2226. CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

(Foto: HAAZIZUL)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum yai izin bertanya bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah, apakah dengan mengucap Alhamdulillah sudah cukup, atau menegakkan amal makruf nahi mungkar sudah cukup, atau ada Batas tertentu untuk sampai mensyukuri nikmat Allah, mohon penjelasannya.
[𝗣𝗿𝗶𝘃𝗮𝘀𝗶]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗠𝗘𝗡𝗦𝗬𝗨𝗞𝗨𝗥𝗜 𝗡𝗜𝗞𝗠𝗔𝗧 𝗔𝗟𝗟𝗔𝗛

حَقِيقَةُ الشُّكْرِ
اعْلَمْ أَنَّ الشُّكْرَ يَنْتَظِمُ مِنْ عِلْمٍ وَحَالٍ وَعَمَلٍ، فَالْعِلْمُ مَعْرِفَةُ النِّعْمَةِ مِنَ الْمُنْعِمِ، وَالْحَالُ هُوَ الْفَرَحُ الْحَاصِلُ بِإِنْعَامِهِ، وَالْعَمَلُ هُوَ الْقِيَامُ بِمَا هُوَ مَقْصُودُ الْمُنْعِمِ وَمَحْبُوبُهُ، وَيَتَعَلَّقُ ذَلِكَ الْعَمَلُ بِالْقَلْبِ وَبِالْجَوَارِحِ وَبِاللِّسَانِ، أَمَّا بِالْقَلْبِ فَقَصْدُ الْخَيْرِ وَإِضْمَارُهُ لِكَافَّةِ الْخَلْقِ، وَأَمَّا بِاللِّسَانِ فَإِظْهَارُ الشُّكْرِ لِلَّهِ - تَعَالَى - بِالتَّحْمِيدَاتِ الدَّالَّةِ عَلَيْهِ، وَأَمَّا بِالْجَوَارِحِ فَاسْتِعْمَالُ نِعَمِ اللَّهِ - تَعَالَى - فِي طَاعَتِهِ وَالتَّوَقِّي مِنَ الِاسْتِعَانَةِ بِهَا عَلَى مَعْصِيَتِهِ.
“𝗛𝗔𝗞𝗜𝗞𝗔𝗧 𝗦𝗬𝗨𝗞𝗨𝗥
Ketahuilah bahwasanya syukur itu tersusun dari ilmu, keadaan jiwa (hāl), dan amal perbuatan.

1. Ilmu: Mengenali dan menyadari bahwa nikmat itu berasal dari Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun'im).
2. Keadaan Jiwa (Hāl): Rasa gembira yang muncul atas pemberian nikmat-Nya.
3. Amal Perbuatan: Melaksanakan apa yang menjadi tujuan dan hal yang dicintai oleh Sang Pemberi Nikmat.

Amal perbuatan tersebut berkaitan dengan hati, anggota badan, dan lisan:
° Adapun pada hati: Maksudnya adalah menghendaki dan menyimpan niat kebaikan bagi seluruh makhluk.

° Adapun pada lisan: Maksudnya adalah menampakkan rasa syukur kepada Allah Ta'ala melalui kalimat-kalimat pujian (tahmīd) yang menunjukkan rasa terima kasih kepada-Nya.

° Adapun pada anggota badan: Maksudnya adalah mempergunakan nikmat-nikmat Allah Ta'ala dalam ketaatan kepada-Nya, serta menjaga diri agar tidak meminta bantuan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya.”
[Mau’izhah al-Mu’miniin Min Ihyaa' ‘Uluum ad-Diin Halaman 285]

وَالشُّكْرُ لُغَةً: هُوَ الْحَمْدُ الْعُرْفِيُّ، وَعُرْفًا: صَرْفُ الْعَبْدِ جَمِيعَ مَا أَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ فِيمَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ، أَيْ أَنْ يَصْرِفَ جَمِيعَ الْأَعْضَاءِ وَالْمَعَانِي الَّتِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا فِي الطَّاعَاتِ الَّتِي طَلَبَ اسْتِعْمَالَهَا فِيهَا، فَإِنْ اسْتَعْمَلَهَا فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ سُمِّيَ شَاكِرًا، أَوْ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ سُمِّيَ شَكُورًا، وَهُوَ قَلِيلٌ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ. وَصَوَّرَ ذَلِكَ الْعَلَّامَةُ الشَّبْرَامَلِّسِيُّ بِمَنْ حَمَلَ جَنَازَةً مُتَفَكِّرًا فِي مَصْنُوعَاتِ اللهِ، نَاظِرًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، لِئَلَّا يَزِلَّ بِالْمَيِّتِ مَاشِيًا بِرِجْلَيْهِ إِلَى الْقَبْرِ، شَاغِلًا لِسَانَهُ بِالذِّكْرِ، وَأُذُنَيْهِ بِاسْتِمَاعِ مَا فِيهِ ثَوَابٌ، كَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ.
“Syukur secara bahasa adalah pujian secara umum (al-hamdu al-'urfi). Sedangkan secara istilah ('urf), syukur adalah seorang hamba yang mempergunakan seluruh nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya untuk tujuan nikmat itu diciptakan. Artinya, ia mengarahkan seluruh anggota tubuh dan potensi batiniah yang disandangkan Allah kepadanya untuk ketaatan-ketaatan yang diperintahkan. Jika ia mempergunakan nikmat-nikmat tersebut pada waktu yang berbeda-beda, maka ia dinamakan Syakir (orang yang bersyukur). Namun, jika ia mempergunakannya sekaligus dalam satu waktu, maka ia dinamakan Syakur (orang yang sangat/selalu bersyukur). Dan hal ini (Syakur) sangat sedikit jumlahnya, berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (Syakur)".

Al-'Allamah As Syibramalisiy mengilustrasikan hal tersebut dengan seseorang yang membawa jenazah sembari merenungkan ciptaan-ciptaan Allah, matanya memandang ke depan agar tidak tersandung saat membawa mayit, kakinya berjalan menuju kubur, lidahnya sibuk berzikir, dan kedua telinganya mendengarkan hal-hal yang mendatangkan pahala, seperti amar ma'ruf nahi munkar”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/5]

وَالشُّكْرُ لُغَةً هُوَ الْحَمْدُ عُرْفًا، وَعُرْفًا صَرْفُ الْعَبْدِ جَمِيعَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلَيْهِ مِنْ السَّمْعِ وَغَيْرِهِ إلَى مَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ.
قَوْلُهُ: (صَرْفُ الْعَبْدِ) أَيْ أَنْ يَسْتَعْمِلَ الْعَبْدُ أَعْضَاءَهُ وَمَعَانِيَهُ فِيمَا طَلَبَ الشَّارِعُ اسْتِعْمَالَهَا مِنْ صَلَاةٍ وَصَوْمٍ وَسَمَاعِ نَحْوِ عِلْمٍ وَهَكَذَا، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ أَوْ فِي أَوْقَاتٍ مُتَفَرِّقَةٍ ق ل. قَالَ سم: إذَا صَرَفَ الْعَبْدُ جَمِيعَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ بِهِ عَلَيْهِ فِي آنٍ وَاحِدٍ سُمِّيَ شَكُورًا. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ} [سبأ: 13] وَإِذَا صَرَفَهَا فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ سُمِّيَ شَاكِرًا
“Syukur secara bahasa (lughatan) adalah al-hamdu 'urfan (pujian menurut kebiasaan/istilah umum). Sedangkan secara istilah ('urfan), syukur adalah seorang hamba yang mempergunakan seluruh nikmat yang telah Allah Ta'ala anugerahkan kepadanya—baik berupa pendengaran maupun yang lainnya—kepada tujuan nikmat tersebut diciptakan.

Perkataan Pengarang: ("Seorang hamba mempergunakan") maksudnya adalah seorang hamba menggunakan anggota-anggota tubuhnya dan potensi batinnya (ma'ānī) untuk hal-hal yang dituntut oleh syariat (Asy-Syāri') untuk dipergunakan padanya, seperti shalat, puasa, mendengarkan ilmu, dan sejenisnya; baik hal itu dilakukan dalam satu waktu bersamaan maupun pada waktu yang terpisah-pisah. Demikianlah pernyataan Al Qulyubi.

Ibnu Qaasim Al 'Ubbadi berkata: Apabila seorang hamba mempergunakan seluruh nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya dalam satu waktu sekaligus, maka ia dinamakan Syakur (شَكُور). Allah Ta'ala berfirman: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (Syakur)." [QS. Saba': 13]. Dan apabila ia mempergunakannya pada waktu yang berbeda-beda, maka ia dinamakan Syakir (شَاكِر)”.
[Hasyiyah Al Bujairimi Ala Al Khathib I/32]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama