2124. 𝗛𝗨𝗞𝗨𝗠 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗤𝗔𝗗𝗛𝗔' 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗔𝗧 𝗣𝗔𝗗𝗔 𝗪𝗔𝗞𝗧𝗨 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗗𝗜𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗔𝗧

(Foto: Nu Online)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
assalamualaikum, mau nanya, emang kalo sehabis sholat subuh, sehabis sholat asar, sama sebelum Dzuhur jam 11an kalo disini disebutnya tangange, itu ga boleh ngodoin sholat? mohon jawabnya yai
[+62 858-1359-7093]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Waktu yang akan melakukan qadha' shalat sebagaimana disebutkan contohnya sebagaimana yang ditanyakan merupakan waktu yang dilarang shalat. Karenanya, hukum mengqadha' shalat pada waktu yang dilarang shalat seperti setelah shalat shubuh dan Ashar bisa dirinci sebagai berikut 👇 
1. Bila bermaksud mengakhirkan mengqadha' shalat dan bertujuan dilakukan pada waktu yang dilarang shalat maka shalat qadha' tersebut tidak sah dan tidak boleh dilakukan.
2. Seumpama pada poin diatas yaitu bermaksud dijadikan kebiasaan seperti shalat qadha' selalu dijadikan pada waktu yang dilarang shalat, ini juga tidak sah dan tidak boleh.
3. Bila tidak bertujuan sebagaimana dua poin diatas maka boleh dan sah.

𝗦𝗔𝗥𝗔𝗡
Hendaknya mengqadha' shalat dilakukan sembarang waktu selain diwaktu yang dilarang shalat dan bisa juga sebelum masuk waktu dilarang shalat seperti sebelum mengerjakan shalat shubuh atau Ashar demi meraih perbuatan terbaik dan terhindar dari ketidak bolehan dan ketidak absahannya.

وَالْمَعْنَى: لَمْ يَقْصِدْ تَأْخِيْرَهَا إِلَى الْوَقْتِ الْمَكْرُوْهِ لِأَجْلِ أَنْ يَقْضِيَهَا، أَوْ لِأَجْلِ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَيْهِ - أَيْ الْقَضَاءَ - وَيَجْعَلَهُ كَأَنَّهُ وِرْدٌ، فَإِنْ قَصَدَ ذَلِكَ لَا تَصِحُّ فِيْهِ وَلَا تَنْعَقِدُ. وَمُقْتَضَى الْعَطْفِ عَلَى مَا ذُكِرَ أَنَّهُ إِذَا صَلَّى الْفَائِتَةَ فِي الْوَقْتِ الْمَكْرُوْهِ وَدَاوَمَ عَلَيْهَا مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ كَمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ عِبَارَةُ النِّهَايَةِ، وَنَصُّهَا: وَلَيْسَ لِمَنْ قَضَى فِي وَقْتِ الْكَرَاهَةِ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَيْهَا وَيَجْعَلَهَا وِرْدًا، أَيْ لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ خُصُوْصِيَّاتِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَدْ دَاوَمَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَى قَضَاءِ رَكْعَتَيِ الظُّهْرِ لِمَا فَاتَتَاهُ اهـ. وَوَجْهُ الْخُصُوْصِيَّةِ - كَمَا فِي التُّحْفَةِ -: حُرْمَةُ الْمُدَاوَمَةِ فِيْهَا عَلَى أُمَّتِهِ وَإِبَاحَتُهَا لَهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، كَمَا يُصَرِّحُ بِهِ كَلَامُ الْمَجْمُوْعِ، أَوْ نَدْبُهَا لَهُ، عَلَى مَا نَقَلَهُ الزَّرْكَشِيُّ. وَيَحْتَمِلُ أَنَّهُ مَعْطُوْفٌ عَلَى يَقْصِدَ، فَيَكُوْنُ مَجْزُوْمًا، وَالْمَعْنَى عَلَيْهِ: وَيَجُوْزُ قَضَاءُ فَائِتَةٍ فِي الْوَقْتِ الْمَكْرُوْهِ مَا لَمْ يُدَاوِمْ عَلَيْهِ، فَإِنْ دَاوَمَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ سَوَاءٌ قَصَدَ تَأْخِيْرَهَا لِذَلِكَ أَمْ لَا. وَعِبَارَةُ فَتْحِ الْجَوَادِ تَقْتَضِي هَذَا الِاحْتِمَالَ، وَنَصُّهَا - بَعْدَ كَلَامٍ -: فَإِنْ قَصَدَ تَأْخِيْرَ الْفَائِتَةِ لِلْوَقْتِ الْمَكْرُوْهِ لِيَقْضِيَهَا فِيْهِ، أَوْ دَاوَمَ عَلَيْهَا، أَوْ دَخَلَ فِيْهِ بِنِيَّةِ التَّحِيَّةِ فَقَطْ، لَمْ تَنْعَقِدْ، لِأَنَّهُ حِيْنَئِذٍ مُرَاغِمٌ لِلشَّرْعِ بِالْكُلِّيَّةِ اهـ.
“Dan maknanya: (Seseorang) tidak bermaksud mengakhirkan shalat hingga ke waktu yang makruh agar ia meng-qadha'-nya di sana, atau agar ia menjadikannya rutinitas—yakni melakukan qadha' tersebut secara terus-menerus—dan menjadikannya seolah-olah sebagai wirid. Jika ia bermaksud demikian, maka shalatnya tidak sah dan tidak mun'aqid (tidak jadi).Implikasi dari pengaitan ('athf) pada apa yang telah disebutkan adalah: jika seseorang melakukan shalat fa'itah (qadha') di waktu makruh dan melakukannya secara rutin tanpa sengaja (mengakhirkan), maka shalatnya sah. Namun, kenyataannya tidak demikian sebagaimana ditunjukkan oleh ibarat An-Nihayah, yang berbunyi: 'Tidak diperbolehkan bagi orang yang melakukan qadha' di waktu makruh untuk menjadikannya rutin dan menjadikannya sebagai wirid'. Hal ini karena perbuatan tersebut termasuk kekhususan (khasushiyat) bagi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam di mana beliau Shalallahu Alaihi Wasallam rutin meng-qadha' dua rakaat shalat Dzuhur ketika keduanya terlewat oleh beliau. Selesai. Sisi kekhususannya—sebagaimana dalam At-Tuhfah—adalah haramnya melakukan hal tersebut secara rutin bagi umatnya, namun dibolehkan bagi beliau SAW, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Majmu', atau disunnahkan bagi beliau sebagaimana dinukil oleh Az-Zarkasyi. Ada kemungkinan kata tersebut (mudawamah) di-athaf-kan pada kata yaqshid (bermaksud), sehingga menjadi majzum. Maknanya menjadi: 'Dibolehkan meng-qadha' shalat fa'itah di waktu makruh selama tidak menjadikannya rutinitas. Namun, jika ia menjadikannya rutinitas, maka tidak sah, baik ia bermaksud mengakhirkannya (ke waktu makruh) untuk tujuan itu atau tidak'. Ibarat Fathul Jawad mendukung kemungkinan ini. Bunyinya—setelah uraian sebelumnya—: 'Jika ia bermaksud mengakhirkan shalat fa'itah ke waktu makruh untuk meng-qadha'-nya di sana, atau ia menjadikannya rutinitas, atau ia masuk ke waktu tersebut dengan niat shalat Tahiyat saja, maka shalatnya tidak mun'aqid (tidak sah), karena ia pada saat itu dianggap menentang syariat secara total', Selesai”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin I/122]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama