(Foto: Batam Pos)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum.
Mau naya dalam akad nikah apa saksi dua tersbut harus di tentukan?
[𝗙𝗮𝗵𝗿𝘂𝗱 𝗖𝗲𝗹𝗹]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Saksi nikah tidak disyaratkan Ta'yin (jelas atau ditentukan orangnya) bahkan boleh semua atau sebagian orang yang hadir di majelis akad nikah menjadi saksi asal mereka yang menjadi saksi memenuhi syarat keabsahan menjadi saksi yang disebutkan oleh para Ulama dalam karya mereka.
وَيُشْتَرَطُ وَصْفُ الْوَلِيِّ وَالشَّاهِدَيْنِ بِالْعَدَالَةِ عَلَى الصَّحِيحِ، وَقِيَاسُهُ وُجُوبِ التَّعَرُّضِ لِسَائِرِ الصِّفَاتِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْأَوْلِيَاءِ، وَلَا يُشْتَرَطُ تَعْيِينُ الشَّاهِدَيْنِ وَالْوَلِيِّ، وَالْغَرَضُ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ النِّكَاحَ لَمْ يَخْلُ عَنْ وَلِيٍّ وَشَاهِدَيْنِ
“Disyaratkan (dalam akad nikah) adanya pensifatan adil pada wali dan dua orang saksi menurut pendapat yang shahih. Berdasarkan qiyas (analogi), wajib pula menyebutkan seluruh kriteria/sifat lain yang dianggap sah (muktabar) pada diri para wali. Namun, tidak disyaratkan untuk Ta'yin (menentukan) dua saksi dan wali tersebut secara spesifik. Tujuannya adalah agar diketahui bahwa pernikahan tersebut tidak terlepas dari keberadaan seorang wali dan dua orang saksi”.
[Raudhah At Thaalibiin XII/14]
ثُمَّ شَرَعَ فِي الرُّكْنِ الثَّالِثِ، فَقَالَ: (وَلَا يَصِحُّ) النِّكَاحُ (إلَّا بِحَضْرَةِ شَاهِدَيْنِ) لِخَبَرِ ابْنِ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ عَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا -: «لَا نِكَاحَ إلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ، وَمَا كَانَ مِنْ نِكَاحٍ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بَاطِلٌ، فَإِنْ تَشَاحُّوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ» . قَالَ: وَلَا يَصِحُّ فِي ذِكْرِ الشَّاهِدَيْنِ غَيْرُهُ، وَالْمَعْنَى فِي اعْتِبَارِهِمَا الِاحْتِيَاطُ لِلْأَبْضَاعِ وَصِيَانَةُ الْأَنْكِحَةِ عَنْ الْجُحُودِ.
تَنْبِيهٌ: إنَّمَا عَبَّرَ بِالْحُضُورِ لِيُفْهَمَ عَدَمُ الْفَرْقِ بَيْنَ حُضُورِهِمَا قَصْدًا أَوْ اتِّفَاقًا أَوْ حَضَرَا وَسَمِعَا الْعَقْدَ صَحَّ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعَا الصَّدَاقَ، وَيُسَنُّ إحْضَارُ جَمْعٍ زِيَادَةً عَلَى الشَّاهِدَيْنِ مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالدِّينِ. قَالَ الرَّافِعِيُّ: ذَكَرَ فِي الْوَسِيطِ أَنَّ حُضُورَ الشُّهُودِ شَرْطٌ، لَكِنْ تَسَاهَلَ فِي تَسْمِيَتِهِ رُكْنًا، وَبِالْجُمْلَةِ حُضُورُهُمْ مُعْتَبَرٌ فِي الْأَنْكِحَةِ، وَلِذَا عَبَّرَ الْمُصَنِّفُ بِحُضُورِ
“Kemudian pengarang mulai menjelaskan rukun yang ketiga, beliau berkata: (Dan tidak sah) sebuah pernikahan (kecuali dengan kehadiran dua orang saksi) berdasarkan hadis riwayat Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dari Aisyah —radhiyallahu ta'ala 'anha—: "Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil. Pernikahan yang dilakukan selain dengan cara demikian adalah batil. Jika mereka berselisih, maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali." Ia (Ibnu Hibban) berkata: Tidak ada hadis lain yang shahih mengenai penyebutan dua saksi selain hadis ini. Makna di balik disyaratkannya dua saksi adalah sebagai bentuk kehati-hatian dalam urusan kemaluan (pernikahan) dan menjaga pernikahan dari pengingkaran (di masa depan).
𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻:
Penyebutan kata "kehadiran" (al-hudhur) bertujuan agar dipahami bahwa tidak ada perbedaan apakah keduanya hadir secara sengaja atau karena kebetulan. Jika keduanya hadir dan mendengar (ijab kabul) akad, maka sah, meskipun keduanya tidak mendengar (penyebutan) mahar. Dan disunahkan menghadirkan orang banyak melebihi dua saksi, yang terdiri dari orang-orang baik dan ahli agama. Imam Ar-Rafi’i berkata: "Penulis kitab al-Wasith menyebutkan bahwa kehadiran saksi adalah syarat, namun beliau mempermudah penyebutannya sebagai rukun. Kesimpulannya, kehadiran mereka adalah perkara yang dianggap (wajib) dalam pernikahan, karena itulah musannif (penulis) mengungkapkannya dengan kata 'kehadiran'.",”.
[Mughni Al Muhtaaj IV/234]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>
𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩:
