Pertanyaan:
Assalamualaikum para ustadz,,bgimna tatacara/doa memotong rambut bayi(dlm acara pemberian nama)
[𝗧𝗵𝗼𝗺𝗲𝘆]
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Dalam kitab literatur klasik Syafi'iyah khususnya ketika membicarakan bab Aqiqah tidak ada satupun (menurut yang saya ketahui) yang membicarakan doa ketika mencukur rambut bayi, jika seandainya ada kesunahan membaca doa tertentu tidak mungkin rasanya tidak mereka sebutkan. Sehingga, menurut saya tidak ada doa tertentu dan juga tatacara tertentu yang berasal dari sunah tapi dikembalikan dengan cara masing-masing yang disebut dengan nama 𝗠𝗲𝗻𝗰𝘂𝗸𝘂𝗿, yaitu menghabiskan semua rambut hingga tidak ada lagi rambut yang tersisa. Sedangkan hanya memangkas tidak lah disebut mencukur. Minimal; membaca basmalah berdasarkan perintah membacanya setiap melakukan perbuatan baik, dan mencukur rambut bayi merupakan perbuatan baik karena ia merupakan kesunahan.
Adapun yang berkembang termasuk yang tersiar di kebanyakan website dan umumnya media sosial yang menyebutkan doa mencukur rambut bayi seperti berikut 👇
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
"Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasulullah ﷺ, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam".
Di sebagian website menyebutkan do'a itu dikutip dari buku panduan doa seperti di buku panduan doa terbaik sepanjang masa oleh Ahmad Zacky. Yang intinya memberlakukan doa itu untuk mencukur rambut bayi tidak berdasarkan dasar yang datang dari sunah, baik dari hadits maupun literatur klasik. Doa tersebut boleh saja diamalkan untuk acara mencukur rambut bayi tapi jangan berkeyakinan doa itu sunah dibaca secara khusus pada acara tersebut.
Namun, menurut saya pribadi; dalam hal ini yang sedikit mendekati kemiripan bisa disamakan dengan kasus mencukur rambut kepala yang dilakukan setelah menyembelih hewan hadyu bagi jama'ah haji, disana ada bacaan khusus dan itu juga sudah dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al Adzkaar. Bentuk penyamaan hukum disini berdasarkan mafhum (mengambil pemahaman yang tidak ada dasarnya) dari penjabaran sebagian Ulama Syafi'iyah yang menyebutkan bahwa mencukur rambut bayi dilakukan sesudah menyembelih hewan aqiqah sebagaimana pada bab haji. Hal itu menunjukkan bahwa waktu pelaksanaan mencukur rambut bayi dilakukan sesudah penyembelihan hewan aqiqah dianalogikan dengan masalah mencukur rambut bagi jama'ah haji dan menyamakan dengan bacaan doanya saya rasa juga tepat sasaran.
(وَ) يُسَنُّ (حَلْقُ شَعْرِهِ) أَيْ: شَعْرِ رَأْسِهِ (بَعْدَ الذَّبْحِ) كَمَا فِي الْحَاجِّ وَلَوْ أُنْثَى، وَأَنْ يَكُونَ يَوْمَ السَّابِعِ كَالتَّسْمِيَةِ.
“(Dan) disunnahkan (mencukur rambutnya), yakni rambut kepalanya, (setelah penyembelihan [hewan aqiqah]) sebagaimana (yang berlaku pada) orang yang berhaji, meskipun (bayi tersebut) perempuan, dan hendaknya (pencukuran itu) dilakukan pada hari ketujuh, sebagaimana (waktu) pemberian nama”.
[Busyral Kariim II/130]
(وَ) يُسَنُّ (حَلْقُ شَعْرِهِ بَعْدَ الذَّبْحِ) كَمَا فِي الْحَجِّ وَأَنْ يَكُونَ كَالتَّسْمِيَةِ يَوْمَ السَّابِعِ.
(قَوْلُهُ: وَيُسَنُّ حَلْقُ شَعْرِهِ) أَيْ شَعْرَ رَأْسِ الْمَوْلُودِ كُلَّهُ وَلَوْ أُنْثَى لِمَا وَرَدَ فِي الْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ مِنْهَا مَا مَرَّ أَوَّلَ الْفَصْلِ، قَالَ فِي التُّحْفَةِ: وَفِيهِ مَنَافِعُ طَيِّبَةٌ لَهُ، أَيْ لِلْمَوْلُودِ.
(قَوْلُهُ: بَعْدَ الذَّبْحِ) أَيْ لِلْعَقِيقَةِ ظَاهِرُهُ وَلَوْ مُتَعَدِّدَةً.
(قَوْلُهُ: كَمَا فِي الْحَجِّ) أَيْ فَإِنَّ الْأَفْضَلَ أَنْ يَكُونَ الْحَلْقُ لَهُ بَعْدَ الذَّبْحِ لِلْهَدْيِ وَكَمَا أَشَارَ إِلَيْهِ الْخَبَرُ؛ فَإِنَّهُ ذَكَرَهُ بَعْدَ الذَّبْحِ وَإِنْ كَانَ الْعَطْفُ بِالْوَاوِ لَا يَقْتَضِي التَّرْتِيبَ وَالنِّزَاعُ فِي ذَلِكَ غَيْرُ صَحِيحٍ.
“(Dan) disunnahkan (mencukur rambutnya setelah penyembelihan) sebagaimana dalam ibadah haji, dan hendaknya (dilakukan) sebagaimana pemberian nama, (yakni) pada hari ketujuh.
(Perkataan Pengarang "Disunnahkan mencukur rambutnya") yaitu seluruh rambut kepala bayi, meskipun perempuan, karena adanya riwayat dalam hadits-hadits yang Shahih, di antaranya adalah apa yang telah lewat di awal bab ini. Penulis Tuhfah (Ibn Hajar al-Haitami) berkata: 'Dan di dalamnya (mencukur) terdapat manfaat yang baik baginya,' yaitu bagi si bayi.
(Perkataan Pengarang "Setelah penyembelihan) yakni untuk (hewan) aqiqah, sebagaimana zahirnya (teks tersebut), meskipun (hewan yang disembelih) berjumlah banyak.
(Perkataan Pengarang "Sebagaimana dalam ibadah haji) yakni sesungguhnya yang lebih utama adalah mencukur rambut bagi orang yang berhaji dilakukan setelah menyembelih hadyu (hewan qurban haji), dan sebagaimana yang diisyaratkan oleh hadits; karena sesungguhnya hadits tersebut menyebutkannya (penyebutan mencukur rambut) setelah (penyebutan) penyembelihan. Meskipun 'athaf (penghubung) dengan huruf waw tidak menuntut urutan (secara kaidah bahasa), namun perdebatan mengenai hal tersebut (tentang apakah ia harus berurutan atau tidak) adalah tidak tepat”.
[Hasyiyah At Tarmasyi Ala Minhaaj Al Qawiim Fii Syarh Bafadhal VI/674]
Bila memenuhi penyamaan urutan pelaksanaan mencukur rambut bayi yang disamakan dengan kasus mencukur rambut kepala di bab haji sebagaimana saya nyatakan maka berikut adalah bacaan doa ketika mencukur rambut kepala saat mencukur rambut kepala bagi jama'ah haji dan bacaan ini pula bisa dilakukan mencukur rambut bayi hanya mengubah sedikit lafadznya sesuai dengan maksud mencukur rambut bayi:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى مَا هَدَانَا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْنَا، اَللّٰهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَتِي فَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِلْمُحَلِّقِينَ وَالْمُقَصِّرِينَ، يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ آمِينَ.
"Segala puji bagi Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kami, dan segala puji bagi Allah atas anugerah yang telah Dia berikan kepada kami. Ya Allah, ini adalah ubun-ubunku, maka terimalah dariku dan ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah, ampunilah diriku, orang-orang yang mencukur habis (rambutnya), dan orang-orang yang memendekkan rambutnya. Wahai Yang Maha Luas ampunan-Nya, kabulkanlah"
Sebelum membaca doa tersebut terlebih dahulu membaca takbir tiga kali dan sebelum itu menahan atau memegang ubun-ubun atau bagian rambut yang mau digunduli pertama kali. Hanya saja, karena doa itu sesuai redaksinya untuk acara haji maka untuk acara aqiqah cukup merubah kalimatnya seperti ini 👇
1. Untuk anak laki-laki:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى مَا هَدَانَا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْنَا. اَللّٰهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَةُ ابْنِي، فَاجْعَلْ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ نُورًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاغْفِرْ لِي وَلَهُ، اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَاجْعَلْهُ مُبَارَكًا، يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ آمِينَ.
2. Untuk anak perempuan:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى مَا هَدَانَا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْنَا. اَللّٰهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَةُ ابْنَتِي، فَاجْعَلْ لَها بِكُلِّ شَعْرَةٍ نُورًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاغْفِرْ لِي وَلَهَا، اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيهَا وَاجْعَلْهَا مُبَارَكَةً، يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ آمِينَ.
𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻:
Bila yang mencukur bukan orang tua si bayi maka untuk lafadz ابْنِي atau ابْنَتِي cukur ubah nama bayi jika sudah diberi nama atau kalau belum diganti cukup ganti nama ayahnya atau nama ibunya. Dengan merubah seperti ini 👇
اَللّٰهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَةُ ابْنِ أَحْمَدَ
Sementara jika anaknya perempuan sebelum lafadz أَحْمَدَ misalnya sebagai nama orang tua si bayi ubah بِنْتِ.
Untuk memudahkan saya buatkan tata caranya:
1. Memegang ubun-ubun kepala bayi atau rambut bayi yang mau pertama kali dikenai alat cukur.
2. Membaca takbir tiga kali
3. Membaca doa yang saya tampilkan diatas.
Adapun setelah mencukur, pada bab haji juga ada doanya yaitu:
الحَمْدُ لِلهِ الذي قَضَى عَنَّا نُسُكَنا، اللهم زِدنا إيمَانًا ويَقِينًا وَعَوْنًا، وَاغْفِرْ لَنَا ولآبائِنا وأمَّهاتِنا والمُسْلِمينَ أجمَعِينَ.
Sebelum membaca doa tersebut terlebih dahulu membacaU takbir tiga kali. Agar sesuai acara mencukur rambut bayi kita rubah dan tambah biar maksimal 👇
1. Untuk anak laki-laki:
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي قَضَى عَنَّا عَقِيقَتَنَا، اَللّٰهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا وَشُكْرًا وَعَوْنًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَالْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ وَلَدَنَا هَذَا ابْنًا صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ قُرَّةَ عَيْنٍ لَنَا وَفَخْرًا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ وَلَدَنَا هَذِهِ بِنْتًا صَالِحَةً، وَاجْعَلْهَا قُرَّةَ عَيْنٍ لَنَا وَفَخْرًا. اَللّٰهُمَّ آتِهِ بِعَدَدِ كُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً، وَامْحُ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً، وَارْفَعْ لَهُ بِهَا دَرَجَةً.
2. Untuk anak perempuan:
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي قَضَى عَنَّا عَقِيقَتَنَا، اَللّٰهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا وَشُكْرًا وَعَوْنًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَالْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ. اَللّٰهُمَّ آتِهَا بِعَدَدِ كُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً، وَامْحُ عَنْهَا بِهَا سَيِّئَةً، وَارْفَعْ لَهَا بِهَا دَرَجَةً. آمِينَ
Sementara itu, bila acara mencukur rambut bayi tidak dilakukan aqiqah sebelumnya seperti tidak menyembelih hewan aqiqah kita rubah عَقِيقَتَنَا menjadi سُنَّةَ حَلْقِ شَعْرِ مَوْلُودِنَا.
وإذا حلَقَ رأسه بعد الذبح فقد استحبّ بعض علمائنا أن يمسك ناصيته بيده حالة الحلق ويُكبِّر ثلاثاً ثم يقول: الحَمْدُ لله على ما هَدَانا، والحَمْدُ لِلَّهِ على ما أنْعَمَ بِهِ عَلَيْنا، اللَّهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَتي فَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاغْفِرْ لي ذُنُوبي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي وللْمُحَلِّقِينَ والمُقَصِّرِينَ، يا وَاسِعَ المَغْفِرَةِ آمِين. وإذا فرغ من الحلق كبَّر وقال: " الحَمْدُ لِلَّهِ الذي قَضَى عَنَّا نُسُكَنا، اللَّهُمَّ زِدْنا إيمَاناً ويقينا وَعَوناً، وَاغْفِرْ لَنَا ولآبائِنا وأُمَّهاتِنا والمُسْلِمينَ أجْمَعِينَ
[Al Adzkaar Li An Nawawi Halaman 202]
(وَاسْتِيعَابُ) حَلْقِ (الرَّأْسِ لِلرَّجُلِ) وَأَنْ لَا يُشَارِطَ الْحَالِقَ عَلَيْهِ بِأَنْ يَدْفَعَ الْأُجْرَةَ الَّتِي تَطِيبُ بِهَا نَفْسُهُ إِلَيْهِ مُعَجَّلَةً، وَأَنْ يَأْخُذَ شَيْئًا مِنْ ظُفْرِهِ وَشَارِبِهِ، وَيُمْسِكَ نَاصِيَتَهُ بِيَدِهِ عِنْدَ الْحَلْقِ وَيُكَبِّرَ ثَلَاثًا نَسَقًا. ثُمَّ يَقُولُ: (اللَّهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، فَاجْعَلْ لِي بِكُلِّ شَعْرَةٍ نُورًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي). وَبَعْدَ فَرَاغِهِ: (اللَّهُمَّ آتِنِي بِعَدَدِ كُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً، وَامْحُ عَنِّي بِهَا سَيِّئَةً، وَارْفَعْ لِي بِهَا دَرَجَةً، وَاغْفِرْ لِي وَلِلْمُحَلِّقِينَ وَالْمُقَصِّرِينَ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ).
[Busyral Kariim II/103]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>