(Foto: pngtree)
Pertanyaan:
Adakah qoul ulama meskipun lintas madzhab yang memperbolehkan wasiat taqwa d salah satu khotbah Jumat..sebab ini sering terjadi d mesjid larangan?
Butuh solusi
[+62 831-6077-2776]
Jawaban:
Ada, Madzhab Hanafi atau Maliki. Bila penganut Madzhab Syafi'i mau mengamalkan pendapat tersebut harus memenuhi ketentuan taqlid terutama menjaga agar tidak terjadi Talfiq.
اَلْحَنَفِيَّةُ قَالُوْا: اَلْخُطْبَةُ لَهَا رُكْنٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ مُطْلَقُ الذِّكْرِ الشَّامِلُ لِلْقَلِيْلِ وَالْكَثِيْرِ. فَيَكْفِيْ لِتَحَقُّقِ الْخُطْبَةِ الْمَفْرُوْضَةِ تَحْمِيْدَةٌ أَوْ تَسْبِيْحَةٌ أَوْ تَهْلِيْلَةٌ، نَعَمْ يُكْرَهُ تَنْزِيْهًا الْاِقْتِصَارُ عَلَى ذٰلِكَ، كَمَا سَيَأْتِيْ فِيْ سُنَنِ الْخُطْبَةِ، وَالْمَشْرُوْطُ عِنْدَهُمْ إِنَّمَا هُوَ الْخُطْبَةُ الْأُوْلَى، وَأَمَّا تَكْرَارُهَا فَهُوَ سُنَّةٌ كَمَا يَأْتِيْ فِي السُّنَنِ. -إلى أن قال- اَلْمَالِكِيَّةُ قَالُوْا: اَلْخُطْبَةُ لَهَا رُكْنٌ وَاحِدٌ. وَهُوَ أَنْ تَكُوْنَ مُشْتَمِلَةً عَلَى تَحْذِيْرٍ أَوْ تَبْشِيْرٍ، وَلَا يُشْتَرَطُ السَّجْعُ فِيْهِمَا عَلَى الْأَصَحِّ فَلَوْ أُتِيَ بِهَا نَظْمًا أَوْ نَثْرًا صَحَّ وَنُدِبَ إِعَادَتُهَا إِذَا لَمْ يُصَلِّ، فَإِنْ صَلَّى فَلَا إِعَادَةَ.
“Kalangan Hanafiyyah berpendapat: Khutbah itu hanya memiliki satu rukun, yaitu zikir secara mutlak yang mencakup (durasi) sedikit maupun banyak. Maka dianggap cukup untuk memenuhi keabsahan khutbah yang diwajibkan hanya dengan membaca tahmid (Alhamdulillah), tasbih (Subhanallah), atau tahlil (Laa ilaha illallah). Namun demikian, hukumnya makruh tanzih (kurang disukai namun tidak berdosa) jika hanya mencukupkan diri pada bacaan tersebut, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti dalam pembahasan sunnah-sunnah khutbah. Adapun yang menjadi syarat (wajib) menurut mereka hanyalah khutbah yang pertama, sedangkan mengulangnya (khutbah kedua) hukumnya adalah sunnah.
Kalangan Malikiyyah berpendapat: Khutbah itu memiliki satu rukun, yaitu harus mengandung unsur tahdzir (peringatan/ancaman) atau tabsyir (kabar gembira). Menurut pendapat yang paling shahih (al-ashah), tidak disyaratkan menggunakan rima (saja') pada keduanya. Jika khutbah disampaikan dalam bentuk syair (nazham) maupun prosa (natsar), maka hukumnya sah. Disunnahkan untuk mengulangi khutbah tersebut jika jamaah belum melaksanakan shalat (Jumat), namun jika sudah terlanjur shalat, maka tidak perlu diulangi”.
[Al Fiqh Ala Madzaahib Al Arba'ah I/354]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
Link Diskusi:
Artikel terkait 👇
