(Foto: Freepik)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Menta refrensi menyiram air di kuburan makam
[𝗜𝘃𝗲𝗳 (𝗖𝗮𝗵 𝗮𝗻𝗴𝗼𝗻)]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ بَارِدٍ تَفَاؤُلًا بِبُرُودَةِ الْمَضْجَعِ، وَلَا بَأْسَ بِقَلِيلٍ مِنْ مَاءِ الْوَرْدِ لِأَنَّ الْمَلَائِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطَّيِّبَةَ.
“Disunnahkan memerciki kuburan dengan air dingin, sebagai bentuk tafa'ul (mengharapkan kebaikan) agar tempat berbaring (di dalam kubur) terasa sejuk. Dan tidak mengapa menggunakan sedikit air mawar, karena malaikat menyukai aroma yang harum”.
[Nihaayah Az Zain Halaman 158]
وَيُنْدَبُ أَنْ يُرَشَّ الْقَبْرُ بِمَاءٍ، وَالْأَوْلَى أَنْ يَكُونَ طَاهِرًا بَارِدًا؛ لِأَنَّهُ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَعَلَهُ بِقَبْرِ وَلَدِهِ إِبْرَاهِيمَ. وَخَرَجَ بِالْمَاءِ مَاءُ الْوَرْدِ، فَيُكْرَهُ الرَّشُّ؛ لِأَنَّهُ إِضَاعَةُ مَالٍ لِغَرَضِ رَائِحَتِهِ، فَلَا يُنَافِي أَنَّ إِضَاعَةَ الْمَالِ حَرَامٌ. وَقَالَ السُّبْكِيُّ: لَا بَأْسَ بِالْيَسِيرِ مِنْهُ إِنْ قُصِدَ بِهِ حُضُورُ الْمَلَائِكَةِ؛ فَإِنَّهَا تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطَّيِّبَةَ اهـ. بَلْ لَوْ قِيلَ بِسُنَّةٍ حِينَئِذٍ لَمْ يَبْعُدْ.
“Disunnahkan memerciki kuburan dengan air. Yang paling utama adalah air tersebut suci dan dingin, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam melakukan hal tersebut pada makam putranya, Ibrahim. Dikecualikan dari kata 'air' (dalam teks sebelumnya) adalah air mawar, maka hukum memercikinya dengan air mawar adalah makruh karena termasuk menyia-nyiakan harta hanya untuk tujuan aroma wanginya saja (dan ini tidak menafikan bahwa membuang-buang harta secara mutlak adalah haram).
Imam as-Subki berkata: 'Tidak mengapa (boleh) menggunakan air mawar yang sedikit, jika tujuannya adalah untuk menghadirkan malaikat, karena sesungguhnya mereka menyukai aroma yang harum.' Selesai. Bahkan jika dikatakan hukumnya sunnah dalam kondisi tersebut, maka hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil (bukan pendapat yang jauh dari kebenaran)”.
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Ibnu Qasiim I/257]
وَرُشُّ الْقَبْرِ بِالْمَاءِ لِئَلَّا يَنْسِفَهُ الرِّيحُ، وَلِأَنَّهُ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَعَلَ ذَلِكَ بِقَبْرِ ابْنِهِ إِبْرَاهِيمَ، رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ، وَبِقَبْرِ سَعْدٍ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَأَمَرَ بِهِ فِي قَبْرِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ.
وَسَعْدٌ هَذَا هُوَ ابْنُ مُعَاذٍ. وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ الْمَاءُ طَاهِرًا طَهُورًا بَارِدًا، تَفَاؤُلًا بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يُبَرِّدُ مَضْجَعَهُ.
وَيُكْرَهُ رَشُّهُ بِمَاءِ وَرْدٍ وَنَحْوِهِ؛ لِأَنَّهُ إِسْرَافٌ وَإِضَاعَةُ مَالٍ.
قَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَالظَّاهِرُ كَرَاهَةُ رَشِّه بِالنَّجَسِ، أَوْ تَحْرِيمُهُ. اهـ. مِنْ شَرْحِ الرَّوْضِ.
“Dan (disunnahkan) memerciki kuburan dengan air agar tidak diterbangkan oleh angin, dan karena Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam melakukan hal tersebut pada makam putranya, Ibrahim (diriwayatkan oleh Imam Syafi'i), dan pada makam Sa'd (diriwayatkan oleh Ibnu Majah), serta beliau memerintahkannya pada makam Utsman bin Mazh'un (diriwayatkan oleh Tirmidzi). Dan Sa'd yang dimaksud di sini adalah Ibnu Mu'adz. Disunnahkan (air yang digunakan untuk memerciki) dalam keadaan suci, mensucikan, dan dingin sebagai bentuk tafa'ul (harapan baik) agar Allah Ta'ala menyejukkan tempat berbaringnya (di dalam kubur), dimakruhkan memercikinya dengan air mawar dan sejenisnya, karena hal tersebut termasuk pemborosan dan menyia-nyiakan harta. Al-Adzra'i berkata: 'Yang tampak (dzahir) adalah makruh memercikinya dengan benda najis, atau (bahkan) haram hukumnya.' Selesai dari Syarh ar-Raudh”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin II/119]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝐈𝐬𝐦𝐢𝐝𝐚𝐫 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐫𝐫𝐚𝐡𝐦𝐚𝐧 𝐀𝐬 𝐒𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>
