2209. HUKUM WANITA BEPERGIAN TANPA MAHRAM MENJAMAK SHALAT

(Foto: Instagram)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamu'alaikum wr wb. 
Ustadz bagaimana hukumnya wanita musafir tanpa suami / mahrom ?
Bolehkan mereka menjamak sholatnya ?
[𝗜𝗿𝗳𝗮𝗻𝘆𝘀𝗼𝗹𝗶𝗸𝗵𝗮𝗵]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Mengenai perempuan bepergian tanpa didampingi suami dan para mahramnya baca selengkapnya 👇 

Adapun mengenai mereka yang disebutkan itu menjamak shalat mengikuti hukum kebolehan mereka bepergian. Sekiranya bepergian mereka dihukumi haram maka mereka tidak boleh menjamak shalat karena syarat menjamak shalat itu adalah syarat kebolehan mengqashar shalat sedangkan Syarat mengqashar shalat itu bepergian yang dilakukan tidak ada faktor maksiat yaitu berupa perbuatan haram. Sehingga, bila bepergian mereka dihukumi haram maka mereka tidak boleh mengambil rukhshah safar (bepergian). Namun, bila mengambil pendapat yang membolehkan perempuan bepergian tanpa suami dan para mahramnya maka berarti bepergian dilakukan dia atau mereka tidak Dihukumi maksiat asal bepergian itu bukan pula untuk urusan maksiat maka boleh mereka mengambil rukhshah safar seperti mengqashar dan menjamak shalat.

𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:

{فَصْلٌ} فِي قَصْرِ الصَّلَاةِ وَجَمْعِهَا. (وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ) أَيِ الْمُلْتَبِسِ بِالسَّفَرِ (قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ) لَا غَيْرِهَا، مِنْ ثُنَائِيَّةٍ وَثُلَاثِيَّةٍ. وَجَوَازُ قَصْرِ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ (بِخَمْسِ شَرَائِطَ): الْأَوَّلُ (أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ) أَيِ الشَّخْصِ (فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ) هُوَ شَامِلٌ لِلْوَاجِبِ كَقَضَاءِ دَيْنٍ، وَلِلْمَنْدُوبِ كَصِلَةِ الرَّحِمِ، وَلِلْمُبَاحِ كَسَفَرِ تِجَارَةٍ. أَمَّا سَفَرُ الْمَعْصِيَةِ كَسَفَرٍ لِقَطْعِ الطَّرِيقِ، فَلَا يُتَرَخَّصُ فِيهِ بِقَصْرٍ وَلَا جَمْعٍ.
“(Pasal) tentang mengqashar shalat dan menjamaknya.

(Dan diperbolehkan bagi musafir)—maksudnya orang yang sedang melakukan perjalanan—(untuk mengqashar shalat yang berjumlah empat rakaat), bukan shalat lainnya yang berjumlah dua rakaat (Shubuh) atau tiga rakaat (Maghrib).

Kebolehan mengqashar shalat empat rakaat ini (dengan lima syarat):
° Pertama: (Perjalanannya)—yaitu perjalanan orang tersebut—(bukan dalam kemaksiatan). Ketentuan ini mencakup perjalanan yang hukumnya wajib seperti untuk melunasi utang, yang mandub (sunnah) seperti untuk menyambung silaturahmi, dan yang mubah seperti perjalanan untuk berdagang. Adapun perjalanan maksiat, seperti perjalanan untuk membegal/merampok di jalan, maka tidak ada keringanan (rukhshah) di dalamnya, baik untuk mengqashar maupun menjamak shalat.”
[Fathul Qariib Fii Hamisy Al Bajuri I/201-204] 

(وَيَجُوزُ) فِي السَّفَرِ الْمُجَوِّزِ لِلْقَصْرِ (الْجَمْعُ بَيْنَ الْعَصْرَيْنِ) أَيْ: الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَغُلِّبَتْ؛ لِشَرَفِهَا، لِأَنَّهَا الْوُسْطَى. -إِلَى أَنْ قَالَ- وَعِنْدَنَا يَمْتَنِعُ عَلَى الْعَاصِي لِلْمَعْصِيَةِ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَأَحْمَدَ كَمَا فِي "الْمِيزَانِ"، فَصَارَ الْجَمْعُ لِلْعَاصِي مُمْتَنِعاً اتِّفَاقاً بَيْنَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ، فَلْيُنْتَبَهْ لِذَلِكَ.
“(Dan diperbolehkan) dalam perjalanan yang memperbolehkan qashar, (untuk menjamak antara al-'ashrain), maksudnya: shalat Zhuhur dan Ashar. Disebut al-'ashrain (dua Ashar) karena memenangkan kata Ashar (taghlib) demi memuliakannya, sebab Ashar adalah shalat wustha (shalat pertengahan yang paling utama). -Sampai pada perkataan penulis- Dan menurut Madzhab kita (Syafi'i), menjamak shalat itu dilarang bagi orang yang melakukan maksiat karena kemaksiatannya tersebut. Ini juga merupakan Madzhab Malik dan Ahmad sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mizan. Dengan demikian, menjamak shalat bagi pelaku maksiat hukumnya terlarang berdasarkan kesepakatan (ittifaq) di antara Empat Imam Madzhab, maka perhatikanlah hal ini dengan baik.”
[Busyral Kariim I /141]

لَا تُنَاطُ بِالْمَعَاصِي أَنَّ فِعْلَ الرُّخْصَةِ مَتَى تَوَقَّفَ عَلَى وُجُودِ شَيْءٍ، فَإِنْ كَانَ تَعَاطِيهِ فِي نَفْسِهِ حَرَاماً امْتَنَعَ مَعَهُ فِعْلُ الرُّخْصَةِ وَإِلَّا فَلَا.
“(Keringanan/rukhshah) tidak disangkutpautkan dengan kemaksiatan. Sesungguhnya pelaksanaan suatu rukhshah, ketika kebolehannya bergantung pada keberadaan sesuatu (seperti perjalanan), jika praktik atau esensi dari sesuatu itu sendiri hukumnya haram, maka pelaksanaan rukhshah menjadi terlarang bersamanya. Namun jika tidak haram, maka rukhshah tidak dilarang”.
[Nihaayah Al Muhtaaj II/265]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama