2228. SEPUTAR NIAT ZAKAT

(Foto: iqra - Merahputih)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum ustadz bertanya..
Dlm masalah zakat niat si pembayar zakat atau niat nya si mustahiq yg di perhitungkan..?
Contoh 
Si A Memberi kan zakat kpd si b sbg anak yatim,,, dan si b menerima nya tapi niat nya dia menerima sbg fakir miskin maka apakah sah zakat nya...??
[𝗮𝗯𝘆𝗻𝘆𝗮 2𝗺𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Pada pembahasan zakat niat merupakan syarat sah zakat yang dikeluarkan. Yang disyariatkan niat ini adalah bagi pemberi zakat, sedangkan penerima zakat tidak dibebani niat tersebut. Ini artinya: Bila pemberi zakat berniat zakat sementara penerima tidak berniat menerima sebagai zakat maka niat pemberi yang diperhitungkan dan niat penerima zakat tidak dianggap.

Adapun mengenai arah pertanyaannya tampaknya niat jenis penerima zakat sebagai apa, seperti sebagai faqir miskin, Sabilillah dan sebagainya. Bila itu maksudnya maka dalam ranah fiqih Syafi'i tidak memberlakukan niat seperti itu karena yang diperhitungkan niat mengeluarkan zakat sebagai zakat yang fardhu bukan jenis penerima zakat sebagai apa. Sehingga, bila tidak berniat sebagai jenis penerima zakat maka tetap sah seperti hanya "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah atau zakat harta yang wajib" maka sudah sah, tidak mesti yang menerima adalah miskin, Sabilillah dan umumnya 8 Asnaf, asal zakat tetap tersalurkan kepada penerima zakat yang sah seperti 8 Asnaf.

Ringkasnya: Niat zakat merupakan syarat sah zakat dan niat zakat yang dianggap dari pemberi zakat sedangkan penerima zakat tidak ada keharusan berniat, bahkan andai penerima berniat bukan sebagai zakat tapi sedekah sunah, pemberian biasa dan sebagainya sementara pemberi berniat zakat maka tetap sah sebagai zakat karena niat pemberi zakat yang jadi patokan bukan penerima zakat. Adapun, niat zakat sebagai jenis penerima zakat tidak menjadi patokan dalam hukum asal yang menerima adalah mustahiq zakat seperti orang yang memberi zakat bermaksud memberi zakat kepada faqir sementara niat penerima sebagai miskin tetap tidak memberi efek pada keabsahan zakat. Lain halnya dengan pungutan liar dari aparat pemerintah seperti pajak atau cukai tidak bisa dinamakan zakat walaupun pemberi berniat sebagai zakat. Semoga dapat dipahami sebagaimana mestinya walaupun penjelasannya seakan berbelit-belit.

(قَوْلُهُ أَوْ إِمَامٍ) أَيْ:
وَتَكْفِي النِّيَّةُ عِنْدَ إِعْطَاءِ إِمَامِ الزَّكَاةِ وَإِنْ لَمْ يَنْوِ الْإِمَامُ عِنْدَ الصَّرْفِ لِأَنَّهُ نَائِبُ الْمُسْتَحِقِّيْنَ فَالدَّفْعُ إِلَيْهِ كَالدَّفْعِ إِلَيْهِمْ وَهَذَا أَجْزَأَتْ وَإِنْ تَلِفَتْ عِنْدَهُ بِخِلَافِ الْوَكِيْلِ تُحْفَةٌ. زَادَ فِي النِّهَايَةِ وَالسَّاعِي فِي ذَلِكَ كَالسُّلْطَانِ اهـ. وَفِي التُّحْفَةِ الْأَصَحُّ أَنَّهُ يَلْزَمُ السُّلْطَانَ النِّيَّةُ عِنْدَ الْأَخْذِ إِذَا أَخَذَ زَكَاةَ الْمُمْتَنِعِ مِنْ أَدَائِهَا وَإِنَّ نِيَّتَهُ تَكْفِي عَنْ نِيَّةِ الْمُمْتَنِعِ بَاطِنًا اهـ. وَعِبَارَةُ الشَّبْرَامَلِسِيِّ: وَلَوْ نَوَى الدَّافِعُ الزَّكَاةَ وَالْآخِذُ غَيْرَهَا كَصَدَقَةِ تَطَوُّعٍ أَوْ هَدِيَّةٍ أَوْ غَيْرِهِمَا فَالْعِبْرَةُ بِقَصْدِ الدَّافِعِ وَلَا يَضُرُّ صَرْفُ الْآخِذِ لَهَا عَنِ الزَّكَاةِ إِنْ
كَانَ مِنَ الْمُسْتَحِقِّيْنَ، فَإِنْ كَانَ الْإِمَامُ أَوْ نَائِبُهُ ضَرَّ صَرْفُهُمَا عَنْهَا وَلَمْ تَقَعْ زَكَاةً، وَمِنْهُ مَا يُؤْخَذُ مِنَ الْمَكُوْسِ وَالرَّمَايَا وَالْعُشُوْرِ
وَغَيْرِهَا فَلَا يَنْفَعُ الْمَالِكَ نِيَّةُ الزَّكَاةِ فِيْهَا. وَهَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ وَيُؤَيِّدُهُ إِفْتَاءُ ابْنِ زِيَادٍ اهـ. وَنَقَلَهَا الْبُجَيْرِمِيُّ وَالْجَمَلُ وَغَيْرُهُمَا وَأَقَرُّوْهَا.
وَلعَمْرِي إِنَّهَا عِبَارَةٌ جَامِعَةٌ لِحَاصِلِ كَلَامِ الْمُتَأَخِّرِيْنَ وَاخْتِلَافِهِمْ فِي مَسْأَلَةِ الْمَكُوْسِ وَنَحْوِهَا، فَعَضَّ عَلَيْهَا بِنَاجِذَيْكَ وَلَا تَلْتَفِتْ
إِلَى مَا اخْتَلَفَ عَلَيْكَ.
“(Perkataan Pengarang "Atau seorang imam/pemimpin"), maksudnya:
Cukup berniat saat menyerahkan zakat kepada imam (pemimpin/petugas zakat), meskipun sang imam tidak berniat saat mendistribusikannya (kepada para mustahik). Hal ini dikarenakan imam adalah wakil dari orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq), sehingga penyerahan zakat kepadanya sama saja dengan penyerahan langsung kepada mereka. Dan ini dianggap sah meskipun harta tersebut rusak saat berada di tangannya, berbeda halnya dengan wakil biasa -Kutipan kitab Tuhfah -. Ditambahkan dalam kitab Nihaayah: Petugas zakat (As-Sa'i) dalam hal ini kedudukannya sama seperti Sultan/pemerintah. Selesai. Dalam At-Tuhfah disebutkan: Pendapat yang paling sahih (Al-Ashahh) adalah bahwasanya Sultan wajib berniat ketika mengambil zakat dari orang yang enggan membayarnya, dan bahwasanya niat Sultan tersebut sudah mencukupi/mewakili niat orang yang enggan tersebut secara batin.

Redaksi Ali As Syibramalisiy: Jikalau pemberi berniat menunaikan zakat, sedangkan penerima berniat selain zakat (seperti menganggapnya sedekah sunah, hadiah, atau lainnya), maka yang dijadikan patokan adalah tujuan/niat si pemberi. Dan tidak memudaratkan (tetap sah sebagai zakat) meskipun si penerima dialihkan niatnya dari zakat, selama ia termasuk golongan yang berhak (mustahik). Namun, jika penerima tersebut adalah Imam (pemerintah) atau wakilnya, maka pengalihan niat oleh keduanya akan merusak status zakat tersebut dan tidak sah sebagai zakat. Termasuk di antaranya adalah apa yang diambil secara paksa dari pajak/pungutan liar (Al-Makuus), pungutan perang/ramaya, cukai (Al-'Usyur), dan sejenisnya; maka niat zakat dari pemilik harta tidaklah bermanfaat pada pungutan tersebut. Ini adalah pendapat yang dapat dijadikan pegangan (Al-Mu'tamad) dan diperkuat oleh fatwa Ibn Ziyad. Selesai. Hal ini juga dikutip oleh Al-Bujairimi, Al-Jamal, dan selain keduanya, serta mereka mengukuhkannya.

Demi umurku, sungguh ini adalah perincian/ungkapan yang menghimpun kesimpulan dari pendapat ulama Muta'akhkhirin serta perbedaan pendapat mereka dalam masalah pungutan pajak/bea dan sejenisnya. Maka peganglah pendapat ini erat-erat dengan gigi gerahammu, dan janganlah engkau berpaling kepada pendapat-pendapat yang membingungkanmu”
[Tarsyiih Al Mustafidiin Bi Tausyih Fath Al Mu'in Halaman 151-152]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama