِ الْإِمَامِ، لِانْتِفَاءِ الْأَسْبَابِ الْمُقْتَضِيَةِ لِلْكَرَاهَةِ، كَذَلِكَ لَا يُكْرَهُ النَّفَلُ بَعْدَ الْعِيدِ إِنْ كَانَ لَا يَسْمَعُ الْخُطْبَةَ، فَإِنْ كَانَ يَسْمَعُ الْخُطْبَةَ كُرِهَ لَهُ.
__________________
(٢) رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (سُبُلُ السَّلَامِ: ٦٧/ ٢) وَأَخْرَجَهُ أَيْضاً الْحَاكِمُ وَأَحْمَدُ، رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ نَحْوَهُ.
(٣) أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ (سُبُلُ السَّلَامِ: ٦٦/ ٢)
[Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu I/688]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>
