(Foto: Lemon8)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamu'alaikum yi
Ada hadis dlm ruku dan sujud
Seperti orang yg nyolong itu maksdnya gimana??
[+62 831-6077-2776]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Hadis yang dimaksud sebagai berikut:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرُقُ مِنْ صَلَاتِهِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَسْرُقُ مِنْ صَلَاتِهِ؟ قَالَ: «لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا»
Artinya: Dari Qatadah Radhiallahu Anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Seburuk-buruk pencuri di antara manusia adalah orang yang mencuri dari shalatnya". Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencuri dari shalatnya?"
Beliau menjawab: "Ia tidak menyempurnakan ruku'-nya dan tidak pula sujudnya".
(HR. Ahmad, Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim. Sanadnya dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi)
𝗣𝗘𝗡𝗝𝗘𝗟𝗔𝗦𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗖𝗨𝗥𝗜 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗥𝗨𝗞𝗨' 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗨𝗝𝗨𝗗
قَالَ الطِّيْبِيُّ: «جَعَلَ جِنْسَ السَّرِقَةِ نَوْعَيْنِ: مُتَعَارَفًا وَغَيْرَ مُتَعَارَفٍ، وَهُوَ مَا يَنْقُصُ مِنْ هَذَا الرُّكْنِ الطُّمَأْنِيْنَةَ، ثُمَّ جَعَلَ غَيْرَ الْمُتَعَارَفِ أَسْوَأَ مِنَ الْمُتَعَارَفِ، وَإِنَّمَا كَانَ أَسْوَأَ؛ لِأَنَّ السَّارِقَ إِذَا أَخَذَ مَالَ الْغَيْرِ رُبَّمَا يَنْتَفِعُ بِهِ فِي الدُّنْيَا، وَيَسْتَحِلُّ مِنْ صَاحِبِهِ، أَوْ تُقْطَعُ يَدُهُ فَيَتَخَلَّصُ مِنَ الْعِقَابِ فِي الْآخِرَةِ، بِخِلَافِ هَذَا السَّارِقِ، فَإِنَّهُ سَرَقَ حَقَّ نَفْسِهِ مِنَ الثَّوَابِ، وَأَبْدَلَ مِنْهُ الْعِقَابَ فِي الْعُقْبَى، وَلَيْسَ فِي يَدِهِ سِوَى الضَّرَرِ وَالتَّعَقُّبِ» -انْتَهَى-. وَالْحَدِيْثُ يَدُلُّ عَلَى افْتِرَاضِ الطُّمَأْنِيْنَةِ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ؛ لِأَنَّهُ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- جَعَلَ تَرْكَ إِقَامَةِ الصُّلْبِ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ، وَعَدَمَ إِتْمَامِهِمَا أَقْبَحَ أَنْوَاعِ السَّرِقِ، وَجَعَلَ الْفَاعِلَ لِذَلِكَ أَسْوَأَ مَنْ تَلَبَّسَ بِهَذِهِ الْوَظِيْفَةِ الْخَسِيْسَةِ الَّتِي لَا أَوْضَعَ وَلَا أَخْبَثَ مِنْهَا، تَنْفِيْرًا عَنْ ذَلِكَ، وَتَنْبِيْهًا عَلَى تَحْرِيْمِهِ. وَقَدْ صَرَّحَ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- بِعَدَمِ إِجْزَاءِ صَلَاةِ مَنْ لَا يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ، وَنَفْيِ حَقِيْقَةِ الصَّلَاةِ عَمَّنْ لَمْ يُتِمَّ رُكُوْعَهُ وَسُجُوْدَهُ كَمَا تَقَدَّمَ، وَالْأَحَادِيْثُ فِي هَذَا الْبَابِ كَثِيْرَةٌ، كُلُّهَا تَرُدُّ عَلَى مَنْ لَمْ يَقُلْ بِافْتِرَاضِ الطُّمَأْنِيْنَةِ فِيْهِمَا.
“Imam At-Thibi berkata:
"Beliau (Nabi ﷺ) menjadikan jenis pencurian terbagi menjadi dua: yang sudah lumrah (muta'araf) dan yang tidak lumrah (ghairu muta'araf). Yang tidak lumrah ini adalah berkurangnya tumakninah dari rukun shalat tersebut. Kemudian beliau menjadikan pencurian yang tidak lumrah ini lebih buruk daripada yang lumrah. Mengapa lebih buruk? Karena pencuri harta orang lain terkadang masih bisa memanfaatkannya di dunia, meminta dihalalkan dari pemiliknya, atau tangannya dipotong (sebagai hukuman) sehingga ia terbebas dari siksa di akhirat. Berbeda dengan pencuri (dalam shalat) ini; ia telah mencuri hak dirinya sendiri berupa pahala, lalu menggantinya dengan siksaan di akhirat, dan tidak ada di tangannya selain kemudaratan dan tuntutan dosa". Habis pernyataan beliau.
Hadis ini menunjukkan wajibnya/fardunya tumakninah dalam ruku' dan sujud. Sebab, Nabi ﷺ menjadikan tindakan meninggalkan penegakan tulang punggung saat ruku' dan sujud serta tidak menyempurnakan keduanya sebagai jenis pencurian yang paling buruk. Beliau juga menjadikan pelakunya sebagai orang yang paling buruk dalam melakoni 'profesi' hina ini—yang tidak ada profesi yang lebih rendah dan lebih keji darinya—sebagai bentuk peringatan keras (tanfir) agar menjauhinya dan penegasan atas keharamannya. Rasulullah ﷺ juga telah menegaskan secara eksplisit tidak sahnya shalat orang yang tidak menegakkan tulang punggungnya saat ruku' dan sujud, serta meniadakan hakikat shalat dari orang yang tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Hadis-hadis dalam bab ini sangat banyak, dan semuanya membantah pendapat pihak yang tidak mewajibkan/menerapkan fardunya tumakninah pada ruku' dan sujud”.
[Mir'aah Al Mafaatih Syarh Al Misykaah Al Mashaabih III/201]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
